
Bab 22
Lewis dan ketiga temannya masuk ke Dungeon lewat laboratorium Geofisika. Betapa terkejutnya mereka saat berhasil masuk ke sana. Hutan sudah hampir tertutup oleh tumbuhan menjalar itu. Bahkan bunganya sangat banyak bermekaran. Keempat remaja itu sampai bingung harus berjalan ke arah mana.
"Kita lewat sini!" ajak Lewis saat melihat masih ada jalan di sebelah kanan.
"Apa kita sekalian menebang pohon ini?" tanya Armando sambil menarik kuat batang pohon yang menjalar di dekatnya.
"Sebaiknya kita juga meriksa batang pohon ini. Siapa tahu ada cairan seperti bunga bangkai itu dan bisa dijadikan obat atau senjata untuk mengalahkan zombie," jawab Gaby yang mencoba memotong batang tumbuhan itu.
Setelah berhasil memotong batang itu keluar cairan berwarna putih. Lalu, Gaby mencoleknya dan cairan itu terasa lengket seperti getah. Kulit jari tangan si gadis menjadi memerah dan terasa panas. Dia pun langsung menggosokkan jarinya ke tanah untuk menghilangkan cairan itu.
"Apa itu getah dari pohon ini?" tanya Hilda sambil memperhatikan cairan yang menetes dari batang dan jatuh ke tanah.
__ADS_1
Getah itu mengenai rumput dan berubah menjadi layu. Keempat remaja itu terperangah melihat itu. Ternyata pohon ini sangat berbahaya. Bukan cuma bunganya, tetapi getah yang dihasilkan pun sama berbahaya.
"Apa getah ini bisa dijadikan senjata untuk melawan zombie?" tanya Gaby.
"Mana aku tahu. Tapi tidak ada salahnya jika kita ambil sedikit untuk sampel dan diperiksa di laboratorium," jawab Lewis.
Lewis mengambil sedikit cairan itu dan menyimpannya di tabung khusus. Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan mencari bunga bangkai. Keadaan di hutan mulai gelap karena tumbuhan merambat itu sudah mulai menutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Belum lagi dari bunganya banyak yang menyemburkan bubuk virus yang bisa membuat hewan berubah buas dan manusia menjadi zombie.
Mereka bertemu dengan sekelompok monyet raksasa yang sedang berkelahi satu sama lain. Hewan-hewan itu bertingkah sangat buas. Mereka menyerang lawan sampai berdarah-darah karena saling cakar dan menggigit juga saling melepaskan tubuh lawannya.
"Sebaiknya kita bergegas mencari bunga bangkai itu. Kita tidak tahu di dunia sana sudah menunjukkan pukul berapa sekarang," tukas Lewis agar teman-temannya bergegas dan jangan menghiraukan keadaan sekitar yang tidak perlu.
Keempat remaja itu harus berpacu dengan waktu. Mereka mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari bunga bangkai.
__ADS_1
Setelah cukup lama berjalan Hilda melihat ada satu bunga bangkai yang berukuran cukup besar. Meski lebih kecil dari bunga yang kemarin.
"Ini bisa kita bawa berdua," kata Hilda dan Gaby.
Bunga itu mereka bawa dengan menggunakan papan roda portabel, yang bisa dibongkar pasang. Mereka sengaja membawa alat seperti itu karena ukuran bunga bangkai itu besar-besar dan sangat sulit juga berat.
"Hai, aku ke sana dulu sebentar!" Lewis menunjuk ke arah jam 10 karena pohon di sana ada beberapa yang tidak dililit oleh tumbuhan merambat itu.
Mata Lewis langsung berbinar. Dia menemukan kembali sebuah bunga bangkai yang ukurannya dua kali lipat dari ukuran bunga bangkai yang di temukan oleh Hilda tadi.
Lewis dan Armando pun bergegas memotong bunga itu dan dibagi dua agar tidak sulit saat membawanya nanti. Mereka pun menaikan bunga bangkai itu ke papan troli lalu mengikatnya kuat.
Ternyata saat perjalanan pulang mereka harus berhadapan dengan banyak hewan yang sudah berubah menjadi buas. Kini keadaan semakin genting karena semua hewan itu menyerang secara bersamaan.
__ADS_1
***
Apakah mereka mampu melawan hewan-hewan buas itu? ikuti terus kisah mereka, ya!