Knight Of Zombie Slayer

Knight Of Zombie Slayer
Bab 24. Terperangkap


__ADS_3

Bab 24


Lewis dan ketiga temannya membagi bom JN23 menjadi empat. Lewis dan Armando masing-masing mendapat 3 buah. Sementara Hilda dan Gaby masing-masing mendapatkan 2 buah. Untuk peluru masing-masing diberi 20 biji. Mereka benar-benar tidak boleh menyia-nyiakan senjata yang mereka miliki.


Saat ini kebanyakan zombie berkeliaran di pusat kota. Seakan ada yang menarik mereka untuk berkumpul di sana. Meski di pinggiran kota juga masih ada zombie, tetapi mereka sangat sedikit bahkan jarang ditemui berkeliaran di malam hari. Entah mereka masih suka bersembunyi atau memang sudah tidak ada lagi di kawasan itu.


Armando kali ini yang mengemudikan mobil. Mereka harus membuka jalan menuju laboratorium Geofisika itu bersih dari zombie. Hal ini harus mereka lakukan agar mempermudah saat mendatangi Dungeon yang ada di sana. Bagaimanapun juga transportasi perjalanan ke sana harus lancar tanpa hambatan. Agar saat pengambilan bunga bangkai yang berukuran sangat besar itu bisa mereka bawa dengan aman dan lancar, sehingga proses pembuatan serum juga semakin cepat.


"Hei, malam ini kenapa di sini terasa sepi? Apa zombie-zombie di kawasan ini sudah dimusnahkan oleh pihak militer?" tanya Gaby sambil melihat ke arah luar kaca mobil.


Keadaan di sana terlihat sepi dan gelap. Hanya cahaya dari bulan yang menerangi di sana. Biasanya jika matahari sudah terbenam para zombie akan berkeliaran di luar bangunan mencari mangsa.


"Tidak. Kita sudah sepakat untuk membagi wilayah mana yang akan kita telusuri dan memusnahkan para zombie. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi bentrok," jawab Lewis.


Pemuda bertubuh tinggi agak kurus itu ikut melihat keadaan kota malam ini. Dia juga sebenarnya merasa heran karena tidak terlihat satu pun zombie yang menampakan diri.


"Iya. Jangan sampai kita sama-sama membersikan satu tempat, sementara tempat yang lain masih banyak zombie berkeliaran," lanjut Armando yang masih fokus menyetir sesekali arah pandangannya mengedar ke beberapa titik di jalanan.


"Bukannya hal itu sudah menjadi salah satu rencana saat melakukan pembasmian zombie dari dahulu?" Kali ini Hilda yang berbicara.


Rencananya malam ini Lewis dan teman-temannya akan melakukan pembasmian zombie di kawasan distrik perkantoran. Namun, tidak terlihat satu zombie pun di sana. Maka, mereka pun memutuskan untuk berkeliling satu putaran di kawasan itu sambil mengamati keadaan di tempat itu.


"Mereka tidak terlihat sama sekali. Apa kita turun dan memeriksa di dalam bangunan?" tanya Armando sambil melihat ke arah teman-temannya.

__ADS_1


"Ya, itu lebih baik."


Mereka pun setuju untuk memeriksa di dalam bangunan. Keempat orang itu masuk ke sebuah bank swasta yang memiliki bangunan sangat besar dan tinggi. Para remaja itu bersiap siaga jika ada zombie datang.


Ruangan itu dalam keadaan kacau. Kursi berserakan di mana-mana. Lantai dipenuhi oleh kertas. Saat ini keadaan di ruangan itu gelap gulita sehingga mereka harus menyalakan senter.


"Apa tidak ada lampu yang menyala di sini?" tanya Gaby berbisik kepada Armando.


"Di kawasan ini lampu sudah dipadamkan untuk menghemat tenaga listrik," jawab Armando.


Gaby pun mengangguk, dia tahu kalau beberapa alat di laboratorium memerlukan tenaga listrik yang cukup besar untuk proses pembuatan peluru JN23 juga beberapa serum SS13 yang masih harus diberikan kepada beberapa orang yang memiliki imun lemah terhadap serangan zombie.


Di lantai satu mereka tidak menemukan satu pun zombie. Lalu, mereka naik ke lantai dua melalui anak tangga. Di sana ada beberapa pintu yang berjajar di sisi kanan saja, selebihnya ruangan kosong.


"Hei, gedung diseberang itu adalah hotel. Apa kita coba ke sana!" ajak Lewis kepada ketiga temannya.


Lewis berdiri di dekat kaca jendela sambil melihat ke arah luar. Ada sebuah bangunan tinggi dan semua kacanya tertutup oleh kain gorden.


"Bangunan itu sangat mencurigakan. Baiklah kita ke sana," balas Armando. Pemuda itu juga memperhatikan bangunan bertuliskan Hotel Nirwana.


Hilda merasa tidak nyaman dengan bangunan itu. Melihat sekilas saja tempat itu layaknya rumah hantu dengan beberapa pohon merambat di bagian dinding bangunan itu.


"Semoga saja tidak ada zombie di sana," tutur Gaby.

__ADS_1


Bangunan Hotel yang menjulang tinggi dan terlihat jauh lebih seram dari bangunan-bangunan lain di sampingnya. Padahal dahulu tempat itu begitu indah dan banyak di singgahi oleh para turis yang menginap.


"Justru kalau ada zombie itu lebih baik. Dengan begitu kita bisa cepat memusnahkan mereka dari pulau ini," tukas Armando sambil menoyor kepala Gaby saking gemasnya.


Gadis itu hanya mengaduh dan memasang muka sebal. Dia tidak berani membalas atau memaki Armando, karena gadis itu menaruh hati kepadanya.


Mereka berempat pun menuruni anak tangga untuk ke luar dari bangunan bank ini. Keadaan tempat yang dingin dan gelap menambah suasana mencekam di sana.


"Eh, pintunya susah dibuka!" ucap Gaby yang paling dulu sampai di depan pintu.


"Masa? Tadi pintu itu mudah dibuka," kata Lewis. Dia pun bergegas mendekati pintu.


Armando pun mencoba membuka pintu itu dengan kuat, tetapi tetap tidak mau terbuka. Mereka menduga kaca berbentuk persegi panjang itu dalam keadaan rusak sehingga mengunci sendiri.


"Apa sebaiknya kita pecahkan saja pintu ini?" Gaby memeriksa handle pintu dan sepertinya memang terkunci.


Armando sudah menyerah. Pintu itu memang sulit untuk dibuka.


"Kalau tidak ada cara lain untuk ke luar dari sini, ya, kita terpaksa menghancurkannya," ucap Lewis.


***


Di mana para zombie saat ini berada? Kenapa pintu itu bisa terkunci? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2