
Bab 25
"Armando, sebaiknya hancurkan saja pintu ini," ucap Lewis dan didukung oleh Gaby dan Hilda.
Grrrrr! Grrrr! Grrrrr!
Terdengar suara zombie dari arah belakang mereka. Lalu secara serentak keempat pemuda itu mengarahkan lampu senter ke sumber suara. Terlihat para zombie berlari menuju mereka. Banyak sekali jumlahnya dan Armando langsung melemparkan bom JN23 itu ke tengah-tengah mereka.
Booom!
Graaaaw! Graaaaw! Graaaaw!
Banyak zombie yang kesakitan dan kejang-kejang lalu berubah menjadi abu. Namun, masih banyak zombie yang berlari dan melompat ke arah mereka berempat.
"Jangan, pakai bom! Pakai peluru dulu," teriak Lewis.
Dor! Dor! Dor!
Zombie yang terkena tembakan berubah jadi abu. Sementara yang lain mulai menyerang dengan kursi-kursi yang berserak di sana. Mereka melempar ke arah Lewis dan teman-temannya.
"Sembunyi!" teriak Gaby yang panik.
"Tidak akan bisa, bodoh!" balas Armando sambil menembak zombie yang akan menerkam Gaby.
Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Mereka berempat menembaki para zombie yang ada di ruangan itu. Kini semua sudah musnah tidak bersisa.
"Mereka sudah habis?" Hilda merasakan kelegaan.
"Tidak tahu. Kalian tetap waspada! Bisa saja masih ada zombie di gedung ini," kata Lewis.
Mereka berempat mengarahkan cahaya senter ke segala penjuru untuk memeriksa apakah masih ada zombie atau tidak. Hanya ada keheningan dan gelap di sana.
"Kita keluar sekarang!" ajak Armando yang sudah siap dengan kursi yang dipegang di kedua tangannya.
"Stttt! Dengarkan baik-baik!" titah putra dari pasangan Aron dan Maria.
Lewis merasa kalau zombie itu belum keluar semua. Masih ada yang bersembunyi.
Terdengar sayup-sayup dari lantai atas suara zombie. Semakin lama semakin jelas. Selain suara yang keluar dari mulut zombie, terdengar juga suara orang yang sedang berlari.
Sekitar ratusan zombie berlari ke arah mereka. Hilda langsung melemparkan bom JN23 ke arah makhluk itu, lalu disusul oleh Gaby setelah bom itu meledak.
Booom! Booom!
Graaaaw! Graaaaw! Graaaaw!
Sebagian para zombie menahan diri di bagian atas anak tangga tidak langsung turun. Tentu saja itu membuat keempat remaja saling bertanya-tanya dalam hati mereka. Biasanya para zombie main serang dengan brutal tanpa berpikir. Namun, saat ini mereka melihat seakan pada makhluk itu sedang menghindari kematian atau kemusnahan dirinya.
"Apa otak mereka bekerja sekarang?" tanya Armando.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Bukannya dulu aku pernah bilang kalau ada beberapa zombie seperti punya pikiran sendiri dan tahu harus berbuat apa," jawab Lewis.
Para zombie pun kini kembali menyerang mereka. Namun, tidak secara berkelompok seperti biasanya. Mereka menyerang satu persatu dengan gerakan cepat dan serampangan.
Dor! Dor!
"Si*al! Peluru malah meleset!" umpat Gaby.
Dor!
Armando menembak zombie itu begitu sudah mendekat.
Brak! Brak!
Terdengar suara pintu kaca di dobrak. Keempat remaja itu spontan melihat ke arah luar. Di depan gedung sudah dikepung oleh ratusan zombie.
"Gawat! Bagaimana bisa ini terjadi?" pekik Lewis membelalakkan matanya.
"Apa kita akan mati hari ini?" Armando bisa melihat lebih jalanan di penuhi oleh makhluk itu.
"Berapa banyak mereka? Seratus? Dua ratus?" tanya Gaby dengan wajahnya yang pucat.
"Aku rasa jauh lebih banyak dari itu," jawab Hilda dengan ekspresi tidak percaya.
***
__ADS_1
Apakah mereka berempat sanggup menghabisi semua zombie itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!