
Malam mulai dipenuhi bintang saat aku pulang ke rumah. Tak ada awan mendung ataupun hitam berarak di angkasa. Langit tampak cerah malam ini. Aku pun pulang dengan riang sambil menaiki ojek pangkalan. Tapi, sesaat kemudian dari kejauhan aku melihat sebuah truk besar berhenti tepat di depan rumahku. Entah mengapa, tapi sepertinya aku harus segera mencari tahu.
"Di sini saja, Pak."
Lantas aku turun dari ojek dan membayar jasanya. Tas kusampirkan ke pundak lalu berjalan cepat mendekati rumahku. Namun, semakin dekat, semakin banyak kulihat orang di sana. Dan ternyata...
Astaga! Mereka?!
Kulihat orang-orang berbadan besar itu mengeluarkan semua perabotan dari dalam rumahku. Sontak aku berlari kencang ke arah mereka. Berusaha menghentikan ulah orang-orang itu.
"Apa-apaan ini?!" tanyaku kepada mereka.
Salah satu dari mereka memicingkan matanya melihatku. "Kau anak dari Hendra?" tanyanya, menyebut nama almarhum ayahku.
"Siapa kalian?! Kenapa kalian mengeluarkan semua perabotan rumahku?!"
Aku masih bertanya, tak menjawab pertanyaan dari salah satu pria itu. Pria itu pun tersenyum sinis padaku. "Cepat keluarkan semua!" Dan dia meminta orang-orang itu cepat mengeluarkan semua perabotan dari dalam rumahku.
Sialan!
Karena kesal, aku berusaha menahannya. Sekuat tenaga agar perabotan dari dalam rumahku tidak diambil mereka. Tarik menarik pun terjadi di depan rumahku sendiri. Mempertahankan harta yang tidak seberapa ini. Sampai akhirnya ibuku keluar dari rumah. Dia melihatku.
__ADS_1
"Yuna, sudah!" Ibu melarangku mempertahankan perabotan itu.
"Ibu?!" Aku pun tak mengerti mengapa. Tapi di saat yang bersamaan salah satu dari mereka mendorongku. Aku terjatuh.
"Yuna!"
Sontak ibu berteriak melihatku. Dia berlari cepat, menolongku. Sedang aku jatuh tersungkur di lantai teras rumahku sendiri. Dengan perasaan kesal dan penuh tanda tanya yang besar.
Salah satu orang-orang itu berkata, "Cepat lunasi utang-utang ayahmu. Atau kalau tidak rumah ini akan kami sita!"
Dan begitulah yang dia katakan padaku. Mereka pun segera mengangkut perabotan rumahku ke dalam truk itu. Mereka pergi dengan membawa semua perabotan rumahku. Aku pun tak mengerti mengapa semua ini terjadi.
Mentari terbit terasa lebih cepat hari ini. Tak terasa jam demi jam berlalu mengantarkanku menuju suatu keadaan yang sulit. Di mana aku harus secepatnya mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Tentunya dengan penghasilan besar agar dapat memenuhi segala kebutuhan. Tapi nyatanya, sampai saat ini belum juga kudapatkan pekerjaan. Aku pun mulai kelaparan dan kehausan.
Uangku tinggal empat puluh ribu. Aku harus bisa menghemat sampai mendapat pekerjaan.
Beginilah nasib orang tidak punya. Tidak ada banyak uang di dalam dompet ataupun kantong celana. Sejak semalam aku berpikir keras bagaimana cara agar bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu cepat. Semua itu tak lain agar dapat mencukupi segala kebutuhan. Karena kalau tidak, aku bisa mati kelaparan.
Aku sebenarnya baru saja lulus SMA satu minggu yang lalu. Tapi hari ini sudah harus cepat-cepat mendapat pekerjaan. Ibuku hanya seorang penjaga toko perhiasan di pasar kota. Dan gajinya juga tidak seberapa.
Sejujurnya aku ingin daftar kuliah. Tapi karena tak punya, aku harus bekerja. Berharap penghasilanku nanti bisa membiayai kuliahku. Tapi sekarang malah harus membayar utang-utang ayahku.
__ADS_1
Aduh, haus sekali.
Teriknya panas matahari saat jam dua siang ini membuatku ingin meneguk segelas es sebagai pelepas dahaga. Tapi lagi-lagi aku tidak punya banyak uang untuk foya-foya. Jadinya aku berjalan mencari pedagang es kaki lima saja. Sampai akhirnya kutemukan dia di sana.
Itu dia!
Aku berjalan cepat sambil mengingat kejadian semalam. Ibu menceritakan padaku jika almarhum ayah mempunyai utang yang sangat besar kepada seseorang. Nominalnya sekitar lima ratus juta. Dan kami harus melunasinya segera. Benar-benar gila.
Aku pun tak mengerti mengapa kami yang dituntut untuk membayar utang-utang itu. Padahal ayah dan ibuku sudah lama berpisah. Aku juga tidak pernah diurus olehnya. Sejak kecil ibulah yang mengurusku. Membiayai hidupku sampai lulus SMA. Sedang harta ayah diambil oleh istri mudanya.
"Pak, beli es segelas."
Sungguh aku haus sekali. Aku juga lapar karena sedari malam belum makan. Tak ada yang tersisa di rumah selain hanya pakaian. Kami juga tidur beralas tikar hingga tubuh kedinginan. Hingga akhirnya aku bertekad untuk mencari pekerjaan. Tanpa peduli lagi pada perutku yang keroncongan.
"Ini, Neng."
Dan akhirnya aku bisa mulai menikmati es kelapa muda. Dan rasanya sungguh nikmat sekali.
TIIINN!!!
Tak lama kudengar suara klakson kendaraan berbunyi nyaring sekali. Semakin lama semakin ramai yang entah mengapa. Aku pun melihat keadaan sekitar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan ternyata, ada seorang nenek tua yang sedang ingin menyeberang jalan di sana.
__ADS_1