KONTRAK TERBATAS SI DUDA

KONTRAK TERBATAS SI DUDA
Harap-Harap Cemas


__ADS_3

"Apa?! Kekasih kontrak?!" Aku pun terkejut mendengar pekerjaan yang dimaksudkannya.


"Hanya pura-pura. Cukup menuruti isi perjanjian dan kau akan mendapatkan ratusan juta dalam setiap bulannya." Dia berkata lagi.


Ratusan juta setiap bulan? Itu berarti cukup bertahan tiga sampai empat bulan saja sudah bisa mendapatkan satu milyar?! Aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini.


"Baik, Pak! Aku siap!" kataku dengan penuh semangat.


Dia tertawa kecil sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jangan senang dulu. Pekerjaan ini tidak semudah kedengarannya." Dia mengatakan padaku. Seketika api semangatku padam karenanya.


Kenapa dia lama-lama menyebalkan ya?


Dan akhirnya aku jadi pesimis di depannya. Harap-harap cemas terhadap isi perjanjian yang akan kutanda tangani. Kulihat dia pun tertawa melihat raut wajahku. Mungkin dia pikir aku ini lucu.


Sesampainya di rumah...


Malam semakin larut. Saat ini sudah pukul delapan waktu ibu kota dan sekitarnya. Dan aku baru sampai di rumah. Rumah yang kini sepi tanpa perabotan sama sekali. Utang-utang ayahku telah mengambil semuanya.

__ADS_1


"Ini rumahmu?" Pria di sampingku bertanya sambil memegang setir mobilnya.


"Benar, Pak." Aku mengangguk pelan begitu saja.


Dia tampak memerhatikan rumahku. Mungkin merasa miris dengan penampilan rumahku ini. Secara rumahnya mewah bak istana. Berbanding terbalik dengan rumahku. Tapi bagaimanapun pandangannya, aku tak peduli. Saat ini aku hanya harus fokus pada pekerjaan yang akan kuterima. Aku harus bisa mendapatkan tiga ratus juta itu.


"Em, ini." Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Ini alamat kantorku. Datanglah saat jam makan siang. Kita akan menandatangani kontrak bersama," katanya, yang ternyata benar-benar serius ingin mempekerjakanku.


"Baik, Pak." Aku pun mengangguk kepadanya.


"Terima kasih, Pak."


Aku membungkukkan badan padanya. Tapi dia tidak merespon apa-apa. Melainkan segera pergi dari hadapanku. Tanpa pamit, tanpa klakson mobil yang berbunyi. Ya, mungkin memang begitu tabiat orang kaya. Dingin dan bertindak semaunya. Entahlah, lebih baik aku masuk rumah saja.


Esok harinya...


Angin kencang menyambut kedatanganku saat tiba di pintu masuk sebuah pelabuhan besar ibu kota. Kulihat banyak sekali peti kemas berukuran besar sudah mengantri di sana. Sepertinya tempat yang kudatangi ini bukanlah sembarang pelabuhan. Melainkan pelabuhan khusus distribusi dalam dan luar negeri. Aku pun lekas masuk ke kantor pelabuhan yang berada di ujung sana. Aku ingin menemui resepsionisnya.

__ADS_1


"Permisi," kataku, menyapa resepsionis berseragam biru laut ini.


"Ya, Nona? Bisa dibantu?" Dia pun menjawabnya dengan santun.


"Em, aku diminta oleh Tuan Ase untuk datang kemari. Kami sudah membuat janji temu sebelumnya," kataku kepadanya.


Dia seperti berpikir sejenak. Mungkin merasa heran dengan pengakuanku. "Sebentar." Dia kemudian menelepon seseorang di sana.


Aku menunggu sambil memerhatikan keadaan sekitar. Kulihat kantornya tidak terlalu besar tapi bertingkat-tingkat. Entah bagaimana keadaan sebenarnya, karena yang kulihat hanya bagian tampak depannya saja.


"Nona Yuna?" Dia memanggilku.


"Ya?" Aku pun segera menyahutinya.


"Bisa tinggalkan identitas asli? Tuan telah menunggu Anda di lantai tiga," katanya, memberi tahuku.


Aku mengangguk lalu mengeluarkan kartu identitas dari dalam tasku. Aku pun memberikan kartu itu padanya lalu dia memberikan tanda pengenal kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2