
Dia tersenyum menyeringai di hadapanku. Berjalan ke laci meja kerja lalu mengambil sesuatu. Sesuatu itupun dia tunjukkan padaku.
"Namanya Emi Rald. Dia seorang sosialita. Aku ingin di hadapannya atau saat dekat dengannya, kau berlaku mesra padaku. Anggap saja kau itu kekasih sungguhanku." Dia berkata seperti itu.
Kuambil fotonya, kulihat bagaimana sosok wanita yang membuat pria ini sampai memintaku untuk seperti itu. Dan kulihat, wanita ini begitu cantik dan juga seksi. Dia benar-benar sosialita kelas tinggi.
"Baik." Aku pun mengiyakannya tanpa menanyakan apa alasannya.
Dia tersenyum padaku. "Bagus. Mulai sekarang kau akan diberi fasilitas untuk menyainginya. Tunggu sebentar." Dia pun menelepon seseorang.
Mulai saat ini aku tidak banyak bertanya padanya. Cukup ikuti intruksinya saja. Karena bagiku yang terpenting adalah uang dan uang. Aku tidak tahu risiko apa yang akan kuhadapi nanti. Kujalani saja sampai tiga ratus juta itu kudapatkan. Aku harus menyelamatkan rumah ibuku. Aku juga harus mewujudkan impianku. Aku berharap ini adalah jalan yang terbaik untukku.
__ADS_1
"Tuan Chan, ada seorang gadis bernama Yuna yang akan menjadi tamumu. Perlakuan dia dengan baik dan berikan dia perawatan yang terbaik."
Dan begitulah percakapan telepon yang kudengar darinya. Sepertinya misi kontrak ini akan segera dimulai. Aku pun harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aku tidak boleh mengecewakannya.
Dua minggu kemudian...
Hari terus berganti. Dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu hingga Minggu lagi. Dan kini tak terasa sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhirku. Aku pun mengalami banyak perubahan yang signifikan. Sampai-sampai ibuku sendiri tak mengenaliku.
"Baiklah. Kita mulai sekarang."
Dan akhirnya waktu untukku bekerja sudah dimulai. Malam ini aku akan datang bersama Ase ke sebuah pesta besar. Dia bilang Emi juga akan datang ke sana. Sehingga aku harus berdandan secantik mungkin untuk menyainginya. Karena ini adalah pekerjaanku. Pekerjaan sebagai pacar bayaran seseorang. Ase Mo, si bos peti kemas internasional.
__ADS_1
Sabtu, pukul tujuh malam...
"Silakan, Nona."
Aku tiba di sebuah rumah besar milik Ase Mo untuk yang ke dua kalinya. Aku dipersilakan turun dari mobil setelah dijemput oleh supir pribadinya. Aku pun segera melangkahkan kaki untuk menjemputnya di dalam. Tapi sayang tak kutemukan lagi nenek di sini. Atau mungkin nenek sedang menghadiri pertemuan penting. Apapun itu, mulai sekarang aku harus membiasakan diri menjadi orang kaya. Atau lebih tepatnya berpura-pura.
"Nona Yuna, silakan. Tuan Muda sedang bersiap sebentar."
Itulah pemberitahuan yang kuterima dari seorang pelayan pria di sini. Sepertinya dia adalah kepala pelayan yang ada di kediaman ini.
Aku tersenyum. "Baik."
__ADS_1
Dan tak lama kulihat seorang pria bertuxedo hitam turun dari tangga liku yang ada di rumah ini. Ternyata Ase sudah selesai berdandan rapi. Aku pun beranjak berdiri untuk menyambut kedatangannya. Dan kulihat raut wajahnya seperti terheran sekali. Mungkin dia merasa heran dengan penampilanku kali ini.