KONTRAK TERBATAS SI DUDA

KONTRAK TERBATAS SI DUDA
Ada Rasa Khawatir


__ADS_3

"Silakan naik ke lantai tiga. Ruangan pertama di sana." Dia mempersilakanku.


"Terima kasih." Aku pun segera naik ke lantai yang dituju.


Di ruangan Ase...


Dingin, itulah yang kurasakan saat memasuki ruangan luas ini. Di mana kursi empuk itu ada di sana dan si empu ruangan sedang tampak sibuk menandatangani beberapa dokumen. Aku pun menyapa seraya menebarkan senyuman padanya. Dan kulihat dia memerhatikan penampilanku hari ini.


"Pak?" Dengan senyum semringah aku masih berdiri di depan pintu.


"Panggil aku sama seperti yang tadi." Dia menyindirku.


Atmosfer kelam itu entah mengapa kurasakan saat dia berkata ketus seperti itu. Atau memang aku yang terlalu perasa menyikapi sikapnya?


"Em, maaf, Tuan." Dan akhirnya aku mengerti apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Duduk dan baca perjanjian ini." Dia berkata tegas padaku.


Aku menelan ludah. Pria yang kulihat hari ini sangat berbeda dengan yang semalam. Dia lebih menakutkan karena tidak ada senyum sama sekali. Apakah dia memang bos di tempat ini?


"Baik, Pak."


Lekas saja aku membaca perjanjian yang sudah dibuat olehnya. Kalimat per kalimat, kata per kata. Dan kurasa tidak ada yang terlalu berat untukku. Sampai akhirnya aku menemui alinea tambahan di bawah perjanjian ini.


Pihak pertama berhak menyentuh pihak ke dua walau pihak ke dua tidak menyukainya. Tapi pihak ke dua dilarang menyentuh pihak pertama jika tidak diminta. Kesepakatan ini berlaku sampai masa perjanjian habis.


Dan begitulah alinea tambahan yang kubaca.


Ah! Tidak! Orang sepertinya tidak mungkin menyentuhku. Lagipula aku ini hanya sebatas pekerjanya saja. Anggap saja aktris yang sedang bermain drama. Diminta melakukan apa saja dan mendapat bayaran yang setimpal. Aku rasa tidak terlalu keberatan.


Saat membaca alinea tambahan itu, saat itu juga pikiranku mulai ke mana-mana. Secara gamblang kukatakan dia bisa bebas melakukan apa saja. Sedang aku tidak diperkenankan olehnya. Aku harus menunggu diminta olehnya. Tapi bagaimana jika sentuhan itu menjerumus ke permainan ranjang? Apa aku diam saja dan tidak boleh menolaknya?

__ADS_1


"Em, Tuan." Aku mulai bicara.


Dia melirik tajam ke arahku.


"Begini." Aku pun mulai berhati-hati bicara. "Alinea tambahan ini sedikit membuatku khawatir. Bagaimana jika sentuhan yang dimaksud itu membawa kita ke sebuah adegan ranjang? Apa aku tidak boleh menolaknya?" tanyaku, langsung ke inti.


Dia meletakkan pena mahalnya lalu menggabungkan kedua tangan di depanku. "Kau ingin meminta pertanggungjawaban jika hal itu terjadi?" tanyanya balik.


"Tentu, Tuan." Dengan yakin aku mengatakannya.


Dia tersenyum sinis padaku. "Apa kau pikir aku mau menyentuh itik buruk rupa sepertimu?" Dia bertanya lagi yang mana membuat jantungku terasa sakit sekali.


Dia?!


Pria di hadapanku beranjak berdiri. Berjalan pelan memutariku sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jangan berkhayal terlalu tinggi. Seleraku tidak sepertimu. Lagipula aku memberimu pekerjaan karena nenek yang memintaku. Jadi jika kau keberatan menerimanya, aku juga tidak masalah," katanya, dengan intonasi tak peduli.

__ADS_1


Sungguh miris hati ini mendengarnya. Ternyata gadis sepertiku dianggap tak ada artinya. Dia berkata seenaknya dan dingin padaku. Seolah butuh tak butuh. Namun, karena ini urusan pekerjaan, aku tidak boleh terbawa perasaan. Aku harus menepiskan perasaanku demi gaji yang besar itu.


"Baiklah. Lalu apa yang harus kulakukan?" Aku pun mulai berubah menjadi sosok yang tak kenal perasaan. Karena di otakku hanya ada uang dan uang.


__ADS_2