
Dia berjalan mendekatiku. "Oh. Jadi wanita ini yang kau maksud?" Dia berkata seperti itu ke Ase.
Aku memerhatikan wajahnya. Kuingat baik-baik agar tidak terlupa wujud aslinya. Dan kulihat dia memang cantik dan seksi. Aku tidak tahu apa tujuan Ase mempekerjakanku untuk berlaku mesra di hadapannya. Apakah dia ini pacarnya? Istrinya atau mantan istrinya?
Yuna, bersikap tenang dan seperti di pihak yang benar.
Lantas aku memerhatikan wajah Ase saat Emi datang. Ase pun memegang pinggulku.
"Dia wanitaku." Ase berkata seperti itu.
Sungguh detak jantungku tak karuan saat tangannya memegang pinggul ini bak kekasih sungguhan. Dan kulihat wanita di hadapanku menarik napasnya dalam-dalam. Dia seperti geram melihat kelakuan Ase.
"Wanita jal*ng!" Dan tiba-tiba saja dia berkata seperti itu. "Ternyata kau yang telah menghancurkan rumah tanggaku!" Dia melempar tas pestanya ke arahku.
Astaga!
Aku kaget, terkejut karena dia melempar tasnya ke arahku. Tapi Ase segera menahannya. Dia dengan cepat melindungiku. Saat itu juga jantungku berdetak tak karuan. Dag-dig-dug karena cemas menghadapi situasi yang terjadi.
"Kita sudah bercerai. Kau tak ada hak lagi untuk melarangku," katanya kepada wanita itu.
Bercerai?!! Jadi ...?!!
__ADS_1
Sungguh aku baru tahu jika Emi adalah mantan istri Ase. Ternyata Ase adalah seorang duda kaya yang mempekerjakanku untuk berlaku mesra di hadapan mantan istrinya. Mungkin dia ingin memanasi hati mantan istrinya itu agar cemburu. Atau punya maksud lain yang entah apa. Tapi yang jelas, Ase memihakku. Aku punya kekuatan untuk melakukan serangan balasan kepadanya.
Aku tersenyum. "Nyonya, Sejalang-jalangnya aku hanya dengan satu pria. Bagaimana denganmu?" Aku pun bertanya seperti itu.
"Kurang ajar!!!"
Dia pun ingin menamparku. Tapi segera kutepiskan. Aku mulai berani melawan karena tahu Ase akan membelaku. Wanita di hadapanku ini terlihat naik pitam. Dadanya naik-turun menahan gemuruh.
"Sayang, ajak aku berkeliling tempat ini. Di sini berisik sekali."
Aku pun menggandeng tangan Ase, memintanya untuk mengajak ku berkeliling gedung pesta ini. Ase pun menurutinya. Dan kulihat orang-orang di sekeliling memerhatikan kami dengan raut wajah terperangah. Mungkin mereka tak percaya akan terjadi kejadian seperti ini di pesta.
.........
.........
Sepulang pesta...
Embusan napasku terasa berat selesai menghadiri pesta tadi. Kepalaku terasa sakit manakala mengingat apa yang baru saja terjadi. Aku pun duduk di kursi belakang mobil sambil memijat kepalaku ini. Sedang pria berjas hitam di sampingku sedang menelepon seseorang. Entah siapa, aku rasa tak perlu juga menanyakannya.
__ADS_1
"Baik. Terima kasih." Dia pun mengakhiri teleponnya. "Ini baru permulaan," katanya, mengajak ku bicara.
Aku diam. Tidak bicara apa-apa. Namun, kulihat dia mengambil botol air mineral untukku.
"Minumlah." Dia pun berkata seperti itu.
Aku mengambil air mineral pemberiannya lalu segera meneguknya. Dia pun menoleh sesaat ke arahku. Mungkin dia ingin melihat kondisiku pasca berseteru dengan mantan istrinya.
"Kami sudah bercerai. Dan dia meminta rujuk." Dia menceritakan padaku.
Aku menoleh kepadanya. "Tuan tidak mau?" tanyaku.
Ase tersenyum tipis. "Menurutmu?" Dia malah balik bertanya padaku.
Dia aneh. Aku tanya, malah balik bertanya.
"Mampir ke Royal Hotel sebentar. Aku ada urusan."
Dan dia tiba-tiba berkata seperti itu kepada supir di depan. Sontak pikiranku jadi ke mana-mana.
Hotel?! Apa yang ingin dia lakukan?!!
__ADS_1