KONTRAK TERBATAS SI DUDA

KONTRAK TERBATAS SI DUDA
Memberi Pelajaran


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Suasana di pesta ini mulai ramai. Para wanita bergaun malam nan glamor memenuhi seisi ruang pesta yang mewah. Aku pun segera menuju ke tempat di mana wanita-wanita itu membicarakanku. Aku berdiri di hadapan mereka seraya tersenyum setipis tisu. Aku menyapa mereka dengan rasa kesal yang tertahan di dada.


"Em, permisi," kataku sambil menahan amarah, namun tak kutampakkan secara terang-terangan.


"Eh, siapa ya?" Salah satu dari kumpulan wanita itu bertanya padaku.


Aku tersenyum. "Nyonya-nyonya, bagaimana mungkin membicarakan seseorang tanpa tahu siapa?" Aku mulai menyerang mereka.


Mereka berdecak kesal mendengar ucapanku. Salah satu dari wanita itu maju satu langkah ke hadapanku lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Gadis Muda, jaga sopan santunmu di hadapan kami. Jangan kira karena kau adalah peliharaan tuan Ase, bisa bertindak semaunya!" Dia berkata seperti itu.


Peliharaan?!! Keterlaluan!


Saat mendengarnya, saat itu juga hatiku bertambah kesal bukan kepalang. Rasa-rasanya ingin menampar wajah mereka. Sayang, aku orang baru di dunia orang-orang kaya ini. Jadinya tidak bisa bertindak semuanya.

__ADS_1


Sabar, Yuna. Mereka memang mempunyai uang. Kau tidak bisa bertindak semaunya.


Lantas aku mencari cara lain untuk membalas ucapan wanita itu. "Nyonya, bagaimana Anda bisa tahu peliharaan seseorang jika Anda sendiri tidak mengalaminya?" tanyaku balik.


"Apa kau bilang?!!" Dia pun langsung naik pitam.


Aku menyilangkan kedua tangan di dada, tak mau kalah. "Nyonya, sudah sepantasnya dicubit jika suka mencubit orang lain. Dunia ini bukan hanya milik Anda saja. Masih banyak makhluk yang hidup di sini. Dan mereka mempunyai telinga. Jadi, jangan karena mempunyai uang atau kelompok besar, merasa memiliki semuanya. Anda harus tahu diri jika masih menumpang di bumi," kataku kepadanya.


"Kau!!!"


"Di atas langit masih ada langit. Nyonya perlu mengingat itu," kataku, seraya pergi berlalu.


"Tunggu!!!" Salah satu dari mereka menghentikan langkah kakiku.


Aku berhenti melangkahkan kaki, menelan ludah karena harap-harap cemas terhadap apa yang baru kulakukan tadi. Aku khawatir mereka melakukan pembalasan terhadapku.


"Ada apa, Nyonya?" tanyaku seraya berbalik ke arahnya.

__ADS_1


"Kau punya keberanian yang cukup luar biasa untuk melawan kami," katanya, menjawab pertanyaanku.


Aku tersenyum, tertunduk. "Saya tidak ada niat seperti itu. Tapi boomerang memang selalu kembali ke tempat asalnya," kataku lagi.


Suasana di acara pesta ini terpusat pada kami. Tentu saja perseteruan yang terjadi membuat banyak mata menujukan pandangannya ke kami. Tapi aku tidak peduli. Aku melangkah pergi dari perkumpulan wanita-wanita itu. Aku kembali ke Ase dengan elegan. Ase pun melihatku datang.


"Maaf lama, Sayang." Aku pun bicara seperti itu padanya.


Ase tersenyum kecil padaku. "Dia melihatmu." Dia berkata seperti itu. Saat itu juga kutahu jika targetku ada di sini.


Emi sudah datang ke pesta ini?


Sontak aku menoleh ke belakang, ke mana mata Ase tertuju. Dan kulihat seorang wanita berdres putih mini menatap tajam dari kejauhan. Mungkin itu adalah Emi, wanita yang dimaksudkan Ase padaku.


Ini saatnya. Pekerjaanku baru saja dimulai.


Aku pun menguatkan diri untuk menghadapi situasi yang akan terjadi. Aku harus terus maju untuk mendapatkan tiga ratus juta itu.

__ADS_1


__ADS_2