KONTRAK TERBATAS SI DUDA

KONTRAK TERBATAS SI DUDA
Merasa Dicomblangin


__ADS_3

Seorang pria berjas abu-abu datang menghampiri nenek di hadapanku dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat panik sekali. Namun, sepertinya dia adalah seorang pria mapan dan berkelas tinggi. Rambutnya sedikit gondrong yang membuatnya seperti mafia-mafia tampan. Entah siapa dirinya, tapi yang jelas dia memang tampan.


"Ase, kau pulang cepat? Mari makan bersama kami. Ini Yuna. Dia telah membantu nenek menyeberang di jalan tadi."


Nenek memperkenalkanku kepada pria itu. Aku pun segera berdiri lalu membungkukkan sedikit badanku. Dan kulihat pria itu mengernyitkan dahinya melihatku. Entah mengapa, tapi mungkin saja kaget melihat kehadiranku di sini.


"Nenek, Nenek membuatku cemas." Pria bernama Ase itu pun tampak khawatir sekali.


"Sudah, jangan dipikirkan. Pengawal-pengawalmu juga dengan cepat menemukan nenek. Sekarang mari kita makan. Nanti kita bicarakan lagi," pinta nenek kembali.


Pada akhirnya, pria itu menurut saja kepada nenek di hadapanku ini. Dia duduk di tengah-tengah kami lalu mulai mengambil nasi. Dia patuh sekali. Dia juga melirik ke arahku sesekali. Entah apa yang dia pikirkan, sepertinya aku juga tidak perlu memedulikan. Karena yang penting perutku kenyang, makan banyak di sini.


Selepas makan bersama...


Saat ini pukul setengah tujuh malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Saat ini juga kami baru selesai makan bersama. Tapi tidak langsung berdiri ataupun keluar area makan. Melainkan mengobrol-obrol sebentar. Aku pun banyak ditanyai oleh nenek dan juga cucunya. Aku bak diinterogasi seusai makan bersama. Dan aku hanya bisa menjawab sejujurnya. Tidak ada yang kututup-tutupi dari mereka.


"Jadi kau sedang mencari pekerjaan dan tiba-tiba melihat nenekku ingin menyeberang?" Pria bernama Ase itu bertanya padaku.


"Benar, Pak," jawabku untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Dia mengernyitkan dahinya. Nenek pun seperti tersadar dengan ketidaknyamanan cucunya.


"Yuna."


"Ya, Nek?"


"Jangan panggil pak. Panggil kakak saja." Nenek memintaku untuk memanggil cucunya dengan sebutan kakak.


Kakak??? Sepertinya usia kami jauh berbeda.


"Nenek, biarkan saja dia menyebutku dengan sebutan pak." Pria bernama Ase itu pun tidak keberatan jika aku memanggilnya dengan sebutan pak.


Pria bernama Ase itu terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Em, Yuna." Dia kemudian berkata padaku. "Maukah berjalan sebentar di taman belakang rumahku?" tanyanya kemudian.


"Ap-apa?" Aku pun seperti salah mendengar.


Nenek terlihat gembira seketika. "Yuna, taman belakang rumah kami sangat indah. Berjalanlah bersama Ase. Mungkin dia akan memberimu pekerjaan yang kau butuhkan." Nenek antusias sekali memintaku memenuhi ajakan cucunya.


"Em, aku ...,"

__ADS_1


"Tidak apa," kata nenek lagi. "Jangan takut. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan pertemuan ini. Lekaslah ke taman belakang untuk bicara ya." Dan akhirnya nenek memaksaku.


Tak tahu mengapa hal ini terjadi. Aku juga belum mengenal mereka sebelumnya. Tapi karena iming-iming pekerjaan itu, aku jadi mau. Kali-kali saja mereka benar-benar memberi pekerjaan padaku. Karena kalau tidak dicoba, tidak akan ada yang tahu.


"Tapi, Nek, hari sudah malam. Ibu sudah menunggu Yuna di rumah. Ibu pasti khawatir kalau Yuna pulang terlalu malam." Aku masih bersikeras menolaknya.


"Nanti aku yang antar."


Dan akhirnya pria bernama Ase ini bicara padaku. Aku pun terkejut mendengarnya. Mau tak mau aku pun memenuhinya. Memenuhi ajakannya untuk bicara di taman belakang rumah. Entah apa yang akan dibicarakan, lebih baik ikuti saja alur ceritanya.


.........


...Ase...



.........


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


__ADS_2