
Lampu-lampu taman menjadi saksi langkah kami yang berjalan bersama. Aku pun cukup ragu untuk berjalan bersama pria tampan ini. Tapi kulihat nenek sangat menginginkanku berjalan bersamanya. Alhasil sedari tadi aku hanya diam jika tidak ditanya. Pria di sampingku juga sepertinya dingin terhadap wanita. Dia bicara seperlunya saja. Sampai akhirnya dia menanyakan sesuatu padaku.
"Kau sudah punya pacar?" tanyanya di tengah-tengah suara jangkrik yang berbunyi di taman ini.
"Belum, Pak," jawabku jujur.
"Sudah pernah pacaran?" tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala.
Dia menoleh ke arahku. "Katakan saja dengan jujur. Karena ini berkaitan dengan pekerjaan yang akan kau dapatkan." Dia berkata lagi.
Sejenak aku menelaah ucapannya. Tapi nyatanya aku memang belum punya pacar. Aku juga belum pernah berpacaran. "Saya jujur, Pak," kataku lagi, meyakinkannya.
Dia menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau ingin pekerjaan seperti apa?" Dia bertanya padaku.
Aku berpikir, memutar bola ke atas, melihat langit malam ini. "Yang gajinya besar tapi juga nyaman, Pak." Aku menjawab begitu saja.
__ADS_1
Dia tertawa pelan mendengarnya. "Aku bisa memberimu gaji yang besar. Tapi untuk kenyamanan, tergantung bagaimana kau menyikapinya," katanya, seolah ingin menunjukkan kuasanya padaku.
Kuakui pria di sampingku ini memang seperti bos-bos besar yang bicara seperlunya. Tapi mungkin karena nenek memerhatikan kami, dia jadi lebih merendahkan diri. Seperti saat ini yang mana nenek pura-pura menyiram tanaman di taman belakang, tak jauh dari kami. Entah mengapa nenek sangat antusias dengan percakapan kami malam ini.
"Jika Bapak berani memberi pekerjaan dengan gaji yang besar, saya bisa mempertimbangkan kenyamanannya." Dengan polos aku pun mengatakannya.
Dia menggelengkan kepala. Mungkin merasa heran denganku. "Berapa gaji yang kau inginkan?" tanyanya lagi.
"Sebesar mungkin," jawabku cepat dengan penuh semangat.
"Apa?!!" Seketika aku pun terpaku di tempat, tidak melangkah lagi bersamanya.
Dia ikut berhenti, tepat di depanku. "Kenapa? Apa terlalu kecil? Bagaimana jika tiga ratus juta dalam sebulan?" tanyanya lagi.
Ti-tiga ra-ratus juta ...???
Sungguh rasanya ingin pingsan saja mendengar tawaran gaji sebesar itu. Bagaimana mungkin dalam satu bulan aku bisa mendapatkan penghasilan tiga ratus juta dari sebuah pekerjaan. Memangnya pekerjaan apa yang harus kulakukan sampai dia berani membayarku sebesar itu?
__ADS_1
"Em, maaf, Pak. Apakah saya tidak salah mendengar?" tanyaku memastikan.
Dia memalingkan pandangannya dariku, melihat langit malam lalu beralih kembali padaku. "Tiga ratus juta jika kau mau menandatangani kontrak kerja sama denganku. Itu hanya uang tunainya saja. Segala kebutuhan pribadimu, aku yang tanggung. Bagaimana?" Dia sepertinya serius padaku.
Aku menelan ludah. Tak percaya jika akan mendapatkan tawaran gaji yang sangat besar. Aku seperti sedang bermimpi saja. Aku pun tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Aku mengiyakannya sambil tersenyum gembira.
"Saya mau, Pak. Saya mau!" Aku pun manggut-manggut di depannya. Tentu saja mau dengan tawaran sebesar itu.
Dia melihatku lalu melihat ke arah belakangku. Seperti sedang melihat nenek yang tengah menyiram tanaman di sana. Aku pun melihat ke belakang untuk memastikan. Dan ternyata nenek masih berada di sana sambil tersenyum senang.
"Pak?" Aku pun menegurnya.
Dia beralih kepadaku. "Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Yuna Dara," jawabku.
Dia mengangguk pelan. "Yuna, jadilah kekasih kontrakku dan dapatkan tiga ratus juta itu," katanya lagi.
__ADS_1