
"Yuna, jangan takut. Kami bukanlah orang jahat."
Dan akhirnya nenek meyakinkanku. Menawarkan kembali makan gratis kepadaku. Dan karena sudah lapar, aku pun menyetujuinya. Tentunya tanpa perlu mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar.
Setengah jam kemudian...
"Wahhh! Banyaknyaaaa!!!"
Begitulah kata-kata yang keluar dari mulutku saat melihat berbagai macam sajian istimewa. Mulai dari hidangan laut yang menggugah selera, sampai sate kambing dan ayam yang begitu banyaknya. Tak tahu mengapa rasanya ingin cepat makan saja. Aku sampai tak ingat lagi sedang berada di mana. Sampai akhirnya nenek yang dipanggil nyonya tua itu keluar dari kamar dengan dandanan yang rapi. Dia terlihat elegan sekali.
"Silakan dimakan, Yuna. Makanlah sepuasnya. Jangan sungkan." Nenek mempersilakanku makan.
Aku manggut-manggut. Tentu saja segera mengambil nasi beserta lauk makan sebanyak-banyaknya. Aku pun mulai menyantap tanpa tahu tata krama. Hingga akhirnya kusadari nenek memerhatikanku. Sungguh perutku tidak bisa diajak berkompromi. Maunya cepat melahap saja.
Errr ... sepertinya aku salah.
__ADS_1
Dan akhirnya aku berhenti makan karena tak enak hati. Namun, tak berapa lama nenek itu tertawa di hadapanku.
"Hahaha. Kau lucu sekali, Yuna. Andai aku punya cucu perempuan sepertimu," katanya, sambil menggabungkan kedua tangannya di atas meja.
Nenek ....
Saat ini aku sedang berada di dalam sebuah rumah yang besar. Mungkin lebih pantas dijuluki istana dibandingkan sebuah rumah. Karena nyatanya banyak permadani indah dan perabotan mahal di sini. Di setiap ruangan pun AC hidup semua. Benar-benar orang kaya.
"Em, Nenek, maaf." Aku pun tak enak hati padanya.
Nenek itu tersenyum padaku. "Tak apa. Makanlah. Habiskan kalau bisa." Dia berkata lagi dengan senyum khasnya.
Aku manggut-manggut.
"Eh, maksud Nenek? Apakah Nenek sedang mengadakan sosial eksperimen?" tanyaku, penasaran.
__ADS_1
Nenek tersenyum lagi lalu mulai menyantap makanannya. "Nenek baru datang ke ibu kota dua minggu yang lalu. Tapi keadaan ibu kota sangat di luar perkiraan. Atau mungkin semua penduduk bumi sudah terbiasa seperti ini?" Dia seperti mengajak ku berpendapat.
Aku terdiam. Hanya bisa mendengarkan. Aku khawatir salah bicara dalam mengemukakan pendapat atau penilaian. Jadinya diam saja.
Kunikmati hidangan ini pelan-pelan sambil tetap menjaga kesopanan. Karena sepertinya nenek yang duduk di hadapanku bukanlah orang sembarangan. Terbukti dengan banyak pelayan di rumah ini. Mungkin saja dia berasal dari kalangan bangsawan.
"Penampilanmu kurang rapi. Apakah kau habis berkelahi?" tanya nenek padaku.
Eh?!
Sontak aku melihat penampilanku sendiri. Hari ini aku memang mengenakan kemeja kotak-kotak merah dan celana dasar hitam panjang. Aku sedang melamar pekerjaan. Tapi tak tahu mengapa belum dapat juga. Dan kini dibilang kurang rapi. Atau karena penampilan wajahku yang minim make up ini?
"Em, Yuna sedang mencari pekerjaan, Nek. Tapi belum mendapatkannya. Sejak pagi Yuna melamar ke banyak tempat. Jadi mungkin karena itulah penampilan Yuna terlihat berantakan." Aku beralasan begitu saja.
"Oh, begitu." Nenek pun meneguk air minumnya.
__ADS_1
"Nenek!" Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang mengagetkanku. "Nenek! Astaga! Nenek ke mana saja?!" tanyanya cemas.
Siapa dia? Apakah dia cucu yang dimaksud Tuan Muda itu?