KONTRAK TERBATAS SI DUDA

KONTRAK TERBATAS SI DUDA
Mencoba Menolong


__ADS_3

Nenek itu sepertinya kesulitan untuk menyeberang. Tapi kenapa pejalan kaki yang ada di sana tidak ada yang mau membantunya? Payah! Orang-orang ibu kota memang tidak ada yang peka!


Kulihat para pejalan kaki itu tampak sibuk sendiri. Tidak ada yang menolong nenek itu sama sekali. Padahal kulihat nenek itu membawa banyak sekali tas belanja. Aku jadi heran kenapa sifat individualisme didewakan di sini? Apakah hati manusia sekarang sudah tidak lagi mempunyai rasa kasihan?


"Berapa, Pak?"


Lantas lekas-lekas aku menghabiskan segelas es ini lalu membayarnya. Aku pun berjalan menuju nenek itu untuk menolongnya menyeberang. Dan kulihat nenek itu tampak senang saat kudatang.


"Mari saya bantu, Nek," kataku, padanya.


Kami pun menyeberang bersama di perempatan lampu merah. Sampai akhirnya aku berhasil mengantarkannya ke arah tujuan.


"Terima kasih." Nenek berkaca mata ini berucap terima kasih padaku.


"Sama-sama, Nek." Aku pun tersenyum padanya. "Nenek dari mana? Kenapa sendirian?" tanyaku, peduli padanya.


"Itu dia!"


Tapi sebelum sempat nenek menjawab pertanyaanku, kulihat beberapa orang berjas hitam datang, memberhentikan mobilnya tepat di depan kami. Mereka pun segera keluar seperti akan menangkap nenek di sampingku ini.


Apakah mereka orang jahat? Aku harus melindungi nenek ini.

__ADS_1


Kurentangkan kedua tangan untuk melindungi nenek di belakangku. "Siapa kalian?!" Aku menghadang mereka agar tidak melukai nenek ini.


"Siapa kami?! Menjauh kau dari Nyonya Tua, Gadis Kecil!" katanya yang membuatku terdiam seketika.


Nyonya Tua???


Tanda tanya pun muncul di otakku. "Kalian pasti orang jahat! Pergi kalian atau kalau tidak aku akan teriak!" Aku pun berusaha melawan mereka.


Mereka tersenyum mengejekku. "Gadis Bodoh!" Kedua dari mereka pun memegangi tanganku.


"Nenek! Cepat lari, Nek!" Aku pun meminta nenek segera pergi dari sini. Dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari pegangan mereka.


Nyonya Tua? Tuan Muda?


Aku semakin bertanda tanya saja. Kulihat nenek itu pun diam seperti kesal. Namun, ia tersenyum padaku. Aku pun semakin bertambah bingung. Apakah ini delusi?


"Lepaskan!" Nenek itu kemudian meminta pria-pria berjas hitam ini melepaskanku.


"Nenek ...???"


Sungguh aku bingung sekali. Siapa sebenarnya nenek tua ini. Mengapa orang-orang yang kukira penjahat malah memanggilnya dengan sebutan Nyonya Tua? Mereka juga menyebut seseorang dengan sebutan Tuan Muda. Apakah nenek ini adalah orang kaya?

__ADS_1


"Kalian membuat gadis ini ketakutan. Cepat minta maaf atau kuminta cucuku untuk memecat kalian!" katanya.


Hah?????


Seribu tanda tanya mulai keluar dari kepalaku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Sungguh aku bingung sekali. Dan baru kusadari orang-orang di jalan melihati kami di sini. Tapi mereka hanya sebatas melihat saja. Tidak peduli ataupun menanyakan apa yang terjadi.


"Siapa namamu, Gadis Muda?" Nenek bertanya padaku.


"Em, aku ... Yuna, Nek," kataku, menjawab pertanyaannya.


Nenek itu tersenyum. "Terima kasih telah membantuku menyeberang. Dan sebagai rasa terima kasihku, aku ingin mengajakmu makan. Kau tidak keberatan, bukan?" tanyanya.


Makan??? "Eh! Ti-tidak perlu, Nek. Terima kasih."


Dan setelah keadaan dirasa membaik, aku pun menyadari jika nenek di hadapanku ini bukanlah sembarang orang.


Nenek tersenyum padaku. "Tak apa. Aku banyak sekali membeli makanan. Kau pasti menyukainya." Dia membujukku lagi.


"Tidak perlu, Nek--"


Namun, di saat bersamaan perutku berbunyi nyaring sekali. Seolah berontak jika sampai menolak ajakan nenek ini. Kulihat para pria berjas hitam itu pun memalingkan wajahnya saat mendengar suara perutku. Mereka seperti menertawaiku.

__ADS_1


__ADS_2