Ku Ikhlaskan Dirimu

Ku Ikhlaskan Dirimu
bab 28


__ADS_3

Sore itu Hana mengajari Ranti untuk bisa masuk ke komplek itu. Ranti pun belajar dengan cepat.


Saat malam menyapa kota itu, Ranti bersiap memberi kejutan untuk suaminya. Jaket yang bertuliskan sebuah aplikasi ojek online, dan kue ulang tahun yang sudah di kemas.


"Aku pergi ya Han ..., pinjam motormu dulu," pamit Ranti.


Ranti segera melajukan motor Hana menuju kediaman suaminya. Sesampai di depan pintu masuk komplek, Hana berhenti di post satpam.


"Selamat malam Pak." Ranti menyebutkan nama aplikasi, pesanan, alamat pemesanan, dan nomor telepon Haikal.


Satpam memeriksa bawaan Ranti, benar adanya dia membawa kado, dan kue ulang tahun. Merasa yang Ranti sebutkan lengkap, dia diizinkan untuk masuk.


Ranti menyusuri jalanan sambil memperhatikan setiap nomor rumah yang dia lewati. Hingga dia menemukan alamat tujuannya, mobil suaminya juga terparkir di halaman rumah minimalis yang tidak dikelilingi pagar itu.


Ranti segera turun dari motornya, merapikan masker wajah dan helmnya, merasa penampilannya meyakinkan, Ranti mengambil dua barang yang dia siapkan untuk suaminya.


Ting! Tong!


Ranti menekan bel yang ada di samping rumah itu.


"Permisi ... paket ...." Ranti berusaha merubah suaranya.


Ceklak!


Pintu terbuka, terlihat seorang wanita muda dengan pakaian kekurangan bahan yang membukan pintu.


'Sabar Ran, mungkin kamu salah rumah,' batin Ranti.

__ADS_1


"Ada apa ya mbak?" tanya wanita cantik itu.


"Saya mengantarkan pesanan atas nama Bapak Haikal," ucap Ranti. Ranti memperlihatkan handphonenya. "Benar ini alamat Bapak Haikal?"


"Iya bener sih mbak, tapi pacar saya tidak pesan apa-apa, setahu saya."


Dugggg! Jantung Ranti seakan berhenti berdetak mendengar kata-kata itu.


Wanita itu menoleh kedalam. "Sayang ... kamu pesan barang ya?" teriaknya.


"Tidak ada pesan apa-apa aku yank ...."


Mendengar suara sahutan itu kedua lutut Ranti sekaan lemas, rasanya kedua kakinya tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.


"Tapi alamatnya benar loh yank, coba cek dulu ...."


Rasanya jantung Ranti kembali berdetak, dentuman irama jantungnya tidak normal, dia berharap hanya sama nama dan suara yang mirip saja.


"Coba sini aku lihat nama pemesannya."


Ranti belum siap menegakan wajahnya, tidak siap dengan kejutan yang akan dia lihat, namun dia harus menegakan wajahnya untuk memastikan sosok itu.


Deguarrr!


Laki-laki itu memang Haikal suaminya, saat ini laki-laki itu bertelanjang dada dan berada di satu atap yang sama dengan seorang wanita.


"Owh, pemesannya istriku. Mungkin dia minta tolong sahabatnya buat kirim ini ke aku, setiap tahun jika ulang tahunku bukan har libur, pasti dia kirim. Kali ini masih libur, tapi aku nggak mau lewatin kebersamaan sama kamu." Haikal menyenggol manja wanita di sampinganya.

__ADS_1


Air mata Ranti sudah merembes membasahi masker yang menutup wajanya.


"Ada lagi mbak?" tanya Haikal.


Ranti memberikan hadiahnya pada Haikal. "Selamat ulang tahun, aku tadi ingin memberi kejutan. Ternyata aku yang terkejut." Ranti membuka maskernya.


"Ranti?" Haikal sangat syok, sosok yang dibalik jaket online itu istrinya sendiri.


"Demi peliharaan kamu, kamu rela ninggalin anak istri yang masih sangat merindukan kamu mas?" Ranti berusaha menghapus air matanya, rasanya air matanya terlalu sia-sia jika dia keluarkan untuk sang pengkhianat.


"Sudah berapa lama?" tanya Ranti.


Haikal masih mematung.


Ranti menoleh pada perempuan di samping Haikal. "Sudah berapa lama mbak pacaran sama suami saya?"


"Setahun." Wanita itu terlihat sangat datar, seakan tidak merasa bersalah sedikit pun.


Ranti ingin sekali menertawakan dirinya sendiri. Setahun suaminya membodohinya dan membohonginya. Pantas saja uang tabungan suaminya jauh lebih sedikit, padahal gajih suaminya lebih besar. Pemikiran Ranti karena kemungkinan kebutuhan suaminya lebih besar sangat keliru, ternyata suaminya punya peliharaan.


"Jangan ngamuk di sini, bikin malu." ucap Haikal.


Ranti tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Untuk apa mengamuk? Bikin malu diri sendiri. Sekarang mas mau meneruskan hubungan dengan yang mana? Aku apa dia? Biasanya sih pelakor yang unggul, kalau mas ingin mempertahankan dia, aku siap mengirim gugatan cerai kita."


"Aku sama dia hanya senang-seang Ran, tidak ada niat untuk menikah, apalagi dia juga memiliki suami."


Ranti semakin jijik dengan suaminya, tanpa berkata lagi, dia meninggalkan kediaman suaminya.

__ADS_1


__ADS_2