
Flashback
Aku,Risa Febriana.Usiaku sekarang baru saja menginjak 22 tahun.Aku menikah saat usiaku 18 tahun.Saat itu,aku baru saja lulus SMA.
Aku menikah bukan karena Married By Accident atau karena cinta.Aku terpaksa menikah muda karena hutang budi serta untuk menyambung nyawa dan mungkin juga untuk tumpuan hidup.
Bukan hanya untukku sendiri,tapi juga untuk kedua orangtuaku serta Nanda,adik kecilku.Kehidupan kami bisa dibilang sangat kekurangan dan lagi,ayahku juga sering sakit-sakitan.
Apalagi,keluarga dari kedua orangtuaku sudah tak ada lagi yang mau mendekat karena mereka berprasangka,bahwa orang miskin seperti kami pasti akan sering datang untuk meminta-minta.
Dari aku kecil,orangtuaku berjuang keras agar bisa menamatkan sekolahku hingga setidaknya aku lulus SMA.Tapi,ternyata takdir tak sesuai rencana.Sang Pencipta Alam kembali memberikan kepercayaan pada keluargaku saat aku lulus SMP.
Ibuku diketahui sedang mengandung anak kedua.Aku sempat marah dan protes,kenapa disaat dalam keadaan terpuruk seperti ini,ibuku malah hamil lagi.
Berhari-hari ayah memberiku pengertian dan membuatku sadar,bahwa hidup,mati,rezeki dan jodoh manusia itu sudah ada yang mengatur.
Kalaupun keinginan tak sesuai dengan kenyataan,itu artinya kita harus pasrah kepada skenario Tuhan.Tetap berusaha dan berdoa,agar kita bisa melewati semuanya dengan ikhlas.
Ayahku semakin bekerja keras agar aku tetap bisa melanjutkan pendidikanku,apalagi ada calon adikku di rahim ibu.Kehamilan ibuku yang kedua ini bisa dibilang rewel.
Pencernaan ibu tak bisa menerima makanan apapun yang baru saja di telannya,sehingga membuat ibu lemas tak berdaya dan tak bisa lagi membantu ayah bekerja yang tentu saja berpengaruh pada perekonomian keluarga.
Karena keterbatasan biaya itulah,ibu tak pernah dibawa ke rumah sakit ataupun dokter spesialis kandungan.Ayah hanya mampu membawa ibu memeriksakan kandungannya ke bidan di sekitar tempat tinggalku.
Aku sempat mengurungkan niatku untuk melanjutkan sekolah karena tak tega melihat ayah.Aku ingin sekali membantunya memulung atau mengumpulkan barang bekas untuk disetorkan ke pengepul.
Tapi dengan keras ayah menolak keinginanku dan berjanji akan terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga.Beliau berharap,agar kelak aku bisa memiliki kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.Jadi karena semangat ayahku,akhirnya aku bersemangat juga untuk tetap melanjutkan sekolahku.
Hari berganti minggu dan bulan.Kehamilan ibu semakin membesar dan sudah tidak rewel lagi.Dan selama 7 bulan ini,diam-diam aku mencari penghasilan sendiri dengan mengamen.Tentu saja tanpa sepengetahuan orangtuaku.
Jika mereka bertanya mengapa aku sering pulang terlambat,aku beralasan bahwa sedang ada PR yang harus dikerjakan secara berkelompok,dan untungnya ayah ibuku tak bertanya lebih jauh lagi.Toh di semester satu kemarin,nilaiku masih lumayan.Masih berada di peringkat empat,bagiku itu tak masalah,yang penting masih masuk di deretan sepuluh besar.
Hasil mengamen aku gunakan untuk membeli alat tulis yang aku butuhkan,untuk membeli minum ataupun sepotong roti saat aku haus dan lapar karena naik turun bis kota,dan jika masih ada sisa...aku tabung bersamaan dengan uang saku yang diberikan ayah,agar bisa sedikit membantu meringankan biaya sekolah.
Bermodalkan tutup botol yang bersatu dengan sepotong kayu dan paku serta hobi menyanyi ku saat mandi atau mencuci dirumah,sudah lumayan menghasilkan rupiah.
Hingga saat mendekati hari kelahiran adikku,aku bisa membeli beberapa peralatan bayi yang belum dimiliki dengan uang tabunganku yang lagi-lagi ku sertai dengan kebohongan bahwa barang-barang itu pemberian dari teman yang juga memiliki adik kecil.
__ADS_1
Aku bersyukur saat adikku terlahir sehat dan normal tanpa kendala yang berarti.Sehingga masalah biaya pun bisa teratasi.Apalagi bidan ditempatku sudah sangat mengerti dengan kondisi keluarga kami.
Kehadiran adik perempuan kecilku yang dulu sempat ingin aku tolak,saat itu menjadi kebahagiaan ditengah-tengah keluarga.Nanda Asyfa,sungguh bisa mengalihkan penderitaan kami.
Namun,kebahagiaan itu sedikit terkoyak setelah Nanda berusia 6 bulan dan aku baru saja naik ke kelas dua.
Ayah sering sakit-sakitan,jadi lebih banyak dirumah karena memang tak memungkinkan untuk bekerja.Mungkin karena ayah terlalu keras bekerja sampai lupa waktu bahkan tak memperhatikan kesehatan diri sendiri.
Apalagi,tempatnya bekerja berjibaku dengan kuman dan kotoran.Jadi aku berasumsi,sudah pasti ayah sakit karena itu.Kalau diingatkan hanya selalu mengatakan iya.Kalau dibawa ke bidan atau dokter juga selalu menolak dengan alasan beliau baik-baik saja,sakit biasa,minum obat warung pasti nanti sembuh sendiri daripada buang-buang uang.
Entah harus dengan cara apalagi aku dan ibu membujuk ayah.Uang hasil mengamen juga jarang bersisa dan aku tak bisa menabung lagi,karena sejak ayah sakit,keuangan keluarga sudah pasti sangat minus.
Hingga suatu hari,saat aku mengamen di dalam bis kota,ada seorang penumpang yang memberi tiga lembar uang seratus ribuan setelah aku menyanyikan beberapa lagu.
Pria itu mengatakan bahwa suaraku sangat bagus dan pas,jadi...dia memintaku untuk menyanyikan beberapa lagu lagi,setelah itu dia memberikan selembar kartu nama dan memintaku untuk datang ke alamat yang tertera disitu.
Sebelum turun,pria itu memberikanku lagi dua lembar kertas berwarna merah bergambar Sukarno-Hatta itu dan mengatakan bahwa itu untuk biaya perjalanan menuju kantornya.
Selang setengah jam kemudian,bis yang aku tumpangi pun sampai di terminal.Aku turun lalu berjalan sekitar 100 meter ke arah halte bis.
Seketika dipikiranku langsung muncul harapan bahwa aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,entah sebagai cleaning service atau pramusaji,aku tak peduli,yang penting memperoleh hasil dari pekerjaan halal.
Dengan senyum sumringah serta hati yang riang,aku berlalu dari halte bis itu,mencari angkot untuk pulang,dan berniat menemui calon bosku saat hari libur sekolah.
Sesampainya dirumah,aku mandi,makan dan menceritakan semuanya pada ayah dan ibuku,termasuk pengakuanku bahwa selama ini aku mengamen.
Ayah dan ibuku sempat terkejut tapi tak sampai memarahiku.Karena mau semarah apapun,semuanya sudah terlanjur terjadi.
Perjuanganku untuk merayu dan meyakinkan orangtuaku agar mengijinkan aku mendatangi cafe itu pun juga tak mudah.Selama beberapa hari aku terus saja memohon agar diijinkan hingga ayah dan ibu menyetujui keinginanku dengan syarat dan wejangan untuk selalu menjaga diri dan berhati-hati.
******************
Ku amati pepohonan di kanan jalan melalui kaca jendela bis kota yang aku tumpangi.Kali ini,aku menumpang bukan untuk mengamen,tapi untuk menemui pemilik cafe di pusat kota.
Karena hampir semua sopir,kenek dan kondektur bis mengenali wajahku....jadi aku bisa sampai di cafe Yudhistira dengan selamat dan gratis,hehehe....
Yudhistira yang tak mau ku panggil dengan sebutan "Pak" dengan dalih bahwa dia belum menikah itu mempersilahkan aku untuk masuk,langsung membahas masalah pekerjaan yang ternyata memintaku untuk menjadi penyanyi di cafe nya dengan iringan band yang sudah tersedia.
__ADS_1
Karena dia tahu kalau aku masih sekolah,jadi dia tidak memaksaku untuk mau bekerja padanya atau tidak.
Kalau aku mau,aku bisa bekerja setiap hari mulai dari jam empat sore sampai jam sembilan malam dengan fasilitas antar jemput,wardrobe dan tentu saja beserta konsumsi yang mungkin belum tentu pernah aku nikmati sebelumnya.
Dan tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menyetujui kesepakatan itu,dan kujalani hari-hari ku dengan keceriaan.Sedikit demi sedikit,keuangan keluargaku terbantu dan berubah hingga hampir dua tahun aku bekerja pada Yudhistira,aku dikejutkan oleh pernyataan bosku itu.
Dia terang-terangan mengajakku menikah.Mengatakan bersedia membiayai kuliahku dan operasi jantung ayahku yang memang waktu itu tabunganku belum mencukupi untuk biaya operasi.
Saat aku mengatakan bahwa permintaannya akan kujawab beberapa bulan lagi menunggu aku lulus,dia sudah bertindak duluan.
Membelikan rumah yang lebih bagus dan nyaman untuk keluargaku,membiayai operasi jantung ayah hingga ayah cepat ditangani,mendaftarkanku di Universitas yang bagus dan memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh keluargaku terutama Nanda.
Menyaksikan itu semua membuatku menangis bahagia sekaligus frustasi.Bagaimana bisa aku menikah di usia yang masih sangat muda?
Bagaimana bisa aku menjalani pernikahan tanpa cinta sedikit pun?
Tapi aku tak bisa menolak.Aku sangat berhutang budi pada Yudhistira yang tak mungkin bisa aku bayar.
Dialah yang selama ini mengangkatku dari keterpurukan dan kemiskinan.Ditambah lagi dengan banyak hal besar yang baru saja dia lakukan untuk aku dan keluargaku.
Apalagi dengan semua yang dia lakukan,sudah pasti membuat orangtuaku mengiyakan permintaannya untuk menikahiku,dan benar saja,restu dari orangtuaku sudah dikantongi nya.
Tak dapat ku hindari,pertemuan dua keluarga akhirnya terjadi.AyahYudhistira yang seorang single parent pun terkesan terserah saja dengan pilihan putra semata wayangnya itu.
Hingga setelah aku lulus SMA,ijab qobul mengesahkan aku dan Yudhistira sebagai suami istri.Dan tak ku duga,dari sinilah segala hal manis yang kuharapkan ternyata berputar 180 derajat menjadi kepahitan dan kesakitan.
-
-
-
-
-
Happy Reading๐ค๐ค๐๐
__ADS_1