
"Tuutt...tuttt...tuttt...Iya Pak Angga?"sahut seorang pria setelah telepon tersambung.
"Ck,tak usah terlalu formal Beno.....ini cuma antara kamu dan aku,masuk ke ruanganku sekarang"ucap Anggara.Dia memijat pangkal hidungnya setelah meletakkan gagang telepon.
Pria pemilik perusahaan properti dan beberapa pusat perbelanjaan tersebut terlihat sedang banyak pikiran dan bingung atas sesuatu.
"Tok...tok..tok...Masuk..!" Angga menyahut setelah pintu ruangannya diketuk seseorang dari luar,yang tak lain adalah Beno,asisten yang sudah dianggapnya keluarga.
"Ada apa Ngga,tumben kamu manggil sebelum jam makan siang.Apa ada tugas dadakan?"tanya Beno.
"Nggak Ben,ini lebih gawat dari pada tugas dadakan.Haahhh....apa yang aku khawatirkan belakangan ini akhirnya terjadi juga....Aku jatuh cinta pada targetku,padahal aku sudah berusaha keras menepisnya"cerita Angga,membuat Beno terkejut.
"Wah...wah...wah...dasar laki-laki,emang bener ya kata orang yang sering aku dengar.Laki-laki nggak ada yang setia,semua sama saja,kecuali aku"ucap Beno dengan suara dan gaya gemulai yang dibuat-buat.
"Dipercaya istri juga,malah kebablasan.Emang kamu nggak kasihan sama istrimu?Kamu nggak cinta lagi??Bukankah dokter mengatakan,kemungkinan istrimu untuk bisa sembuh sangat kecil?"ucap Beno mengingatkan.
"Kalau soal perasaan kasihan dan cinta jangan ditanya,ya jelas aku masih ada hati.Masalahnya,Rita(read:istri Anggara) meminta aku menikahi wanita yang mau melahirkan anakku,walaupun cuma nikah siri atau kontrak"
"Rita juga bilang,mana ada wanita yang rahimnya boleh dibeli,sementara yang namanya hamil dan melahirkan itu nggak mudah,melewati hari yang berat bahkan bertaruh nyawa"
"Dia nggak mau juga kalau aku benar-benar berpoligami.Itulah makanya aku pusing.Dia ingin memiliki anak dari darahku,tapi coba kamu pikir...apakah bisa seseorang melakukan ***-*** tanpa cinta?Kalau aku jelas nggak bisa"papar Anggara.
"Hmm,iya juga sih...tapi kok ya kebetulan banget yang kamu bidik itu si Risa penyanyi cafe,apa jangan-jangan kamu mikirnya kalau penyanyi cafe itu pasti...maaf...mu...ra...han begitu??" tanya Beno hati-hati.
__ADS_1
"Emmm...nggak gitu juga lah penilaian aku.Setiap aku ke cafe itu,aku selalu melihat kalau si Risa itu kayaknya nggak bahagia gitu.Kelihatan banget kalau senyumnya itu palsu...yaaa pemikiran aku sih,mungkin dia terpaksa bekerja jadi penyanyi karena ada masalah atau beban hidup" ucap Angga dengan pandangan yang menerawang jauh.
"Emang kamu sudah tahu tentang kehidupan Risa?Sudah menikah atau belum...atau bagaimana keluarganya?" tanya Beno.
"Emmm....belum tahu sih...tapi aku yakin,pasti gadis semuda itu belum menikah"yakin Angga yang ditanggapi dengan anggukan berkali-kali dari Beno.
"Lalu apa rencanamu,apa perlu aku selidiki dulu tentang penyanyi cafe itu?" tawar Beno.
"Tidak perlu,aku mau mendekatinya dan mencari tahu sendiri" jawab Angga sembari menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya serta menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya.
Sementara di tempat lain,tepatnya di sebuah yayasan pendidikan,Risa menuju parkiran dengan senyum mengembang.
Sebelum pulang,sekali lagi dia memandangi dan membaca berulang-ulang sertifikat kelulusan test dan interview di yayasan pendidikan tersebut.Lega dan bangga,akhirnya ijazahnya terpakai juga.
Setelah dirasa cukup,Risa berpamitan pulang karena sudah waktunya bersiap untuk melakukan aktivitasnya sebagai penyanyi cafe.
"Dari mana saja kamu,dari siang aku pulang kamu nggak ada...pengen makan dirumah juga ternyata kamu nggak masak,aku telpon juga nggak diangkat,gimana sih"ucap Yudhistira sewot.Dia masih marah atas insiden malam itu.
"Oh,iya...maaf mas,tadi aku lupa bilang kalau hari ini aku ada interview juga test di yayasan XX,aku diterima ngajar disana,jadi selama test...hp aku silent dan kusimpan di tas karena tidak boleh membawa tas saat test"jelas Risa dengan wajah sumringah.
"Lagian tadi aku kira kamu makan diluar seperti biasanya,kan tadi nggak bilang mau dimasakin apa" tambahnya.
"Kenapa juga tiap hari harus dikasih tahu,mau aku pulang atau nggak,yang penting ada makanan dirumah,itu kan tugas kamu" jawab Yudhistira ketus.
__ADS_1
"Apa kamu sudah beneran siap jadi guru?Karena aku nggak mau tugas kamu yang lain jadi tidak maksimal.Kamu ngerti kan,tugas dan pekerjaanmu apa?Dan aku mau semua harus bisa seimbang"
"Satu lagi,nanti sebelum perform akan ada rapat pembagian tugas karena sekarang cafe ada dua tempat dan aku sudah membuatkan jadwal tugasmu untuk di cafe dan dirumah,apa kamu sanggup??"jelas Yudhistira yang terdengar mengerikan,tapi tetap diangguki oleh Risa dan dia segera berlalu untuk membersihkan diri dan bersiap menuju cafe.
Risa mulai merasakan sikap suaminya yang berubah lebih ketus,bahkan terdengar jahat dan tega.Tapi dia memilih diam dan menurut saja karena dia sadar,Yudhistira bersikap begini pun juga berawal dari dirinya.
"Aku ingin melihat seberapa kuat dirimu Risa,aku memang mencintaimu,tapi sebagai lelaki...aku seperti sudah tak memiliki harga diri karena dibutakan oleh cinta.Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti fisikmu" batin Yudhistira,marah,cemburu dan cinta membaur dalam hatinya.
-
-
-
-
-
Happy reading teman-teman....🤗
Karena masih awal,ceritanya emang yang ringan² dulu ya....jangan bosen buat ikuti terus ceritanya.
Semoga bang Yudhistira nggak ada niat jahat sama istrinya sendiri ya😍
__ADS_1
Mohon dukungannya yaaa,terimakasih....😘🙏