
"Sial. Ranting sialan," maki Fu Yao dengan suara berdesis.
Karena takut keberadaannya diketahui, Fu Yao pun bergegas bersembunyi di balik pohon yang tepat berada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya seorang bawahan Yue Ji kepada teman di sampingnya.
"Aku mendengar sesuatu. Sepertinya, ada seorang penyusup di kediaman ini," jawabnya dengan sikap was-was.
"Penyusup?" Bertanya-tanya karena penasaran.
"Entahlah. Kita harus memeriksanya," himbaunya.
Kedua bawahan Yue Ji akhirnya beranjak dari tempatnya. Mereka berdua berjalan ke arah Fu Yao yang tengah bersembunyi di balik pohon. Walaupun Fu Yao mengekspos keberadaannya sekali pun, ia tidak akan mendapatkan masalah karena semua orang tahu jika Yue Ji dan Fu Yao berteman baik. Akan tetapi, Fu Yao lebih memilih bersembunyi karena dia harus menyelidiki sesuatu tentang Yue Ji.
Dia ingin memastikan bahwa Yue Ji baik-baik saja. Jikalau keberadaannya sampai diketahui, maka rencananya untuk bertemu Yue Ji akan gagal karena Yue Ji tak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini.
"Siapa di sana? keluarlah atau kami akan membunuhmu." Bawahan Yue Ji memberi peringatan kepada seseorang yang dicuragi bersembunyi di balik pohon, tak lain adalah Fu Yao.
Sayangnya, Fu Yao tak merespon apa pun. Dia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
Selangkah demi selangkah kedua bawahan Yue Ji berjalan menghampiri Fu Yao yang bersikeras tak mengekspos keberadaannya. Ketika kedua bawah itu hampir saja menarik pedangnya, tiba-tiba saja seseorang menyerukan nama mereka hingga keduanya tidak jadi menarik pedangnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Terdengar suara lantang yang menegur kedua bawahan itu.
Sontak keduanya pun menoleh ke arah sumber suara. Tatakala sosok itu melihat wajah kedua bawahan itu, ia pun reflek berkata, " Yuan Du, Wan Du? Apa yang kalian lakukan?" tanyanya.
"Ji Ran?" gumam Yuan Du.
"Bukankah kalian diperintahkan Ketua untuk memetik beberapa mawar china? apa yang kalian lakukan? jangan buat Ketua lama menunggu. Kalian tahu sendiri betapa murkanya Ketua jika kita terlambat," kata Ji Ran.
Yuan Du dan Shen Du saling menatap satu sama lain. Kemudian, mereka pun akhirnya mengurungkan niat sebelumnya dan sengaja melupakannya, karena perintah dari Yue Ji lebih mendesak dari hal lain.
Kala menyadari bahwa orang-orang dari kediaman Yue Ji telah berlalu pergi, Fu Yao pun akhirnya bisa menghela nafasnya dengan lega. Fu Yao tak lagi bersembunyi, dan kini telah menampakkan diri untuk mencapai tujuan sebelumnya.
"Untung saja," gumamnya. "Aku harus segera bertemu dengan Yue Ji."
***
"Arrrggghhh!!!" Yue Ji mengerang kesakitan tatkala tenaganya hampir saja terkuras di kala serangga darah menggerogoti tubuhnya secara membabi buta. "Ada apa ini? kenapa aku tidak bisa mengembalikannya? Tidak, aku tidak bisa menyerah dengan diriku sendiri. Seperti yang dikatakan orang lain, musuh terbesar adalah diri sendiri. Aku tidak bisa menyerah kepada diriku sendiri," kata Yue Ji dengan gentar.
Yue Ji tetap memilih berjuang atas hidupnya sendiri. Ya, dia tidak mengalah terhadap serangga darah yang bertarung untuk mengambil alih tubuhnya. Hanya saja, semangatnya tak sesuai dengan kondisi tubuhnya.
Kondisi tubuhnya jauh lebih lemah dari biasanya. Kekuatan spiritual dalam tubuhnya mulai melemah karena fisiknya diserang secara membabi buta. Sementara kekuatan spiritual lain yang terkunci di dalam tubuh Yue Ji tak kunjung berhasil dilepaskan.
__ADS_1
"Arrrggghhh!!!" Sekali lagi Yue Ji mengerang kesakitan seraya menyemburkan banyak darah di lantai dingin yang terbuat dari batu itu.
"Yue Ji?!" seru seseorang dengan suara lantang.
Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Yue Ji mengangkat wajahnya untuk memeriksa siapakah gerangan sosok yang baru saja menyerukan namanya. Samar-samar dia melihat sosok berwajah tampan dengan postur tubuh tinggi tegap tengah bergegas menghampirinya dengan mimik wajah yang terlihat cukup serius.
Tidak perlu ditebak lagi, sesiapa lagi sosok itu jika dia bukanlah Fu Yao. Fu Yao berhasil menyelinap ke ruangan tempat Yue Ji biasa berlatih kultivasi tanpa sepengetahuan siapa pun. Tatkala mendapati kondisi Yue Ji yang teramat menyedihkan, tanpa pikir panjang dia berusaha menyelamatkan Yue Ji.
"Kakak seperguruan, apa yang kau lakukan?!" tanya Ye Ji dengan nada yang sedikit marah karena tidak terima dengan perlakuan yang dia dapatkan dari Fu Yao.
"Diamlah, aku akan menyelamatkanmu. Jika aku terlambat beberapa menit saja, kau bisa mati! apa kau tahu?!" sentak Fu Yao karena emosinya meluap kala mendapati kondisi tubuh Yue Ji yang sangat memprihatinkan.
"Kakak seperguruan, jangan lakukan ini! Beberapa hari lagi kau akan menjalankan misi dari Pemimpin Sekte. Kau tidak bisa melukai tenaga dalammu hanya untuk menyelamatkanku. Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri!" cetus Yue Ji. Ia melarang Fu Yao mentransfer tenaga dalamnya ke tubuh Yue Ji semata untuk melawan serangga darah yang bersarang dan menggerogoti kekuatan spiritual di peredaran darah Yue Ji.
Namun kali ini, Fu Yao sama sekali tak menggubris perkataan Yue Ji karena dia harus lebih berfokus untuk menyelamatkan Yue Ji. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalan upaya menyelamatkan Yue Ji dari serangga darah yang menyiksanya.
Serangga darah tak bisa dimusnahkan, tetapi hanya bisa ditenangkan. Untuk menenangkannya, dibutuhkan pengorbanan. Pengorbanan itu adalah kekuatan spiritual. Untuk menenangkan serangga darah itu, dibutuhkan kekuatan spiritual untuk memberinya makan hingga kenyang.
Jika berhasil memberi makan serangga darah dengan kekuatan spiritual, maka ia tidak akan bereaksi hingga bulan purnama berikutnya. Oleh sebab itu, misi Fu Yao kali ini tidak boleh gagal. Atau tidak, serangga darah akan menggerogoti kekuatan spiritual dalam tubuh Yue Ji hingga ke inti vitalnya. Bahkan, usaha Fu Yao mentransfer kekuatannya pun akan sia-sia.
'Aku penasaran, makhluk apa ini. Kenapa dia bisa begitu sangat kuat,' batin Fu Yao tanpa menguatarakannya.
__ADS_1
"Kakak seperguruan, di dalam tubuhku ada serangga darah. Aku tidak akan merelakan kekuatan spiritual yang selama ini kuraig hanya demi membunuh serangga darah dalam tubuhku. Serangga ini adalah prasit, tapi juga kekuatanku yang sangat hebat. Jangan buang-buang waktumu untuk menyelamatkanku. Jika aku mati, aku tetap akan mati dengan kekuatan terkutuk ini. Aku tidak ingin mati dengan status manusia lemah tanpa kekuatan. Dengan begitu, aku masih memiliki kehormatan karena mati sebagai pendekar terkuat di dunia," kata Yue Ji dengan suara lirihnya.