KULTIVATOR MAWAR DARAH

KULTIVATOR MAWAR DARAH
PENJAGA BAYANGAN


__ADS_3

“Pemimpin, ada apa kau mencariku?” tanya Yue Ji kala ia sampai di aula tempat Wang Hui menuggunya setelah memerintah seseorang untuk memanggil Yue Ji ke hadapannya.


“Duduklah,” perintahnya kepada Yue Ji.


“Terimakasih, tapi aku lebih nyaman seperti ini.” Yue Ji menolak perintah itu dengan alasan bahwa dia merasa lebih nyaman ketika dia dalam posisi berdiri.


“Baiklah jika kau lebih nyaman seperti itu,” kata Wang Hui yang tidak keberatan dengan penolakan dari Yue Ji. “Yue Ji, sebentar lagi bulan purnama tiba. Apa obat yang kuberikan sebelumnya telah habis?” tanya Wang Hui berterus terang.


“Aku masih punya beberapa. Pemimpin tidak perlu repot memberiku lagi,” jawabnya.


“Pastikan kau meminumnya. Jika sampai kau tidak bisa menahan rasa sakit saat serangga darah bereaksi, kau bisa mati.” Wang Hui mengingatkan Yue Ji.


“Pemimpin tidak perlu khawatir. Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Meski aku hidup dengan cara ini, aku juga bisa merasakan sakit yang menyiksa. Setelah hampir mati waktu itu, aku tidak pernah lupa mengonsumsi obat yang Anda berikan,” ujar Yue Ji.


“Namun, aku ingin bertanya. Apa memungkinkan jika kau menjadi pelindung bayangan ketika Fu Yao dan kelompoknya bergerak? Itu di hari bulan purnama. 2 hari lagi.” Meminta pendapat Yue Ji.


Yue Ji terdiam sejenak kala mendengar perkataan dari Wang Hui. Waktunya memang sangat pas bagi Fu Yao dan kelompoknya untuk bergerak, tetapi tidak dengan Yue Ji.


Malam bulan purnama adalah saat-saat dia lemah. Akan tetapi, Yue Ji pun tidak bisa menolak karena mengkhawatirkan keselamatan Fu Yao. Bukan karena dia meremehkan kemampuan Fu Yao, tetapi karena ia khawatir jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak ada ada yang bisa menebak sesuatu yang akan terjadi nanti.


“Bagaimana? Apa kau mampu menjadi pelindung bayangan dan melindunginya?” tanya Wang Hui sekali lagi kala ia mendapati bahwa Yue Ji tak merespon perkataannya. “Itu alasan kenapa aku mengingatkanmu untuk meminum obat yang kuberikan. Meski tak bisa mematikan serangga di dalam darahmu, obat itu dapat membantumu menahan rasa sakit agar energi sihir dalam tubuhmu tetap seimbang. Walau kau berbohong bahwa kau selalu meminumnya, jangan kira aku tidak tahu. Kau tidak pernah meminum obat pemberianku karena sengaja ingin menyiksa dirimu sendiri. Alasan kau ingin menyiksa dirimu sendiri, aku sama sekali tidak perduli. Tapi, ingatlah satu hal. Kau adalah pedangku. Jika kau bisa melindungiku, maka kau masih berguna. Tapi jika kau tidak lagi berguna, aku bisa membuangmu sewaktu-waktu,” cetus Wang Hui dengan nada tegasnya.


“Sebagai sebilah pedang yang melindungi tuannya, aku tetap akan melakukan tugasku. Tapi, jika seorang Tuan tak lagi membutuhkan pedangnya, pedang tak bisa menuntut untuk tetap dipertahankan,” balas Yue Ji dengan sikap dinginnya.

__ADS_1


Wang Hui hanya menghela nafasnya kala ia mendengar jawaban Yue Ji yang terkesan tak bernyawa sedikit pun.


Wang Hui angkat bicara kembali, “Jika kau merasa tidak mampu, tidak masalah. Aku bisa memerintahkan yang lain untuk tugas itu,” ujarnya.


“Tidak, aku belum menolaknya sama sekali. Jika itu tugasku, aku akan berangkat. Kali ini, bukan karena aku ingin menjadi pedang yang patuh, tapi karena pedang ini ingin melindungi pedang yang lain. Fu Yao adalah temanku. Sudah seharusnya aku membantunya,” cetus Yue Ji.


“Baiklah jika itu kehendakmu. Namun, jika kau ingin misi kali ini berhasil, kau harus meminum obat yang kuberikan. Jangan sampai kau gagal melindungi dan malah menjadi penghambat rencana.” Wang Hui memberi peringatan keras terhadap Yue Ji.


“Baik! Anda tidak perlu khawatir. Aku adalah Yue Ji. Tidak perlu sanjungan lain, karena aku adalah Yue Ji,” ucapnya dengan tegas dan percaya diri.


“Kalau begitu, kau boleh pergi,” perintahnya.


“Aku pamit,” ucap Yue Ji sembari memberi salam, sebelum dia berlalu pergi meninggalkan tempatnya.


Yue Ji brencana menuju kediaman milik saudara seperguruan wanita yang bernama Fu Rong. Fu Rong adalah saudara seperguruan yang memiliki posisi sejajar dengan Yue Ji dan Fu Yao.


Fu Rong memiliki kediamannya sendiri, serta murid-murid sekte Kerajaan Darah yang menjadi kelompok bawahannya. Namun, hubungannya dengan Yue Ji tidak dekat. Mereka tidak pernah saling bersapa dari awal Yue Ji datang ke sekte. Akan tetapi, Yue Ji bertekad memberanikan diri untuk datang dan menyapanya untuk pertama kali.


“Katakan kepada Puan kediaman ini. Yue Ji datang menemuinya,” ucap Yue Ji kepada penjaga gerbang kediaman milik Fu Rong.


Penjaga kediaman itu tak mengatakan apa pun. Dia menatap wajah Yue Ji dengan tatapan sinis, tetapi Yue Ji sama sekali tak memperdulikannya karena tatapan Yue Ji tetap lurus ke arah depan.


Penjaga gerbang kediaman milik Fu Rong beranjak dari tempatnya untuk pergi menyampaikan pesannya kepada Puan kediaman yang tak lain adalah Fu Rong.

__ADS_1


Fu Rong yang tengah menikmati kue di pavilum pun harus sedikit terganggu oleh kedatangan bawahannya yang sepertinya membawa pesan yang cukup serius.


Penjaga gerbang itu berhenti tepat di seberang tempat Fu Rong bersantai seraya berkata, “Ketua, ada seseorang yang ingin menemui Anda,” ucapnya.


“Siapa?” tanya Fu Rong dengan serius sembari mendongakkan wajahnya kala menatap wajah sang bawahan.


“Yue Ji,” ungkapnya.


Seketika Fu Rong tercengang bercampur perasaan bingung kala mengetahui bahwa orang yang ingin menemuinya adalah Yue Ji. Seingatnya, dia tak memiliki keperluan apa pun terhadap Yue Ji, dan bahkan selama ini mereka tak pernah bersapa. Namun, tiba-tiba saja dia dikejutkan bahwa Yue Ji ingin menemuinya secara langsung.


“Yue Ji? Yue Ji Mawar Darah maksudmu?” tanya Fu Rong karena ingin meyakinkan dirinya sendiri.


“Benar, dia Yue Ji,” cetusnya membenarkan.


“Aneh sekali. Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganku? Aku pikir, antara aku dan dia ... sudahlah. Aku cukup penasaran alasan dia mendatangiku. Suruh dia masuk!” perintah Fu Rong.


“Baik!” jawabnya.


Tanpa berbasa-basi, penjaga gerbang kediaman Fu Rong pun beranjak untuk kembali ke muka gerbang kediaman. Kala ia sampai, ia pun segera menyampaikan perintah dari Fu Rong atasannya, “Masuklah! Ketua telah mengizinkan,” perintahnya kepada Yue Ji.


Yue Ji tak mengatakan apa pun karena ia tidak suka berbasa-basi. Oleh sebab itu, ia bergegas masuk untuk mendatangi Fu Rong dan mencari sendiri letak keberadaannya karena penjaga gerbang itu tak mengatakan tempat Fu Rong berada.


Akhirnya, Yue Ji bertemu dengan sosok yang dicarinya. Fu Rong masih tetap berpijak di tempat semula, di sebuah pavilium sembari menunggu kedatangan Yue Ji.

__ADS_1


“Jadi, kau benar-benar Yue Ji.”


__ADS_2