Kumpulan Cerita Korea

Kumpulan Cerita Korea
still loving you


__ADS_3

Angin embun pagi menyentuh rambut panjangnya. Wendy tertegun, Wendy teringat kecelakaan perih yang sudah mengambil penglihatannya, melumpuhkan syarafnya dan kini dia hanya bisa menangis melihat dirinya yang tidak bisa apa-apa.


“Chagi, apakah kau sudah makan?” tanya namja yang selalu datang ke rumah Wendy dengan wajah sumringahnya, dia bernama Kai


“Ne, oppa. Kau tidak usah repot-repot membawakan makanan untukku” jawab Wendy sembari menengok ke berbagai arah mencari di mana keberadaan namja itu


“Chagi, jangan seperti itu. Aku sangat peduli padamu” lirih Kai



Wendy kembali menangis terbayang kecelakaan 1 tahun lalu saat dia bersama teman-temannya menghadiri pesta kelulusan. Sambil meminum wine Wendy dan teman-temannya yang mengendalikan mobil tidak mentaati peraturan dan ugal-ugallan. Mobil mereka terpelanting jauh dan menabrak tiang listrik. 2 temannya meninggal dan yang lainnya lumpuh total. Kembali air mata Wendy jatuh di depan kekasihnya yang sedang duduk di hadapannya.


“Oppa, carilah wanita yang lebih sempurna dariku” setetes air mata meluncur tanpa Wendy sadari setelah mengucapkan kalimat tersebut


“Kupikir, aku tidak memiliki alasan untuk bisa meninggalkanmu. Jadi, aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi” kata Kai sambil mengusap air mata dari wajah Wendy


“Apa kau gila? Aku ini buta!!! Kau sempurna, kau pantas mendapatkan wanita yang sempurna juga” balas Wendy lalu menghempaskan tangan Kai dari wajahnya


“Apa kau pikir kondisi fisik yang sempurna adalah kesempurnaan dari seseorang? Itu tidak benar. Jika sejak awal aku mencintaimu hanya karena memandang fisikmu, mungkin sekarang aku sudah meninggalkanmu. Aku benar-benar mencintaimu. Cinta itu memang buta, tak peduli apapun alasannya, aku akan tetap mencintaimu karena yang aku butuhkan adalah perasaan hatimu yang tulus dan bukan karena fisikmu” jelas Kai


“Ya, aku tau kau mencintaiku, tetapi aku pasti akan menjadi beban dalam hidupmu”


“Kau tidak akan menjadi beban dalam hidupku. Dengan kondisimu yang sekarang ini, aku pasti akan selalu berada di sampingmu, dan kau juga akan selalu di sampingku. Aku tidak akan pernah menyesal, percayalah” jawab Kai lalu memeluk erat tubuh Wendy dan mengecup keningnya


Wendy hanya bisa menikmati peluk dan kecupan dari Kai.


“Apa aku bisa percaya padamu?” ucap Wendy


“Ne, kau bisa mempercayaiku. Kau adalah cinta pertamaku. Sejak dulu aku tidak pernah tahu apa itu cinta. Saat bertemu denganmu, baru aku mulai merasakan apa itu cinta” jawab Kai tersenyum lebar


“Kenapa kau sangat manis padaku? Apa karena aku buta? Apa kau kasihan dengan kondisiku?”


“Aku bukan bermaksud mengasihanimu sayang, aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu. Sampai kapanpun aku akan ada untukmu, kau harus percaya padaku” jelas Kai lagi


“Aku rasa kau gila” ketus Wendy, menggelengkan kepala


“Aku memang sudah gila karenamu. Aku tak mampu melepasmu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tolonglah percaya padaku” Kai berusaha membuat Wendy percaya


“Iya, oppa. Aku mempercayainya” ucap Wendy, menyandarkan kepala ke bahu Kai


“Aku sampai lupa. Ayo kau makan makanannya. Aku tidak ingin melihatmu sakit, biar aku yang menyuapimu”


Kai mengambil makanan dan mencoba menyuapi tetapi Wendy menolak.


“Aku tidak nafsu makan, oppa. Oppa, apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?” tanya Wendy


“Kalau kau tidak mau makan tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?”


“Sampai kapan aku buta? Apa aku tidak bisa melihat lagi? kata Wendy kemudian menegakkan duduknya


“Emmm… apa kau mau jalan-jalan denganku?” ucap Kai mencoba mengalihkan pertanyaan


“Apa aku akan buta selamanya?” Wendy tetap bersikeras menanyakan hal itu


Kai menghela nafas panjang, berpikir keras.


“Sayang, jujur aku tidak tahu pasti apa kau akan buta selamanya atau tidak. Tetapi aku yakin, suatu saat kau akan mendapatkan donor mata dari seseorang” jawab Kai mencoba meyakinkan


“Kapan oppa? Kapan?” ketus Wendy


Ia meneteskan air mata. Kai langsung mengusap air matanya.


“Sekarang, kau tidak usah terlalu banyak pikiran tentang kondisimu. Aku di sini akan selalu menemanimu, akan selalu menjagamu ke manapun”


Kai menyentuh bibir Wendy dan membentuk sebuah senyuman yang manis. Dalam hati, Wendy hanya memaksakan senyuman tersebut


“Benarkah? Tapi aku juga ingin melihat wajah tampanmu saat ini”


“Kau bisa sentuh wajahku jika ingin tahu” jawab Kai dan membimbing tangan Wendy untuk menyentuh wajahnya


Telapak tangan Wendy mulai menyentuh wajah Kai.


“Kau berubah?” ucap Wendy tersenyum


“Aku tidak pernah berubah sayang. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?” tanya Kai


“Baiklah” jawab Wendy mencari tangan Kai


Kai merespon dan menggenggam tangan itu.


“Ayo, aku akan menuntunmu masuk ke mobil


“Kita akan ke mana?” Wendy kembali bertanya sambil berjalan mengikuti arahan Kai


“Kau pasti tahu, itu tempat saat aku menyatakan perasaan padamu. Tempat yang menjadi saksi awal perjalanan cinta kita” jawab Kai


Mereka pun sampai di mobil dan masuk ke dalam. Mobil pun perjalan menjauhi tempat itu.


“Apa kita sudah sampai?”


“Kita masih dalam perjalanan, bersabarlah” jawab Kai saat menyetir kemudian mengacak-acak rambut Wendy


“Jangan mengacak rambutku” ucap Wendy menyibirkan bibir

__ADS_1


“Kamu semakin cantik kalau cemberut seperti itu” puji Kai


15 menit perjalan ditempuh, mereka pun sampai.


“Kita sudah sampai sayang, ayo aku bantu jalan” Kai


Kai membuka pintu mobil dan menuntun Wendy berjalan.


“Tapi aku tidak bisa melihat, bagaimana aku bisa menikmati tempat itu” gerutu Wendy


Mereka sampai di taman bunga di atas bukit.


“Kita sudah berada di taman yang berada di atas bukit. Tempat ini sangat bermakna bagi kita. Walaupun kau tak bisa melihat, tetapi setidaknya kau bisa merasakannya. Kita duduk di bangku yuk!” ucap Kai kemudian menuntun Wendy duduk di bangku


“Aku dapat merasakannya… Aku masih ingat saat kau mengatakan cinta padaku di tempat ini” ucap Wendy dengan senyuman manis


“Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum. Aku senang kau tersenyum seperti itu” Kai tak bisa membohongi hatinya yang senang melihat kekasihnya tersenyum


“Benarkah? Aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kali tersenyum”


“Aku jadi berpikir sesuatu. Seandainya saat pesta kelulusanmu selesai kau tidak menolak ajakkan pulang bersamaku, mungkin kau masih bisa melihat, dan aku bisa terus melihat senyum dan tawamu” kata-kata itu seakan membuat Kai menyesal karena gagal menjaga Wendy


“Aku juga menyesalinya, oppa”


Kurang lebih 2 jam mereka menghabiskan waktu di taman itu, akhirnya mereka pulang.


Seminggu berlalu, Kai datang menjenguk Wendy di kamarnya seperti biasa.


“Hai, sayang. Apa kau tidak sedih lagi? Kuharap kau bahagia dan melupakan semua hal burukmu” sapa Kai dengan senyum hangatnya


“Ahhh… akhirnya kau datang, oppa. Aku sangat merindukanmu. Kau kenapa lama sekali tidak menjengukku?” gerutu Wendy


“Mianhae, chagi. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Oh iya, aku ada kabar baik untukmu” jawab Kai jujur


“Kabar baik? Untukku? Apa itu?” Wendy bertanya-tanya


“Aku mendapat kabar dari dari rumah sakit, bahwa ada pasien yang sudah meninggal dan keluarganya bersedia mendonorkan mata untukmu. Dan bagusnya lagi, matanya sangat coook denganmu” ucap Kai terlihat sangat gembira


“Benarkah? Apa itu artinya aku dapat melihat lagi, oppa?” Wendy meneteskan air mata


Dengan refleks, Kai mengusap air mata itu.


“Dokter bilang, kau mempunyai kesempatan besar untuk bisa melihat kembali. Apa kau senang mendengarnya?” jelas Kai


“Ne, aku senang tetapi aku juga takut” wajah Wendy menjadi muram


“Kau takut kenapa?” tanya Kai penasaran


“Takut jika operasi gagal” jawab Wendy seadanya


Kai menggendong Wendy di punggungnya ke dalam mobil.


“Kenapa aku jadi gelisah begini, oppa?” ucap Wendy tiba-tiba


“Tenanglah, chagi. Aku ada di sisimu” jawab Kai yang diikuti mobil yang mulai berjalan


Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Terlihat jelas ekspresi wajah keduanya berubah.


“Kita sudah sampai, chagi. Ayo keluar. Akan kutuntun kau berjalan” Kai membantu Wendy berjalan


“Bagaimana kalau kita tunda saja, oppa. Perasaanku tidak enak” elak Wendy


“Kenapa harus ditunda? Lebih cepat itu lebih baik. Aku ingin kau bisa melihat kembali seperti dulu” cegah Kai dengan kata menghibur


Keduanya memasuki rumah sakit. Mereka sudah berada di ruang operasi sesuai jadwal. Seorang Dokter muncul dengan siapnya bersama beberapa asistennya. Detik-detik operasi akan dimulai.


“Sayang, sekarang waktunya kau akan dioperasi. Aku tidak bisa mendampingimu, tetapi aku akan selalu mendoakanmu. Di hatimu ada aku, fighting!!!” ucap Kai memberi semangat


“Terimakasih, oppa. Saranghae…” ucap Wendy menggenggam tangan kai


“Saranghaeyo, chagi” balas Kai


Dalam hati, Wendy terus merasa khawatir. Tiba-tiba ia menangis.


“Kenapa kau menangis. Kau jangan khawatir, operasinya akan berjalan baik. Dokter bilang 90% kemungkinan kau akan bisa melihat lagi” ucap Kai sembari mengusap air mata Wendy


“Aku menangis karena aku bahagia. Sebentar lagi aku bisa melihat wajah tampanmu lagi, oppa” Wendy tersenyum


“Aku juga bahagia” Kai pun sama meneteskan air mata


Operasi pun dimulai, semua Dokter beserta asistennya sudah siap di ruang operasi.


“Aku yakin, kau akan bisa melihat kembali” dalam hati Kai sangat berharap Wendy bisa melihat kembali


5 jam operasi berlangsung dramatis. Operasi berjalan sukses. Dengan senyum bahagia, para Dokter beserta asistennya bangga atas keberhasilan operasinya. Kai pun diizinkan masuk. Ia melihat kalau mata Wendy masih diperban.


“Sayang, apa kau baik-baik saja” sapa Kai


“Oppa, apa itu kau?” Wendy memanggil dengan suara lirihnya


“Ne, ini aku, chagi. Aku di sini, di sampingmu” ucap Kai kemudian langsung memeluk tubuh Wendy


“Apa aku akan bisa melihat lagi, oppa?”

__ADS_1


“Tentu saja. Itu pasti” jawab Kai singkat


Mereka saling berpelukan erat.


Setiap harinya, Kai selalu menjenguk Wendy di rumah sakit. Hingga 1 minggu berlalu, ia kembali menjenguknya.


“Sayang, apa kau sudah tidur?” ucap Kai setelah membuka pintu


“Kau sudah datang, oppa. Oppa, hari ini perbanku akan dibuka Dokter” senyum bahagia terpancar dari wajah Wendy


“Aku senang mendengarnya”


Tak lama, Dokter datang menghampiri untuk memberitahukan kalau perban akan dilepas. Perban pun mulai dilepas.


“Semoga di detik-detik akhir ini aku bisa melihat wajah tampanmu, oppa” ucap Wendy dalam hati


Perban sudah terlepas semua. Wendy mulai membuka mata pelan-pelan. Pada awalnya terlihat remang-remang.


“Bagaimana, chagi. Apa kau sudah bisa melihat?” tanya Kai gugup


“Oppa, apa itu kau?” Wendy menyipitkan mata


“Ini aku, chagi”


“Oppa, kau sangat tampan. Kau lebih tampan dari yang dulu” Wendy langsung memeluk tubuh Kai


Air mata bercucuran dari keduanya. Mereka sangat bahagia.


“Aku sangat senang kau bisa melihat lagi. Hari-hari kita akan kembali seperti dulu lagi. Kuharap kau tidak mengulangi kejadian tahun lalu” ucap Kai senang


“Ne, oppa. Aku tidak akan mengulanginya lagi” Wendy pun juga senang


“Kata Dokter, kau boleh pulang hari ini. Ayo bersiap-siap”


“Tunggu, oppa. Aku ingin ke luar sebentar”


Wendy keluar menemui Dokter tanpa sepengetahuan Kai. Kai masih tetap menunggu.


Wendy pun kembali. Raut wajahnya terlihat berubah. Seperti terjadi sesuatu.


“Ayo, oppa. Kita pulang” ajak Wendy


Mereka pun pulang. Kai berpikir kalau ada yang aneh dengan kekasihnya ini, tetapi ia hanya menghiraukan karena mungkin hanya perasaannya saja yang aneh.


3 bulan telah berlalu, Kai datang menjemput Wendy ke tempat favorit mereka. Ya, di sebuah taman di atas bukit.


“Anyeong, chagi. Apa kau sudah siap?” sapa Kai


“Aku sudah siap, oppa” jawab Wendy singkat


“Setelah 3 bulan, tubuhku semakin melemah. Kuharap kau tidak menyadarinya, oppa” ungkap Wendy dalam hati


Kai langsung menarik tangan Wendy menuju mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai.


“Kita sudah sampai, chagi. Di tempat favorit kita sejak dulu”


Wendy menunduk sesaat, ia berharap tidak terjadi apa-apa.


“Oppa, jika suatu saat aku meninggalkanmu bagaimana?” tanya Wendy tiba-tiba


“Ahhh… kau ini bicara apa. Jangan berpikir yang aneh-aneh”


Mereka duduk berdua. Wendy menyandarkan kepala ke bahu Kai.


“Sepertinya aku lelah, biarkan aku bersandar dulu, oppa” Wendy memejamkan mata menggenggam tangannya


“Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat?”


Tiba-tiba Wendy terjatuh pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. Kai terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit


Setibanya di rumah sakit, ia langsung menggendong tubuh Wendy ke ruang UGD. Dokter menyuruhnya untuk menunggu.


“Kuharap kau baik-baik saja, chagi. Sejak awal aku curiga padamu, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu”


Tak lama, Dokter menghampiri Kai yang sedang duduk menunggu.


“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain” ucap Dokter tersebut


“Maksudmu apa, Dok? Apa Wendy sudah tidak ada? Apa yang terjadi?” bentak Kai


“Dia meninggal” jawab singkat Dokter


Ia merasa sangat ketakutan dan langsung lari ke ruang dimana Wendy terbaring. Dokter kembali menghampiri.


“Kau ingat 3 bulan yang lalu saat operasi mata berlangsung. Aku secara tidak sengaja memeriksa seluruh tubuhnya dan ternyata dia mengidap kanker darah yang sudah sangat akut. Saat kutanya, dia tidak mau membahasnya dan menyuruhku untuk merahasiakannya darimu” Dokter itu menjelaskan dengan detail


“Pantas saja aku sering melihatmu pucat seperti orang sakit. Ternyata kau menyembunyikan penyakit itu padaku” ucap Kai pada Wendy yang sudah tiada


Dokter pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Kai menangisi kepergian kekasihnya, Wendy.


“Walaupun kau sudah tiada, tetapi aku masih mencintaimu. I’m still loving you Wendy”

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2