
“Aku tahu kau menyukainya, dongsaeng. Karena itu aku meninggalkan kalian berdua.”
Kim Hyemin adalah seorang wanita yang hidupnya penuh teka-teki. Dilahirkan dari orangtua yang Workhaholic, ia hanyalah seorang mahasiswa yang hanya mempunyai seorang sahabat karib, sahabat yang paling mengerti dirinya, Lee Soojin. Soojin merupakan sahabat karib Hyemin sejak Hyemin berusia 6 tahun. Sejak itu mereka berteman dekat.
“Hyemin-ah, mwo hae?” tanya Soojin saat menemukan Hyemin sedang bengong.
Sore itu Hyemin main ke rumah Soojin, namun entah mengapa Soojin merasa aneh dengan sahabatnya. Hyemin hanya bengong-bengong tak jelas. Keadaan yang tidak bisa dijelaskan oleh Soojin walaupun ia sudah mengenalnya selama 19 tahun.

“Ani,” jawab Hyemin datar.
“Wae, kau ada masalah?” tanya Soojin heran.
“Aku bertemu seorang namja. Cukup tampan.” jawab Hyemin sambil memainkan tangannya.
“Kau suka dengannya?” goda Soojin sambil menggoyangkan bahu Hyemin.
“Yaa… Jeongsin Charyeo!”
“Ani, apa kau gila? Aku kan sudah mempunyai Seunghyun oppa.” jawab Hyemin.
“Siapa namanya?” tanya Soojin.
“Ini baru pertama kali ini aku menemuinya, kau sangka aku akan langsung menanyakan namanya?” tanya Hyemin setengah berteriak.
“Wah, santai saja.” kata Soojin sambil tiduran di ranjang.
“Mianhae” kata Hyemin lalu mengikuti Soojin tiduran di ranjang.
“Di mana kau bertemunya?” tanya Soojin penasaran.
“Di taman dekat rumahku, kau tahu kan, yang jika sore-sore banyak yang membawa anjing.” jawab Hyemin.
“Eo, tentu saja.” kata Soojin.
“Geundae, kenapa kau begitu ingin tahu tentang topik ini?” tanya Hyemin heran.
“Aku hanya terkejut karena sahabatku yang cantik ini akhirnya menyukai seseorang selain Seunghyun oppa.” jawab Soojin jelas.
“Sudah ku bilang aku tidak menyukainya, geurigo, kau tidak tahu kan bahwa aku mempunyai crush dengan Daesung-sunbae waktu kita SMA?” tanya Hyemin.
“Siapa yang tidak punya crush dengannya, ia tampan, baik, pintar, kaya, eyes-smilenya bagus.” jawab Soojin.
“Geurae, kau juga ya?” tanya Hyemin.
“Ani, aku tidak terlalu suka dengannya.” jawab Soojin sambil tersenyum.
“Aku tahu, kau suka dengan Eunhyuk-sunbae ya? Orang yang punya gummy smile yang katamu imut itu?” tanya Hyemin.
“Wah, aku tidak menyangka kau akan mengetahuinya.” jawab Soojin terkejut lalu bertepuk tangan.
“Aku pulang dulu ya.” kata Hyemin lalu keluar rumah Soojin.
Malam itu, saat di bus ke kompleks perumahan rumahnya, walaupun hatinya melarang, Hyemin terbayang-bayang akan namja itu. Namun sepertinya, namja itu baru pindah saat ia mengingat kejadian tadi pagi.
—
Pagi ini Hyemin sedang berjalan melewati taman lalu seseorang memanggilnya.
“Jeogi, apa kau tahu, ini di mana?” tanya orang itu.
“Maksudmu?” tanya Hyemin tidak mengerti.
“Ini, apa kau tahu di mana?” tanya namja itu.
“Ah, igeo.. Anda jalan saja, lalu belok kiri, lalu lurus lagi, kira-kira 20 meter. Anda akan melihatnya.” jawab Hyemin.
“Gomawo, ahgassi.” jawab namja itu lalu berjalan mengikuti petunjuknya.
“Namja itu tampan sekali.” kata Hyemin dalam hati.
—
Bus tersebut telah berhenti di shuttle depan taman itu, Hyemin pun turun lalu ia melihat namja itu lagi. Hyemin langsung pura-pura berjalan ke arah namja itu.
“Belum ketemu?” tanya Hyemin lalu berhenti di sebelah namja itu.
“Sudah kok, gomawo, untuk pagi ini.” jawab namja itu ramah.
“Siapa namamu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” tanya Hyerin penasaran.
“Aku Kwon Jiyong, aku baru pindah dari Amerika 2 hari yang lalu.” jawab Jiyong.
“Begitu.. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” kata Hyemin.
“Aku pergi dulu ya.” lanjut Hyemin.
“Tunggu, ahgassi,” sela Jiyong sambil memegang tangan Hyemin.
“Waeyo?” tanya Hyemin.
“Namamu?” tanya Jiyong.
“Hyemin, Kim Hyemin.” jawab Hyemin lalu pergi.
“Gadis itu cantik juga” pikirku saat pulang ke rumah. Aku sudah pernah melihat gadis Amerika, namun tidak ada yang pernah membuat jantungku berdetak kencang.
“Jiyong-ah..” panggil Seunghyun hyung.
“Hyung, apa kau kenal dengan gadis bernama Kim Hyemin?” tanyaku penasaran.
“Geurom, wae?” tanyanya penasaran.
“Aku bertemunya hari ini.” jawabku.
“Yeppeoji?” tanya Seunghyun hyung.
“Eo, jinjja yeppeo.” jawabku berseri-seri.
“Dia pacarku” kata Seunghyun hyung lagi.
Aku dan Seunghyun hyung sebenarnya bukan saudara kandung. Seunghyun hyung merupakan anak appa dari istri pertamanya yang sudah meninggal. Sedangkan aku merupakan anak eomma dari appaku yang dulu. Kami dan appa berpisah karena perceraian. Aku dan Seunghyun hyung berbeda 3 tahun. Seunghyun hyung sampai sekarang tidak pernah menceritakan kejadian yang merenggut nyawa eommanya. Sejak aku pertama kali bertemunya, Seunghyun hyung masih 15 tahun, kami saling menyayangi seakan kami adalah saudara kandung.
“Hyung..” aegyoku.
“Jangan menjadi aneh, Jiyong-ah.” kata Seunghyun hyung.
Aku hanya tertawa sampai eomma mengajak kami makan.
“Jiyong-ah, Seunghyun-ah, ayo makan.” kata eomma lalu kami pergi ke dapur dan mulai makan.
“Eomma, dia sudah bertemu dengan Hyemin” kata Seunghyun hyung.
__ADS_1
“Geurae?” tanya appa sambil tertawa.
“Ne, abeoji..” jawabku lalu melanjutkan makanku.
Setelah selesai makan, aku langsung pergi ke kamarku untuk tidur. Semoga besok merupakan hari yang menyenangkan.
“Sudah pagi” kataku sambil menguap.
Hari ini merupakan hari libur. Seunghyun oppa dan aku akan jalan-jalan ke Busan.
“Bbeo.. Kkeok..” bunyi handphone-ku yang telah membuka mulutnya pagi-pagi.
“Siapa yang mengirimiku pesan pagi-pagi?” tanyaku dalam hati.
Aku langsung membuka pesan tersebut.
Sekarang sudah jam 10, Seunghyun oppa sudah menjemputku. Aku diajak ke rumah Seunghyun oppa dulu dan aku melihat Jiyong-ssi yang ternyata adalah adik Seunghyun oppaDari: Seunghyun oppa
“Kau sudah bangun?”
-Ke: Seunghyun oppa-
“Geurom, apakah kita jadi pergi hari ini?”
-Dari: Seunghyun oppa-
“Dangyeonhaji, jagiya, kau tidak usah membuat makanan, aku akan membawanya”
-Ke: Seunghyun oppa-
“Geuraeyo, oppa. Jam 10, aku tunggu ya?”
-Dari: Seunghyun oppa-
“Arraseo, jagiya”
Setelah bercakap-cakap dengan Seunghyun oppa, aku langsung mandi. Namun entah mengapa aku tidak bisa melupakan Jiyong-ssi.
“Jagiya, kau baik-baik saja?” tanya Seunghyun oppa.
“Gwaenchanhayo, oppa. Keokjeonghajima.” kataku sambil menyuruhnya menatap ke depan. Sebenarnya aku merasa suka dengan namja itu. Namun, tidak mungkin aku bilang ke Seunghyun oppa bahwa aku suka dengan adiknya.
“Apakah sebaiknya kita tidak ke Busan?” tanya Seunghyun oppa.
“Aniya, ayo kita pergi” ajakku tidak bersemangat.
“Apa kau tahu? Sepertinya kita tidak usah pergi hari ini, jagiya. Kau tidak terlihat sehat.” kata Seunghyun oppa khawatir.
“Mianhae, oppa.” kataku bersalah.
“Gwaenchanha..” kata oppa lalu kami balik ke rumah.
Mata pelajaran kuliah yang dipilihnya membuatnya sulit untuk mengerjakan soal yang disuruh dosennya itu.
“Kau bisa mengerjakannya?” tanya Jiyong.
“Eh, Jiyong oppa, ada apa ke sini?” tanya Hyemin bingung.
“Mulai hari ini aku kuliah di sini, Hyemin-ah. Bukankah hyung sudah memberitahumu?” tanya Jiyong.
“Seunghyun oppa tidak memberitahuku, oppa.” jawab Hyemin.
“Geurae? Kalau begitu, apa aku boleh duduk di sini?” tanya Jiyong sambil duduk di sebelah Hyemin.
“Oppa sudah mendudukinya.” jawab Hyerin lalu kembali mengerjakan soal.
“Sajangnim, apa anda tahu sebentar lagi ada rapat?” tanya sekretaris Seunghyun, Chaerin.
“Aku tahu, keluarlah” kata Seunghyun lalu memegang kepalanya yang dari tadi yang terasa sakit.
Ada satu rahasia yang Seunghyun tidak ingin Jiyong dan Hyemin tahu, ia sebenarnya terkena kanker otak stadium dua. Ia mengetahuinya saat Jiyong lulus SMA dan segera kuliah, maka, ia segera menyuruh Jiyong pergi ke Amerika untuk kuliah sementara ia menjalani pengobatan yang tidak siapa pun mengetahuinya kecuali appa dan eommanya. Namun, saat mengetahui Jiyong tidak betah di Amerika dan ingin kembali padahal itu baru 6 bulan, Seunghyun memaksa menghentikan pengobatannya. “Tunggulah sebentar lagi, kita akan ke Park-seonsaeng” kata Seunghyun sambil ke luar dari kantornya dan masuk ke ruang rapat.
“Jiyong oppa, apa kau tahu mengapa eommanya Seunghyun oppa meninggal?” tanya Hyemin penasaran.
“Tidak, Seunghyun hyung tidak pernah menceritakannya padaku, waeyo?” tanya Jiyong penasaran.
“Ani,” jawab Hyemin terpotong saat seseorang mengagetkannya dari belakang.
“Yak, Kim Hyemin” kejut Soojin.
“Mwo?” tanya Hyemin lalu berbalik ke belakang.
“Eo, mianhae, Hyemin-ah. Aku tidak tahu kau sedang ngobrol dengan orang” kata Hyemin sambil menutup mulutnya.
“Eii.. Gwaenchanha.” kata Hyemin.
“Siapa dia?” tanya Soojin penasaran.
“Perkenalkan nama saya Kwon Jiyong.” kata Jiyong ramah sambil memberikan tangannya.
“Wah, jalsaengkyeotta.” bisik Soojin sambil menerima tangan Jiyong.
“Aku Lee Soojin, teman Hyemin.” lanjut Soojin lalu mengajak mereka berdua ke kelas karena ada pelajaran tambahan.
“Kau harus melanjutkan pengobatanmu, Seunghyun-ssi. Kankermu sudah menyebar dan kau sudah mencapai stadium tiga” pinta Park-seonsaeng.
“Aku tidak bisa, seonsangnim. Tidak jika Jiyong ada di sini.” tuntut Seunghyun.
“Apa tidak ada pilihan lain?” tanya Seunghyun.
“Hanya ada kemo dan operasi, tidak ada yang lain” kata Park seonsaeng menyerah.
“Kalau begitu aku tidak bisa melanjutkannya, seonsaengnim” kata Seunghyun lalu pulang dengan obat antisakit di tangannya.
Sorenya saat Seunghyun pulang dari kantor.
“Jalanilah pengobatanmu Seunghyun-ah. Aku tahu kau sudah mencapai stadium 3, waktumu sebentar lagi jika tidak ingin menjalani pengobatanmu lagi” ujar appanya.
“Geuraeseo?” tanya Seunghyun menantang.
“Demi Tuhan, Seunghyun-ah.. Kenapa kau begitu keras kepala?” bentak appanya sehingga membuat kepala Seunghyun menjadi sakit seperti tadi.
“Ah..” kata Seunghyun kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke lantai sambil memegang kepalanya.
“Abeoji, kita lanjutkan nanti saja ya perdebatan kita. Sekarang kepalaku sakit sekali.” kata Seunghyun sambil terhuyung-huyung ke kamarnya.
Ayahnya hanya melihatnya iba lalu masuk ke kamarnya sendiri.
“Hyung.. Apa kau di dalam?” tanya Jiyong sambil menggedor-gedor pintu Seunghyun.
“Wae Jiyong-ah?” kata Seunghyun sambil memegang kepalanya lalu membuka pintu kamarnya.
“Bantu aku mengerjakan soal ini. Hyung kan pintar masalah seperti ini” pinta Jiyong sambil menatap Seunghyun dalam.
__ADS_1
“Baiklah, ayo kita kerjakan di situ” ajak Seunghyun sambil menunjuk ruang tamu.
Saat Seunghyun baru mulai ingin mengerjakan soal yang Jiyong pinta, setetes darah segar jatuh di tangannya. Beruntung Jiyong tidak melihatnya jadi ia langsung pergi ke kamar mandi sementara Jiyong menatapnya heran. Di kamar mandi, Seunghyun langsung membersihkan hidungnya dari darah dan meminum obat antisakit yang baru ditebusnya tadi siang.
“Gwaenchanhayo, hyung?” tanya Jiyong.
“Geuromyo..” kata Seunghyun sambil tersenyum.
Tak terasa hari sudah berganti hari, bulan sudah berganti bulan. Musim semi sudah menjadi musim gugur. Sekarang sudah setahun Jiyong berada di Korea. Ia sudah berpacaran dengan Hyemin di belakang Seunghyun. Awalnya Hyemin tidak mau berpacaran dengan Jiyong dengan alasan ia tidak rela mengkhianati Seunghyun, namun akhirnya mau karena ada gosip Seunghyun tengah dekat dengan client wanitanya.
“Hyemin-ah, hari ini bagus ya cuacanya?” tanya Seunghyun sambil memandang ke arah daun yang berjatuhan.
“Bagus sekali, oppa.” jawab Hyemin sambil mengikuti Seunghyun menatap ke arah daun yang berjatuhan itu.
“Kau tahu, Hyemin-ah, setiap hari aku selalu membayangkan bahwa ini adalah hari terakhirku di dunia ini” kata Seunghyun pasrah.
“Apa maksudmu oppa?” tanya Hyemin heran.
“Sebentar lagi juga kau tahu” jawab Seunghyun.
—
Pagi itu merupakan jadwal Seunghyun mengikuti check-up di rumah sakit. Semua tes dilakukannya. Saat hasil tesnya ke luar, Park seonsaeng dengan wajah khawatir memanggil Seunghyun untuk masuk ke ruangannya. “Waktuku tak lama lagi kan, seonsaengnim?” tanya Seunghyun sambil tertawa.
“Padahal kau masih muda, Seunghyun-ah. Entah apa yang membuatmu menghentikan seluruh pengobatanmu waktu itu” kata Park seonsaeng.
“Kau sudah stadium 4, Seunghyun-ah. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untukmu. Waktumu kemungkinan hanya berkisar 1 minggu sampai 1 bulan lagi.” kata Park seonsaeng sambil menatap Seunghyun kasihan.
“Hari ini bisa menjadi hari terakhirku kan seonsaengnim?” tanya Seunghyun.
Park seonsaengnim hanya mengangguk.
“Terima kasih atas bantuan anda selama ini, Park seonsaengnim” kata Seunghyun lalu meninggalkan ruang praktek Park seonsaeng.
—
“Ayo pulang” ajak Seunghyun sambil membukakan pintu untuk Hyemin.
Setelah Hyemin pulang, Seunghyun pulang ke rumahnya dalam keadaan berkaca-kaca.
“Aku minta maaf jika selama ini aku berbuat salah kepada kalian, Jiyong-ah, Hyemin-ah..” kata Seunghyun dalam hati sambil menyetir.
Malam harinya, Seunghyun menuliskan surat terakhirnya kepada Jiyong. Isinya merupakan hal yang ia rahasiakan selama ini. Lalu setelah ia menuliskan suratnya, ia mengetuk pintu kamar orangtuanya dan memberikan surat itu kepada orangtuanya.
“Abeoji, berikanlah surat ini pada Jiyong jika waktuku sudah habis.” pinta Seunghyun lalu memberikan surat tersebut kepada appanya.
“Abeoji, gomawo karena telah membesarkanku dengan baik, kau adalah appa terbaik di dunia ini” kata Seunghyun lalu memeluk appanya dan eommanya yang sudah terisak.
Keesokan harinya, Seunghyun melihat Jiyong sedang makan dan duduk di sebelahnya.
“Kau tidak kuliah?” tanya Seunghyun heran.
“Hyemin-ssi menyuruhku untuk mengantarnya ke Namyangju aku akan menemaninya bersama temannya Soojin.” jawab Jiyong.
“Geurae? Hyemin yang menyuruhmu?” goda Seunghyun.
“Atau kau yang mengajukan diri?” goda Seunghyun lagi.
“Aniya, hyung. Aku tidak mengajukan diri, benar-benar ia yang menyuruhku.” jawab Jiyong terputus-putus.
“Aku pergi dulu, Jiyong-ah” kata Seunghyun lalu pergi ke kantor.
“Hyung-eun wae geurae?” tanya Jiyong pada dirinya sendiri setelah Seunghyun pergi ke kantor.
Setelah selesai makan, Jiyong langsung menjemput Hyemin dan Soojin untuk pergi ke Namyangju. Di sana mereka melihat domba, sapi, dan segala hewan ternak. Keadaan cukup menyenangkan karena Jiyong tidak tahu bahwa sesuatu terjadi pada Seunghyun.
“Eo, appa meneleponku.” kata Jiyong kaget lalu mengangkat telepon.
“Yeobuseyo”
“Geuraeyo? Jadi hyung di mana sekarang?”
“Aku akan segera ke sana”
Jiyong langsung menyuruh kedua gadis itu masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke rumah sakit.
Tadi siang di kantor Seunghyun.
“Sajangnim, rapat pimpinan akan dilaksanakan 10 menit lagi, siap-siaplah” kata Chaerin mengingatkan Seunghyun.
“Ne, Chaerin-ssi” kata Seunghyun lalu pingsan di depan Chaerin.
“Tolong, siapa pun.” teriak Chaerin lalu menyuruh Youngbae untuk menelepon 119.
Saat ambulans datang, Chaerin langsung menelepon appanya Seunghyun.
“Presiden, sajangnim pingsan di kantor tadi” kata Chaerin di telepon.
“Di rumah sakit mana?” tanya appa Seunghyun.
Setelah mengetahui nama rumah sakitnya, appanya Seunghyun langsung datang ke rumah sakit itu.
Jiyong baru saja datang dari Namyangju dan segera masuk ke rumah sakit tersebut dan mencari appanya.
“Dari mana saja kau, Kwon Jiyong?” tanya appa Seunghyun pasrah.
“Apa yang terjadi, abeoji?” tanya Jiyong lalu appanya Seunghyun menjawabnya dengan memberikan sebuah surat kepada Jiyong.
“Jiyong-ah, kalau kau membaca ini berarti aku sudah pergi jauh darimu. Apa kau tahu, sebenarnya aku mempunyai penyakit yang mengancam nyawaku? Apa kau tahu alasanku mengirimmu ke Amerika? Aku sebenarnya mempunyai penyakit kanker otak, Jiyong-ah. Aku tidak ingin kau tahu, karena aku tahu jika kau mengetahui yang sebenarnya kau tidak akan tersenyum seperti dulu lagi, apalagi saat itu kau baru lulus SMA.
“Alasanku mengirimmu ke Amerika adalah aku tidak mau melihatmu sedih saat aku menanggung sakit di kemo, namun kau memutuskan untuk kembali sehingga aku memaksa untuk menghentikan kemo-ku. Eommaku? Ia meninggal karena penyakit yang sama sepertiku. Satu lagi, Hyomin sayangilah dia, Jiyong-ah. Kau sangka aku tidak tahu jika kalian berdua berpacaran di belakangku. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Jiyong-ah dan jangan takut, karena hyung akan ada di sisimu selamanya. Aku tahu kau mencintainya, dongsaeng, untuk itu aku meninggalkan kalian berdua. -Choi Seunghyun-”
Jiyong terduduk di kursi saat selesai membaca surat tersebut. Hatinya tercelos karena surat tersebut. Muncul perasaan bersalah di hatinya walaupun Seunghyun bilang tidak usah menyalahkan dirinya. “Mengapa aku pulang ke Korea saat itu?” pikir Jiyong sambil menangis.
“Jangan menyalahkan dirimu, Jiyong-ah. Semua ini keputusan Seunghyun.” kata appanya sambil menangis.
“Ia tidak benar-benar pergi kan?” tanya Jiyong.
“Sebentar lagi” kata appanya.
“Aku ingin melihatnya.” kata Jiyong lalu appanya menyuruhnya masuk ke kamar perawatan Seunghyun.
“Hyung, gomawo, aku tidak tahu bahwa kau melakukan ini untuk diriku, aku tahu kau bilang jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, namun aku tidak rela, hyung.” kata Jiyong sambil memegang tangan Seunghyun yang sedang koma.
“Mianhae, hyung.” lanjut Jiyong sambil mengusap air matanya lalu ke luar ruangan.
Hari ini merupakan hari pemakaman Seunghyun, Hyemin dan Jiyong datang dengan muka menangis. Jiyong sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri, namun, karena pesan Seunghyun, ia tidak berani menyalahkan dirinya sendiri. “Sudahlah, Jiyong-ah. Biarkan Seunghyun tenang di sana. Lepaskan semua rasa bersalahmu itu” kata eommanya sambil memeluk Jiyong.
“Ia berkorban untukku, eomma. Kalau saja aku tidak pulang ke Korea waktu itu, ia tidak akan menghentikan pengobatannya” kata Jiyong.
Lalu Hyemin datang menghampiri Jiyong.
“Coba saja aku tahu Seunghyun-hyung sakit. Aku tidak akan memacarimu.” kata Jiyong sambil melihat Hyemin.
__ADS_1
“Aku juga tidak akan mengkhianatinya, oppa.” ujar Hyemin bersalah.
“Mungkin ini memang takdir kita untuk saling mencintai, Hyemin-ah” kata Jiyong lalu memeluk Hyemin.