Kumpulan Cerita Korea

Kumpulan Cerita Korea
love will come


__ADS_3

Mentari kembali menampakkan cahayanya. Cahaya yang begitu terang itu masuk melalui celah-celah tirai putih itu. Membangunkan seorang gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya. Gadis berambut hitam panjang itu tidur dengan lelapnya setelah semalaman ia terjaga. Pintu kamarnya terbuka, menampakkan seseorang yang berusia paruh baya itu. Seseorang itu menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang.



“Sayang… ayo bangun. Park Hyun Mi ayo bangun. Ini adalah hari pernikahanmu bukan?”


Gadis manis itu bernama Park Hyun Mi. Ya, dia terjaga semalaman karena begitu gelisah memikirkan tentang pernikahannya. Pernikahannya dengan orang yang belum ia kenal lebih jauh dan hanya ia temui beberapa kali sebelumnya. Gadis itu, dia dijodohkan oleh ibunya.


“Ahhh…. eomma… Aku sangat mengantuk! Aku baru saja tidur.”


“Aish gadis ini. Ayo bangun, kita akan terlambat. Bangun untuk bersiap-siap. Bangun dan mandi, eomma tunggu di bawah.”


“Hmm.. ne, eommaku sayang.”


Dengan terpaksa Hyun Mi beranjak dari tidurnya. Dia memantapkan dirinya untuk menghadapi masa depan dan keputusan yang telah ia ambil.



 


Waktu berlalu begitu saja, saat ini Hyun Mi sudah dalam balutan gaun pengantin yang begitu sederhana namun tetap indah untuk dilihat. Gaun putih tulang itu sangat pas dengan tubuhnya yang putih dan bisa dikatakan bagus itu. Ditambah lagi dengan riasan wajah yang sederhana dan natural. Hari ini, dia cantik. Hyun Mi berjalan di Altar dengan menggenggam tangan ayahnya dengan sangat erat. Sungguh dia sangat gugup dan penasaran bagaimana dengan rupa suaminya itu. Hyun Mi sempat melihatnya dari foto dan beberapa pertemuan mereka, kesan pertama saat melihatnya adalah lelaki itu. Dia tampan.


“Ku serahkan dia kepadamu. Ku mohon perlakukan dia dengan baik dan jaga serta cintai dia dengan tulus.” Ucap ayah Hyun Mi.


“Ya, aku akan berusaha.” Lanjut lelaki itu dan meraih tangan Hyun Mi lembut.


“Bagaimana? Kalian siap?” Tanya pak pendeta.


“Ya, kami siap.” balas keduanya.


Pernikahan telah diadakan. Seperti biasa sang suami mencium istrinya. Lelaki itu bernama Kang Eun Chan. Lelaki tinggi itu sekarang menyejajarkan posisinya dengan Hyun Mi. Dia mulai mendekat dan mencium kening istrinya singkat. Mata mereka bertemu dengan senyum tipis dari Eun Chan. Hyun Mi gadis itu hanya terkejut dibuatnya dan para hadirin bertepuk tangan dengan bahagianya. Terlebih kedua orangtua mereka.


Hari setelah pernikahan.


Hyun Mi melemparkan tubuhnya ke kasur dengan gusar. Begitu lelah untuk hari ini. Dimana dia menjadi pengantin yang cantik bagai mimpi. Tapi nyatanya itu bukan mimpi.


“Huu… Apa yang harus aku lakukan saat ini? Terasa canggung, ini pertama kalinya aku berada di rumahku sendiri. Rumah baru sebagai pengantin.” Hyun Mi terus berceloteh tentang hari ini sambil menatap langit-langit kamar barunya. Celotehannya terhenti dan matanya terfokus pada satu titik. Ya, pintu kamarnya terbuka. Menampilkan seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan tegap itu.


“Heii!! Apa yang kau lakukan?” Teriak Hyun Mi dengan penuh rasa kaget.


“Tak ada, memangnya apa yang aku lakukan? Ini kamarku!”


“Mwo? Ini bukannya kamarku?”


“Heh.. Kata siapa?” Dengan smirk di wajahnya Eun Chan menatap Hyun Mi.


“Tidak!! Aku ingin kamar ini. Aku yang lebih dulu tidur dan masuk ke kamar ini.”


“Enak saja.”


Dengan tangan dilipat di dada, Eun Chan mendekat perlahan ke arah Hyun Mi. Membuat gadis itu merinding dibuatnya.


“Apa kau akan tidur di sini?” Tanya Hyun Mi.


“Iya! Cepat ke luar. Oh, atau kau ingin tidur denganku?” Tegas Eun Chan.


“Aish. Aku tak ingin tidur denganmu. Aku akan tidur di sini karena aku menginginkan kamar ini.”


“Terserah saja, aku mau tidur duluan.”


Eun Chan dengan segera berbaring di dekat Hyun Mi dan mulai memejamkan matanya. Hyun Mi yang tadinya kesal menjadi reda karena rasa kantuk yang menyerangnya. Dia terlelap di samping Eun Chan. Tanpa terasa, pagi mulai datang. Mentari dan cahaya yang begitu indah masuk melalui celah-celah sehingga mengganggu pasangan baru ini tanpa permisi. Hyun Mi tidur dengan memeluk suami barunya itu dan begitu pun sebaliknya. Sungguh itu tanpa mereka sadari.



Begitu banyak hari yang mereka lalui, tak terasa pernikahan mereka sudah menginjak 6 bulan dihitung sejak hari pernikahan mereka. Keduanya sungguh sangat sibuk, namun kesibukan tidak membuat keduanya menjauh. Keduanya sudah semakin akrab sekarang mereka sudah dapat menerima satu sama lain, meski tak belum dapat dikatakan keduanya menjalin cinta. Untuk saat ini keduanya hanya bersahabat. Entah kapan dewi cinta akan menembakkan panah asmaranya kepada keduanya. Butuh waktu yang panjang mungkin. Mungkin.


“Kang Eun Chan!!! Cepat bangun. Kau akan telat bekerja.” Teriak Hyun Mi untuk membangunkan Eun Chan. Eun Chan sangat sulit untuk bangun.


“Kang Eun Chan!!” Tepat di telinga Eun Chan.


“Aaaaa.. Park Hyun Mi!! Aku baru saja tidur 2 jam yang lalu,”


“Lalu, kau tak mau kerja?”


“Aku akan ambil cuti hari ini. Sudah sana pergi, jangan ganggu aku.”


Dengan bermalasan pria yang menjadi suaminya itu pun membelakangi Hyun Mi dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Baiklah terserah kau saja, aku akan membereskan rumah. Jika ingin sarapan sudah aku buatkan. Jangan ganggu aku!!”


Pergi meninggalkan Eun Chan.


Kring… Kring… Kring…


“Halo? Dengan kediaman Kang Eun Chan,”


“Ah, Hyun Mi-ya,”


“Eommanim,”


“Anakku sudah berangkat kerja?”

__ADS_1


“Tidak, dia mengambil cuti hari ini karena lelah.”


“Begitukah. Kau sedang apa Nak?”


“Oh, aku sedang merapikan rumah,”


“Baiklah, eomma tutup dulu ya.”


“Ne eomma.”


Setelah siap dengan pekerjaan rumahnya. Hyun Mi kembali ke kamar dan menemukan suaminya masih tertidur dengan lelapnya.


“Sudah siang masih tidur. Akan ku buka tirainya!!” Serunya dan membuka tirai di kamarnya membuat cahaya matahari masuk dan mengganggu tidur suaminya.



“Aah! Yak! Hyun Mi-ssi rapatkan kembali.”


“Enak saja, ini sudah siang. Cahaya matahari harus masuk!”


“Aishh.. mengganggu saja. Kenapa kau tidak pergi kerja saja,”


“Aku sedang libur,” Jawab Hyun Mi santai dan membuat Hyun Mi duduk di samping Eun Chan yang tengah berbaring dengan mata sipit yang melihat cahaya matahari.


“Eun Chan-ssi… tak ingin sarapan?”


“Wae?”


“Cuma ingin bertanya, aku sangat bosan jika tak bekerja.”


“Sebab itu kau menggangguku ya?”


“Tidak seperti itu!”


Keduanya pun terdiam tanpa tahu harus melanjutkan kalimat apa. Hingga batuknya Eun Chanlah yang menghentikan keheningan di antara mereka.


“Hyun Mi-ssi,”


“Ne?”


“Bagaimana kalau malam ini kita pergi dinner? Mau tidak kalau tidak mau ju..,”


“Aku mau!!”


“Baiklah, nanti jam 7 kita berangkat,”


“Memangnya kita mau dinner di mana? Tunggu dulu, kenapa kau mengajakku dinner? Ah, apa pun alasanmu, aku tetap senang. Gomawoyo,”



Eun Chan memilih untuk menyiapkan candlelight dinner untuk Hyun Mi. Eun Chan juga menyewa tempat tersebut agar dia dan Hyun Mi dapat berbicara serius.


“Wahh.. ini sangat indah. Kau sendiri yang menyiapkannya Eun Chan-ssi?”


“Iya, sebenarnya aku ingin membuat situasi yang nyaman. Ada yang ingin aku tanyakan,”


Hyun Mi tampak mengerutkan keningnya. Dia sungguh bertanya-tanya apa yang akan ditanyakan oleh Eun Chan. Hyun Mi sangat penasaran.


“Em.. tanyakan saja. Jika aku bisa aku akan menjawab semampuku,”


“Hyun Mi-ssi, sebenarnya aku ingin tahu apa alasanmu memilih untuk menikah denganku,”


“Mungkin karena aku ingin eommaku bahagia. Lalu, bagaimana denganmu?”


“Mungkin sama,”


“Kau, apa kau memiliki wanita lain? Sungguh, aku ini sangat pencemburu. Jika kau tak menyukaiku atau mencintaiku tak apa. Tapi ku mohon jika kau ingin berselingkuh jangan sampai aku tahu. Aku akan sangat sakit, aku mungkin akan membencimu selamanya,”


“Tidak, aku bukan tipe pria seperti itu. Aku adalah orang yang setia. Aku hanya akan sekali menikah dan hanya akan sekali mencintai seseorang yang ku pilih dengan tulus,”


“Lalu, kau akan tetap menikah denganku? Jadi, siapa yang akan kau cintai sampai akhir?”


“Kau,”


Hyun Mi terdiam mendengar jawaban terakhir dari Eun Chan. Sungguh ia merasa Eun Chan sangat romantis malam ini. Dia sedikit terkesan dan membuat jantung Hyun Mi berdegup sangat kencang. “Hahaha kau sangat romantis sekali Eun Chan-ssi,” Dengan tertawa canggung Hyun Mi meminum air mineral di depannya. Hyun Mi berdiri dan beranjak dari kursinya.


“Aku akan segera kembali, aku mau ke toilet dulu,”


“Baiklah, kau mau makan apa akan aku pesankan,”


“Sama saja denganmu,”


Beberapa saat kemudian..


“Maaf yah jika sedikit lama,”


“Iya, baiklah ayo kita makan,”


Tiba-tiba Hyun Mi merasa sangat mual dan merasakan perutnya seperti diaduk-aduk begitu kencang.


Hueekkk….Huuuueekkkk.. “Kau kenapa? Tidak enak badan?”

__ADS_1


“Entahlah, sejak datang ke sini menjadi tak karuan. Mungkin aku masuk angin,”


“Mau pergi cek ke dokter?”


“Baiklah, tapi makanannya belum kita makan. Kan sayang-sayang ini kan mahal,”


“Ya sudah, nanti akan kusuruh pelayan membungkusnya. Kau ke mobil duluan ya, aku akan menyusul setelah membayar,”


“Iya,”


Hyun Mi menunggu di mobil, setelah waktu yang cukup lama sekitar 15 menit akhirnya Eun Chan datang dan membawa mobil menuju rumah sakit untuk Hyun Mi berobat. Setelah sampai. “Mohon tunggu sebentar ya Tuan, Nyonya,” Kata salah seorang suster. Begitu banyak orang yang sakit hari ini, dan rumah sakit menjadi sangat penuh serta membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan giliran pemeriksaan. Hingga saatnya pemeriksaan.


“Ny. Kang Hyun Mi,”


“Ayo kita masuk,”


Hyun Mi dan Eun Chan mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang dokter.


“Apa yang terjadi?”


“Aku rasa, aku masuk angin dok,”


“Baiklah, mari kita periksa,”


Dokter pun memeriksa keadaan Hyun Mi yang semakin lemas itu. Hyun Mi dia seperti seseorang yang tak bertenaga. Dan dokter pun selesai memeriksa Hyun Mi.


“Istri anda baik-baik saja tuan Kang. Dia sehat dan janin yang di kandungnya pun sehat,”


“Tunggu dulu, apa yang kau maksud?”


“Benar, istri anda sedang mengandung 10 minggu. Selamat ya tuan dan nyonya Kang,”


“Benarkah? Aku hamil?”


Hyun Mi tampak tak percaya dengan semua itu, tanpa terasa air matanya mengalir dan Eun Chan memeluknya dengan sangat lembut penuh dengan rasa yang sangat sulit untuk dijelaskan. Kang Eun Chan lelaki itu dia juga menangis.


“Baiklah dokter, terima kasih,”


“Jagalah istri anda dengan baik,”


“Ya, pastinya,”


Hyun Mi dan Eun Chan ke luar dan menuju rumah untuk pulang. Sepanjang perjalanan menuju baseman tak henti-hentinya Eun Chan memeluk pinggang Hyun Mi rapat. Sungguh dia sangat bahagia. Mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari seorang Kang Eun Chan sungguh Hyun Mi merasakan bahagia yang amat besar. Hyun Mi pikir dia sedang jatuh cinta saat ini. Jatuh cinta dengan suaminya sendiri. Perjalanan menuju rumah tampak begitu lancar, hingga sampailah mereka di rumah. Eun Chan lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobil buat Hyun Mi. Kang Eun Chan pria ini sekarang sungguh sangat perhatian pada Hyun Mi. Eun Chan sangat menyukai anak kecil dan dia sangat bahagia dia akan memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri. Eun Chan membantu Hyun Mi masuk ke dalam kamar karena kondisi Hyun Mi yang belum stabil.


“Kau istirahatlah dengan baik, jika perlu sesuatu panggilah aku. Akan aku turuti permintaanmu,”


“Terima kasih, boleh aku meminta sesuatu?” Tanyanya penuh ragu.


“Iya, katakan saja,”


“Ah, sungguh aku sangat malu membicarakannya. Entah mengapa aku ingin tidur tapi aku ingin tidur dalam genggaman tanganmu,”


Eun Chan tampak tertawa kecil dan dia mendekat ke arah Hyun Mi dia mencium kening Hyun Mi lembut.


“Tentu saja boleh, kau mau tidur dalam pelukanku pun boleh,”


Hyun Mi tampak tersipu dengan jawaban Eun Chan, entah kenapa dia semakin menyukai suaminya itu. Sepanjang malam, Hyun Mi terus tidur dengan menggenggam tangan Eun Chan. Eun Chan pun tak keberatan dan dia merasa sangat-sangat ingin selalu berada di sisi Hyun Mi. Dia merasa sangat ingin untuk selalu menjaga Hyun Mi dan anaknya.



Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Tak terasa kandungan Hyun Mi sudah menginjak bulan kesembilan. Bulan ini merupakan bulannya Hyun Mi melahirkan. Dia sungguh sangat cemas dan gugup. Namun, sifat dan sikap positif dari suaminya membuatnya membuang jauh-jauh tentang prasangka buruk yang akan terjadi.


“Oppa.. Kau sudah pulang? Mana pesananku?”


“Ini aku membawakannya, bbopki (permen tipis dari gula khas korea) bukan?”


“Akhirnya permenku datang,”


“Loh, kau tak mengharapkanku pulang?”


“Hahaha bukan begitu, hanya saja aku sangat ingin makan bbopki,”


Hyun Mi dan Eun Chan pun tertawa dan saling berbagi bbopki. Hyun Mi terdiam seketika, dia memandangi wajah tampan Eun Chan. Sungguh dia sangat bersyukur suaminya sangat sempurna untuknya. Hyun Mi sangat mencintai Eun Chan begitu pun sebaliknya. Eun Chan selalu ingin pulang lebih awal agar dapat bersama lebih lama dengan Hyun Mi.


“Ayo masuk, udara semakin dingin,”


“Ne,”


Di malam hari, keduanya sedang bersandar di papan ranjang tidur mereka. Mereka saling bertukar cerita hingga Hyun Mi tertidur, Hyun Mi masih menggenggam tangan Eun Chan untuk tidur. Itu sudah menjadi kebiasaan yang wajib dia lakukan. Waktu menunjukkan pukul 03.00 KST (Korea Standar Time). Hyun Mi terbangun dan membelalakkan matanya ketika dia merasakan perutnya berkontraksi. Sungguh rasanya sangat sakit. Hyun Mi ingin sekali berteriak namun rasa sakit membuatnya tak bisa berteriak. Hyun Mi melepaskan genggamannya. Eun Chan merasakan tangan Hyun Mi lepaskan genggamannya.


“Oppa..,” ucap Hyun Mi lirih.


Eun Chan merasakan sesuatu yang tak bagus dengan segera ia menyalakan lampu kamar di saat itu Eun Chan melihat Hyun Mi sedang menahan sakit dengan keringat di sekujur tubuhnya. Dengan seketika Eun Chan menggendong Hyun Mi dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di Rumah Sakit, Eun Chan tak lupa menelepon orangtua mereka. Saat ini Hyun Mi sedang di ruang persalinan. Eun Chan menemani Hyun Mi dengan setianya sambil menggenggam tangan Hyun Mi. Hyun Mi terus berjuang melahirkan anak mereka. Membutuhkan waktu yang panjang hingga akhirnya dia berhasil melahirkan anak mereka.


“Oppa.. Aku berhasil,”


“Terima kasih, aku mencintaimu. Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anakku. Sungguh aku sangat bahagia kau yang menjadi ibu dari anakku,”


“Aku pun, terima kasih kau sudah mau menjadi suamiku dan mencintaiku. Aku juga mencintaimu,”


Kelahiran seorang anak lelaki itu disambut haru oleh kedua keluarga besar. Sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan, terlebih untuk Eun Chan dan Hyun Mi. Kehidupan mereka yang sederhana dan hangat semakin lengkap dengan kehadiran Kang Hyun Chan, anak pertama mereka. Hyun Mi dan Eun Chan mereka semakin saling mencintai dan berusaha melindungi satu sama lain. Kehidupan mereka sudah lengkap saat ini. Cinta, tak perlu mencintai dari awal untuk bersama. Di saat ada kebersamaan cinta akan datang seiring berjalannya waktu, cinta ada karena terbiasa. Bukankah cinta memerlukan proses? Pada saat proses itulah cinta akan semakin kuat.

__ADS_1


__ADS_2