Kumpulan Cerita Korea

Kumpulan Cerita Korea
bridge of love


__ADS_3

Semilir angin malam berhembus menerbangkan helai demi helai rambut panjang seorang gadis cantik berkulit putih dalam balutan mantel cokelat tua dengan aksen bulu di leher dan kedua ujung lengannya membuat gadis itu tampak lebih manis dan kalem. Gadis itu hanya menatap kosong ke arah sungai sambil berpegangan pada pagar besi yang ada di tepi sungai. Lampu jalanan malam ini benar-benar membuat sosok gadis tadi menjadi seolah menceritakan ketenangan atau bahkan kesepian. Ku angkat kameraku dan mengarahkan mata lensaku padanya. Ku ambil beberapa view dari keadaan ini. Mungkin aku jelas tak melihat wajahnya, namun jelas dari sisiku saat ini gadis itu sedang melamun, bahkan saat aku mengambil gambar wajahnya dari samping pun ia tak bergeming sedikit pun.



Belum sempat aku menyapanya, ia terlihat menghembuskan napas berat lalu berbalik dan pergi meninggalkan tepian sungai Han dan kembali memasuki mobilku yang terparkir di sisi jembatan Banpo. Di sini memang indah dan masih ramai padahal malam telah larut, tapi tempat ini akan jauh lebih ramai saat pertunjukan sungai pelangi pada malam hari di atas jembatan ini. Namun aku sengaja mengambil hari dimana tidak terlalu ramai lalu lalang dan sungai Han ini menjadi dirinya sendiri. Aliran air yang jernih dan deras menghanyutkan.



Bunga cherry berguguran di sepanjang jalan menuju apatemenku. Pemandangan yang indah, namun ku rasa kosong tanpa objek lain yang terlihat, namun ku lihat seorang gadis cantik berambut panjang tergerai dengan mantel berwarna merah muda sedang berputar-putar dengan senyum mengembang dan dihujani bunga cherry. Kembali ku angkat kameraku untuk membidiknya dan kali ini aku mengclose-up wajahnya yang sedang menengadahkan tangan untuk menampung bunga cherry yang berguguran. Aku terdiam menatap gadis tadi yang tersenyum. Begitu cantik dan terlihat bahagia berbeda dengan saat berada di jembatan Banpo lusa kemarin.


Kali ini tekadku sudah bulat, aku ingin menghampirinya karena aku rasa aku telah jatuh cinta pada gadis itu. Belum sempat aku melangkah seorang lelaki menghampirinya dan gadis itu langsung memeluknya. Ku angkat kameraku dan menekan tombol untuk mengambil gambar tanpa memandang frame yang menunjukkan kemesraan mereka. Beberapa menit berlalu setelah gadis dan lelaki itu pergi dari hadapannya ia meneruskan langkahnya untuk kembali ke apartmennya. Ia membuka pintu apartemennya dan langsung masuk ke dalam, mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu menyalakan pemanas ruangan. Diliriknya kalender yang tergantung di dinding tak jauh dari kulkasnya. 14 April berarti ulang tahunnya tinggal menghitung hari.


Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkasnya dan meminumnya. Perasaannya sedikit lebih tenang sekarang. Ia mengambil memory card camera lalu memasukkannya pada slot yang ada pada laptopnya. Dipilihnya beberapa gambar dari ratusan gambar yang telah diambilnya selama beberapa hari ini. Tinggal dua hari lagi ia berkeliling mencari gambar yang akan ia pilih untuk pameran fotografi yang akan ia gelar 4 hari sebelum hari ulang tahunnya dan memang ia akan menggelarnya selama empat hari dan akan melelang foto–foto itu. Ia melihat-lihat semua hasil jepretannya selama hampir seminggu ini, dan ia kembali harus menghadapi foto gadis bermantel cokelat tua di atas jembatan Banpo itu dan pada akhirnya foto terakhirnya dilihatnya adalah foto gadis yang sama dengan mantel merah muda dan sedang berpelukan dengan seorang pria dan mereka tampak bahagia di bawah bunga cherry yang berguguran diterangi cahaya lampu jalanan yang terang benderang.



18 April, gladi bersih untuk pameran esok hari. Kaito mulai menerangkan cerita dari setiap gambar yang diambilnya pada para pemandu yang akan memandu pengunjung yang datang pada pamerannya selama empat hari esok. Kemudian sampailah pada foto gadis yang berdiri membelakangi kamera sambil menghadap ke arah sungai Han di atas jembatan Banpo yang terkenal. Ia menarik napas pelan mengingat kejadian itu. Ia terpesona pada gadis itu pada pandang pertama.


“Maaf Kaito ssi, jadi bagaimana dengan foto yang ini?” tanya seorang calon pemandu membuyarkan lamunan Kaito.


“Akh iya.. jadi foto ini berlatarkan jembatan Banpo seperti pada foto yang sebelumnya, foto ini terpusat pada gadis yang membelakangi kamera sambil menatap ke arah sungai Han. Dengan penerangan yang remang-remang dari lampu jalanan dan dengan posisinya dapat memperlihatkan kesan kesepian juga ketenangan.. jika dilihat dari detail semua akan terbayang rambut gadis itu yang melambai tertiup angin. Aku ingin mencurahkan seluruh perhatianku padanya..” jawab Kaito.


“Apakah foto yang selanjutnya juga begitu?” tanya seorang calon pemandu lain. Kaito menatap pada foto yang dimaksud. Gadis yang sama dan di tempat yang sama. Sebuah foto dengan medium close up dari samping memperlihatkan setengah dari wajah gadis itu yang menjelaskan kalau ia memang sedang melamun. “Ya.. hanya teknik pengambilannya…” oceh Kaito panjang lebar hingga hari beranjak senja.



Kaito berjalan kembali menyusuri sepanjang jalan Yunjungno dan Yeouido menikmati bunga cherry yang berjatuhan dan menikmati setiap kenangan dengan gadis misterius yang selalu tiba-tiba muncul dan menjadi objek dadakannya. Kali ini ia terhenti lagi untuk yang ketiga kalinya ketika melihat gadis yang sama, namun kali ini sungguh berbeda. Di hadapannya seorang gadis cantik berambut panjang kecokelatan bermantel cokelat gelap dengan aksen bulu di leher dan kedua ujung lengannya dan seorang gadis dengan wajah serupa dengan rambut hitam legam panjang yang juga tergerai dan mengenakan mantel merah muda tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


Gadis bermantel cokelat gelap itu tersenyum sesekali menanggapi gadis bermantel merah muda yang nampak lebih ceria dan periang. Kaito senang? Tentu saja, karena gadis yang dilihatnya bersama seorang pria di bawah hujan kelopak cherry malam itu bukanlah gadis yang meluluhkan hatinya di atas jembatan Banpo. Ia dengan senyum cerah mendekati kedua gadis itu dan menyapa mereka dengan canggung karena bagaimanapun ia adalah orang asing. Yang saat ini terlintas di benaknya adalah meminta mereka datang ke pamerannya.


“Permisi nona..” ucap Kaito.


“Apakah kami mengenal Anda?” tanya gadis bermantel cokelat.


“Akh saya rasa tidak, saya hanya ingin memberikan brosur pameran fotografi ini dan tiket gratis untuk kalian, saya harap kalian bersedia untuk datang..” ucap Kaito dengan senyum ramah.


“Oh.. baiklah.. mungkin kami akan datang.. emp siapa fotografernya?” tanyanya lagi yang sepertinya cukup tertarik.


“Kaito Hedogawa..” ucap Kaito dengan canggung menyebut namanya sendiri.


“Dari namanya bukan orang Korea, ku rasa orang Jepang bukan?” ucap gadis bermantel merah muda.


“Ya.. saya harap kalian datang..” ucap Kaito sambil mohon diri dan segera meninggalkan kedua gadis tadi.


__ADS_1


“Ayo kita lihat foto-foto di sebelah sana Ji Eun Noona..” ajak gadis berbaju pink.Hari pertama mereka tak datang, hari kedua pun sama bahkan hingga pameran hari ketiga. Kaito sudah merasa putus asa. Hari ini adalah hari terakhir pameran fotografinya dan sudah beberapa orang yang ingin membayar mahal untuk foto gadis bermantel cokelat gelap itu terlebih yang menunjukkan wajahnya dari samping, dan semua itu masih ditahannya. Penantiannya berakhir tepat pada satu jam sebelum lelang dimulai untuk semua hasil karyanya itu. Kedua gadis itu datang dengan pakaian santai. Gadis berambut kecokelatan menggunakan baju semi dress berwarna hijau tua dengan lengan panjang dan belt kecil berwarna kuning melingkari pinggangnya serta celana pendek hitam yang membuatnya tampak dewasa, sedangkan gadis berambut hitam pekat mencepol rambutnya, ia mengenakan mini dress soft pink polos dengan blazer dengan warna dark pink membuat kesan kasual pada dirinya.


“Bagaimana kalau kita menemui salah satu pemandu saja, kita bisa langsung melihat foto-foto yang paling banyak diminati dalam pameran ini, bagaimana Ji Han?” tanya gadis berbaju hijau itu.


“Emm baiklah Noona, ku rasa bukan ide buruk..” jawab gadis baju pink.


“Aneyonghaseo..” ucap Kaito pada mereka berdua.


“Aneyonghaseo.. oh bukankah kamu yang memberikan kami tiket beberapa hari lalu?” ucap si baju pink pada Kaito.


“Ye.. perkenalkan, saya Kaito Hedogawa..” ucap Kaito.


“Astaga.. Emp aku Park Ji Han dan dia noonaku Park Ji eun..” ucap Ji Han.


“Aku senang kalian datang.. ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian..” ucap Kaito yang senang karena akhirnya mengetahui nama gadis yang disukainya.


Sepanjang tournya melihat-lihat hasil fotonya Ji Hanlah yang lebih antusias dibanding dengan Ji Eun yang hanya diam sambil mengamati hasil jepretannya. Hati Kaito was-was apakah Ji Eun tak menyukainya? Namun ia seolah baik-baik saja. Ia mengajak mereka melihat foto Ji Han yang tengah berputar-putar di bawah hujan kelupak bunga cherry.


“Sepertinya aku tak pernah mengingatnya.. kapan itu terjadi?” tanya Ji Han.


“14 April.. ya aku ingat benar saat itu..” ucap Kaito yang mulai nyaman dengan celotehan Ji Han.


“Ahh.. mungkin bukan aku, hanya memang mirip, aku tidak ke luar rumah hari itu.. mungkinkah itu kau Ji Eun Noona?” tanya Ji Han pada Noonanya.


“Oh.. aku tak ingat..” jawab singkat Ji Eun seolah baru tersadar dari sesuatu.


“Apakah foto ini diambil 12 April?” tanya Ji Eun.


“Apa kau mengingatnya?” tanya Kaito penuh harap.


“Akh tidak.. aku memang ada di sana saat itu bersama dengan Ji Han juga, tapi aku tak ingat pernah melakukannya, maksudku berdiri di tepian jembatan seperti ingin bunuh diri..” jelas Ji Eun.


Kaito mulai bingung. Ia tak mengerti dengan segalanya kecuali satu hal. Ia belum tahu siapakah gadis yang dicintainya itu sebenarnya. Apakah ada Park Ji Eun yang lain lagi di luar sana? “Wah sayang sekali.. itu berarti aku tidak bisa tinggal di Seoul lagi dan Pulang ke Harajuku..” gumam Kaito tanpa ia sadari. Park Ji Han yang sedari tadi diam tiba-tiba saja memalingkan wajahnya pada Kaito dan menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Namun gumaman Kaito tak berhenti sampai di situ ketika ia kembali bergumam, “Karena aku.. jatuh cinta pada gadis bermantel cokelat itu.”


Banpo 12 April 2014 at 11.45 pm.


“Noona apakah masih lama mengganti ban mobilnya?” tanya Park Ji Han.


“Ku rasa 30 menit lagi.. kau tahu sekarang sedang gelap dan aku tak mungkin memaksa Tae Kyungku untuk cepat..” jawab Park Ji Eun.


“Baiklah, aku akan jalan-jalan sebentar, Noona aku pinjam mantelmu, aku tidak membawa mantel..” ucap Ji Han sambil mengenakan mantel milik noonanya dan melangkah menyusuri jembatan Banpo hingga ia berhenti sesaat untuk menikmati udara malam itu.


Yeouido 14 April 2014 at 08.13 pm.


Ji Eun sedang bermain main dengan bunga Cherry yang berguguran namun tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Sudah menunggu lama?” tanya orang yang memeluknya.


“Ah Oppa.. aku sangat merindukanmu..” ucap Ji Eun.


“Bagaimana kalau kita Pergi dari sini?” tanya Tae Kyung.


“Baiklah..” ucap Ji Eun dengan senyum lebar.


“Ji Eun.. aku akan pergi melanjutkan studiku di New York.. apakah kau mau menungguku?” tanya Tae Kyung yang berjalan berdampingan dengan Ji Eun.


“Oppa kau bercanda kan?” tanya Ji Eun sambil menghentikan langkahnya.


“Ini demi kita..” jelas Tae Kyung.


“Baiklah.. tapi aku akan sangat kesepian tanpamu,” manja Ji Eun.


“Aku juga begitu..” jawab Tae Kyung.



Kaito sudah akan kembali ke Jepang malam sebelum ulang tahunnya esok hari. Jam sebelas lebih empat puluh lima menit tepat pesawatnya akan berangkat. Ia sudah berada di dalam taksi sambil memandang foto gadis bermantel cokelat gelap itu di laptopnya. Ia baru menyadari sesuatu. Rambut gadis itu berwarna hitam legam dan bukan kecokelatan seperti rambut Ji Eun lalu ia kembali melihat foto gadis yang ia close up sedang menampung bunga cherry dengan kedua tangannya. Gadis itu berambut kecokelatan, itu artinya.. ia salah mengenali cintanya. Kaito hendak meminta sopir taksi yang membawanya berbalik, namun ia teringat saat pameran itu bahkan Ji Han tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengingatnya jadi Kaito mengurungkan niatnya.


Bandara Internasional Incheon 22 April 2014 at 11.30 pm


Ji Han sudah duduk selama satu jam. Entah apa yang ia lakukan saat ini. Ia hanya ingin mengatakan pada Kaito Hedogawa bahwa ia juga menyukainya ah tidak, lebih dari suka tapi dia juga jatuh cinta padanya. Ia ingat saat ia sedang berjalan-jalan menyusuri jembatan dan melihat Kaito sedang mengambil gambar lalu lintas dan juga lampu lampu di sana, ia tertarik pada lelaki itu hingga saat ia menyadari lelaki itu berdiri di sisinya saat berada di jembatan itu ia segera pergi karena ia merasa tidak dapat menahan detak jantungnya sendiri, namun ia tak tahu apa yang harus ia lakukan kini. 10 menit berlalu dan akhirnya penantiannya tak sia- sia, ia melihat Kaito yang sedang menunduk sambil memeriksa tiketnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Ji Han segera berlari menghampiri Kaito.


“Kaito ssi..” ucap Ji Han.


Kaito nampak terkejut mendapati Ji Han, cintanya yang sesungguhnya berada di hadapannya.


“Kaito ssi..” ulang Ji Han.


“Ji Han..” lirih Kaito.


“Apakah kau harus benar-benar kembali ke Jepang?” tanya Ji Han dengan mata berkaca.


“Ya.. tak ada alasan lagi untukku berada di Korea,” ucap Kaito.


“Tak bisakah.. tak bisakah aku menjadi alasan bagimu Kaito ssi?” tanya Ji Han, “aku juga mencintaimu..” lanjutnya sambil menunduk, namun tak lama sebuah pelukan jatuh kepadanya.


“Jadi kau ingat? Aku sudah lama mencarimu,” tanya Kaito.


“Selamat ulang tahun.. Oppa. Maaf aku tidak memberikan apa pun untukmu,” ucap Ji Han dalam pelukan Kaito.


“Tak perlu.. kau adalah hadiah terindah dalam hidupku. Ji Han Chan.” ucap Kaito sepenuh hatinya.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2