
Sungguh, jika waktu itu tidak berlalu aku berjanji akan mengatakannya. Mengatakan yang sesungguhnya sedang terjadi di antara kau dan aku. Sekarang terlambat. Jauh di lubuk hatiku turut menyesali semua yang telah berlalu. Tapi waktu adalah roda, siap tak siap ia akan terus berputar entah sampai kapan.

“Berhentilah seperti ini, aku saja bosan melihatmu selalu seperti ini,” seru Myung Han sahabatku sejak aku duduk di bangku SMP. “Han, apa lagi yang harus aku lakukan? Hanya ini yang bisa aku perbuat. Aku sungguh menyesalinya sekarang,” Myung Han bergidik mendengar ucapan mirisku. Myung Han kini kembali ke kelasnya sedang aku masih tak bergeming dari kantin yang sepi ini. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul sebelas, sadar telah membolos jam pelajaran aku pergi menelusup ke taman di mana pernah tercipta sebuah histori.
“Apa kau melihat kopiku?” tanyanya seraya mencari sesuatu. Aku terdiam pura-pura tak mendengarnya.
“Eun Jin. Kau kah pelakunya. Kau kan?” tuduhnya padaku. Aku tersenyum tak mampu menyembunyikan kebohongan. Sengaja aku membuangnya karena yang ku tahu ia sedang tak diizinkan untuk mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein.
__ADS_1
“Kajja, berikan padaku.” bujuknya menatapku dengan wajah memelas. Jantungku berdebar tak menentu kala matanya dan mataku beradu pandang.
“Mian, aku telah membuangnya.” ucapku sedikit tergugup. Ia tersenyum manis sekali. Itu semakin membuat darahku seakan berhenti mengalir.
“Waeyo, ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu membuang kopiku, apakah kau ingin membuatku marah?”
Aku tersadar dari lamunan mengenang histori manis itu karena seseorang memukul kepalaku. Aku hampir saja memakinya jika saja ia tak memalingkan wajahnya. Na Young.
Ia menunjukan ekspresi sangarnya seperti biasanya. Cantik sih tapi sayang sangat judes.
__ADS_1
“Sedang apa kau di sini? Mencari kopi-kopi pahit itu?”
“Ne, akan ku beri gula!” jawabku ketus tak suka jika Na Young dapat menebak pikiranku.
“Walau rasanya akan tetap sama. Walau dia akan tetap bersifat pahit padamu?” mendengar itu aku terdiam berusaha mencari kata untuk membalasnya. Tapi kata apa yang tepat untuk mengimbanginya?
“Sekarang apa, menyesal? Tidak perlu. Dia itu namja yang benar-benar yang tidak perlu dikasih gula. Biarkan saja dia menjadi kopi pahit.” Aku masih terdiam membiarkan gadis itu dengan petuahnya. “Suatu saat pasti dia akan membutuhkan gula. Gula sepertimu. Aku yakin. Bahkan jika dia tidak sadar juga aku akan mengutuknya sampai ia bena-benar menjadi bubuk kopi yang sangat pahit hingga ulat pun enggan menyentuhnya.”
Aku yang bersalah Na Young bukan dia. Bukan Kwang Soo, tapi aku. Akulah penyebab ia pergi. Aku telah membuat kepercayaannya hancur dengan menghancurkan persahabatan karena hanya sebuah perasaan yang belum tentu rasa yang sesungguhnya. Maaf Na Young, dia bukan kopi yang pahit tapi dia madu yang tertutup kopi. Ia anak lelaki yang manis Na Young. Aku mohon jangan katakan dia si kopi pahit.
__ADS_1