
Hari ini aku bangun tidur kesiangan. Betapa kagetnya aku, setelah melihat jam didinding sudah menunjukan pukul enam pagi.
Lebih mengagetkan lagi, saat aku melihat Radin ada di sampingku, tanpa sehelai pakaian hanya saja tubuhnya ditutup selimut sampai ke dada.
"Radin, kamu ngapain disini? Dan ini, kenapa aku seperti ini?"
Tanyaku terkejut, saat aku melihat tubuhku hanya di tutup selimut tanpa memakai apapun di dalamnya.
Radin terbangun kaget, saat aku memanggilnya dengan suaraku yang sedikit kencang.
"Aku suamimu sekarang, apa kamu juga lupa, apa yang sudah kita lakukan semalam?"
Tanya Radin padaku dengan wajah yang sedikit menegang.
"Oh, iya. Astagfirullohal'adzim, maaf aku lupa kalau aku sudah jadi istrimu sekarang,"
jawabku dengan wajah malu-malu.
"Ya sudah aku mau mandi dulu ya!"
Aku turun dari tempat tidur hendak pergi ke kamar mandi. Namun ketika aku ingin menarik selimut yang menutupi tubuhku, karna baju tidurku entah terbang kemana. Tiba-tiba saja Radin menarik selimutnya sehingga aku terseret jatuh ke dalam pelukannya.
"Sekarang kita satu selimut, kalau kamu mau ke kamar mandi, kamu harus mengajak aku juga," ucap Radin sedikit menggodaku.
"Heummmm maunyaaa," jawabku tepat didepan wajahnya, kemudian ku kecup pipi kiri Radin, hingga membuat dia hampir melotot.
"Ya sudah, kamu menghadap ke belakang sana, aku mau pakai baju," ucapku sedikit memerintah.
"Memang kamu tahu, baju kamu ada dimana?" Tanya Radin yang membuatku jadi tertawa.
"Eh, iya dimana ya? Hehehe," jawabku kikuk dan malu-malu.
Radin hanya tersenyum melihat tingkahku, kemudian membalikkan tubuhnya.
"Ya udah, aku ngadep ke belakang nih, kamu cepetan cari baju kamu ya," ucap Radin sambil membalikan badannya ke arah tembok.
"Awas loh, jangan ngintip. Sebentar aku cari bajuku dulu," ucapku sedkit ketakutan kalau tiba-tiba saja dia membalikan badannya.
"Udah belum? Lama banget sih, lagian aku ini kan udah jadi suami kamu, masih malu aja," ucap Radin padaku.
"Bukannya malu, aku hanya belum terbiasa,"
jawabku sambil memakai baju tidurku dengan tergesa-gesa.
"Udah nih, kamu udah boleh balik badan kamu lagi," ucapku pada Radin.
Radin membalikan badan dan melihatku yang sudah berpakaian lengkap.
"Kenapa sih udah pakai baju aja?" Ucap Radin dengan lesunya.
__ADS_1
"Hey kamu nggak lihat, sudah jam berapa sekarang? Kita belum sholat shubuh," jawabku sedikit mengingatkan.
"Astagfirullohal'adzim, lupa. Ya udah kita mandi bareng aja ya biar cepet," jawab Radin mendesakku.
"Nggakkk memang maunyaaa, aku duluan ke kamar mandi," jawabku sedikit berteriak dan langsung mengambil handuk, kemudian segera menuju kamar mandi yang memang ada di dalam kamar.
Radin hanya tertawa melihat tingkahku lalu tersenyum.
Di Ruang makan, Ibu dan ayahku sudah menunggu untuk sarapan bersama.
Tidak beberapa lama kemudian, aku dan Radin pun datang untuk sarapan bersama.
"Lama banget dek, abis nyunci baju dulu ya?"
Tanya kakak perempuanku Nayla, sedikit menggodaku.
Aku dan Radin hanya tersipu malu mendengar ucapan Ka Nayla.
"Husssss udah ah, jangan meledek terus kamu kaya nggak pernah jadi pengantin baru aja." Ibu mencoba membelaku.
"Iya nih, kamu Nayla demen banget godain Adikmu." Dimas kakak laki-laki aku pun ikut membela.
"Ya udah. Ayo sekarang kalian duduk dan sarapan dulu!" Ibu mempersilahkan kami duduk untuk sarapan.
Selesai sarapan kami pun pamit kepada kedua orangtuaku dan kepada kedua kakakku untuk pergi jalan-jalan.
Radin segera megeluarkan motornya, akupun duduk di belakangnya.
"Kemana kamu pergi aku ikut," jawabku sedikit manja.
"Sedaaap, kita nonton bioskop aja ya? Selama kita pacaran belum pernah ke bioskop."
"Hehehe iya boleh," jawabku sambil tertawa.
"Kamu pegangan yang kuat ya aku mau jalan nih, mau pegangan pinggang, mau peluk juga nggak apa-apa kan udah sah," ucap Radin padaku.
"Eh, iya, aku pegangan yang kuat nih!"
jawabku sambil kupeluk Radin dengan erat dari belakang, jika selama ini aku hanya bisa menikmati aroma tubuhnya diam-diam dari belakang. Sekarang aku sudah bisa mendekap aroma parfum itu dengan erat, wangi parfum yang melekat di tubuhnya.
Akhirnya sampai juga kami di bioskop. Radin pergi ke loket untuk membeli ticket, sedangkan aku duduk menunggu di ruang tunggu.
Tiba-tiba, ada suara yang tak asing lagi bagiku. Ya itu suara Dani, bisik hatiku.
"Assalamu'alaikum Wirda." Dani mengucapkan salam kepadaku
.
"Wa'alaikum salam," jawabku sambil menoleh ke belakang, ternyata benar saja itu Dani.
__ADS_1
"Kamu mau nonton juga?" Tanya Dani padaku.
"Iya, itu Radin sedang membeli ticket," jawabku.
"Tante, tante. Tante nggak main ke rumah Adit lagi kok?" Tiba-tiba Adit menyapaku dan langsung menghampiriku untuk mencium tanganku, begitu juga dengan Sarah.
"Eh, ada Adit sama Sarah. Mau nonton juga ya? Nanti ya kalau Tante sudah ada waktu senggang, tante sama om Radin main ke rumah Adit," jawabku pada Adit.
"Om Radin siapa tante?" Tiba-tiba Adit bertanya dan cukup membuatku terkejut dengan pertanyaannya.
Dani langsung menjawab pertanyaan Adit agar dia tidak terus bertanya padaku.
"Om Radin itu suaminya tante Wirda," jawab Dani untuk menghilangkan penasan Adit.
"Kok Tante nggak nikah sama papa aja sih?"
Lagi-lagi pertanyaan Adit membuatku bingung bagaimana menjawabnya.
"Papa sama tante Wirda belum berjodoh Dit, jodoh tante Wirda itu om Radin, udah ya kamu jangan bertanya terus, kamu belum mengerti sayang." Dani coba menjelaskan kepada Adit sambil mengusap kepalanya dan di jawab Adit dengan anggukan kepala.
Aku hanya tersenyum saat Adit menatap ke arahku, seolah masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan padaku.
Selang beberapa lama, Radin muncul dengan dua ticket dan dua popcorn di tangannya, juga dua buah minuman ringan kaleng yg di bungkus plastik putih dalam genggamannya.
"Hey Dan, kamu mau nonton juga?" Tanya Radin pada Dani.
"Iya nih, anak-anak minta nonton film," jawab Dani.
"Oh ya, film apa?" Tanya Radin.
"Biasa, film anak kecil, film kartun," jawab Dani sambil menunjukan ticket yang dia beli.
"Wah, kalau begitu sama dong.
Ya udah kita cari bangku bareng aja duduk sama-sama." Ajak Radin pada Dani, membuat mataku hampir terbelalak begitu mendengar Radin mengajak Dani dan anak-anaknya duduk bersama kami.
"Nggak apa-apa kan sayang?" Tanya Radin padaku sambil menatapku.
"Oh, iya. Nggak apa-apa kok, nggak masalah," jawabku gugup.
"Eh, nggak usah. Jangan, kalian kan pengantin baru." Dani mencoba menolak ajakan Radin.
Radin tertawa mendengar ucapan Dani.
"Ha ha ha santai aja Dan, kami ke bioskop mau nonton bukan mau bulan madu."
"Hehehe iya, baiklah kalau tidak mengganggu," jawab Dani dengan wajah agak cemburu.
Aku kaget Radin bicara seperti itu kepada Dani. Kaget bercampur maluuuu.
__ADS_1
☺☺☺