
"Assalamu'alaikum... " Aku memberi salam sambil mengetuk pintu ruang kerja Radin. Terdengar suara sahutan salamku dari dalam ruangan.
"Wa'alaikum salam." Radin menjawab salamku sambil membuka pintu.
"Wah..! Anak Ayah datang juga." Radin menggedong Eyza begitu dia membuka pintu, aku langsung mencium tangan Radin sebelum menyerahkan Eyza dari gendonganku, tak lupa Radin pun mencium keningku sebelum meraih Eyza dari gendonganku.
"Kamu bawa makanan buat aku? kebetulan banget, aku udah lapar berat," tanya Radin sambil memegang perutnya.
Aku segera membuka rantang berisi makanan yang aku bawa lalu menyiapkannya untuk Radin makan.
"Sini biar Eyza sama aku dulu, kamu makan dulu," ucapku pada Radin sambil mengambil Eyza dari gendongannya.
Radin memakan makanan yang aku bawa dari rumah dengan lahapnya, aku hanya memandangi dia makan sambil menggendong Eyza yang mulai mengantuk.
"Kamu sudah makan? itu kalau Eyza tidur taruh di sofa aja, kelihatannya ngantuk banget dia." Seru Radin padaku sambil menunjuk sofa dekat meja kerjanya.
Aku meletakan Eyza di sofa itu sambil menepuk-nepuk pahanya agar tidak terbangun.
Selesai makan Radin menghampiriku, duduk di pinggiran sofa didekat aku duduk.
"Ngantuk banget dia," ucap Radin padaku.
"Iya, kan memang belum tidur siang dia," jawabku sambil terus menatap Eyza yang sudah tertidur pulas.
begitu aku menoleh ke samping, wajah Radin sudah ada tepat di depan wajahku.
"Heummmm kamu pake parfum apa wangi banget?" tanya Radin padaku sambil terus mendekatkan wajahnya hingga tersisa hanya beberapa centimeter dari wajahku.
"Heummmm ini parfum ... " belum selesai aku jawab, hampir saja Radin mencium bibirku namun tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Aku langsung membenarkan posisi dudukku, sedangkan Radin. Dia langsung berdiri dan menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
__ADS_1
"Masuk!" Pintu pun langsung terbuka.
"Maaf Pak. Bu, saya mengganggu. Saya hanya mau kasih berkas ini!" jawab Rina, salah satu staff di kantor itu sambil memandangku. Aku hanya tersenyum menjawab permintaan maafnya.
"Oh iya. Nggak apa-apa kok, taruh di meja kerja saya aja." jawab Radin pada Rina. Rina pun segera menaruh berkas itu di meja lalu pamit untuk keluar ruangan.
Setelah Rina keluar, kami pun tertawa mengingat kejadian tadi.
"Kamu tuh. Udah punya anak masih aja kaya pengantin baru," ucapku pada Radin.
"Abis kamu menggoda!" jawab Radin sambil menatapku kemudian tersenyum. Aku hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala mendengar ucapannya.
"Kamu tunggu aku selesaikan pekerjaan ya. Kita pulang bareng, sekalian kita ke supermarket beli susu dan pampers Eyza," ucap Radin yang aku jawab dengan anggukan kepala.
Tepat pukul empat sore, Radin telah menyelesaikan pekerjaannya dan kami pun siap-siap pergi meninggalkan kantor tempat Radin bekerja.
Radin segera ke parkiran mobil untuk mengambil mobilnya. Sedangkan aku, menunggunya di depan pintu utama.
Tak berapa lama mobil Radin pun sudah ada tepat di depanku. Dia langsung keluar dari mobil membukakan pintu mobil depan untukku lalu menaruh tas bayi dan rantang yang aku bawa tadi di bangku belakang.
Mobil pun berjalan meninggalkan pelataran kantor menuju supermarket.
Setelah kami mendapatkan susu yang mau kami beli tiba-tiba kami berpapasan dengan Lina dan anaknya.
"Eh, a' lagi belanja juga?" sapa Lina pada Radin, Radin tersenyum lalu memperkenalkan aku pada Lina, aku sempat mengernyitkan dahi begitu mendengar Lina memanggil Radin dengan sebutan aa'.
"Iya nih, mau cari susu sama pampers buat Eyza. Oh iya kenalin ini istri aku Wirda dan ini anak kami Eyza!" ucap Radin pada Lina sambil menggenggam telapak tanganku dengan erat seolah ingin menenangkan perasaanku, kemudian tersenyum ke arahku.
"Oh iya, aku Lina dan ini anakku Faiz," jawab Lina sedikit gugup sambil mengulurkan tangannya padaku.
" Wirda!" jawabku sambil ku ulurkan tanganku padanya kemudian aku tersenyum, Lina pun membalasku dengan senyuman.
"Kami duluan ya kebetulan sudah dapat susunya tinggal cari pampers," ucap Radin sambil memegang keranjang belanjaan.
"Oh iya, silahkan saya masih mencari barang yang mau di beli," jawab Lina pada Radin.
"Baiklah kalau begitu, Assalamu'alaikum," ucap Radin kemudian memberi salam kepada Lina.
__ADS_1
"Wa'alalaikum salam," jawab Lina.
Kami pun pergi meninggalkan Lina dan anaknya yg dia dudukan di trolly.
Radin terus saja menggenggam tanganku dengan tangan kanannya sepanjang jalan sedang tangan kirinya memegang keranjang belanjaan.
"Udah kali pegang tangannya, udah jauh juga dari mantan kamu," ucapku yang membuat Radin terkejut.
"Maksud kamu apaan sih? mau di depan dia atau nggak emang nggak boleh pegang tangan istri sendiri?" tanya Radin.
"Aku tahu kamu cuma pura-pura aja mesra buat nutupin kan?" ucapku yang lagi-lagi membuatnya terkejut.
"Nutupin apa? Nggak ada yang aku tutupin dari kamu!" jawab Radin sambil tetap menggenggam tanganku kali ini genggamannya lebih erat
"sudahlah! Kamu nggak usah bohong sama aku!" ucapku yang membuat Radin menjawab sedikit tegas.
"Sudah. Cukup Wirda, jangan bahas masalah ini disini. Kalau kamu masih bahas aku akan memberi kamu hukuman nanti malam," jawab Radin tegas namun seketika dia langsung tersenyum dan menatapku nakal.
"Dasar laki-laki!" gumamku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Radin selalu bisa mencairkan suasana disaat aku lagi ngambek nggak jelas, seperti minum air dingin di tengah gurun pasir langsung hilang dahaga di tenggorokan.
Selesai berbelanja kami langsung menuju mobil yang di parkir Radin. Tidak jauh dari depan supermarket, setelah memasukan semua barang belanjaan ke dalam mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan supermarket menuju rumahku.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Tidak bicara apa-apa, sampai akhirnya Radin membuka obrolan untuk memecah kesunyian diantara kami.
"Kok diam aja? sariawan?" tanya Radin dengan nada sedikit bercanda.
"Nggak!" Jawabku datar.
"Masa sih nggak ada apa-apa? Oke kalau begitu! Aku akan cari tahu jawabannya nanti malam." jawab Radin sambil tersenyum menggodaku.
"ihhhhh kamu tuh, ngancemnya selalu begitu," jawabku sambil pasang muka cemberut.
"Hahahaha aku nggak mengancamu sayang, hanya ingin tahu isi hati kamu, kalau kamu nggak mau kasih tahu, biarkan aku cari tahu sendiri," jawab Radin tak henti-hentinya menggodaku.
"Tau ahhh aku mau tidur aja di mobil," jawabku sambil ku pejamkan mata dan merebahkan kepala di jok mobil, kebetulan Eyza juga sudah tertidur pulas dalam pangkuanku.
__ADS_1
Radin hanya tersenyum melihat tingkahku. Kemudian menggelengkan kepalanya sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.