
Tak terasa sudah dua tahun aku mengarungi bahtera rumah tangga bersama Radin dan kami di karuniai seorang anak laki-laki yang kini sudah berusia satu tahun delapan bulan.
Saat ini aku tengah mengandung anak kedua kami. Menurut dokter Ratih, bayi yang aku kandung ini kembar dua, perempuan. Dokter Ratih adalah dokter spesialis kandungan dimana aku biasa memeriksakan kandunganku padanya.
Kini kandunganku memasuki usia enam bulan, mulai terasa berat rasanya apalagi di tambah sambil mengurus Eyza dan urusan rumah tangga karna sekarang kami sudah pisah rumah tidak tinggal bersama dengan kedua orangtuaku lagi, namun sedikit ringan karna aku sudah tidak bekerja lagi sejak satu bulan sebelum pernikahan. Radin tidak ingin aku bekerja, dia ingin aku fokus mengurus dia dan anak-anaknya.
Tapi hamil kali ini mungkin emosiku lebih tidak stabil karna sering bertengkar dengan Radin hanya karna urusan yang sebenarnya tidak begitu penting tapi karna sedang hamil jadi emosiku kadang tidak stabil dan gampang sekali sedih atau marah.
"Aku capek, kamu selalu bohongin aku, kamu bilang kamu udah nggak berhubungan lagi sama dia tapi kenyataannya kamu masih suka sms-an, telpon bahkan kamu udah beberapa kali ketemu dia kan?" tanyaku pada Radin dengan nada yang sedikit keras dan ekpresi yang sangat marah.
"Kamu ngomong apa sih, ini nggak seperti yang kamu pikirkan, kamu salah paham!" jawab Radin dengan nada suara yang sedikit keras juga.
" AKHHHHH UDAHHH..... AKU UDAH CAPEKK! " Jawabku yang langsung meninggalkan Radin di ruang tamu lalu masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar kulihat Eyza sudah tertidur dengan pulas, aku duduk di samping tempat tidur dimana Eyza sedang tidur, aku usap kepalanya lalu ku usap perutku yang mulai membuncit. Tanpa terasa air mataku mulai berjatuhan di pipi terasa hangat saat menyentuh kulit pipiku namun terasa pedih didalam hati saat butiran-butiran air itu berjatuhan dari kelopak mataku.
Sementara itu diruang tamu Radin duduk di kursi sambil memegang kepalanya badannya lemas, tubuhnya yang tinggi dan atletis seperti pohon yang roboh setelah di terpa angin kencang.
Radin masuk ke dalam kamar mencoba untuk mebujukku agar tidak terus marah-marah seperti ini, dia menghampiriku mengusap kepalaku lalu menciumnya.
"Udah ya kamu jangan marah-marah terus seperti ini, ingat kamu sedang mengandung. Kasihan bayi kita yang ada di dalam perut kamu, dia butuh tenang dan butuh ibunya selalu dalam keadaan senang."
Radin mencoba membujukku agar aku bisa lebih tenang.
Aku hanya menangis mendengar ucapan Radin tidak aku jawab sedikit pun perkataannya, aku hanya diam sambil mengusap-usap kepala Eyza.
Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku, kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi mungkin karna terlalu lelahnya menangis semalaman jadi setelah sholat shubuh aku langsung tidur lagi.
Ku lihat di meja samping tempat tidurku sudah ada segelas susu putih dan sandwich yang sepertinya di buatkan oleh Radin untukku. Aku menghampiri meja dimana makanan itu berada lalu aku minum segelas susu tersebut sampai hanya tersisa setengah gelas, kemudian aku keluar kamar pergi ke ruang tamu namun tidak ku dapati dia. Mungkin sudah berangkat kerja, pikirku dalam hati.
Karna Radin sudah berangkat kerja maka aku segera ke kamar mandi untuk mandi, setelah mandi dan rapih-rapih aku habiskan sarapan yang dibuatkan Radin untukku kemudian aku bereskan kamar, tiba-tiba Eyza bangun dari tidurnya segera saja aku buatkan susu untuknya.
__ADS_1
Setelah aku mandikan Eyza, pakaikan baju dan memberinya makan, segera aku bersiap-siap ke klinik bersalin untuk memeriksakan kandunganku.
Tak lupa aku sms Radin untuk memberi kabar padanya kalau hari ini aku dan Eyza mau pergi ke klinik bersalin untuk memeriksakan kandunganku.
"Assalamu'alaikum, aku izin ke klinik ya mau periksa kandungan."
Hampir 15 menit aku menunggu jawaban sms dari Radin tapi belum juga ada balasan, akhirnya aku putuskan untuk berangkat.
Di jalan raya yang tidak begitu jauh dari ruamahku, aku menunggu taksi tapi belum juga ada yang lewat, tiba-tiba ada mobil Dani tepat di hadapanku. Dani membuka kaca jendela mobilnya.
"Mau kemana?" tanya Dani padaku.
"Mau ke klinik mau periksa kandungan," jawabku yang membuat Dani agak terkejut setelah tahu aku sedang mengandung.
Kemudian Dani keluar dari mobilnya untuk menghampiriku, "Biar aku antar ya?"
" Ngg.... nggak usah, merepotkan kamu nanti, aku naik taksi aja," jawabku.
"Aku nggak merasa di repotkan kok, tenang aja," ucap Dani untuk meyakinkan aku.
"Nggak, hari ini aku cuti tadi abis antar anak-anak ke rumah tantenya, kebetulan saja lewat sini trus aku lihat kamu," jawab Radin menjelaskan padaku.
"Oh begitu, tapi beneran aku bisa naik taksi kok, nggak apa-apa nggak usah di antar," jawabku sekali lagi menolak tawaran Dani untuk mengantarku.
"Please, jangan di tolak. Mana tega aku lihat kamu pergi berdua saja sama anak kamu yang masih kecil ini naik taksi, aku janji aku nggak akan ngomong seperti waktu itu setelah kamu keluar dari mobilku," ucap Dani sambil tersenyum yang membuat aku tertawa ingat kejadian waktu Dani mengantarku ke kantor Radin.
"Hahaha jadi kamu pikir aku takut karna itu?" Jawabku sambil tertawa
"Hehehe kali ajaaaa," ucap Dani sambil tertawa pelan, aku pun hanya tersenyum melihatnya.
"Oke, aku mau di antar, tapi bener ya kamu nggak akan ucap seperti itu lagi?" ucapku sambil tersenyum meledek.
__ADS_1
Dani hanya tertawa lalu tersenyum mendengar ucapanku setelah itu menggelengkan kepalanya kemudian membukakan pintu mobil untukku, aku pun segera masuk ke dalam mobil, kemudian mobil pun berjalan menuju klinik persalinan.
Setibanya di klinik Dani membukakan pintu mobil untukku.
"Aku antar kamu sampai ke dalam ya? Aku juga akan menunggumu sampai selesai," tanya Dani padaku.
"Nggak usah, udah sampai sini aja!" jawabku.
"Kamu mau gendong anakmu dalam keadaan hamil begini? Sudah sini biar aku yang gendong anakmu dan aku akan antar kamu ke dalam," ucap Dani sambil mengulurkan tangannya agar aku menyerahkan Eyza untuk di gendong olehnya.
Aku pikir-pikir iya juga, kasihan bayinya kalau aku gendong-gendong Eyza terus. Akhirnya aku serahkan Eyza untuk di gendong Dani dan kami pun masuk ke dalam klinik.
Setelah mendaftar kami duduk di bangku tunggu, setelah menunggu selama tiga puluh menit akhirnya namaku di panggil.
"Ibu Wirda!" suster memanggil namaku.
"Iya sus, saya ibu Wirda! " jawabku pada suster.
"Silahkan masuk bu!" jawab suster mempersilahkan aku masuk.
"Tunggu sebentar ya!" ucapku pada Dani.
"Iya," jawab Dani padaku.
Setelah sepuluh menit aku di dalam, suster keluar menghampiri Dani yang sedang menggendong Eyza.
"Maaf pak, Bapak nggak mau lihat bayinya?Sekarang Ibunya lagi di USG," tanya suster pada Dani yang membuat Dani cukup terkejut mendengarnya.
"Maaf, saya bukan suaminya. Saya teman suaminya," jawab Dani masih dengan ekspresi bingungnya.
"Oh, maaf. Maaf pak, saya pikir suaminya," Jawab suster minta maaf pada Dani.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok," jawab Dani lalu tersenyum.
"Andai aku benar-benar jadi suamimu, Wirda!" gumam Dani dalam hati yang tiba-tiba hilang di kejutkan oleh suara dering telponnya.