
Hari ini Radin berangkat kerja pagi-pagi sekali karna ada meetting di kantor. Setelah sarapan dia langsung berpamitan dengan kedua orangtuaku, tak lupa ia mengecup keningku juga mencium kepala Eyza.
"Aku berangkat dulu ya!"
"Hati-hati di jalan!" jawabku.
Setibanya di kantor. Radin langsung ke ruang rapat. Menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan karna dia yang mengurus segala sesuatu yang di butuhkan untuk meetting dikantor.
Setelah dua jam rapat selesai. Radin kembali ke ruangannya untuk bekerja seperti biasa.
Tiba-tiba, bunyi pesan masuk dari ponselnya. Terdengar oleh telinganya, segera dia buka isi pesan tersebut.
Lina
Pesanku yang kemarin ga di balas a'?
Radin kaget Lina bilang kalau dia mengirim pesan untuknya, segera saja dia buka isi pesan yang kemarin dikirim Lina untuknya.
"Kemarin kan hpku ketinggalan, jadinya aku nggak bawa hp, berarti yang buka pesan di handphoneku Wirda dong!" gumam Radin dalam hatinya, kemudian dia membalas pesan Lina.
Radin
Oh, iya maaf ya saya sedang sibuk. Ada apa ya kamu mau ketemu saya?
Lina
Mau ketemu aja a' ada yang mau Adek ceritakan.
Radin
Nanti saya kabarin ya, ini saya masih di kantor.
Lina
__ADS_1
Baik a' Lina tunggu kabarnya ya.
Jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Radin segera menuju musholla kantor untuk melaksanakan sholat dzuhur, kemudian dia membalas pesan singkat Lina. Memenuhi permintaan untuk bertemu.
Di restoran yang tidak begitu jauh dari kantor Radin. Lina sudah menunggu.
"Assamu'alaikum Lina." Radin memberi salam.
"Wa'alaikum salam a'," jawab Lina dengan senang hati karna Radin mau memenuhi permintaannya untuk bertemu.
"Kamu sudah pesan makanan?" Radin bertanya.
"Sudah kok, kamu sendiri mau makan apa?"
tanya Lina pada Radin.
"Biar saya pesan sendiri," jawab Radin yang langsung pergi ke meja menu tempat memesan makanan.
Tak berapa lama Radin datang kembali ke meja tempat Lina menunggu dengan nampan berisi makanan yang dia pesan.
"Mau ketemu aja a' sudah lama juga kan kita nggak ketemu," jawab Lina sambil meneguk es lemon tea.
Radin hanya tersenyum kemudian coba bertanya lagi.
"Kamu yakin hanya ingin bertemu?"
"Eh iya, sebenarnya nggak juga aku hanya lagi butuh teman untuk ngobrol aja," jawab Lina sedikit kikuk.
"Oke, sekarang kamu boleh cerita," jawab Radin sambil memakan nasi dan ayam ketuncky yang dia pesan tadi.
"Aku sudah bercerai dari suamiku," jawab Lina yang membuat Radin tidak jadi menggigit ayam ketunckynya.
"Apa yang terjadi?" tanya Radin penasaran.
__ADS_1
"Di tahun pertama pernikahan, kami memang sudah tidak cocok, dia terlalu egois dan sibuk dengan pekerjaannya, jarang sekali mengajak aku dan faiz mengobrol atau sekedar jalan-jalan," jawab Lina mulai bercerita. Terlihat mata Lina mulai berkaca-kaca.
"Aku iri melihatmu a'. Kamu terlihat harmonis dan bahagia bersama Wirda. Andai saja dulu kita tidak putus mungkin aku juga sudah bahagia bersamamu. Aku masih sayang sama kamu, perasaan ini nggak pernah berubah walau aku sudah menikah dengan orang lain." Lina mulai mengungkapkan perasaannya lagi.
"Sudahlah, kamu nggak usah membahas ini lagi, kita sudah selesai sejak kamu tinggalkan aku untuk menikah dengan orang lain." Radin berusaha mencegah Lina agar tidak terus mengungkapkan perasaannya.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya ingin berkata jujur tentang perasaanku," jawab Lina sambil terus memandangi Radin seolah ada rasa penyesalan yang dalam di matanya.
Radin memalingkan pandangannya dari tatapan Lina dan terus menyantap makan siangnya.
"Lalu apa yang bisa saya bantu?" tanya Radin kepada Lina.
"Aku hanya butuh teman untuk berbagi cerita aja, boleh kan kalau aku berbagi cerita denganmu?" tanya Lina sambil terus menatap Radin.
"Boleh saja, tapi kita tidak boleh bertemu seperti ini lagi. Saya sudah punya istri, saya nggak mau orang salah paham melihat ini. Apalagi Wirda, saya nggak mau dia salah paham," jawab Radin sambil melirik jam tangan automatic yang melekat di lengan kirinya.
"Sudah jam satu. Saya harus kembali ke kantor, maaf nggak bisa temenin kamu lebih lama lagi, saya masih ada pekerjaan."
Radin meminta izin kepada Lina untuk kembali ke kantor.
"Baiklah, nggak apa-apa a' terimakasih ya sudah mau temenin aku makan siang dan mau dengarin cerita aku," jawab Lina yang hanya di balas dengan senyuman oleh Radin. Kemudian Radin mengucapkan salam dan segera pergi dari restoran itu.
Tanpa Radin sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dia dan Lina mengobrol sedari dia datang ke restoran itu.
"Heummm siapa wanita itu? Kenapa Radin bertemu dengan dia di jam makan siang begini," tanya Dani dalam hatinya. Dani memperhatikan Radin mengobrol serius dengan Lina sejak tadi. Terkadang, obrolan itu diselingi canda tawa seperti sedang mengenang masa lalu.
"Heummmm awas saja kau Radin, berani kau menyakiti hati Wirda, akan kurebut dia darimu," bisik Dani dalam hatinya.
-------------------------------------------------------------
Aku melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Kenapa Radin belum pulang juga ya biasanya maghrib sudah di rumah.
Hatiku makin gelisah. Apalagi kemarin, aku melihat pesan dari mantan pacar Radin mengajak dia bertemu.
__ADS_1
Suara detak jam di dinding seperti bersahutan dengan suara detak jantungku, yang sedang resah menanti suami yang belum juga pulang di jam makan malam yang sudah lewat.