Kuterima Pinanganmu Dengan Bismillah

Kuterima Pinanganmu Dengan Bismillah
Ahmad Faeyza Putra Sanjaya


__ADS_3

Di dalam bioskop, aku dan Radin segera mencari tempat duduk. Tanpa aku sadari ternyata Dani duduk di sebelah kiriku bersama dengan anak-anaknya di bangku sebelahnya, tempat dia duduk.


Aku dan Radin tertawa kadang bercanda berdua sambil nonton film maklum karna kami pengantin baru.


Ketika aku menoleh ke arah kiriku, betapa terkejutnya aku. Ternyata Dani yang duduk di sebelah kiriku.


"Ya Allah, kenapa aku dikasih situasi seperti ini. Di samping kanan suamiku, di samping kiri mantan pacarku," gumamku dalam hati.


Aku diam seolah nafasku terhenti. Ada rasa tak enak yang menyelimuti hati, karna Dani harus menyaksikan semua ini.


Akhirnya, lampu bioskop di nyalakan pertanda film sudah selesai di tayangkan. Para pengunjung pun keluar secara bergantian.


Radin menggenggam tanganku erat, sedari kami masih berada di dalam gedung bioskop.


Sesekali Dani melirik mencuri pandang melihat kemesraan kami. Aku hanya diam seolah tak mengetahui gerak-geriknya.


Sesampainya di parkiran, aku dan Radin mengambil motor, sedangkan Dani menuju parkiran mobil. Kami pun berpisah disitu.


Sebelum pulang kami mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan siang, baru setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.


Sampai rumah kami langsung masuk ke kamar untuk istirahat, karna memang lelahnya seharian pergi jalan-jalan.


Malam pun tiba dan semakin larut, aku dan Radin tidak keluar rumah sejak sedari habis isya. Kedua orangtua dan kakak-kakakku mengerti itu. Karna kami masih dalam suasana pengantin baru jadi tidak ada yang mengganggu.


Pagi-pagi sekali, Radin sudah berangkat dengan pakaian yang sudah lengkap, rapih


dan bersih karna hari ini dia ada interview.


Radin pamit kepadaku sebelum dia berangkat.


"Aku berangkat dulu ya!" ucap Radin sambil mengecup keningku.


Lalu aku jawab dengan anggukan kepala sambil aku cium punggung telapak tangannya.


Sore sekitar jam 15.00 WIB Radin sudah kembali ke rumah dengan memberi kabar baik kalau dia di terima bekerja di salah satu perusahaan konsultan IT.


Tak lupa kami berucap syukur karna Radin sudah mendapatkan pekerjaan sehingga bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yaitu memberi nafkah lahir.

__ADS_1


Tak terasa, dua bulan sudah kami berumah tangga, namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.


Barulah di bulan ketiga, aku merasakan ada yang aneh dengan perutku. Mual-mual, kepala pusing dan badan terasa tidak enak sekali.


Segera aku putuskan untuk memeriksakan diri ke dokter specialis kandungan. Ternyata benar saja, aku positif hamil.


"Aku hamil!" Ucapku penuh kebahagiaan pada Radin.


Lalu di jawab Radin dengan ucapan.


"Alhamdulillaaaaah."


Sembilan bulan sudah aku mengandung, waktu persalinan akan segera tiba.


Dua minggu kemudian, tibalah saatnya bayi dalam kandunganku di lahirkan.


"Adin, perut aku mules banget sepertinya aku mau melahirkan," ucapku pada Radin.


"Sabar, sabar ya sayang. Aku akan siapkan mobil sebentar," Radin bergegas pergi ke garasi mobil sambil membawa tas bayi berisi baju-baju bayi juga tas berisi pakaianku.


"Ayo sayang kita berangkat sekarang, kamu tahan sebentar ya," ucap Radin padaku sambil menenangkan hatiku.


Setelah berpamitan dengan kedua orangtuaku, kami langsung pergi ke rumah sakit.


Sampai dirumah sakit, aku langsung di bawa ke ruang persalinan.


Setelah dua jam di dalam ruang persalinan. Akhirnya, bayiku lahir juga dengan proses persalinan secara normal. Alhamdulillah bayi laki-laki, tampan seperti ayahnya.


Radin segera berwudhu, lalu beradzan di telinga kanan bayiku dan iqamah di telinga kirinya.


Raut kebahagiaan aku lihat di wajah Radin, berkali-kali dia mengecup keningku karna terlalu bahagianya.


"Kita mau kasih nama anak kita siapa?" Tanya Radin padaku.


"Bagaimana kalau Ahmad Faeyza Putra Sanjaya?" Tanyaku pada Radin.


"Nama yang indah, tentu saja aku setuju," jawab Radin menyetujui usulku.

__ADS_1


Setelah tiga hari di rumah sakit akhirnya aku sudah bisa kembali pulang ke rumah.


Bayi kami tumbuh sehat seperti bayi normal lainnya. Sekarang usianya sudah menginjak tujuh bulan.


Aku sedang bermain dengan Eyza, nama panggilan anak kami. Tiba-tiba aku mendengar suara ponsel, tanda pesan masuk tapi itu bukan suara ponselku.


Setelah aku lihat ke meja, ternyata itu suara ponsel Radin yang tertinggal karna tadi dia terlalu terburu-buru, sampai lupa membawa ponselnya.


Ketika aku mau memindahkan, layar ponsel menyala sehingga terlihat jelas nama pengirim pesan itu, "Lina".


"Sepertinya aku kenal dengan nama itu, tapi siapa ya?" Tanyaku dalam hati.


"Ya. Aku baru ingat, itu kan mantan pacarnya Radin, mau apa ya dia mengajak Radin bertemu?" Tanyaku dalam hati menambah penasaranku.


Aku buka pesan singkat itu.


Assalamu'alaikum a'


maaf mengganggu


apa kita bisa bertemu ?


ada yang mau adek bicarakan.


Bagai mendengar petir di siang hari,


darahku seketika naik sampai ke kepala.


"Mau apa dia mengajak Radin bertemu? Bukankah mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Radin bilang sudah melupakannya, tapi kenapa masih saja menyimpan nomor telponnya?"


Pertanyaanku dalam hati, yang terus saja mengitari pikiranku. Aku ketakkan kembali ponsel Radin diatas meja kemudian aku kembali mengajak Eyza bermain, tapi kali ini sedikit tidak fokus karna hatiku diliputi berbagai pertanyaan.


"Kenapa wanita itu masih saja mengajak Radin bertemu? Bukankah dia juga sudah berumah tangga? Mungkinkah ini ujian diawal pernikahan?" gumamku dalam hati.


Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan begitu Eyza merangkak menghampiriku minta di gendong, segera saja aku gendong dia dan mengajaknya melihat ikan di kolam ikan belakang rumahku.


Rasa gelisah yang menyelimuti hatiku sedikit berkurang begitu aku menemani Eyza melihat ikan di kolam, sesekali aku percikkan air di kolam, sehingga membuat Eyza tertawa.

__ADS_1


Benarlah kata orang-orang bahwa anak adalah Pelipur lara, disaat hati sedang gelisah, dia bisa membuatmu tertawa dan sejenak melupakan segala kegundahan di dalam dada.


__ADS_2