Kuterima Pinanganmu Dengan Bismillah

Kuterima Pinanganmu Dengan Bismillah
Jadi Mak Comblang


__ADS_3

"Jadi beneran kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Lina?" tanyaku pada Radin.


"Ya, nggak ada lah sayang. Aku memang pernah ada hubungan tapi itu dulu, sekarang hubungan kami benar-benar sudah berakhir,"


jawab Radin padaku.


"Lalu kenapa kamu masih saja bertemu dia?" tanyaku pada Radin sekali lagi.


"Karna dia butuh teman untuk berbagi cerita. Dia sudah bercerai dengan suaminya, mungkin dia merasa sendiri jadi dia butuh seseorang untuk menguatkan hatinya," jawab Radin coba menjelaskan.


"Apa orang itu harus kamu?" tanyaku yang membuat Radin terdiam, lalu menatapku cukup lama.


"Ya, nggak harus aku memang tapi dikota ini, dia hanya mengenal aku, kedua orangtuanya tinggal di Pekanbaru," jawab Radin untuk meyakinkan aku.


"Jadi disini, dia hanya tinggal dengan satu putranya itu?" tanyaku sekali lagi.


"Iya, dia masih terikat kontrak pekerjaan di salah satu perusahaan kosmetik disini, jadi mau nggak mau ya harus tetap tinggal disini," jawab Radin padaku.


"Kamu begitu banyak tahu tentang dia," ucapku yang membuat Radin kembali menatapku.


"Sudahlah sayang, kita nggak usah bahas masalah ini lagi, aku nggak mau kita bertengkar lagi" pinta Radin padaku dengan wajah memelasnya.


"Tetap aja kamu salah, kamu itu laki-laki yang sudah beristri, nggak baik jadi tempat curhatan kaum hawa, apalagi orang itu mantan kamu sendiri," jawabku pada Radin dan kali ini aku yang menatap Radin.


"Kalau perempuan nggak boleh curhat samalaki-laki, lalu bagaimana dengan para dokter spesialis kandungan laki-laki, yang semua pasiennya perempuan. Apa mereka juga nggak boleh konsultasikan kandungannya sama dokter itu?" jawab Radin dengan wajah seirus.


"Iiiihhh nggak mau ngalah banget sih, ya jelas beda lah, itu kan sudah profesi. Memangnya kamu konsultan rumah tangga, kamu itu konsultan IT. Kalau dia butuh tempat curhat harusnya bukan datang ke kamu tapi ke dokter kandungan," jawabku sewot.


"Loh kok ke dokter kandungan?" tanya Radin padaku dengan wajah yang masih serius.


"Biar di nikahin sekalian," jawabku yang malah membuat Radin tertawa geli.


"Hehehehe kamu tuh ada-ada aja, kalau udah kesel jawabnya asal," ucap Radin padaku.


"Biarin, habisnya kamu juga nyebelin," jawabku dengan wajah yang masih sewot.


"Ya udah, ya udah. Aku minta maaf, aku kan sudah nggak ketemu dia lagi, balas pesannya juga tidak lagi. Oke, aku khilaf aku minta maaf ya," ucap Radin coba meyakinkan aku.


"Beneran?" jawabku untuk memastikan ucapan Radin.


"Iya, benar!" jawab Radin dengan mantap.


"Awas ya kalau di ulangin lagi," ancamku yang malah membuat Radin tertawa.


"He he he iya nggak," jawab Radin yang malah menahan tawanya.


"Eh, ngomongin soal nikah. Kenapa kita nggak jodohin Lina sama Dani aja, mereka kan sama-sama single parent," jawab Radin memberi ide padaku. Aku terdiam sebentar memikirkan ide Radin.


"Kamu yakin, ini akan berhasil?" jawabku ragu.


"Insya Allah, semoga saja berhasil," jawab Radin meyakinkan aku.


"Ya sudah, nanti aku coba bicara pada Dani."


"Baiklah, nanti aku juga coba bicara pada Lina," jawab Radin.

__ADS_1


"Oke, ya udah. Aku mau tidur dulu, ngantuk," jawabku sambil menguap karna terlalu mengantuk.


--------------------------------------------------------------------


Esok paginya sekitar jam sepuluh pagi, kami pun bertemu di sebuah restoran. Aku, Radin, Eyza, Dani dan anak-anaknya, juga Lina dan anaknya.


Aku mengundang mereka untuk silaturrahmi,


tapi sebelumnya aku sudah sampaikan maksudku ke Dani ingin memperkenalkan dia dengan temannya Radin, begitu juga sebaliknya, Radin menyampaikan ke Lina ingin memperkenalkan dia kepada temannya.


Baru sepuluh menit aku tiba direstoran, Dani pun datang.


"Assalamu'alaikum, maaf saya terlambat," ucap Dani pada kami.


"Nggak apa-apa Dan, kami juga baru sampai kok," jawabku pada Dani kemudian tersenyum agar dia merasa tenang.


"Eh, Adit sama Sarah sudah besar ya sekarang." Sapaku kepada Adit dan Sarah, mereka pun mencium tanganku dan tangan Radin.


"Ayo, duduk sini dekat Tante dan Eyza." Ajakku kepada Adit dan Sarah, mereka pun menghampiriku duduk didekatku.


Dani duduk disebelah Radin, mereka ngobrol dengan santai tentang pekerjaan mereka. Ini untuk pertama kalinya mereka mengobrol dengan akrabnya.


Tak lama kemudian Lina datang, kemudian memberi salam kepada kami.


"Assalamu'alaikum, maaf saya telat," ucap Lina kepada kami dengan wajah cemas karna datang terlambat.


"Wa'alaikum salam," kami menjawab salam Lina bersama-sama.


"Nggak apa-apa Lina, yang penting kan datang," ucap Radin kepada Lina, kemudian tersenyum, membuat hatiku kembali resah.


Radin mencoba memperkenalkan Dani pada Lina.


"Lina."


Lina menyapa terlebih dahulu sambil merapatkan kedua telapak tangannya, ia tidak ingin menyentuh tangan Dani karna bukan mahromnya.


"Dani."


Begitu juga dengan Dani, dia balas perkenalan Lina dengan tetap merapatkan kedua telapak tangannya. Dani diam sesaat memandangi Lina seperti pernah bertemu tapi dimana ya?


"Ya, itu wanita yang bersama Radin di restoran, yang waktu itu aku lihat," bisik Dani dalam hatinya sambil mengingat-ingat saat memergoki mereka makan siang bersama.


"Heiii kenapa kalian malah saling tatap-tatapan? Ayo duduk dan pesan makanan." Radin mengagetkan mereka yang sedang saling memandang.


"Eh, iya maaf," jawab Dani gugup, lalu dia pun segera duduk dan melihat daftar menu, begitu juga dengan Lina.


Setelah memesan makanan, kami menunggu sekitar dua puluh menit, kemudian makanan pun datang. Kami menyantap makan siang sambil diselingi dengan obrolan ringan, sedangkan anak-anak, setelah makan mereka bermain di tempat permainan yang telah di sediakan restoran itu, tetapi kami masih asyik mengobrol tentang banyak hal.


"Baiklah, trimakasih Radin dan Wirda yang sudah mentraktir makan siang, kalau begitu saya pamit pulang," ucap Dani kepadaku dan Radin.


"Iya, saya juga ucapkan trimakasih, sudah mengundang Saya dan Faiz untuk makan siang," ucap Lina kepadaku, lalu ku balas ucapan trimakasihnya dengan senyuman.


"Kalau begitu saya pamit pulang ya, Assalamu'alaikum."


Pamit Lina kepada kami yang tiba-tiba di cegah oleh Dani.

__ADS_1


"Sebentar, kamu naik apa?" Tanya Dani pada Lina.


"Naik taksi Kak," jawab Lina apa adanya.


"Biar saya antar, kebetulan saya bawa mobil." Dani menawarkan tumpangan kepada Lina.


Lina ragu menerima tawaran Dani tapi setelah dia pikir-pikir, apa salahnya kalau dia terima ajakan Dani untuk pulang bersama, toh Dani itu temannya Radin, pasti dia juga laki-laki baik, "Baiklah, kalau tidak merepotkan."


"Oke, kalau begitu saya pamit ya Radin, Wirda. Assalamu'alaikum," ucap Dani kepada kami kemudian menuntun kedua anaknya.


Kami pun menjawab salam keduanya, namun terus menatap mereka sampai mereka keluar meninggalkan restoran.


"Wa'alaikum salam, hati-hati dijalan ya."


Dani pun pergi duluan dari restoran itu bersama kedua anaknya, juga Lina dan anaknya.


Aku dan Radin hanya tersenyum melihat kepergian mereka, mereka terlihat langsung akrab walau baru pertama kali bertemu.


"Semoga saja mereka berjodoh," bisik hatiku.


Di dalam mobil Dani mulai membuka obrolan.


"Maaf, saya boleh bertanya?" Ucap Dani pada Lina, kemudian melirik Lina yang duduk di sampingnya.


"Boleh Kak, mau tanya apa ya?" jawab Lina.


"Kamu sama Radin sudah lama berteman?" Tanya Dani pada Lina yang awalnya ragu menanyakan ini, tapi dia harus menanyakan ini demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Wirda dengan mata sembabnya.


"Mmmmm bagaimana ngomongnya ya? Sebenarnya, Radin mantan pacar saya," jawab Lina dengan polosnya, membuat Dani sangat terkejut mendengarnya.


"Jadi kalian pernah sama-sama? Apa akhir-akhir ini kalian sering bertemu?" tanya Dani pada Lina dan kali ini Lina terdiam tidak langsung menjawab.


"Iya, pernah tapi nggak sering kok, baru dua kali saja kami bertemu. Itu pun hanya sekedar dengar cerita saya aja Radin mau bertemu. Tapi sudah dua bulan ini kami tidak bertemu atau sms-an," jawab Lina menjelaskan semuanya.


"Nah, itu maksud saya sebaiknya dikurangi, bagaimana pun Radin sudah punya keluarga," ucap Dani pada Lina, dia memberi saran agar tidak menghubungi Radin lagi, karna sebenarnya dia tidak ingin melihat Wirda bersedih hati.


"Iya Kak, saya juga sudah berusaha untuk tidak lagi mengganggu a' Adin walau sebenarnya dia hanya mendengar curhat saya aja, saya khawatir istrinya akan salah sangka," jawab Lina meyakinkan Dani bahwa dia sudah tidak bertemu Radin lagi.


"Nah, maksud saya itu, sebaiknya jangan menghubungi Radin lagi, dia sudah berkeluarga, kalau kamu butuh teman curhat, kamu bisa curhat sama saya, saya kan masih jombolo ha ha ha ha," jawab Dani dengan bercanda, membuat Lina tertawa mendengarnya.


"He he he he Kakak bisa aja," jawab Lina, kemudian tersenyum kepada Dani. Dani sempat diam sesaat melihat senyuman itu, tapi tiba-tiba tersadar ingat pertemuan dengan Wirda tempo hari, saat dia mengantar Wirda ke klinik bersalin.


"Apa mungkin mata sembab Wirda tempo hari karna masalah ini?" tanya Dani dalam hati, namun tiba-tiba di kejutkan oleh pertanyaan Lina.


"Kalau boleh tahu, Ka Dani sendiri kenapa bisa berpisah dengan istri? Maaf sebelumnya kalau saya sedikit lancang," tanya Lina pada Dani tanpa basa-basi.


Dani tersenyum mendengar pertanyaan Lina.


"Nggak apa-apa kok, santai aja. Saya dan istri berpisah karna memang sudah tidak cocok, dia terlalu sibuk dengan kariernya, anak-anak saya kurang di perhatikan. Kami jadi sering bertengkar karna masalah ini. Eh, kok saya malah curhat sih," jawab Dani sambil tertawa.


"Nggak apa-apa Kak, maaf loh saya nggak bermaksud memancing agar kakak bercerita," jawab Lina sambil tersenyum, mencoba mengajak Dani bercanda agar tidak terlalu serius membahas situasi yang sedang mereka hadapi.


"Ha ha ha ha kaya ikan dong saya di pancing-pancing," jawab Dani bercanda memecah suasana.


"Apa sebaiknya, aku terima saja perjodohan ini ya? Setidaknya, Wirda bisa lebih tenang menjalani kehidupan rumah tangganya, sehingga tidak ada lagi mata sembab yang aku lihat di wajahnya tempo hari. Kelihatannya juga, Lina ini wanita baik-baik hanya saja dia salah memilih teman curhat, tidak seharusnya dia curhat dengan suami orang apalagi orang itu mantan pacarnya, seperti Wirda, dia tidak pernah menceritakan apapun tentang permasalahan rumah tangganya padaku walau aku sudah menawarkan diri untuk bercerita padaku. Akh, wanita itu selalu saja membuat aku kagum," gumam Dani dalam hatinya, berharap Wirda akan lebih tenang jika dia jadian dengan Lina.

__ADS_1


Melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita pun akan bahagia karna pada dasarnya cinta tak mengharap balasan apapun. Cinta ya cinta saja tidak ada titik atau koma setelahnya, mungkin ini yang di rasakan Dani pada Wirda, mencintai tanpa pamrih.


__ADS_2