
Dani mengantarkan aku pulang setelah dari klinik. Dia memulai obrolan setelah dua puluh lima menit kami diam seribu bahasa.
"Wirda, boleh aku bertanya?" tanya Dani setelah menoleh ke belakang karna aku duduk di bangku belakang.
"Ya, tanya apa?" jawabku sedikit terkejut karna sedari aku di dalam mobil, aku sedang memperhatikan ponsel melihat-lihat pesan singkatku yang belum juga di balas Radin.
"Mata kamu sembab kenapa? Daritadi aku ingin menanyakan ini padamu," tanya Dani yang membuatku gugup untuk menjawab pertanyaannya.
"Mmmmm nggak kenapa-kenapa kok, ini karna kurang tidur aja," ku jawab dengan santai untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu yakin hanya kurang tidur tidak ada hal lain?" Jawab Dani dengan wajah penasaran.
"Iya benar, aku baik-baik aja kok, nggak ada apa-apa," jawabku sambil mengusap-usap kepala Eyza yang duduk di sampingku.
"Baiklah kalau kamu memang baik-baik saja, jangan sungkan untuk bercerita ya kalau memang kamu perlu teman untuk berbagi," ucap Dani padaku yang aku jawab hanya dengan senyuman.
"Mana mungkin aku ceritakan ini padamu Dan, kamu kan laki-laki tidak mungkin aku ceritakan permasalahan rumah tanggaku padamu," bisikku dalam hati.
Akhirnya kami sampai juga di depan rumahku. Setelah menghentikan mobil, Dani turun lalu membukakan pintu mobil untukku setelah aku keluar dari mobil. Dani langsung menggendong Eyza dan menurunkannya di depan rumahku.
"Hei boy, kalau nanti kamu ikut Ibumu pergi jangan di gendong ya kamu sudah bisa jalan kan? Kasian itu adikmu yang masih di dalam perut Ibumu," ucap Dani pada Eyza yang di jawab anggukan kepala oleh Eyza seolah dia mengerti perkataan Dani kemudian Dani tersenyum sambil mengusap kepala Eyza.
"Iya maaf ya aku jadi merepotkanmu, ini Eyza memang lagi rewel dari semalam, nggak mau jalan sendiri, maunya di gendong aja ," ucapku pada Dani.
"Nggak apa-apa, aku senang kok gendong Eyza, anaknya anteng kalau di gendong." Jawab Dani padaku.
Aku tersenyum pada Dani lalu tidak lupa aku ucapkan Terimakasih karna sudah mengantar
"Oke kalau begitu makasih ya sudah diantar tapi maaf aku nggak bisa ajak kamu mampir karna Radin tidak ada dirumah."
"Nggak masalah kok, ya udah kalau begitu aku pamit pulang ya Assalamu'alaikum," jawab Dani kemudian ku jawab salamnya
" Wa'alaikum salam." Lalu aku tuntun tangan Eyza dan kami pun segera masuk ke dalam rumah.
Dani pun pergi menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumahku. Di dalam rumah, segera aku merebahkan tubuhku di sofa karna memang sangat lelah membawa perut yang sudah membesar.
Eyza duduk di karpet dilantai dekat sofa tempat aku merebahkan tubuh, dia sedang asik memainkan mobil-mobilannya.
__ADS_1
Aku dengar suara ponselku berbunyi tanda pesan masuk, aku buka tas yang aku bawa tadi lalu ku ambil ponselku kemudian kubuka isi pesannya, ternyata dari Radin.
"Iya sayang, hati-hati dijalan ya maaf aku telat balasnya, tadi ada meetting mendadak."
Ku balas pesan dari Radin.
"Aku sudah pulang, baru aja sampai dirumah maaf ya tadi langsung jalan, aku sudah coba tunggu balasan kamu tapi kamu nggak balas-balas."
"Iya nggak apa-apa, kamu naik apa tadi?" Radin membalas pesanku.
Aku diam untuk beberapa saat, "Duh, balas apa ya? Kalau aku nggak jujur sama suami, dosa dong," gumamku dalam hati.
Setelah diam untuk beberapa saat, baru kemudian aku balas sms Radin dengan hati yang dag dig dug seperti bunyi bedug.
"Aku pergi diantar Dani."
"Kok bisa di antar Dani ? Apa sudah janjian sebelumnya ?" balas sms Radin padaku.
"Nggak janjian, kebetulan aja tadi ketemu di jalan, dia nggak tega lihat aku pergi beduaan aja sama Eyza mana perut lagi hamil , kamu nggak marah kan?" ku balas smsnya coba menjelaskan semuanya pada Radin.
"Oh, begituu Nggak kok aku nggak marah, syukurlah ada laki-laki baik yang mau mengantar kamu dan Eyza. Maaf ya aku nggak bisa antar tadi, ya udah aku lanjut kerja ya." balas sms Radin padaku sekaligus mengakhiri percakapan kami.
Aku terbangun di jam lima sore karna terlalu lelahnya, badanku terasa segar setelah aku bawa tidur siang, setelah mandi sore segera aku masak untuk Radin makan malam.
Jam setengah tujuh malam Radin tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum." Radin tiba dirumah lalu memberi salam, seperti biasa dia mencium keningku kemudian mencium kepala Eyza yang sedang duduk di pangkuanku
"Wa'alaikum salam," Ku jawab salamnya kemudian aku cium tangannya.
"Makan malam sudah aku siapkan," ucapku.
"Iya, setelah sholat maghrib dan mandi, aku akan makan," jawab Radin yang langsung masuk ke kamar untuk melaksanakan sholat maghrib, selesai mandi dia langsung pergi ke meja makan untuk makan malam.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Eyza pun sudah tertidur pulas sejak dari jam sembilan tadi.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Radin padaku yang sedang asyik membaca novel.
__ADS_1
"Iya ini sudah mau tidur," jawabku lalu beranjak ke kamar.
Radin pun mengikutiku masuk ke dalam kamar, kemudian dia rebahkan tubuhnya disampingku dengan posisi menyamping, dia usap- usap perutku yang sudah membuncit kemudian menciumnya.
"Sayang, kamu nggak marah kan aku di antar Dani ke klinik?" tanyaku pada Radin sambil ku usap kepalanya.
"Tentu saja tidak , buat apa aku marah?" jawab Radin sambil terus mengusap-usap perutku.
"Beneran nggak marah?" tanyaku sekali lagi yang kali ini malah membuat dia tertawa dan langsung merubah posisi tubuhnya menjadi duduk di sampingku.
"Hahaha kamu udah jadi milik aku buat apa aku marah, selama dia hanya mengantarmu nggak sampai membawa kamu pergi," jawab Radin sambil tertawa kecil.
"Begitu ya kalau laki-laki, yang penting sudah jadi milik?" jawabku masih nggak percaya kalau Radin tidak marah aku diantar Dani.
"Aku percaya Dani itu laki-laki yang baik, apalagi dulu dia begitu mencintaimu jadi nggak mungkin dia akan menyakiti kamu," jawab Radin.
"Sesimple itu? Nggak kaya perempuan ya,"
ucapku pada Radin.
"Iya, kalau perempuan baperan," jawab Radin sambil merangkul bahuku.
"Jadi maksud kamu aku baperan gitu?" tanyaku sambil pasang muka cemberut.
Radin semakin merapatkan rangkulannya,
"Nggak Sayang, kamu nggak baper cuma laperrrrr, laper pengen makan aku kalau lagi marah hahahaha ... "
"Iihhhh kamu tuh ngeledek aja kerjaannya," ucapku sambil ku cubit tangan Radin.
"Adowww sakit! udah ah, malam ini jangan ada mantan diantara kita," ucap Radin sambil mematikan lampu tidur yang berada di meja di samping tempat tidur.
"Kamu mau ngapain kok lampunya di matiin?" tanyaku sedikit bingung.
"Biar kamu nggak bahas mantan terus, hehehe ... " jawab Radin sambil tertawa nakal.
"Ihhhh kamu tuh, dasar ya," jawabku sambil ku cubit tangan Radin sekali lagi.
__ADS_1
Dan kami pun terbuai dalam gelap tak ada cahaya yang tersisa hanya suara nafas yang saling berkejar-kejaran seperti ombak di lautan yang menderu saling memburu.