Lagenda Kaisar Siluman

Lagenda Kaisar Siluman
Ch 10: Roh Siluman Pertama


__ADS_3

Pada malam itu, terlihat beberapa orang pria memuat barang-barang dari gerobak ke dalam sebuah rumah di atas bukit.


"Ah, akhirnya selesai juga." Kata Lin Zhao sambil merenggangkan pinggangnya, secara fisik dia sememangnya tidak kelelahan, namun hal sebaliknya berlaku pada mentalnya, melalui berkeliling di sekitar kota yang sesak cukup melelahkan.


Kemudian dia menoleh ke arah Feng Syaoran yang juga turut beristirehat, duduk menyandar pada dinding rumah, lantas memberinya saran, "Ran'er, kau bisa mandi dan istirahat dulu. Paman mau berdiskusi sebentar dengan Paman Song dan Paman Wang."


Feng Syaoran sedang kelelahan akibat perjalanan jauhnya, menganggukkan kepalanya sebaik sahaja mendengar saranan dari Lin Zhao, "Baiklah." Dia tidak langsung pergi walaupun menerima saranan dari pamannya.


Untuk seseorang sepertinya, berjalan jauh itu cukup melelahkan dan menguras banyak stamina, karena fisiknya hanyalah seperti manusia biasa pada umumnya walaupun dia terus menggunakan Nafas Pertapa untuk mempertahankan staminanya lebih lama.


Oleh hal sedemikian, dia duduk beristirehat sejenak dan berkultivasi menggunakan Nafas Pertapa untuk memulihkan kembali staminanya yang terkuras.


Dalam hitungan sepuluh menit, dia selesai memulihkan staminanya, Susunan Pengumpulan Aura juga membantu mempercepatkan prosesnya.


Setelah semua, Feng Syaoran tanpa menunda terus memasuki ke rumah dan mandi, karena tubuhnya sudah berbau.


Mandinya tidak lama, hanya sekitar beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah segar sebelum memasuki biliknya. Matanya sempat melirik bungkusan besar yang berisi banyak kristal siluman sebelumnya dibeli dari Asosiasi Sinar Mentari telah dibawa kemari.


Nafas panjang dilepaskannya, 'Malam ini juga, aku akan menjalankannya.' Detik hatinya.


Sepanjang perjalanan pulang tadi, hatinya terasa gusar akan sesuatu, seolah-olah ada yang salah. Firasatnya merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk dalam waktu yang dekat, ditambah dia tidak punya alasan untuk menangguhkan latihannya.


Feng Syaoran menyelinap keluar dari rumah sambil membawa bungkusan besar kristal siluman itu juga, tanpa ada seorangpun yang menyadarinya.


Setelah reinkarnasi, terlepas dari level kultivasi, tubuh fisik dan jumlah tenaga dalamnya, dia tidak kehilangan apapun termasuk insting dan kemampuan beladirinya, untuk menekan hawa keberadaan sendiri layaknya pembunuh bayangan masih sangatlah mudah baginya.


Langkahnya cukup cepat dengan menggunakan Jurus Awan Berarak, ilmu meringankan tubuh tanpa menggunakan sebarang tenaga dalam dan mengandalkan kekuatan fisik semata, yang selalu diingatinya melalui ilmu penambal ingatan.


Feng Syaoran terus menyusup dengan cepat dan waspada sehingga keluar dari Desa Tianling, dia langsung bergerak memasuki bukit hutan tempat awalnya dia terbangun dahulu.


Baginya, tiada tempat yang lebih selamat jika dibandingkan dengan tempat ini, bukit ini jarang naiki oleh orang-orang jadi dia tidak perlu khawatir akan hal lain.


Orang-orang di desa memanggil bukit ini sebagai Bukit Pertapa, kononnya seratus tahun dahulu terdapat seorang pertapa yang sangat sakti berkultivasi untuk puluhan tahun lamanya di puncak bukit ini dan ramainya anak-anak muda datang kemari dengan tujuan ingin berguru dengan si pertapa ketika berita itu tersebar namun tiada seorang pun yang diterima, atau lebih tepat lagi diacuhkan.


Hampir keseluruhan yang datang kecewa dan putus asa karena tidak mendapat perhatian untuk berguru dengan pertapa itu, namun ramai juga yang tidak berputus asa, makanya dari itu sebuah permukiman didirikan oleh beberapa orang yang tidak berputus asa ingin mempelajari ilmu dari si pertapa itu.


Apa yang terjadi setelah itu?


Selepas terbangunnya pedesaan itu, si pertapa terus menghilangkan diri tepat pada keesokan harinya, keberadaan si pertapa itu telah dicari ke serata tempat namun tetap tidak dijumpai, lalu akhirnya mereka menyerah untuk mencarinya. Lebih dari separuh daripada anak-anak muda yang datang mula meninggalkan desa ini dan selebihnya masih menunggu kedatangan si pertapa itu.


Itulah asal mula terciptanya Desa Tianling.


Setelah beberapa menit berlari, akhirnya Feng Syaoran tiba di pohon tempat di mana dia berbaring dahulu, lalu menurunkan bungkusan besar yang dibawanya.


"Hmm, baiklah. Tanah di sini cukup luas untuk digunakan." Gumam Feng Syaoran pelan sambil mengusap dagu.


Alasan lain mengapa dia ingin berkultivasi di sini karena dia ingin sebuah tempat yang luas, cukup luas sehingga mudah baginya menggunakan ilmu inkripsi untuk membuat lingkaran sihir.


Dia mulai menggambar lingkaran sihir di tanah menggunakan kapur putih yang dibawanya dari rumah. Tangan mungilnya itu terlihat lihai dan tangkas semasa melakar lingkaran sihir itu seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya.


Tidak lama kemudian, Feng Syaoran menepuk kedua belah telapak tangannya menyingkirkan debu-debu setelah berjaya menyelesaikan pekerjaannya, terdapat sebuah lingkaran sihir besar yang kompleks dan rumit di atas tanah.


Tangannya mula mengesat keringat di dahi, "Fuh... Baiklah, lingkaran sihirnya sudah disiapkan. Sekarang waktu untuk acara utamanya." Lalu mula mengambil kristal-kristal siluman di dalam bungkusan dan disusun di dalam lingkaran sihir.


Feng Syaoran langsung mengalirkan tenaga dalamnya, mengaktifkan lingkaran sihir itu sesudahnya selesai menyusun semua kristal siluman yang ada di atas tanah.

__ADS_1


Mendadak lingkaran sihir itu bersinar terang berwarna putih, kristal-kristal siluman itu turut bercahaya mengikut warna masing-masing, menjadikan suasana di tempat itu penuh dengan cahaya berbagai warna.


Perlahan-lahan kristal-kristal siluman mulai terbang ke udara, lalu bergerak secara acak dalam lingkaran sihir menyebabkan saling bentrok di dalamnya. Di dalam lingkaran sihir itu, terdapat tujuh puluh lima kristal siluman yang saling bentrok, meledak-ledak seperti kembang api, menyebabkan tempat itu menjadi penuh dengan kebisingan.


Pom! Pom! Krak! Pom!


Setiap kali bentrokan terjadi, salah satu kristal siluman itu akan pecah dan menghilang, manakala satu lagi akan menjadi lebih besar dan pergerakannya bertambah lebih cepat.


Proses ini berlangsung cukup lama sehingga menyebabkan tenaga dalam Feng Syaoran semakin terkuras, 'Gawat! Tenaga dalamku tidak mencukupi!'


Dengan segera dia menggunakan Nafas Pertapa, aura alam di udara sekitarnya terus menjadi tenaga dalam secara instan. Feng Syaoran menjadi penuh dengan energi dan fokusnya semakin bertambah, namun cuma sedikit sahaja.


'Cih, tubuh ini masih terlalu lemah. Tidak cukup kuat untuk mengambil aura alam lebih banyak.' Dia sempat mengeluh di dalam hatinya.


Ronde kedua sudah dimulai, kali ini semua bentrokan yang terjadi menjadi lebih kuat daripada sebelumnya, karena di dalamnya sekitar empat puluh kristal siluman yang telah menjadi lebih besar setidaknya sebesar kepalan tangannya Feng Syaoran dan masing-masing bergerak dua kali lipat lebih cepat berbanding sebelumnya.


Belum lagi bentrokan antara kristal-kristal tersebut terjadi beberapa kali sebelum pecah menjadi debu, menjadikan prosesnya lebih lama.


Feng Syaoran mencuba seboleh mungkin agar dapat mempertahankan lingkaran sihir dengan lebih lama, keringatnya sudah bercucuran dari semua anggota tubuhnya, sulit baginya untuk mengaktifkan lingkaran sihir sambil menggunakan Nafas Pertapa di dalam waktu bersamaan.


Di dalam lingkaran sihir, jumlah kristal-kristal siluman semakin berkurangan menjadi belasan buah sementara bentrokannya menjadi bertambah cepat, kuat dan lebih banyak dari sebelumnya.


Proses berlanjut selama beberapa jam, hanya menyisakan satu kristal di dalam lingkaran, Feng Syaoran mula menghentikan pengaliran tenaga dalamnya pada lingkaran sihir itu, menyebabkan cahaya putih lingkaran itu mula surut dan kristal siluman itu perlahan-lahan jatuh ke tanah, saiznya boleh dikatakan cukup besar, sebesar kepala Feng Syaoran sendiri.


"Ahh... Akhirnya, selesai juga!" Dia menjerit sekuat hati.


Feng Syaoran mulai jatuh ke tanah, tubuhnya mati rasa karena kelelahan, dan tenggorokannya terasa sakit akibat penggunaan Nafas Pertapa yang terus menerus. Tenaga dalamnya hampir terkuras habis kalau bukan karena Jurus Nafas Pertapa.


'Hahaha... Tubuh ini memang masih lemah. Melakukan hal ini sahaja sudah kelelahan. Masih banyak lagi yang perlu dilatih.' Detik hati Feng Syaoran.


Setelah itu Feng Syaoran bangun dari pembaringan lalu merenggangkan dan menguji anggota tubuhnya. Kemudian, matanya mula terarah pada kristal siluman merah gelap di hadapannya.


Dia terus mendekati kristal siluman itu dan duduk bersila semula di atas tanah lalu diletakkannya kristal siluman itu di pangkuannya.


Dalam seketika, dia membaca kristal siluman itu, "Siluman binatang, Raja Monyet Gunung Api...!! Wow, ini evolusi terakhir dari Monyet Tanah yang mempunyai elemen batu dan api! Tidak ku sangka aku akan mendapatkan roh sebagus ini di kehidupan keduaku."


Hati Feng Syaoran melompat kegirangan. Dia tidak menduga apabila siluman yang paling dicari oleh dirinya di kehidupan sebelumnya, kristal rohnya kini ada di dalam pangkuannya.


Tanpa menunda lagi dia terus menyerap kristal siluman itu.


Umumnya kultivator biasanya akan menyerap kristal siluman itu dengan mengalirkan tenaga dalam pada kristal itu, Feng Syaoran menggunakan cara yang berbeda iaitu menyerap kristal siluman itu dengan mengalirkan kesadarannya pada kristal itu.


Di alam bawah sadar, Feng Syaoran sedang berdiri di dalam sebuah hutan pergunungan, lima langkah dihadapannya berdiri seekor monyet gergasi berkulit cokelat gelap dengan bulu lebat berwarna emas menutupi tubuhnya sampai ke ujung ekornya yang panjang, sedang melotot Feng Syaoran bengis.


Jika seseorang itu tidak mempunyai keberanian yang tinggi, orang itu mungkin sudah terkencing sekarang. Teror intimidasi yang dikeluarkannya sungguh berat, bahkan Feng Syaoran mengepal kuat tangannya, cuba menghalangnya dari bergetar.


Iris merahnya melotot tajam ke arah Feng Syaoran, meninggalkan kesan takut dan waspada. Namun ini bukan pertama kali bagi Feng Syaoran melakukan hal ini, bibirnya mengorek senyuman lembut pada roh siluman dihadapannya.


Raja Monyet Gunung Api itu menjadi kebingungan, berasa aneh melihat Feng Syaoran tidak mengeluarkan ancaman pada dirinya.


Melihat reaksi Raja Monyet Gunung Api itu, Feng Syaoran mula memandang sekelilingnya sebelum bergerak mendekati sebuah pohon yang buahnya merupakan makanan favorit monyet berelemen bumi sepertinya, Pisang Emas.


Feng Syaoran memetik banyak buah Pisang Emas daripada pohonnya sebelum duduk di atas sebuah batu besar. Kulit Pisang Emas itu dikupas lalu dimakan dengan lahap, walaupun Pisang Emas itu cumalah bayangan, namun rasanya tetap lezat.


Matanya sempat menjeling pada Raja Monyet Gunung Api yang sudah tidak memandangnya waspada, mula menawarkan sesikat Pisang Emas, Raja Monyet Gunung Api itu mula meneguk air liurnya, makanan favoritnya sedang ditawarkan gratis padanya.

__ADS_1


Feng Syaoran mula tersenyum apabila melihat Raja Monyet Gunung Api itu meneteskan air liurnya, lalu dilemparnya Pisang Emas itu pada siluman monyet itu.


Raja Monyet Gunung Api itu pantas menangkap Pisang Emas itu sebelum disantap dengan lahapnya. Tidak sampai semenit, ianya telah memakan habis Pisang Emas itu, kemudian matanya terus tertuju pada Feng Syaoran dan selonggok Pisang Emas di sebelahnya, Feng Syaoran kemudian melemparkan lagi beberapa Pisang Emas kepadanya.


Adegan ini berlangsung selama sejam sehingga siluman monyet itu menghilangkan kewaspadaannya terhadap Feng Syaoran, mula mendekati dan duduk bersebelahan dengan Feng Syaoran untuk melahap Pisang Emas.


Feng Syaoran mengambil kesempatan ini untuk mengusap tubuh Raja Monyet Gunung Api, bulu-bulu emas itu terasa lembut apabila bersentuhan dengan kulitnya. Merasa sendiri bulu Raja Monyet Gunung Api itu, dia menjadi heran ketika dia mengingati kabar angin mengatakan bulu emas Monyet Gunung Api sangat keras.


"Bulu-bulu mu sungguh lembut. Orang mana yang mengatakan bulu mu sekeras berlian?" Gumam Feng Syaoran.


Seolah-olah memahami kata-kata Feng Syaoran, Raja Monyet Gunung Api mula mengeraskan bulu-bulunya, Feng Syaoran menjadi kaget apabila bulu-bulu emas yang diusapnya mendadak keras, membuatkannya terlihat seperti benang logam emas.


"Wow... Jadi inilah armor emas milikmu yang terkenal itu?" Kata Feng Syaoran sambil mengusap dan mengetuk pelan tubuh siluman monyet itu.


"Hu hu hu... uh.. aak aak!" Respon Raja Monyet Gunung Api sambil melompat-lompat seperti mengiyakannya. Dadanya terlihat membusung ke hadapan seolah-olah berbangga dengan dirinya.


Feng Syaoran terkekeh pelan sebelum bertanya, "Hei, kawan. Aku ada penawaran spesial untukmu. Mau menjadi temanku?"


"Ngu...?" Siluman monyet itu memandang Feng Syaoran kebingungan.


Feng Syaoran menyambung lagi, "Kalau kau menjadi temanku, akanku menjamin hidupmu tidak akan membosankan. Bagaimana? Kalau kau mau, raih tanganku ini." Lalu dia mengulurkan tangannya kepada Raja Monyet Gunung Api.


Melihat Feng Syaoran mengulurkan tangannya, Raja Monyet Gunung Api terus memegangnya.


Saat itu pikiran Feng Syaoran langsung mengetahuinya, 'Monyet ini langsung tidak memikirkan perkataanku barusan tadi. Ah, abaikan sahaja.'


Pada saat itu, tangan Feng Syaoran dan Raja Monyet Gunung Api yang bersalaman itu tiba-tiba bercahaya. Feng Syaoran tersenyum tipis.


Roh siluman binatang, Raja Monyet Gunung Api telah berjaya disatukan dengan dirinya.


Kemudian perlahan-lahan Feng Syaoran membuka mata, kembali ke dunia nyata, saat itu dia sudah mendengar bunyi ayam dari Desa Tianling sedang berkokok, terlihat matahari mula memanjat langit dari ufuk timur.


Saat itu Feng Syaoran mula merasa sesuatu di dalam dirinya telah bertambah, badannya mula merasakan tenaga dalamnya sudah bertambah drastis. Kelihatannya Feng Syaoran tanpa sadar menyerap kristal siluman itu menyebabkan dirinya membuat terobosan sehingga ke Level 5 dalam semalaman.


Kini kultivasinya bertambah menjadi dua kali lipat lebih cepat berbanding sebelumnya, berkat terikatnya seekor roh siluman yang kuat di dalam dantiannya.


'Masa untuk menguji kekuatan ini.' Feng Syaoran mula mengeluarkan aura buas roh silumannya, Feng Syaoran kemudian mengangkat tangannya, serentak dengan itu aura buas miliknya mula membentuk sebuah tangan besar meniru gerakan tangannya.


Apabila tangannya dihayun ke arah sebuah pohon yang berdekatan, tangan aura buas miliknya mula memukul dan menghancurkan pohon itu, pohon sebesar dua pelukan pria dewasa kini hanya tersisa tunggul kayunya sahaja.


"Baiklah, kemampuan kedua..."


Feng Syaoran mengambil nafas dalam, aura buas mula terkumpul di dalam mulutnya, "Nafas Monyet Api."


Dia menghembuskan api marak membara ke langit, jarak hembusannya menjauh sehingga tujuh meter.


"Kemampuan ketiga..." Aura buas mula terkumpul di tangannya, sehingga memancarkan cahaya keemasan, seketika matanya terarah pada batu sebesar bangsal di sebelahnya, tangannya meninju batu besar itu sekuat tenaga, menghancurkan batu besar itu berkeping-keping.


Feng Syaoran tersenyum lebar, walaupun kekuatannya hanyalah di Tahap Pemula Level 5, dengan kemampuan roh siluman pertama miliknya ini, dia yakin bisa menandingi setidaknya kultivator puncak Tahap Pemula.


Dengan ini lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri daripada dibuli oleh Ming Dao dan konco-konconya.


Kemudian Feng Syaoran menjadi panik pabila melihat cuaca mulai pagi, dia bergegas pergi menggunakan Jurus Awan Berarak tanpa membersihkan lingkaran sihir yang masih berada di atas tanah.


Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.

__ADS_1


__ADS_2