
"Ibu... Tolong minta Mei'er hentikan kultivasinya sekarang juga." Teriakanya mengejutkan Lin Lingjia yang sedang membaca sebuah buku di tangannya. Dia memandang Feng Syaoran dengan menyinga.
"Ran'er, kenapa kau berteriak di malam buta ini? Kau mengganggu tetangga." Marahnya kepada Feng Syaoran yang mengarukkan kepalanya yang tidak gatal.
Feng Syaoran hanya tersengih, dia mengetahui ibunya memarahinya karena mengganggu konsentrasinya bukan karena tetangga. Bahkan tetangganya yang terdekat juga berada sejauh 300 meter dari rumahnya belum lagi rumah itu berada di atas bukit jadi mustahil untuk mengganggu mereka hanya dengan teriakan seorang anak kecil.
Tanpa menunggu, Feng Syaoran segera keluar ke halaman rumah. Dia tidak lupa membawa 34 lembar kertas jimat yang telah disiapkan untuk digunakan saat ini.
Feng Syaoran berjalan ke arah ibunya yang masih membaca buku di samping mengawasi Lin Sumei berkultivasi. Dia hanya menghela nafas yang panjang melihat ibunya masih tidak bergerak walaupun setelah diminta sebentar tadi.
Tanpa berlengah, dia mendekati Lin Sumei lalu menepuk pundaknya perlahan beberapa kali. Lin Sumei yang fokus berkultivasi perlahan-lahan membuka mata dan melihat ke arah Feng Syaoran sebelum memasang wajah masam.
"Syao gege, kenapa kau menggangguku berkultivasi?" Wajahnya yang cemberut itu menunjukkan Lin Sumei tidak berpuas hati karena kultivasinya diganggu, tetapi di mata Feng Syaoran, itu adalah keimutan Lin Sumei yang lainnya.
"Ran'er! Jangan mengganggu Mei'er berkultivasi. Lebih baik kau ikut berkultivasi juga supaya tidak diganggu lagi oleh bocah-bocah preman itu." Lin Lingjia menutup buku yang dibacanya dan mula memarahi Feng Syaoran.
Feng Syaoran hanya mengarukkan kepalanya sebelum berbicara, "Tenanglah, ibu. Aku punya sesuatu yang penting untuk dilakukan sekarang. Ngomong-ngomong aku enggak melihat Paman Zhao malam ini?"
"Pamanmu punya rapat di Aula Pengadilan berkaitan dengan keamanan desa sejak dari petang tadi. Mungkin dalam tengah malam baru dia pulang. Apa kau mencarinya?"
Feng Syaoran segera menyangkal, "Tidak! Aku tidak mencarinya."
"Jadi, apa yang sebegitu penting sehingga mengganggu Mei'er berkultivasi?" Lin Lingjia sedikit kesal dengan sikap Feng Syaoran yang dianggap agak kasar itu. Dia mulai berpikir untuk memberikan Feng Syaoran pelajaran berkaitan dengan hal ini.
Sememangnya dalam dunia persilatan, mengganggu kultivasi seseorang dianggap sebagai hal tabu bagi aliran putih mahupun aliran netral, bahkan di aliran hitam sekalipun.
Ini karena saat kultivator berkultivasi merupakan salah satu saat paling krusial di mana sebuah kesalahan sedikit sahaja boleh menyebabkan kecederaan dalaman yang serius. Sudah tentu hal ini akan dianggap serius oleh sesetengah pihak karena ini akan mampu membuatkan mereka kehilangan kultivasi mereka yang telah diusahakan.
Feng Syaoran memahami akan hal ini tetapi dia juga mengetahui hal ini jarang berlaku pada kultivator yang berlevel rendah seperti dia dan Lin Sumei karena tenaga dalamnya tidak dalam kapasitas yang besar sehingga memerlukan konsentrasi penuh. Karena itu, dia bisa mengabaikan hal tersebut.
Feng Syaoran hanya menanggapi pertanyaan ibunya hanya dengan senyuman berkata, "Ini sesuatu yang penting untuk kita jika mau menang di turnamen desa musim panen ini." Lalu dia segera bergerak mengelilingi halaman rumah untuk menempelkan kertas jimat yang dibuatnya.
Setelah selesai, Feng Syaoran segera memeriksa semula sebelum mula naik ke atap rumah. Lin Lingjia melihat kelakuan Feng Syaoran segera menjerit cemas, "Hey, Ran'er! Tunggu! Apa yang kau cuba lakukan? Kenapa kau memanjat atap?" Segera dia bergerak mendekati Feng Syaoran yang sudah berada di atas.
Lin Sumei melihatnya juga berasa cemas juga ikut mendekatinya. Manakan tidak, walaupun Feng Syaoran seorang kultivator tetapi kultivator Level 1 sepertinya mempunyai kondisi fisik yang tidak jauh berbeda dari manusia biasa. Jatuh dari tempat yang tinggi akan menyebabkan kecederaan pada dirinya jadi wajar bagi mereka berdua berasa cemas.
"Tidak mengapa, ibu, Mei'er. Aku akan baik-baik sahaja. Kalian tunggu aku di bawah sahaja, ya. Ini tidak akan lama." Feng Syaoran berkata sebegitu untuk menenangkan mereka berdua. Lin Lingjia tidak menghentikan Feng Syaoran tetapi tetap melompat ke atap untuk mengawasinya.
"Biar ibu mengawasi dirimu di sini." Katanya. Terlebih lagi, dia sangat penasaran dengan kelakuan anaknya itu.
Feng Syaoran hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kedegilan ibunya sebelum mula fokus kepada kerjanya.
'Yosh... Ayo kita mulai.' Detik hatinya.
Kedua telapak ditemukan di dadanya lalu Feng Syaoran mula merapalkan beberapa mantra. Aura alam di sekitar kawasan rumah itu mula berubah mengejutkan Lin Lingjia. Feng Syaoran terus merapalkan mantra sebelum diangkat tangan ke langit, membentuk sebuah lingkaran sihir yang besar di langit malam lalu ia menghilang perlahan-lahan.
__ADS_1
"Susunan Pengumpulan Aura selesai..." Bisik Feng Syaoran perlahan.
Susunan Pengumpulan Aura ini adalah sebuah susunan yang dasarnya digunakan dari ilmu inkripsi, berfungsi untuk mengumpulkan aura alam di sekitar kawasan itu dalam jarak tertentu bergantung kepada kemampuan kultivator yang memasangnya. Semakin tinggi kemampuan kultivator yang memasangnya, semakin banyak jimat yang mampu diterapkan, semakin jauh dan banyak aura alam dapat dikumpulkan ke dalam susunan itu.
Dengan kemampuan Feng Syaoran yang baru di Level 1, dia hanya mampu menarik dan mengumpulkan aura alam dalam jarak 2 mil sahaja, tapi itu sudah cukup untuk dirinya dan semua anggota keluarganya di rumah ini berkultivasi beberapa kali lebih cepat dari biasa.
Sebaik sahaja Feng Syaoran menyudahkan bacaan mantra, aura alam di halaman rumah itu perlahan-lahan bertambah kental dan padat mengejutkan semua orang di rumah itu. Ling Tan ketika itu sedang berada di dalam biliknya merasa ada perubahan aneh pada aura alam segera keluar dari rumah, melihat Lin Sumei mendongak ke atas.
"Mei'er, apa yang terjadi? Mana perginya Bibi Lingjia?"
Ling Tan merasa aneh Lin Sumei hanya melihat ke langit tanpa menyadari dirinya. Dia juga dapat melihat Lin Lingjia yang berada di atas atap bereaksi sama. Itu menjadikannya penasaran dan juga mendongak untuk mengetahuinya. Untuk seketika, dia tidak dapat menterjemahkan apa yang sedang berlaku di hadapannya saat ini.
Di atas langit, terlihat gumpalan awan besar yang berwarna-warni berpusar tepat di atas rumahnya. Semua mengetahui itu bukanlah gumpalan awan biasa hanya dilihat pada warnanya sahaja.
Lin Lingjia segera bertanya, "Ran'er... a-apa yang telah kau perbuat?" Banyak lagi pertanyaan yang ingin ditanya tetapi hanya itu sahaja yang baru terkeluar dari mulutnya.
Feng Syaoran terangkat sebelah kening mendengarnya, "Hm? Apa ibu tidak merasakan ada berbeda dengan halaman rumah kita?"
Lin Lingjia memegang pundak anaknya itu lalu berkata dengan keras, "Bukan begitu. Ibu tahu kau berbuat sesuatu untuk menjadikan aura alam di sekitar rumah ini menjadi lebih kental, tapi bagaimana cara kau melakukannya? Dari mana kau mendapatkan ilmu ini? Siapa yang mengajarkan kepadamu ilmu ini?" Pundak Feng Syaoran digoncang beberapa kali sehingga membuatnya melihat langit dan bumi saling berganti hingga mual, tapi Feng Lingjia tidak mempedulikannya.
Di matanya, Feng Syaoran seperti tidak peduli dengan konsekuensi dari keberadaan ilmu ini, membuatkan dirinya khawatir dengan keselamatan Feng Syaoran.
Jika ilmu ini dilihat oleh mana-mana kultivator, sudah pasti Feng Syaoran akan menjadi incaran mereka karena ilmu tingkat tinggi yang dimilikinya ini. Lebih buruk lagi ia boleh memberi dampak buruk kepada keluarga mereka juga. Hal ini membuatkan dirinya merasa sakit kepala apabila memikirkannya.
"Ling jiejie, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan hal ini?" Lin Tan yang baru saja melompat ke atap, mendekati mereka. Dia sempat menyarankan Lin Sumei agar sambung berkultivasi selepas anaknya itu menjelaskan situasi ini kepadanya karena tidak mahu Lin Sumei membuang kesempatan ini untuk meningkatkan lagi kemampuannya.
Feng Syaoran dapat melihat Lin Lingjia memasang wajah seperti ini, 'Berani kau menyimpan rahsia besar ini denganku ya?'
"Owh... Ibuh, shakit..." Feng Syaoran memegang tangan ibunya, mengharapkan agar Lin Lingjia sedikit berlembut dengannya.
Ling Tan melotot tidak percaya. Dia bertanya lagi, "Ran'er? Apa itu benar? Ling jiejie, jangan bercanda denganku. Tak mungkin Ran'er punya ilmu tingkat tinggi seperti ini."
Dia menganggap mustahil Feng Syaoran mampu melakukan hal besar seperti ini tanpa bantuan dari seseorang. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya ialah Lin Lingjia menyimpan rahsia buku beladiri tingkat tinggi sejak sekian lama namun sekarang baru digunakan.
Lin Lingjia dapat membaca apa di pikirannya, menjeling ke arah Ling Tan, "Apa kau pikir aku orang yang suka menyimpan rahsia seperti itu? Kalau pun aku punya ilmu ini sudah lama aku akan menggunakannya untuk membantu keluarga kita. Apa gunanya kalau aku menggunakannya sekarang kalau sudah hampir terlambat?"
Ling Tan menelan air liur pahit, memang masuk akal apa yang diperkatakan oleh Lin Lingjia karena dia sendiri amat mengenali sifat kakak iparnya itu masih tidak akan ragu membantu keluarganya jika itu untuk kepentingan bersama. Apatah lagi di waktu gawat seperti ini menyokong hujahnya.
Namun, masih tidak disangka oleh dirinya keponakannya yang masih Level 1 mempunyai ilmu tingkat tinggi seperti ini. Ling Tan menoleh ke arah Feng Syaoran yang masih menahan kesakitan karena sedang dicubit kedua-duanya belah pipinya oleh Lin Lingjia.
Dia menghela nafas berat, 'Anak ini punya banyak masalah dan rahsia...'
*****
Tiga minggu telah berlalu, Feng Syaoran kini berjaya menembusi batasannya terus ke Level 2. Kali ini berkat dia terus berkultivasi di dalam Susunan Pengumpulan Aura di rumahnya tanpa henti.
__ADS_1
Selepas pemasangan Susunan Pengumpulan Aura itu, dia dihujani dengan berbagai macam pertanyaan dari Lin Lingjia, Ling Tan dan Lin Sumei.
Mulutnya ketika itu sudah berbusa untuk memberikan penjelasan kepada Lin Lingjia dan Ling Tan tentang susunan itu pada malam itu. Dia terpaksa mengatakan hal palsu bahwa terdapat kultivator yang menyelamatkan nyawanya memberikan ilmu itu kepada ingatannya.
Dan seperti yang telah dijangka, ibunya hampir meletus karena menganggap kultivator itu membuatkan anaknya berada dalam bahaya.
Belum lagi di pagi hari pula, Lin Sumei bertanya kepadanya akan hal tersebut dan hal itu didengari oleh Lin Zhao pula sehingga membuatkan Feng Syaoran terus dihujani pertanyaan. Di sisi lain, Lin Lingjia terus memandangnya seperti 'anak nakal penyimpan rahsia' selama beberapa hari sungguh membuatkan mentalnya kelelahan.
'Dasar darah muda.' Feng Syaoran mengeluh apabila mengingati semula kejadian itu. Dia menarik nafas panjang sebelum mula fokus pada kultivasi dirinya.
Selama Feng Syaoran berkultivasi di dalam rumah, dia tidak menyedari dua pasang mata sedang mengintip dirinya dari luar pintu. Seorang pria paruh baya dan seorang lagi wanita yang sedikit lebih tua daripada pria tadi.
Tidak lama selepas itu, kedua pengintip itu pergi dari pintu bilik Feng Syaoran dan berjalan ke ruang hadapan.
"Kakak, apa kau sadar akhir-akhir ini Ran'er sepertinya berubah?" Bisik pengintip pria itu.
"Hmm? Berubah? Yah kulihat sememangnya ada sedikit perubahan pada kepribadiannya... Dia menjadi lebih tegas dan berani, dan itu terlihat seperti... hmm ayahnya?" Balas pengintip wanita pula sambil tersenyum tipis.
Pengintip pria tadi tidak lain ialah Lin Zhao, mula mengerut dahinya. Jelas menunjukkan hatinya tidak senang mendengar hal tersebut, "Aku lebih mengharapkan anak itu tidak mengikut kepribadian ******** itu. Kakak, apa kau senang dia mengikuti sifat laki-laki sialan itu? Yang telah menelantarkan dirimu dan anak itu sejak kelahirannya?"
Emosinya membuak-buak apabila mengingati kejadian itu yang mana kakaknya harus berjalan sejauh 3 mil sambil membawa Feng Syaoran yang berusia 3 tahun yang tidak mengerti apa-apa ketika itu menuju ke desa ini sendirian.
"Zhao'er, aku paham perasaanmu itu. Aku juga tidak menyukainya kalau hal itu terjadi tapi apa kau tidak terpikir kalau Ran'er itu berbeda?"
"Berbeda?" Kening Lin Zhao terangkat seketika.
Lin Lingjia menyambung, "Apa kau pernah melihat dia mengabaikan keluarganya? Apa kau pernah melihat dia membuat kita berada di dalam masalah? Apa kau pernah melihat dia tidak memenuhi permintaan kita? Tidak bukan?"
Sambil mengarukkan kepalanya yang tidak gatal, Lin Zhao mengungkap pemikirannya, "Yah aku pun mengetahui akan hal itu tapi tetap saja anakmu itu mewarisi sebagian kepribadian ******** itu. Memikirkan anak itu akan menjadi sepertinya membuatkan aku... hah!" Nafas berat dilepaskannya.
Pundak Lin Zhao ditepuk lembut oleh Lin Lingjia, "Zhao'er, memang sudah mengalir darah orang itu di dalam tubuhnya. Tapi, sepertinya kau lupa akan sesuatu. Bukankah Ran'er itu anakku juga? Sudah tentu dia sebagian sifatku juga ada padanya. Bahkan kau pun tahu betapa besar usahanya dalam latihan dan kultivasi sebelum ini hanya untuk membuat kita merasa bangga. Buktinya lebih jelas ketika dia memasang Susunan Pengumpulan Aura atau apalah pun ini di rumah ini petanda anak ini masih memperdulikan keluarganya ini. Aku berani bersumpah anak itu tidak akan pernah sama dengan orang itu."
Lin Zhao hanya terdiam sahaja mendengar perkataan kakaknya itu lalu menanggapinya.
"Kalau begitu menurutmu, sebagai ibunya tentu kau lebih memahami dirinya jadi ku rasa lebih tepat bagiku untuk mempercayaimu."
Lin Lingjia menjadi bahagia, tersenyum cerah melihat dukungan adiknya itu, "Terima kasih, Zhao'er."
Lin Zhao menggosok-gosok hidungnya sebelum berkata, "Untuk sekarang, kita perlu fokus mencari alternatif secepatnya berkaitan dengan masalah kelambatan kultivasi Ran'er. Tambahan pula, turnamen desa musim panen ini sudah semakin dekat. Cepat atau lambat keluarga ini akan dalam bahaya jika sampai kalah."
"Ya kau benar..." Lin Lingjia sedikit mengangguk tanda setuju dengan pandangan Lin Zhao.
Di balik dinding berdekatan dengan ruang tamu, terlihat Feng Syaoran bersandar pada dinding dengan mata yang berkaca. Terharu dengan perhatian yang sangat didambakan oleh dirinya di kehidupan sebelumnya.
"Terima kasih, ibu, paman."
__ADS_1
Dia bersumpah takkan mengecewakan harapan yang ingin dilihat oleh keluarganya dari dirinya dan membalas dendam dirinya yang lama kepada Keluarga Ming.
Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.