
Sehari selepas pengintipan Lin Lingjia dan Lin Zhao, Feng Syaoran baru keluar dari biliknya sambil merenggangkan tubuh setelah hari subuh mula menjelma. Duduk dalam berkultivasi untuk waktu yang lama menyebabkan ototnya berasa kaku.
Feng Syaoran hanya mampu mengeluh tentang kelambatan kultivasi miliknya dengan menghela nafas berat. Walaupun selepas beberapa minggu berkultivasi dengan bantuan Jurus Nafas Pertapa dan Susunan Pengumpulan Aura, dia hanya dapat bangkit sampai ke Level 3 sahaja.
Dia harus memikirkan cara bagaimana untuk mempercepatkan pembangunan fondasi miliknya dengan segera.
Tentu sahaja dia punya solusi untuk mempercepatkan pembangunan fondasi miliknya iaitu sama ada dengan menggunakan sumber daya yang banyak, dia mampu memperkuatkan tubuhnya untuk menyerap aura alam dengan lebih cepat ataupun menyerap kristal siluman untuk membuat roh peliharaan.
Masalahnya, bagaimana pula dia ingin mendapatkan barang-barang itu?
Semua sumber daya dan kristal siluman tiada dijual di Desa Tianling ini dan biasa dijual di dalam kota-kota. Namun, kota yang paling dekat dengan Desa Tianling sejauh 3 mil arah utara bernama Kota Burung Merah. Jelas ini kerana keamanan di kota jauh lebih terjamin berbanding keamanan di desa.
Kawasan permukiman desa-desa ini biasa terdedah kepada bahaya langsung diserang oleh bandit, jadi sukar melihat pedagang berjualan di desa-desa apatah lagi membuka toko mereka di sana.
Tetapi untuk Feng Syaoran, jika dia menginginkan barang-barang yang dibutuhkannya itu perlu berjalan sejauh 3 mil. Baginya, berjalan sejauh itu bukanlah masalah besar melainkan Feng Lingjia tentu tidak membenarkan dia pergi bersendirian ke kota tambahan pula dia belum pernah pergi ke mana-mana sebelumnya.
Ketika itu, dia mula memikirkan cara bagaimana untuk pergi ke kota tanpa masalah, samada merayu ibunya dengan wajah polos ataupun meminta pamannya pergi ke kota.
Feng Syaoran terlalu larut ke dalam pikirannya sehingga tidak menyedari Lin Sumei yang baru sahaja keluar dari dapur, kini duduk di tepinya yang sedang bergumam sendirian di pojok ruang tamu, "Syao gege ngomong apa sendiri-"
"Waaahh......" Feng Syaoran langsung terkejut mendengar suara Lin Sumei.
"Kyaaahh...!" Lin Sumei mengikut sama menjerit apabila Feng Syaoran melatah sambil secara refleks tangannya memukul pipi kakak sepupunya itu.
Pang!
Wajah Feng Syaoran seketika tersembam ke dinding rumah tepat setelah telapak tangan Lin Sumei mendarat di mukanya. Badannya terikut kepalanya yang meluncur ke dinding rumah sebelum berhenti, membuatnya terlihat seperti sedang mencium dinding dengan nikmatnya.
Lin Sumei melihatnya terkejut lalu melihat telapaknya karena tidak menyangka dia telah memukul pipi Feng Syaoran, membuatkan orang itu melekat pada dinding.
"Syao gege, kau gak apa-apa?" Perasaan cemas dan rasa bersalah menyelubungi hatinya melihat kecelakaan yang dilakukannya sendiri, segera menarik Feng Syaoran yang masih mencium dinding.
"Ugh... Mei'er... Tak ku sangka kau sungguh tega...?" Kata Feng Syaoran sambil mengusap pipinya yang bengkak. Dia dapat merasakan gusinya sedang berdarah dalam mulutnya.
"Hmph... Syao gege bodoh! Siapa menyuruhmu berteriak seperti orang sinting. Rasakan!" Sambil menarik mukanya, Lin Sumei berlalu pergi keluar rumah. Meninggalkan Feng Syaoran yang terpinga-pinga keheranan melihat kelakuan Lin Sumei yang kekanak-kanakan.
"Lah? Yang dikejutkan aku di sini, terus aku juga yang ditampar...?"
*****
"Hahaha... Gak usah dipikirkan, Ran'er. Mei'er cuma gak sengaja aja." Lin Zhao membujuknya ketika mereka sedang perjalanan menuju ke Kota Burung Merah menaiki gerobak milik temannya.
Sebelum itu tepat setelah Feng Syaoran ditampar wajahnya, dia segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh luka di wajahnya justru bertembung dengan Ling Tan.
Dengan bantuan bibinya itulah luka di wajahnya dapat diobati dan bengkaknya menjadi lebih surut. Ling Tan hanya tertawa kecil apabila mengetahui cerita sebenar apabila dia menanyakan alasan Feng Syaoran terluka.
Menurut Ling Tan, dia juga mempunyai kebiasaan yang sama iaitu mudah memukul seseorang apabila terkejut. Jadi wajar apabila Lin Sumei juga mewarisi kebiasaannya. Ling Tan juga menyarankan agar pergi mengikuti pamannya Lin Zhao untuk berbelanja beberapa barang di Kota Burung Merah.
Ketika itu, mata Feng Syaoran langsung bercahaya. Jelas sekali menunjukkan dia sangat senang untuk pergi ke kota karena rencananya dapat berjalan mulus berkat hal ini.
Lin Zhao pula tidak menolak malah turut senang apabila mempunyai seseorang untuk menemaninya ke kota. Apatah lagi dia mau Feng Syaoran mengambil pengalaman di luar desa karena menganggap suatu hari keponakannya itu akan melakukan perkara yang sama cepat atau lambat.
Selama perjalanan, Feng Syaoran dan Lin Zhao hanya mengobrol biasa, mulai bertanyakan tentang wajahnya yang terluka. Walaupun bengkak di wajahnya telah menghilang, tetapi perban lukanya masih terlihat dengan meninggalkan kesan merah.
"Ran'er lagi ditampar? Siapa yang melakukannya? Apa itu Mei kecil?"
Mereka tentu tidak pergi berdua sahaja, terdapat dua orang pria yang terlihat sebaya dengan pamannya itu mengikuti mereka.
Mereka merupakan teman-teman Lin Zhao yang membesar bersama sejak kecil lagi. Melalui ingatannya, boleh dikatakan keluarga kedua-duanya ini mempunyai hubungan yang akrab dengan Keluarga Lin semenjak kedatangan kakeknya ke desa ini.
__ADS_1
Salah seorang dari mereka iaitu yang bertanya sebentar tadi memakai topi jerami yang telah usang dengan misai sejemput menghiasi wajahnya dengan ekspresi tertarik. Namanya ialah Song Ming yang merupakan salah seorang pemburu di Desa Tianling yang menghantar mereka ke Kota Burung Merah menaiki kereta kudanya.
Lin Zhao terus merespon menggantikan Feng Syaoran yang tampak ragu untuk menjawabnya, "Iya, Mei'er yang melakukannya." Lalu menceritakan kepada teman-temannya tentang hal itu. Tentu tidak keseluruhan cerita yang disampaikan adalah benar kecuali dilakukan untuk membuat jenaka sahaja.
Tidak sampai sesaat ceritanya selesai, kedua-duanya tertawa terbahak-bahak. Tentu sahaja karena pamannya Lin Zhao membuat jenaka di dalam ceritanya, mampu membuatkan hati terasa gatal bagi yang mendengar ceritanya.
"Paman Song! Apa paman ke kota karena berniat untuk menjual hasil buruanmu ini?" Feng Syaoran mengalih perbualan, bertanya dengan wajah polos yang dibuat-buat sambil memandang ke arah belakang gerobak.
Matanya melekat pada beberapa bangkai hewan seperti serigala dan helang yang terikat dan disusun kemas di bagian muatan gerobak.
Song Ming sambil "Ah iya, benar! Kami memang berniat ingin menjual serigala dan helang itu di Asosiasi di kota." Song Ming merujuk kepada dirinya dan juga pria yang seorang lagi adalah salah satu teman lama Lin Zhao bernama Wang Zen yang juga merupakan seorang pemburu.
"Asosiasi?"
Terangkat kening Song Ming mendengar pertanyaan bocah itu, "Apa kau tidak tahu tentang Asosiasi?"
Wang Zen berkata dengan nada heran, "Itu Asosiasi Sinar Mentari yang terkenal itu loh. Gak mungkin kau tidak mengetahuinya?"
Feng Syaoran membuat jawaban dengan memiringkan kepalanya, tanda dia sememangnya tidak mengetahui apa-apa pun tentang Asosiasi Sinar Mentari yang disebutkan oleh Hua Ming dan Mu Zen.
"Ah! Song Ming, Wang Zen, aku lupa ingin memberitahu kalian. Sebenarnya, ini merupakan kali pertama anak ini keluar dari desa dan mengikutiku ke kota. Makanya, dia tidak mengetahui apa-apa tentang Asosiasi Sinar Mentari." Lin Zhao mengambil tindakan untuk menjelaskan situasinya kepada dua temannya.
Yang jelas, tujuan Lin Zhao mahukan Feng Syaoran mengikutinya adalah supaya dapat menunjukkan cara berbelanja barangan di Kota Burung Merah nanti.
"Ah, pantas aja dia lagi bengong." Song Ming mengorek senyum simpul.
"Jiajia dan Chao'er aja udah pernah ke kota beberapa kali bersama kami, jadi kuingat Ran'er udah pernah ke kota. Rupanya, Ini pertama kali kau ke kota ya?" Sambung Wang Zen pula.
Feng Syaoran hanya tersenyum masam mendengar omelan dua pria di hadapannya ini. Di pikirannya, dia membayangkan dua sosok yang dimaksudkan oleh Wang Zen tadi.
Menurut ingatan lamanya, Chao'er atau nama aslinya adalah Song Chao, putra Paman Song Ming sedangkan Jiajia adalah putri Paman Wang Zen yang nama aslinya adalah Wang Jia. Kedua-duanya merupakan teman-teman sebaya Feng Syaoran yang sering membela dirinya apabila dibuli oleh Ming Dao dan konco-konconya.
Song Chao dan Wang Jia kedua-duanya merupakan anak berbakat dalam kultivasi walaupun tidak sebanding dengan Lin Sumei. Mereka diterima masuk ke salah satu daripada sekte dari aliran putih sejak tiga tahun lalu, iaitu sejak pertama kali kedua-duanya berpartisipasi ke turnamen desa musim sebelumnya.
"Jika ini kali pertama bagimu datang ke kota, kau perlu tahu tentang beberapa perkara di sana." Wang Zen mulai memberi tahu Feng Syaoran tentang Kota Burung Merah.
Menurut Wang Zen, Kota Burung Merah adalah salah satu daripada kota besar yang berada di Kekaisaran Tang, di mana kota itu mempunyai populasi penduduk yang ramai. Penduduk kota itu bisa terbilang makmur karena tingkat keamanannya yang tinggi selain ekonomi perdagangan di sana sedang meningkat memandangkan kedudukan kota itu berada di tepi laut.
Untuk Asosiasi Sinar Mentari, ia merupakan salah satu daripada kelompok aliran netral yang terkuat berada di Kekaisaran Tang. Saat ini, terdapat tujuh kelompok besar dari aliran netral yang berada di kekaisaran ini, iaitu Pavilliun Naga Api, Asosiasi Sinar Mentari, Partai Pengemis, Pulau Keramat, Rumah Siluman, Gunung Wisteria Salju dan Lembah Kegelapan.
Diantara kesemua kelompok aliran netral ini, Asosiasi Sinar Mentari memegang kekuasaannya di Kekaisaran Tang melalui aliran ekonomi, dengan membeli dan menjual berbagai barang yang diperlukan oleh kultivator seperti artefak senjata, buku ilmu beladiri dan sumber daya bahkan mereka juga menjual informasi.
Untuk para pemburu seperti Paman Song Ming dan Paman Wang Zen, mereka akan menjual hewan buas yang telah diburu kepada Asosiasi Sinar Mentari untuk mendapatkan uang, pada dasarnya anggota tubuh hewan buas amat berguna dalam pembuatan artefak, perhiasan maupun pil obat selain dagingnya digunakan sebagai bahan makanan.
Mereka terus berlanjutan mengobrol untuk mengisi kekosongan waktu selama perjalanan mereka. Feng Syaoran tidak berencana membuang-buang waktu, terus melakukan Jurus Nafas Pertapa tanpa henti agar staminanya dapat dilatih secara terus-menerus walaupun mendapat kelelahan yang lumayan.
Perjalanan mereka selama beberapa jam itu mula berakhir ketika matahari berada tegak di atas kepala apabila mereka terlihat dinding besar yang tingginya empat meter dan sebuah gerbang kota berwarna merah, dipenuhi dengan antrian orang-orang sama seperti rombongan Feng Syaoran.
Rombongan mereka terpaksa mengikut antrian juga walaupun sedikit memakan masa. Semua ini dilakukan agar para pengawal kota dapat memeriksa rombongan yang datang dari luar kota.
Jelas sekali menunjukkan bahwa keamanan kota ini sangatlah tinggi bagi menghindari kriminal yang diingini memasuki kota dan membuat keributan yang menimbulkan masalah tidak berarti.
Setelah lama mengantri, giliran rombongan Feng Syaoran akhirnya tiba, di hadapan mereka berdiri lebih dari lima orang pengawal keselamatan kota berjaga di gerbang ini, tiga dari mereka menghadang jalan masuk dan selebihnya menulis kedatangan pengunjung.
Jalanannya cukup luas sehingga dua antrian boleh dilakukan sekaligus, tanpa berlengah Song Ming dan Wang Zen segera menunjukkan kartu identitas mereka kepada pengawal kota yang memegang catatan di tangannya.
Lin Zhao juga melakukan hal yang sama, menunjukkan kartu identitasnya kepada pengawal kota itu. Pandangan si pengawal kota teralih kepada Feng Syaoran pula.
"Nak... Tunjukkan kartumu."
__ADS_1
"Uh? Kartu apa?"
"Kartu identitasmu.. Apa kau tidak memilikinya?"
"Ah... Tidak, aku tidak memilikinya."
Si pengawal kota memandang dengan wajah heran, "Apa ini kali pertama bagimu datang ke kota?"
"Ya, ini pertama kalinya keponakanku datang ke kota." Lin Zhao memintas, Feng Syaoran hanya mengangguk.
Si pengawal kota memandang Lin Zhao, "Apa kau wali nya?"
"Iya, benar. Aku wali nya."
Si pengawal kota mengangguk pelan sebelum menunjukkan ke arah sebuah pintu di benteng kota, "Baiklah. Nak, kau pergi ke ruangan itu. Untukmu, kau boleh menunggunya di luar." Telunjuknya mengarah pula kepada Lin Zhao.
Feng Syaoran menganggukkan kepalanya lalu menarik bungkusan bawaannya, "Baiklah, terima kasih." Lalu segera meninggalkan si pengawal kota itu meneruskan tugasnya, menuju ke pintu.
Lin Zhao tidak mengikuti Feng Syaoran, sempat memberikan beberapa koin perak kepadanya sebelum terus ke gerobak, "Wang Zen, Song Ming, kalian bisa pergi dahulu ke Asosiasi, kami akan menyusul kalian selepas menguruskan pendaftaran Ran'er."
Saranan Lin Zhao tidak ditolak, malah kedua-duanya menjadi semakin bersemangat apabila mendengarnya.
"Baiklah! kalau begitu, kami akan bergerak dahulu ya. Jangan tersesat pula nanti." Song Ming melambai ke arah Feng Syaoran dan Lin Zhao sambil mengendalikan gerobaknya.
"Iya, iya, iya." Lin Zhao malas bercanda dengan temannya itu, hanya melambai sebentar sebelum menunggu Feng Syaoran di bangku batu yang berdekatan dengan pintu ruangan benteng tadi.
Sementara itu, Feng Syaoran bergerak ke arah ruangan benteng, melalui pintu kayu di situ. Pengawal di pintu itu bertanya, "Bocah, apa kau ke sini untuk mendaftar?"
"Ah, iya."
"Baik, masuklah." Si pengawal membiarkannya.
"Terima kasih."
Feng Syaoran masuk ke dalam ruangan itu, di dalamnya terdapat beberapa petugas yang sibuk mendatakan sesuatu di atas kertas di meja masing-masing.
Seorang petugas yang berwajah galak duduk di sudut ruangan mula memanggilnya, "Bocah, sini kau."
Feng Syaoran bergegas ke sana, ke arah petugas berwajah galak yang memanggilnya tadi, "Duduklah." Ucap petugas itu. Tangannya yang berotot mempersilakan Feng Syaoran duduk di hadapannya.
"Terima kasih." Feng Syaoran terus duduk di kursi di hadapan petugas itu. Petugas itu menarik selembar kertas dan sebatang pena sambil bertanya, "Kau datang untuk mendaftar kan?"
"Iya, benar."
"Baik, isilah kertas ini."
Feng Syaoran mula menulis di atas kertas itu. Di atas kertas itu, terdapat kolom untuk nama, umur dan tempat tinggal, semua diisi dengan cermat sehingga selesai lalu diserahkan semula kepada petugas tadi.
"Hmm... Tulisanmu lumayan cantik juga ya, bocah." Komentar petugas itu.
"Terima kasih atas pujiannya." Feng Syaoran merendah diri.
"Hahaha... Bocah, kau terlalu kaku. Santai aja, aku tidak makan manusia." Petugas itu tertawa. Feng Syaoran tersenyum kecut.
"Saudara, sudahku bilang wajahmu galak banget, lihat sampai-sampai bocah itu jadi takut. Hahaha." Petugas di meja sebelah kanan mereka bercanda.
"Hei, mukaku ini ganteng apa?" Balas petugas galak itu tidak mau mengalah. Dia lalu menunduk ke bawah, mengambil kartu besi dan jarum dari bawah meja dan diletakkan di hadapan Feng Syaoran.
"Nah, abaikan orang itu. Tusuk jarimu pada jarum ini."
__ADS_1
Feng Syaoran hanya menurut. Jarinya mula meneteskan darah setelah ditusuk, menetes atas kartu besi itu. Seketika kartu besi itu bersinar kemerahan.
Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.