Lagenda Kaisar Siluman

Lagenda Kaisar Siluman
Ch 11: Stampede


__ADS_3

Suatu hari ketika langit sedang cerah, terlihat sesosok pria dewasa sedang berlari kencang di dalam hutan belantara, menyusuri pohon-pohon dengan pantas tanpa sebarang masalah yang berarti, seolah-olah sudah terbiasa melaluinya, cukup menjelaskan bahwa dia seorang pemburu veteran.


Raut wajah pria itu terlihat panik, menggambarkan rasa cemas akan sesuatu sedang menguasai dirinya.


Tangannya kanannya memegang pundak kirinya yang kini sedang terluka parah, darah merah jatuh bercucuran membasahi lengan bajunya.


Secara tiba-tiba dia akan tertoleh ke belakang, seperti sedang cuba memastikan sesuatu, pria pemburu itu sudah melupai ini kali ke berapa dia menoleh karena sering melakukannya.


"Gawat! Aku harus cepat pulang dan memberitahukan hal ini kepada kepala desa secepatnya." Desah pria pemburu itu, lariannya turut bertambah lebih kencang, nafasnya semakin tidak teratur karena berlari terlalu lama.


"Kalau aku terlambat, desa akan dimusnahkan!"


*****


Di halaman sebuah rumah, kelihatan dua orang laki-laki yakni Lin Zhao dan Feng Syaoran sedang berdiri dengan masing-masing memegang sebatang kayu ditangan mereka, dapat diketahui mereka sedang berlatih ilmu pedang bersama.


Lin Sumei juga ingin ikut berlatih ilmu pedang bersama dengan Feng Syaoran, tetapi Lin Zhao tidak membenarkannya, berkata, "Ini adalah urusan rahsia di antara pria. Lebih baik Susu belajar bersama Bibi Ling."


Lin Sumei mula menjadi cemberut mendengarnya, bersikeras ingin mempelajari ilmu pedang bersama Feng Syaoran, namun tiba-tiba suara Lin Lingjia memanggilnya.


Dia tidak punya pilihan lain, menghentak kakinya ke tanah beberapa kali sebelum pergi memasuki ke rumah, Lin Zhao menghela nafas panjang sebelum melihat ke arah Feng Syaoran semula.


"Baiklah, Ran'er, hari ini paman akan mengajarkanmu cara menggunakan pedang dengan benar." Kata Lin Zhao kepada bocah yang berdiri di hadapannya.


"Ahh..." Feng Syaoran mula membuat raut wajah tidak mahu, seolah-olah latihan pedang itu sesuatu yang merepotkan.


Lin Zhao melihat reaksi itu, mula memarahinya, "Hei, apa-apaan dengan wajahmu itu? Apa kau tahu, seorang pria itu harusnya menjadi kuat, seorang pria itu seharusnya berdiri di hadapan para wanita untuk melindunginya. Bukan kita yang butuhkan pelindungan dari mereka...!"


Feng Syaoran menaikkan alisnya, sebelum bertanya, "Hm? Tapi, paman... Bukankah kau dulunya sewaktu masih kecil sering melarikan diri ke punggung ibu setiap kali kau membuat masalah?"


Terbatuk-batuk Lin Zhao dibuatnya, "Uhuk uhuk... Ran'er, siapa yang mengatakan hal itu padamu?" Tanya Lin Zhao, cuba menjaga ketenangannya.


"Ibu... Oh tunggu, Paman Song dan Paman Wang juga mengatakan hal serupa."


Lin Zhao terdiam sesaat sebelum mula menghela nafas yang panjang lalu mengalih perbicaraan, "Baiklah, mari kita fokus pada latihan sekarang."


Itu yang keluar dari mulutnya, hatinya mengatakan hal sebaliknya, 'Song Ming, Wang Zen, kita punya sedikit perhitungan setelah ini.' Tinjunya dikepal keras.


"Baiklah, Ran'er. Kau sebenarnya masih sangatlah lemah. Kalau kita, pria tidak menjadi kuat maka kita tidak dapat mempertahankan hak kita. Untuk itu, kita sebagai pria sejati haruslah memegang senjata kita agar dapat melindungi harta dan orang-orang yang kita sayangi, jadi senjata yang sesuai pria sejati seperti kita ialah pedang!"


Kemudian, Lin Zhao mengangkat pedang kayunya ke arah langit, Feng Syaoran menghela nafas yang panjang dan hatinya mula terdetik, 'Mengoceh apa lagi orang tua si maniak pedang ini?'


"...Pedang merupakan tanda kekuasaan, pedang adalah tanda kekuatan, pedang juga tanda seorang pria sejati bagi sesosok kultivator yang hebat seperti kita dan... bla bla bla." Lin Zhao terus mengoceh tentang pedang cukup lama, sehingga terlupa tujuan utamanya pagi ini adalah untuk melatih ilmu pedang pada Feng Syaoran.


Feng Syaoran semakin kebosanan, mula jenuh mendengar ocehan tidak berguna yang keluar dari mulut Lin Zhao selama tiga puluh menit tanpa henti, lalu berkata, "Oke, paman. Cukup, cukup dengan kata-katanya, kapan kita mau mulai berlatih, paman?"


Seakan-akan tersadar, Lin Zhao mula fokus kembali pada tujuan utamanya, "Ah, aku hampir terlupa tentang ini. Maaf, maaf. Baiklah, mari biar paman mengajarkanmu ilmu berpedang."


Batin Feng Syaoran berteriak, 'Telingaku sudah berlubang mendengarkan omong kosongmu yang tidak berguna itu.'


Lin Zhao mula menodong pedang kayu ditangannya ke arah Feng Syaoran, lalu berseru lantang, "Kemarilah, Ran'er! Serang aku sekuat tenaga yang kau mampu... Jangan gunakan tenaga dalammu karena ini hanyalah latihan. Tunjukkan padaku kemampuan berpedangmu."


Feng Syaoran tersenyum lebar, "Oke... Hiyaarghh..." Feng Syaoran mula berlari mendekati Lin Zhao dengan pedang kayu ke atas, bersiap untuk menetak.


Lin Zhao menyengir, dia dapat melihat banyak celah dari pergerakan Feng Syaoran, pedang kayu ditangannya disiapkan untuk menangkis serangan Feng Syaoran.


Ketika itu dia tidak menyadari senyuman Feng Syaoran menjadi lebih lebar.

__ADS_1


"Jurus Nafas Pertapa, Gaya Air:..."


"Eh...?" Lin Zhao jadi kaget.


"Tarian Arus Air!"


Dalam sekejap, Feng Syaoran bergerak menjadi lebih cepat, serangan Feng Syaoran juga ikut berubah arah, dari pukulan ke dada berubah menjadi tebasan samping dengan pinggang Lin Zhao yang ditargetkan, Lin Zhao hampir tidak bisa menghindarkan dirinya jikalau bukan karena refleksnya yang terlatih, dia melompat ke belakang dengan cepat.


Feng Syaoran tidak berhenti, terus disambung dengan beberapa tebasan cepat lalu dikombinasikan pula dengan beberapa tinju, pukulan dan tendangan berat pada Lin Zhao, membuatkannya buru-buru mengangkat senjata untuk menghadapinya.


Permainan pedang Feng Syaoran itu terlihat lembut dan indah seperti air, namun setiap serangannya yang terkesan cepat itu dapat dirasakan mempunyai gelombang besar pabila Lin Zhao cuba menangkisnya, memaksanya ke posisi bertahan sehingga dipukul mundur.


Ditambah pula, Feng Syaoran mengkombinasikan permainan pedangnya dengan seni beladiri tangan kosong, yang biasanya sangat sukar dilakukan oleh seorang ahli pedang sepertinya, Lin Zhao sempat berdecak kagum melihat gaya bertarung Feng Syaoran.


'Oh, gawat. Rupanya anak ini masih menyembunyikan kekuatannya!' Lin Zhao menjadi semakin kerepotan untuk menangkis semua serangan kombinasi Feng Syaoran yang datang semakin banyak.


Feng Syaoran bijak mengambil kesempatan dengan memanfaatkan kelemahannya untuk membuatkan Lin Zhao menjadi lengah sesaat, membuat Lin Zhao menganggap dirinya lemah lalu karena itu, dia berjaya membuat serangan kejutan sehingga Lin Zhao kerepotan menangkis serangannya.


Walaupun sebenarnya mudah bagi Lin Zhao ingin menangkis serangan Feng Syaoran sekiranya dia menggunakan tenaga dalamnya, tetapi kata-katanya tadi justru membuatkan dirinya lebih tidak diuntungkan. Dan di situlah Feng Syaoran memanfaatkannya, sehingga membuatkan Lin Zhao semakin kewalahan menghadapinya.


"Hiaarrgghh...." Lin Zhao dapat melihat celah, mula memanfaatkan kekuatan fisiknya, melancarkan tebasan berat dari bawah pada Feng Syaoran.


Feng Syaoran lalu berjaya menangkis tebasan berat itu, namun akibatnya tubuh kecilnya itu terlempar tinggi ke udara.


Lin Zhao menyangka dia telah menghentikan serangan Feng Syaoran terhadapnya, namun dengan tubuhnya terlempar tinggi ke udara, Feng Syaoran memanfaatkannya untuk membuat jurus lain pula.


"Jurus Nafas Pertapa, Gaya Api:..."


"Eh, eh. Sebentar, sebentar, tunggu dahulu, Ran'er." Lin Zhao cuba menahannya, namun Feng Syaoran tidak dapat menghentikan serangannya.


Feng Syaoran berputar laju ke bawah, membentuk putaran roda dalam serangan tetakannya, Lin Zhao cuba menahan serangan itu, malah jatuh melutut ke tanah saking beratnya serangan Feng Syaoran.


"Guuhh...!"


Serangan Feng Syaoran itu menggunakan seluruh kekuatan fisik dan beban tubuhnya, lalu diperkuatkan lagi dengan Nafas Pertapa, yang mana mampu membuatkan serangannya penuh dengan energi.


Lin Zhao sendiri berasa aneh dan heran sendiri melihat kekuatan fisik Feng Syaoran yang tidak wajar untuk anak seusianya.


"Ahh... Ran'er, seranganmu tadi sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertekuk lutut ke atas tanah hanya karena serangan dari seorang anak berusia tujuh tahun sepertimu. Hahaha..." Kata Lin Zhao sambil tersenyum kagum.


Dia tidak menyangka bahwa keponakannya yang sebelum ini dianggap hanyalah seorang sampah kultivasi yang tidak punya apa-apa, kini berubah menjadi seorang ahli pedang yang sangat hebat.


"Ran'er, bagaimana kau boleh menjadi semakin kuat? Ilmu pedang macam apa itu tadi? Kapan kau mempelajari ilmu pedang yang kuat seperti itu? Siapa master yang mengajarimu ilmu itu?"


Pertanyaan terus-menerus dilontarkan ke Feng Syaoran oleh Lin Zhao yang terlihat antusias.


Feng Syaoran menggaruk pipinya lalu tersenyum tipis, dapat menebak inti di sebalik pertanyaan-pertanyaan Lin Zhao tadi, "Paman, kalau paman berniat ingin mempelajari ilmu pedang dari master, lebih baik paman melupakan saja niat paman itu. Master tidak mahu dirinya diganggu. Kalau master marah, aku takut desa ini tidak melihat hari esok."


Perkataan 'master' sengaja digunakan untuk menggambarkan seperti orang hebat seperti itu benar-benar ada, padahal ilmu beladiri itu datangnya dari Feng Syaoran sendiri, mustahil untuk mengatakan bahwa dia mempelajari ilmu pedang itu sendiri, jadi dia menggunakan perkataan 'master' untuk memainkan sandiwaranya.


Semasa di kehidupan sebelumnya, Feng Syaoran seorang yang pernah menjabat jabatan ketua sekte Rumah Senjata Raja, sebuah sekte besar di mana murid-muridnya mempelajari berbagai macam jenis senjata dan cara memproduksinya.


Setiap peringkat mempunyai ujian tersendiri dan ujian yang paling sulit ialah Ujian penerus ketua sekte, salah satu bagian tersulit di dalamnya ialah murid itu harus mempunyai kemampuan untuk mengendalikan setidaknya seratus jenis senjata yang berbeda dengan penguasaan ketrampilan ahli.


Jadi wajar sahaja bagi Feng Syaoran mampu memukul mundur Lin Zhao karena dia mempunyai pengalaman yang lebih tinggi berbanding Lin Zhao dalam pengendalian senjata.


Lin Zhao hanya menahan nafas sambil menelan air liur pahit pabila mendengar kata-kata Feng Syaoran, sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa bocah yang masih berusia tujuh tahun mempunyai kemampuan untuk membaca isi pikirannya.

__ADS_1


Setelah beberapa detik, Lin Zhao menghela nafas panjang, kecewa pabila dia tidak berkesempatan untuk berguru dengan seorang master pedang, "Baiklah, kalau mastermu mengatakan hal itu..."


Dia kembali menatap wajah Feng Syaoran lalu tiba-tiba tersenyum lebar, satu ide terlintas di kepalanya, hati Feng Syaoran segera mendapat firasat buruk, 'Waduh!'


Terus Lin Zhao memegang pundak Feng Syaoran dengan mata bercahaya, "Mastermu mungkin tidak dapat mengajariku, bagaimana kalau Ran'er sahaja yang mengajarkan ilmu pedang itu kepadaku?"


"HAH?!" Feng Syaoran terkejut, tidak menduga permintaan Lin Zhao yang satu ini.


Namun belum sempat Feng Syaoran membuka mulutnya, tiba-tiba kedua-duanya terdengar satu suara berteriak, "Lin Zhao! Apa kau ada di rumah? Lin Zhao!"


Feng Syaoran dan Lin Zhao saling berpandangan, saat itu kedua-duanya mempunyai pemikiran yang sama, 'Apa yang terjadi?'


Lin Zhao bergegas bergerak ke arah suara tersebut dan Feng Syaoran turut mengikutinya, tidak jauh dari pagar rumahnya, keduanya dapat melihat Wang Zen berlari mendekati mereka.


"Lin Zhao, cepat kau harus mengikuti aku!" Wang Zen berhenti pabila Lin Zhao dan Feng Syaoran berada di hadapannya.


"Hei, Mengapa? Apa yang terjadi?" Lin Zhao menjadi penasaran dengan tingkah Wang Zen, menurutnya Wang Zen bukanlah tipe orang yang mudah cemas seperti ini.


"Jangan banyak bertanya! Ikut sahaja aku." Kata Wang Zen sebelum berlari meninggalkan mereka berdua, Feng Syaoran dan Lin Zhao saling berpandangan heran sebelum mula mengejar Wang Zen menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Mereka terus mengikuti Wang Zen sehingga sampai di pintu gerbang desa, Lin Zhao mengerutkan dahinya melihat tempat itu dipenuhi dengan para penduduk desa, paling mencolok di antara mereka adalah seorang pria yang terluka pundaknya sedang panik sambil berkata sesuatu.


Wang Zen segera berseru lantang, "Bertenanglah, kepala desa sudah sampai!" Lantas semua perhatian di situ tertuju pada mereka bertiga.


Pria terluka tadi segera mendekati mereka, atau lebih tepatnya mendekati Lin Zhao, "Pak kepala desa, cepat... segera perintahkan.... para penduduk.... pergi dari sini.... secepat mungkin!" Ayatnya terputus-putus karena nafasnya yang tercungap-cungap.


Lin Zhao cuba menenangkannya, "Bertenang, saudara. Bertenang. Cuba katakan dengan jelas apa yang terjadi."


Pria terluka tadi mula mengatur pernafasannya sebelum berkata, "Kita harus pergi dari desa ini segera, pak kepala desa. Barusan di hutan, ada Stampede!"


Wajah Lin Zhao dan Wang Zen mendadak menjadi buruk pabila mendengar perkataan 'Stampede'.


Lantas, ada beberapa suara berteriak, "Dari tadi kau terus mengatakan hal sama sahaja! Stampede, Stampede, Stampede."


"Apa yang kau maksudkan dengan Stampede itu?"


Lin Zhao tiba-tiba berseru lantang, "Semuanya, tolong diam!"


Tempat itu segera menjadi hening seketika, Lin Zhao sekali lagi memastikannya, "Saudara, kau benar-benar pasti itu adalah Stampede?"


Pria terluka itu mengangguk kepalanya, mengiyakannya. Lin Zhao dapat melihat mata pria itu tidak menipunya, menghela nafas panjang.


Situasi ini sungguh sangatlah berat baginya, lantas dia menoleh ke arah Wang Zen, yang mengangguk pelan sebelum pergi menghadap kerumunan.


Lin Zhao berkata dengan nada yang kuat, "Saudara-saudari semua, mohon dengarkan perkataanku ini. Sekarang kita semua sedang berhadapan dengan situasi yang sangat serius. Desa Tianling kita ini diancam bahaya oleh Stampede."


Tiba-tiba seorang pria bertanya, "Pak kepala desa, apa itu 'Stampede'?"


"Stampede itu adalah serbuan para siluman ke suatu tempat, dan jika benar apa yang saudara ini katakan, desa ini berada di atas laluan serbuan para siluman itu."


Suasana tiba-tiba menjadi lebih gawat, para penduduk desa mula menjadi cemas apabila mengetahui makna dari Stampede dan mengetahui bahwa tempat tinggal mereka tidak lagi relatif selamat.


Lin Zhao meneruskan lagi kata-katanya, "Untuk itu, saudara-saudari sekalian, bagi menghindari korban yang sia-sia, kita terpaksa harus meninggalkan desa ini sesegera mungkin."


Keputusan itu mendapat berbagai macam reaksi dari para penduduk desa.


Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.

__ADS_1


__ADS_2