Lagenda Kaisar Siluman

Lagenda Kaisar Siluman
Ch 2: Kemiripan


__ADS_3

Keadaan gelap menyelubungi penglihatan Feng Syaoran, 'Hahaha... Pada akhirnya, aku tetap mati yah.'


Dalam kegelapan tersebut, ia merasa sangat sesak dan ditekan, Feng Syaoran berasa seperti ditenggelam air.


''Inikah rasanya kematian?''


Pikirannya saling bergentayangan, menyebabkan dia teringat kenangan-kenangan pahitnya.


Baik dia dahulu sampai sekarang, tidak pernah mempunyai teman yang begitu rapat dengannya, tanpa alasan lain. Ketika kedatangan Ling Meng sebelumnya, dia merasa diberkahi karena mendapatkan teman pertama setelah sekian lama di dalam hidupnya.


'Yah, mungkin kesalahannya padaku karena tidak mengetahui sifatnya yang sebenar dan terlalu mempercayainya.'


Saat itu, di hatinya terdetik 1001 penyesalan. Menyesal tidak mencari teman, menyesal karena tidak berhati-hati, menyesal tidak dapat membalas dendam, menyesal karena tidak dapat merasakan apa itu cinta dan banyak lagi penyesalan yang tidak dapat diungkapkan.


'Jikalau ada namanya kesempatan kedua, takkan ku sia-siakan hidup ku lagi.'


Dia berasa mahu hidupnya menjadi jauh lebih bahagia. Namun, ia merasa semua itu sia-sia.


Dia merasakan bahwa dia akan pergi ke alam baka.


'Paman Jing, Adik Liao, Bai Hu kecil, Guru Su, Ketua Ying, aku datang...' Feng Syaoran hanya pasrah.


Tiba-tiba secercah cahaya putih bersinar di hadapannya, perlahan-lahan semakin lama, semakin terang.


Kepalanya tiba terasa sakit dan berpusing. Badannya tiba-tiba terasa sakit yang amat, membuatkan tubuhnya terasa berat.


Ketika matanya terbuka, langit biru terbentang luas di hadapannya beserta sebuah pohon kayu yang digunakan akar sebagai bantalan.


''Ugh... Apa aku sedang berada di surga?''


Tidak mungkin... Surga apa kalau dia merasa sakit? Dia cuba bangun dari pembaringan ke posisi duduk, selama proses tersebut tulang di tubuhnya terasa seakan-akan patah semuanya.


Krak! Prak! Pruk!


''Ah... Ugh... Ergh...''


Seketika kemudian, dia melihat suasana di hadapannya dan benar-benar terkejut, ''Ini tubuh anak-anak?''


Matanya melihat sekelilingnya sebelum berhenti pada sebuah kolam air, terus digeraknya ke sana.


Dia membasuh wajah yang kotor dan membersihkan luka-luk-, tidak, lebam dan bengkak di seluruh tubuhnya. Sambil dia melakukannya, dia melihat wajahnya dari pantulan di permukaan air dan kali ini dia berdecak kagum.


''Aku kembali muda, yah? Beneran nih?''


Dia menjadi antusias karena kembali menjadi anak-anak. Dia memeriksa kondisi wajahnya, tiada luka kecuali badannya.


Seketika belukar di sebelahnya bergerak, Feng Syaoran reflek pantas menjauhinya. Kekuda dipasang cepat.


Kemudian, keluar seorang anak perempuan yang imut terlihat berusia lima atau enam tahun keluar dari belukar itu. Seketika, wajahnya melihat ke arah Feng Syaoran sebelum berlari sukacitanya ke arahnya.


''Syao gege!'' Teriaknya gembira bercampur cemas sambil memeluknya.


Feng Syaoran kebingungan.


''Huh?! Apa? Siapa kau? Bagaim-. Urgh...'' Kepala berdengung, tiba-tiba merasa sakit yang amat setelah melihat anak perempuan itu.


Kedua tangannya segera memegang kepala dan membungkuk. Seketika, ingatan dari tubuhnya itu meresap perlahan-lahan ke dalam kepalanya dan hal ini berlangsung selama beberapa menit.


Kali ini, dia mengetahui bahwa dia bukan di surga melainkan di dunia lain.


Feng Syaoran adalah nama kepada tubuhnya yang baru ini, sememangnya mempunyai kemiripan dengan dirinya di kehidupan sebelumnya, baik dari wajah hingga namanya. Di kehidupan barunya ini, dia merupakan putra kepada seorang walikota dan selirnya yang ketiga.


Bermula, dari umur 3 tahun, dia diketahui mempunyai keterlambatan dalam kultivasi membuatkan dia dan ibunya dilayan dengan dingin oleh ayahnya.


Isteri ayahnya bersama dengan selir pertama dan selir kedua sepakat menghalau mereka dari kediaman utama, oleh karena itu mereka terpaksa pulang ke Desa Tianling, kampung halaman ibunya.


Bahkan di desa, dia seringkali diganggu oleh orang-orang karena tidak berbakat dalam kultivasi menyebabkan dia dipanggil sampah kultivasi.


Sekarang dia berumur 7 tahun dan dia hanya mampu melepasi Tahap Pemula, level 1, tahap paling awal dan mendasar dalam dunia kultivasi sedang orang-orang yang seumuran dengannya palingan telah mencapai Level 7.


Dengungan di kepalanya mula berkurangan dan menghilang. Feng Syaoran mula memahami dia telah kembali pada awal, bermaksud ketika dia masih sampah kultivasi.

__ADS_1


''Syao gege, kau tidak apa-apa? Syao ge ke mana sejak pagi tadi? Semua jadi risau, kau tahu?'' Sepasang mata polos memandangnya cemas.


''Ah... Tidak, aku tidak apa-apa, Mei'er. Hanya berlatih di hutan seperti biasa.'' Tangan Feng Syaoran secara reflek mengusap kepala anak perempuan di hadapannya, cuba menenangkannya.


Berdasarkan ingatan tubuh ini, anak perempuan dihadapannya ini bernama Lin Sumei yang lebih muda dua tahun dari Feng Syaoran iaitu lima tahun. Walaupun dia lebih muda dari Feng Syaoran, Lin Sumei merupakan anak berbakat dalam kultivasi karena berada di Tahap Ahli, Level 11.


Ayahnya Sumei, Lin Zhao merupakan kepala Desa Tianling juga adik kepada ibunya yang berumur 39 tahun yang telah mencapai Tahap Raja, Level 48, sebagai orang yang terkuat di desa. Nama ibunya Feng Syaoran ialah Lin Lingjia.


Ini berarti dia dan Sumei adalah sepupu dekat.


Lin Sumei melihat kondisi luka di tubuh Feng Syaoran bertanya, ''Syao gege, Ming Dao masih memukulmu lagikah?''


Feng Syaoran hanya tersenyum pahit mendengarnya.


Dalam ingatannya, Ming Dao merupakan salah satu dari orang-orang yang suka mengganggu dan menindasnya karena selepas mengetahui bahwa dia seorang sampah kultivasi.


Dia dan konco-konconya terkenal karena suka menindas orang yang lebih lemah daripada mereka di kalangan penduduk desa dan tiada siapa yang berani menegurnya karena Ming Dao merupakan anak kepada kepala Keluarga Ming, orang kedua terkuat di Desa Tianling. Apatah lagi anggota Keluarga Ming dari dulu lagi terkenal sombong dan licik.


Memang benar jikalau Ming Dao bersama konco-konconya memukulnya dengan teruk-. Tidak, lebih tepat mereka membunuhnya kok. Karena itu, dia diseret kemari.


''Cih, Ming Dao makin lama makin melampau! Tunggu nanti, Syao ge. Selepas kita kembali ke desa nanti, aku tumbuk mukanya kuat-kuat untuk membalasmu.'' Tangannya yang mungil ditumbuk ke telapaknya. Mata Lin Sumei tampak berapi-api.


''Eh, jangan! Nanti dia bisa mati.'' Feng Syaoran menegah.


''T-tapi, kenapa? Bukankah dia yang memulainya?''


''Memang dia yang memulainya. Tapi, Paman Zhao bisa kerepotan nanti.''


Ming Dao berada di Tahap Pemula, Level 8 sedangkan Lin Sumei di Tahap Ahli, Level 11.


Andaikan jika satu tinju Lin Sumei dihayun ke muka Ming Dao, sudah cukup mampu membuatnya remuk. Feng Syaoran tidak mahu membayangkannya.


Jikalau itu terjadi, tidak mungkin mereka akan hidup dengan aman karena kepala Keluarga Ming pendendam orangnya.


Lin Sumei mula menjadi cemberut tanda masih tidak berpuas hati. Feng Syaoran hanya tertawa kecil melihatnya, terhibur dengan keperibadian anak perempuan di hadapannya.


''Syao gege... Seriuslah ini... Jangan tertawa pula.''


''Hahaha... Oke, oke, habis sudah.''


''Benarkah? Apa yang Syao gege akan lakukan?'' Lin Sumei menjadi antusias dengan kata-kata Feng Syaoran.


''Rahsia. Tidak seru jika diberitahu sekarang. Baiklah, ayo pulang. Mungkin bibi dan ibu sedang memasakkan sesuatu yang enak?''


Lin Sumei hanya mencebir mendengarnya. Dia mengikuti langkah Feng Syaoran berjalan ke rumah mereka.


Keluar dari hutan, sekali lagi hati Feng Syaoran bergetar hebat. Hatinya berdecak kagum.


'I-ini... benar-benar di dunia lain atau surga nih?'


Matanya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sememangnya sebuah fantasi yang menakjubkan. Mereka berjalan di tebing tinggi yang memperlihatkan kepadanya sebuah pemandangan yang luar biasa.


Gunung-gunung tiga kali lipat lebih besar berbanding kehidupan sebelumnya. Pulau terapung yang mempunyai air terjun dan berbagai makhluk dan tumbuhan yang aneh berada di sekelilingnya. Hanya dengan sekali tarikan napas, Feng Syaoran dapat mengetahui aura alam di dunia ini lebih kental berbanding kehidupan sebelumnya.


Ah... Kepalanya berisikan berbagai soalan namun hampir semua tidak mampu dijawab olehnya sendiri. Dia mengambil keputusan mengabaikannya sahaja.


Selepas 20 menit berjalan kaki, akhirnya mereka tiba di sebuah gerbang masuk bertanda Desa Tianling menandakan mereka telah sampai ke desa.


Feng Syaoran dapat melihat suasana desa itu di waktu siang hari. Desa ini merupakan salah satu daripada desa yang menjalankan pertanian sebagai pemasukan mereka.


Orang-orang sedang mengumpulkan alat tani mereka dan berjalan pulang ke rumah.


Terdapat beberapa penduduk desa yang menyapa mereka di tengah jalan. Ada di antara mereka ada yang berbisik-bisik melihat kondisi Feng Syaoran dan ada yang menggeleng sahaja. Bersimpati.


Lima menit berjalan dari gerbang, mereka sampai ke sebuah rumah bata yang sederhana besar di hujung desa. Tempat tinggalnya yang baru sejak saat itu.


Menurut ingatan barunya, ini merupakan rumah kakeknya beli di masa mudanya setelah merasa lelah berpetualang dan menikah dengan nenek. Keluarga pamannya tinggal di sini sebelum mengajak ibunya tinggal bersama.


Feng Syaoran mengingatkan Lin Sumei, jangan mengatakan siapa yang memukulnya. Lin Sumei hanya mengangguk malas.


Dari luar sudah tercium bau yang sangat wangi dan enak. Feng Syaoran kaget, tidak menyangka tebakannya benar-benar terjadi.

__ADS_1


''Kami pulang!'' Teriak Lin Sumei sambil masuk ke dalam rumah. Tanpa menunggu, dia terus berlari ke dapur. Mengejar makanan barangkali.


Feng Syaoran hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Lin Sumei. Dia kemudian menutupi pintu setelah memasuki ke dalam rumah.


''Susu, apa kamu sudah ketemu sama Ran'er?'' Sejurus suara itu kedengaran, keluar seorang pria dewasa dari sebuah bilik di sebelah kanan sebelum dia memandang ke arah Feng Syaoran, ''Ah, Ran'er! Paman baru bercadang hendak keluar mencari kalian. Ke mana sahaja...''


Lin Zhao melihat kondisi tubuh Feng Syaoran tidak jadi berkata apa-apa lagi karena terkejut.


''Mengapa dengan tubuhmu? Kenapa penuh dengan luka-luka begini? Siapa yang melakukannya? Kamu memaksa latihan terlalu keras lagi, kah?''


Lin Zhao segera memeriksa kondisi tubuhnya. Pamannya itu terlalu terkejut sehingga bertanya dengan nada yang kuat bahkan kedengaran sehingga ke dapur. Ibu Feng Syaoran, Feng Lingjia bergegas ke ruang hadapan.


Dia juga terkejut melihat kondisi tubuh Feng Syaoran persis seperti yang diberitahu oleh Lin Sumei tentang kondisinya.


''Ran'er, mengapa dengan tubuhmu? Apa yang terjadi?'' Lin Lingjia khawatir dan cemas melihat kondisi putranya teruk. Walaupun sebelumnya Feng Syaoran pernah pulang terluka karena dipukuli, tapi tidak pernah separah ini.


Segera dia menarik Feng Syaoran duduk ke bangku sebelum pergi ke dapur semula dan kembali membawa bekas air dan handuk. Lin Lingjia mencelupkan handuk ke dalam air dalam bekas dan peras sampai setengah kering. Dia mengelap handuk itu untuk ke setiap luka yang berada di tubuh Feng Syaoran bagi menghilangkan kesan merah darah.


Sesekali dahi Feng Syaoran mengerut menahan sakit di tubuhnya setiap kali tempat lukanya dibersihkan. Lin Sumei datang ke ruang hadapan membawa obat-obatan sebelum membantu di dapur.


''Sabar ya, nak. Tahan bentar lagi.'' Pujuk Lin Lingjia di samping tangannya menyapu obat yang dibawa oleh Lin Sumei di tempat yang terluka sebelum hati-hati dibungkus dengan perban.


Lin Zhao terus menatap wajah Feng Syaoran dengan serius sebelum berkata, ''Ran'er... Jujur denganku. Siapa yang melakukannya?''


''Eh... Aaa... Itu... Yah.'' Feng Syaoran ragu untuk menjawabnya.


Lin Zhao memeriksa semula kondisi tubuh keponakannya itu sebelum mendiagnosis, ''Tangan kanan, lima tulang rusuk dan kaki kiri, semuanya keretakan. Otot pula membengkak dan kulit sepertinya luka sayatan benda tumpul. Jelas sekali jika dilihat Ran'er dipukul dengan benda tumpul berkali-kali.''


Mata Lin Lingjia melebar sementara badan Feng Syaoran bergetar sesaat. 'Akurat banget.'


''Ran'er, beritahu kami. Siapa yang melakukannya?''


Kali ini giliran ibunya pula bertanya dengan wajah yang gelap. Feng Syaoran hanya tersenyum pahit apabila dia merasakan udara sedikit bergetar.


''Itu perbuatan Ming Dao dan konco-konconya.'' Pintas Lin Sumei yang baru datang dari dapur bersama ibunya, Ling Tan.


Lin Lingjia dan Lin Zhao segera menoleh ke arah Lin Sumei.


''Mei'er, sudah kubilang jang-Umph.'' Mulut Feng Syaoran ditutup oleh tangan Lin Lingjia. Dia melihat semula ke arah Feng Syaoran, memastikannya.


Dilihat dari irisnya, Lin Lingjia dapat mengetahui bahwa Feng Syaoran benar-benar mengakuinya.


Seketika kemudian, udara di ruang hadapan rumah menjadi semakin tidak terkendali. Seakan-akan topan mula melanda ruang itu.


''Ling jiejie, bertenanglah. Rumah ini akan hancur.'' Ling Tan mula menjadi panik.


Feng Syaoran meneguk air liurnya melihat suasana itu. Dia berpendapat ibunya benar-benar marah kali ini.


''Kakak, tenanglah...''


Secara tiba-tiba, udara berhenti bergetar. Lin Lingjia bangun dari tempat duduknya, berjalan ke arah pintu.


''Ibu, ibu mau ke mana?''


''Ran'er, istirahatlah di rumah. Ibu tiba-tiba mempunyai urusan. Zhao'er, jangan halangi aku!''


Dalam hatinya, Lin Zhao mengumpat. Dalam semua perkara, kemarahan kakaknya adalah hal yang paling dia benci. Lin Lingjia akan hilang kendali jikalau dia dalam mode marah karena Darah Setan yang dimilikinya. Belum lagi kemampuan kakaknya itu pada Tahap Kaisar, Level 69.


Darah Setan mampu membuatkan pemiliknya mampu menambah kekuatan kemampuannya untuk dua kali lipat. Namun sebagai gantinya, pemiliknya akan kehilangan kesadarannya jika tidak mempunyai ketahanan mental yang kuat ketika menggunakannya.


Dengan kekuatan sedemikian, bila-bila sahaja dia akan bertindak sembarangan dan mampu menyapu habis Keluarga Ming jika dia mahu.


Namun, kali ini dia dapat merasakan hal yang sama dengan kakaknya. Dia semakin tidak tahan melihat keponakannya dihajar sehingga babak belur hampir setiap hari.


Lin Zhao juga bangun dari tempat duduknya, ''Kak, tunggu. Aku ikut.''


Terangkat kening Lin Lingjia mendengarnya. Sangkanya tadi adiknya mahu menahannya, kini dia tersenyum.


''Baiklah! Ayo pergi.'' Nampaknya Keluarga Ming perlu diberikan pelajaran hari ini.


''Ibu, Paman, tunggu dahulu.''

__ADS_1


Teriakan Feng Syaoran berjaya menahan dua orang yang kepanasan itu untuk segera pergi membuat perhitungan dengan Keluarga Ming.


Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.


__ADS_2