Lagenda Kaisar Siluman

Lagenda Kaisar Siluman
Ch 3: Jebakan


__ADS_3

''Ada apa, Ran'er?''


Tangan Feng Syaoran sudah meraih kedua tangan saat mereka berbalik.


''Tahan dulu. Jangan pergi.'' Feng Syaoran menarik keduanya mendekatinya.


''Ada apa, Ran'er? Istirahat sahaja di dalam.'' Lin Zhao memandang Feng Syaoran dengan serius.


''Tidak, enggak mau.''


Lin Lingjia sedikit marah, ''Masuk ke dalam. Jangan keras kepala. Ibu dan paman hanya punya sedikit perhitungan sahaja.'' Lin Zhao bersetuju dengannya.


'Udah gue ketebak sama pala lo.' Jikalau bukan karena dia berada didalam tubuh anak kecil, kata-kata itu sudah keceplosan.


Feng Syaoran sakit kepala dengan perilaku ibu dan pamannya yang kehilangan rasionalitasnya karena marah. Namun, dia hanya perlu melakukannya dengan cara perlahan sahaja karena sadar dia yang sekarang tidak bisa berbuat demikian.


''Ibu, paman, bersabarlah. Kendalikan amarah kalian. Jangan terlalu terbawa dengan perasaan.''


''Kamu tidak perlu ikut campur. Ini adalah urusan antara orang-orang dewasa.''


''Ibu, tapi korbannya aku di sini, berarti aku mempunyai hak untuk ikut campur.''


Lin Lingjia terkejut melihat kedegilan Feng Syaoran, atau lebih tepat kecerdasan si anak memahami situasinya. Bukan hanya dia sahaja, Lin Zhao dan Ling Tan juga menunjukkan reaksi yang sama, tidak menyangka.


Lin Sumei hanya mengarukkan kepalanya, tidak memahami.


''Ibu dan paman mau pergi ke rumah Keluarga Ming, bukan? Lebih baik jangan.''


''Mengapa? Apa Ming Dao mengancammu?'' Lin Zhao merasa aneh apabila diminta berbuat sedemikian.


''Kau mau ibu biarkan sahaja mereka? Setelah mereka meretakkan tulang anakku?'' Lin Lingjia masih mencuba meredam amarahnya.


''Tidak, Jangan! Kalau melakukannya sekarang, bahaya bukan untuk kalian berdua sahaja!''


Ling Tan merasa aneh, ''Apa maksudmu 'Bahaya bukan untuk mereka sahaja'?''


Feng Syaoran memandang Ling Tan, Lin Lingjia dan Lin Zhao berurutan, cuba mencari penjelasan lebih akurat.


''Bibi tau, mengapa mereka membuat taruhan dengan kita menggunakan properti keluarga di turnamen desa dua tahun lepas?''


Sudah menjadi aturan tidak bertulis, setiap tiga tahun sekali akan diadakan turnamen desa untuk anak-anak muda di Arena Penyelesaian. Tidak hanya itu, saat turnamen berlangsung, dendam atau taruhan pribadi akan diselesaikan di sini untuk beberapa keluarga yang saling bermusuhan karena tiada aturan untuk tidak mencederakan atau mencacatkan kontestan.


Dua tahun lalu, Feng Syaoran melalui debut pertamanya untuk menyertai turnamen desa karena had umur kontestan antara lima hingga 17 tahun.


Keluarga Ming mengetahui kemampuannya yang tiada apa-apanya, dengan licik membuat taruhan properti mereka iaitu kawasan pemburuan siluman dengan keluarga mereka untuk mengambil kebun rumput air.


Keluarga Lin tidak bisa menolaknya karena itu tabu bagi seseorang untuk menolak taruhan ketika turnamen desa diadakan.


Hasilnya, Feng Syaoran dibantai oleh Ming Dao di atas arena dan kebun rumput air Keluarga Lin diambil. Lin Zhao dan Ling Tan tidak menyalahkan Feng Syaoran karena mereka mengetahui kondisi tubuhnya, melainkan merasa frustrasi karena dijebak.


''Jangan-jangan, mungkin mereka akan bertaruh lagi untuk mengambil sesuatu dari kita lagi?'' Ling Tan menebak.


Feng Syaoran tersenyum lebar dan mengangguk tanda setuju. Lalu dia melirik pada Lin Zhao.


''Iya, bibi benar. Kemungkinan yang diincar nanti adalah jabatan paman sebagai kepala desa.''


Lin Zhao membantah, ''Tidak mungkin! Ming Dan perlu menantang aku kalau dia mahukan jabatan kepala desa. Lagi pula, apa hubungannya dengan masalah kali ini?''


Lin Tan menghembuskan napas perlahan menandakan dia telah memahami situasi ini.


Dia menjelaskannya, ''Sayang, Ran'er cuba katakan ialah jika kalian pergi membuat perhitungan dengan Keluarga Ming sekarang, mereka akan menggunakan Aula Pengadilan untuk menjebak kalian dengan tuduhan membuat kekacauan. Kita tidak mempunyai bukti untuk membela tindakan kalian. Jika itu terjadi, seluruh properti keluarga kita akan disita dan jabatanmu sebagai kepala desa akan dicopot. Itulah yang ditunggu oleh Keluarga Ming, agar kalian dapat dijebak.''


Lin Zhao menepuk dahinya, Lin Lingjia tersandar di dinding. Mereka dapat menangkap apa yang bakal berlaku di masa depan jikalau mereka bertindak sembarangan.


Bukan hanya mereka berdua sahaja, seluruh keluarga mereka akan kehilangan harta mereka dan tiada tempat untuk mereka di desa ini lagi. Mereka hanya akan hancur.

__ADS_1


Lebih buruk lagi, kepala Keluarga Ming, Ming Dan merupakan orang terkuat setelah Lin Zhao, akan menjadi kepala desa yang selanjutnya jika dia diturunkan.


Itu akan membuatkan kedudukan Keluarga Ming semakin kuat di desa, membuat masa hadapan Desa Tianling menjadi lebih gelap.


Lin Lingjia kehilangan warna wajahnya saat berhadapan dengan pernyataan itu lalu terduduk layu.


''Kenapa? Kenapa hal seperti ini terjadi? Apa aku tidak punya hak langsung untuk membela keluargaku? Kenapa nasib sial selalu menimpaku? Apa salah aku? Apa salah anakku? Kenapa hidup keluargaku selalu tidak aman? Kenapa...?''


Semua orang di rumah merasa pilu mendengar tangisan Lin Lingjia.


Lin Sumei melihat suasana itu mula memegang lengan baju Feng Syaoran dengan tangan bergetar hebat, sambil meneteskan air matanya.


Ling Tan mengambil inisiatif untuk memeluk kakak iparnya itu, berbagi rasa dengannya. Bagi Ling Tan, Lin Lingjia antara orang yang sangat berharga baginya setelah dia menyelamatkannya dari bandit yang cuba memperkosa dirinya dahulu. Dan karena Feng Lingjia jugalah dia mendapatkan tempat untuk tinggal dan dipertemukan dengan belahan jiwanya iaitu Lin Zhao.


Lin Zhao menundukkan wajahnya sambil mendengus keras dengan tangan mengepal kuat dan hanya mampu menggigit bibirnya, setelah sadar bahwa keluarganya akan terancam disingkirkan cepat atau lambat.


Rencana yang kukuh diperlukan sekiranya mahu mempertahankan hak dan properti keluarganya.


Situasi menjadi sunyi selama beberapa menit, selain tangisan Lin Lingjia yang memenuhi ruangan, sebelum Feng Syaoran tiba-tiba berdiri. Dia berjalan menuju ibunya sebelum meraih tangannya dan menempatkannya di kepala.


''Ibu, ibu janganlah menangis. Memang situasi kita tidak menguntungkan tetapi bukan berarti kita tidak mampu memberikan perlawanan.''


Lin Zhao segera menoleh ke arah Feng Syaoran sebelum bertanya, ''Kamu sudah memikirkan rencananya, Ran'er?''


''Tidak, aku belum memikirkannya.'' Feng Syaoran menggeleng. Dia dapat melihat ekspresi kecewa timbul pada wajah Lin Zhao.


Feng Syaoran tersenyum tipis, ''Apa paman mengharapkan aku dapat memikirkan rencana yang bagus dengan kondisiku saat ini?''


Mendengar itu, Lin Zhao hanya menelan air liur pahitnya, terasa bodoh apabila sedikit mengharapkan anak yang masih berusia tujuh tahun untuk membantunya hanya karena dia menunjukkan kecerdasan yang tinggi untuk anak seusianya sebentar tadi.


Ditambah pula dengan kondisi tulang keretakan di tubuh anak itu tidak memungkinkannya untuk berpikir dengan jernih.


Di sisi lain, dia berasa kagum melihat Feng Syaoran. Dalam hatinya, Lin Zhao tidak menduga Feng Syaoran mampu kembali ke rumah dalam keadaan seperti itu.


Kebiasaan untuk anak-anak seusianya tidak akan mampu menahan rasa sakitnya dan tidak mampu bangun dari pembaringan apatah lagi bergerak leluasa. Namun, Feng Syaoran berbeda.


Tiba-tiba...


Kriiiuuukk...


Suara perut berbunyi datang dari arah Feng Syaoran, membuatkan dirinya tersipu malu.


Bunyi itu juga membuatkan Lin Sumei berhenti menangis. Lin Lingjia dan Ling Tan pula tersenyum tipis melihatnya manakala Lin Zhao hanya tertawa kecil.


Ling Tan segera menepuk tangannya beberapa kali, menarik perhatian.


''Baiklah, rencana memang penting. Tetapi untuk sekarang, mari kita tenangkan pikiran dengan makan dahulu. Susu dan Ran'er, segera pergi mandi dahulu. Hari sudah mahu malam dan belum lagi, kalian bau.'' Kata Ling Tan menutup hidung sambil menunjuk ke arah tingkap, langit sudah terlihat warna orenye. Dia kemudian berlalu ke dapur menyediakan makanan.


''Aku enggak bau!''


Lin Sumei menjadi tidak karuan mendengar candaan ibunya sebelum tercium-cium bau tubuhnya.


Candaan Ling Tan dan tingkah Lin Sumei sedikit sebanyak telah berjaya mencairkan suasana yang suram sebentar tadi.


Feng Syaoran sangat menikmati kesenangan hidup yang telah lama tidak dirasai ini, mengesat matanya yang berair. Dia bersumpah untuk dirinya yang dahulu, akan menjadi lebih kuat di dunia ini supaya dapat melindungi keluarganya.


Senja itu rumah itu penuh dengan kebisingan walaupun sedikit suram tetapi cukup untuk membuatkannya terlihat hidup.


Waktu berlalu dengan pantas.


Malam itu, tepatnya setelah semua orang tertidur lena, kelihatan Feng Syaoran masih lagi tenggelam dalam meditasinya di atas katilnya.


Di alam bawah sadar, dia sedang duduk bersila di dalam satu ruang yang gelap, namun dikelilingi oleh ribuan aksara-aksara emas yang aneh.


'Untung aku mempelajari ilmu penyimpan ingatan ini di kehidupan sebelumnya dahulu. Semua ilmu beladiri yang telah aku pelajari dapat disimpan dan diingati. Tidak sangka sangat berguna pada hari ini.' Detik hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Feng Syaoran mengangkat jarinya, selusin aksara emas keluar dari jalur lingkaran dan segera terbang ke arahnya lalu langsung menembusi kepalanya, dia terus mengingati ilmu beladiri yang dipelajarinya itu.


'Jurus Napas Pertapa...'


Jurus ini mampu membuatkan penggunanya mampu mengambil aura alam di udara secara maksimal untuk dijadikan sebagai tenaga dalam dengan segera.


Jurus napas ini juga membuatkan jantung pengguna berdegup lebih kencang berbanding biasa dan memaksimalkan kecepatan aliran darah ke seluruh tubuh untuk membantu kecepatan pengaliran tenaga dalam.


Feng Syaoran menggunakan Jurus Napas Pertapa untuk menyerap aura alam dengan cepat. Nafas Pertapa ini menyembuhkan dirinya dengan kecepatan luar biasa dan secara simultan mendeteksi masalah di tubuhnya.


Di dalam tubuhnya, dia mengetahui bahwa tubuh barunya ini mempunyai masalah lambat dalam perkembangan kultivasi untuk meningkatkan levelnya.


Alasannya hanya satu, karena tubuhnya mempunyai sembilan dantian namun anehnya, setiap dantian mempunyai satu elemen. Dalam tubuhnya ini terdapat elemen api, air, angin, bumi, cahaya, bayangan, racun, kayu dan yang paling aneh sekali ialah elemen darah.


Umum baginya dalam dunia persilatan, kultivator yang mempunyai dantian lebih daripada empat akan dicap sebagai tidak berguna karena terlalu lambat dalam kultivasi.


Namun tidak bagi Feng Syaoran. Dia sangat mengenali kondisi tubuhnya ini atau lebih tepatnya akrab dengan kondisi tersebut. Dirinya di kehidupan sebelumnya juga mempunyai masalah yang sama.


Apa yang membezakan ialah dirinya yang dahulu mempunyai enam dantian dengan satu elemen pada setiap satunya iaitu elemen api, air, tanah, angin, racun dan kayu. Bermakna dia mempunyai tambahan tiga elemen baru iaitu cahaya, bayangan dan darah dan satu peningkatan elemen iaitu dari elemen tanah ke elemen bumi.


Perbezaan elemen tanah dengan elemen bumi ialah, elemen tanah mempunyai kemampuan pengendalian sihir tanah sahaja. Tetapi, elemen bumi mempunyai pengendalian lebih sekedar tanah, iaitu elemen besi, batu, berlian, kristal dan sejenisnya. Jelas orang yang mempunyai elemen bumi sangat langka dan sangat kuat serta dikehendaki ramai karena


Untuk elemen cahaya pula, ia mempunyai attribut suci yang mampu menyingkirkan roh-roh jahat dan setan. Biasanya orang yang memilikinya akan sangat disambut di kuil-kuil keagamaan karena semakin banyak pelatih yang mampu berkontribusi kepada masyarakat, semakin kuat kedudukan sekte mereka.


Cara ini biasa dilakukan oleh para pendeta sekte aliran putih yang bersifat keagamaan di kehidupan sebelumnya.


Manakala, elemen bayangan mempunyai attribut kegelapan yang misterius. Orang-orang sering menganggap orang yang memiliki elemen bayangan dikaitkan dengan aliran hitam dan merupakan jelmaan iblis. Bahkan Si Raja Iblis Merah Gao Lang mempunyai dantian dengan elemen kegelapan mampu membuatnya mendominasi aliran hitam.


Feng Syaoran tidak mengerti bagaimana dua elemen yang saling bertentangan berada di tubuh barunya, kecuali mengetahui kedua-duanya saling mengimbangi antara satu sama lain sama seperti Yin dan Yang.


Dan untuk elemen darah adalah hal yang tidak mampu difahami olehnya, boleh dikatakan elemen ini baru baginya. Untuk lebih memahami elemen ini, dia perlu mencari tahu informasi tentang dunia ini. Satu-satu hal yang terpikirkan olehnya ialah perpustakaan desa.


Dia berencana untuk pergi ke perpustakaan desa, agar dapat memahami banyak perkara di dunia ini dan membantunya menjalankan rencananya untuk menjadi kuat agar dapat membalas kejahatan yang dilakukan oleh Keluarga Ming kepada keluarganya.


Sementara itu, di kediaman Keluarga Ming.


Terlihat tiga orang duduk di pondok, atas kerusi kayu duduk berdiskusi beberapa perkara.


''Ayah, kelihatannya Keluarga Lin tidak akan bergerak malam ini. Jadi, apa kita perlu menggunakan lebih kekerasan?'' Seorang pemuda terlihat berusia 15 tahun bertanya kepada pria yang berjanggut lebat di situ.


''Tidak perlu, jika kita melakukannya lagi, Aula Pengadilan akan curiga dengan kita. Belum lagi, Lin Zhao mungkin akan menggunakan jebakan kali ini untuk mendapatkan bukti. Kita tidak boleh terlalu gegabah.''


Pria sepuh lainnya hanya mengusap janggut putihnya yang panjang sambil mengangguk perlahan.


Pria berjanggut lebat itu menyambung lagi, ''Tetapi kali ini jangan risau. Keluarga Lin itu tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Cepat atau lambat, turnamen desa akan diadakan pada musim panen tahun ini. Hanya tiga bulan sahaja yang tinggal, jadi itu tidak masalah. Tidak lama lagi, semua properti keluarga itu dan jabatan kepala desa akan menjadi milikku nanti dan Keluarga Lin tidak mempunyai tempat lagi di desa ini lalu...'' Pria berjanggut lebat itu melihat ke arah pria berjanggut putih tadi, ''Saudara Gu Bei...kita akan rompak mereka ketika mereka keluar desa. Hahaha...''


Di dalam pikirannya, sudah berbagai rencana kotor dan licik telah dirancang untuk Keluarga Lin. Dendamnya kepada Lin Zhao telah mengambil posisi kepala desa daripadanya sangatlah dalam.


Pria berjanggut putih tadi, Gu Bei tertawa bersama sambil memuji, ''Kepala Keluarga Ming Dan memang seorang yang licik dan bijak.''


Pemuda tadi berasa ragu dengan perkataan Ming Dan.


''Tapi ayah, si gadis Lin Sumei itu sudah berusia lima tahun pada tahun ini, sudah tentu dia yang akan memasuki turnamen desa dan menjadi harapan Keluarga Lin itu nanti.''


Kedua pria tua itu berhenti tertawa. Ming Dan mengusap janggutnya memikirkannya, 'Benar juga, apatah lagi gadis kecil itu jenius. Mampu mencapai Tahap Ahli di usia lima tahun. Tiga bulan itu bukan tidak mungkin baginya naik level lebih tinggi lagi.'


Gu Bei mula bersuara, ''Tidak mengapa, Ming Zhong. Hanya dia sahaja akan menjadi harapan Keluarga Lin itu. Keluargamu ini akan memberikan kamu dan Ming Dao sumber daya yang cukup untuk meningkatkan level kalian. Kalian hanya perlu giat berlatih dan fokus pada gadis kecil itu sahaja. Si bocah sampah itu bukanlah ancaman bagi kalian.''


Sambil menganggukkan kepalanya, Ming Dan bersetuju, ''Benar kata pamanmu ini. Kita tidak perlulah risaukan anak gadis itu. Lakukan sahaja apa yang kami arahkan dan kita akan berjaya.''


''Baiklah ayah, paman. Saya paham.''


Ming Dan tersenyum lebar melihatnya sebelum memandang ke satu arah.


'Tunggu kau, Lin Zhao sialan.'

__ADS_1


Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.


__ADS_2