
Ming Dao berjalan ke arah Feng Syaoran dan Lin Sumei, pandangan merendah masih tidak luput dari wajahnya.
Lin Sumei melihatnya mendekati mereka segera bergerak ke hadapan untuk melindungi Feng Syaoran. Dia dapat merasakan Ming Dao dan konco-konconya itu ke mari tentu bukan dengan niat yang baik, apatah lagi dia telah berjanji dengan ayahnya akan melindungi Feng Syaoran.
Tepat setelah berada dalam jarak satu meter, anak laki-laki yang seumuran dengan Feng Syaoran itu pun berhenti lalu menyeluruhi mereka berdua atau lebih tepat lagi menyeluruhi Feng Syaoran. Sesekali dia melirik kepada arah Lin Sumei sebelum melihat ke arah Feng Syaoran semula.
Dalam hatinya, Feng Syaoran mengumpat, "Dasar bocah sialan..."
Dia tidak mengetahui kenapa dia marah melihat ada orang selain ahli keluarganya yang tertarik dengan Lin Sumei. Mungkin semenjak dia hidup di dunia ini, dia menjadi seorang siscon. Atau mungkin Feng Syaoran yang dahulu benar-benar seorang siscon?
"Apa yang kau mau, Ming Dao?" Belum sempat Ming Dao membuka mulut, Lin Sumei mula bertanya. Matanya menunjukkan waspada dengan Ming Dao.
Ming Dao kaget sesaat sebelum tersenyum penuh makna, "Oh tiada apa-apa. Hanya penasaran sahaja." Mula bergerak mengelilingi mereka berdua.
"Aku dengar kau masih mampu keluar dari rumah bahkan setelah dihajar sehingga babak belur kemarin, Feng Syaoran. Aku ke sini hanya untuk melihatnya sahaja apakah yang anak buahku laporkan itu benar atau tidak. Ternyata ia memang benar ya?" Ming Dao mulai mendekat sebelum Lin Sumei mula menghadangnya.
"Jangan mendekat lagi atau aku akan menjadi lebih kasar daripada ini." Lin Sumei mengancam.
Amaran daripada Lin Sumei itu membuatkan Ming Dao dan konco-konconya terdiam sejenak sebelum tertawa kuat. Lin Sumei melihatnya terangkat kening manakala Feng Syaoran hanya berdiri tegak tanpa sebarang ekspresi di wajahnya.
Ming Dao mula kehabisan nafas karena tertawa segera menarik nafas panjang dan melihat ke arah Lin Sumei. "Lin Sumei, semakin hari bukan sahaja semakin cantik, tapi juga semakin pandai bercanda pula ya?" Lalu menyambung tertawa bersama konco-konconya.
Lin Sumei memandang mereka dengan ekspresi jijik di wajahnya apabila mendengarnya. Feng Syaoran masih memiliki ekspresi yang sama, kosong. Tetapi, urat hijau mulai keluar dari dahinya.
Yap, dia telah menjadi seorang siscon.
"Hei, Sumei. Daripada menghabiskan masa dengan si sampah kultivasi itu, bagaimana kau pergi denganku? Kita kan sama-sama jenius desa. Tak salah bukan kalau kita sebagai sama-sama orang jenius saling berteman, kan?"
'Mau berteman dengan adikku? Melangkah mayat aku dahulu, brengsek!' Feng Syaoran menjerit di dalam hatinya.
Terdapat juga beberapa penduduk desa yang tertarik dengan adegan itu berhenti untuk melihatnya.
Lin Sumei terdiam mendengarnya, lalu mula memandang Feng Syaoran yang terlihat masih dengan ekspresi kosong di wajahnya tanpa menyadari urat hijau mula bercabang di dahinya. Kemudian dia memandang ke arah Ming Dao yang masih menunggu jawabannya, mula tersenyum penuh makna.
"Kau mau tahu sesuatu, Ming Dao? Kau telah melakukan tiga kesalahan untuk berteman denganku."
Wajah Ming Dao mula menjadi gelap, "Apa itu?"
"Pertama, kau memanggil aku Sumei padahal kita belumpun berteman lagi tapi kau sudah memanggilku seolah kita ini sudah akrab. Itu pertanda kau tidak menghormati aku jadi mengapa aku perlu berteman dengan orang yang dari awal mulanya tidak mau menghormati aku?"
Feng Syaoran mula tersenyum tipis melihat Ming Dao dan konco-konconya terdiam mendengar kata-kata Lin Sumei terasa pedas itu.
"Kedua, barusan tadi kau mengatakan kakakku seorang sampah kultivasi, kan? Apa hak kau untuk menghina dia sebagai sampah kultivasi? Hanya karena kau mempunyai level yang sedikit lebih tinggi daripada dia, kau sudah mempunyai hak untuk menghina dia? Itu pertanda kau seorang yang tidak menghormati orang lain di sekitarmu dan orang-orang seperti dirimu hanya akan mengundang banyak masalah kepada teman-temanmu jadi mengapa aku harus berteman dengan orang yang akan membawa banyak masalah kepadaku?"
Ming Dao cuba memintas, "Tapi, dia-"
"Diam! Jangan memotong ucapanku!" Lin Sumei melihatnya dengan wajah tegang, seolah singa betina yang sedia melahap mangsanya.
Feng Syaoran menahan tertawa apabila melihat Lin Sumei mula terlihat seperti bibinya, Lin Tan yang sedang menceramahi Lin Zhao karena membuat masalah.
Dia semakin tersengguk-sengguk menahan tawa melihat wajah Ming Dao menahan amarahnya tetapi tidak mampu berbuat apa-apa karena takut dihajar sama Lin Sumei.
__ADS_1
Di sisi lain, penduduk desa yang melihat adegan itu semakin ramai karena semakin untuk tertarik melihatnya.
"Ketiga atau yang terakhir, karena tadi kau menghina kakakku sebagai sampah kultivasi, ku rasa kau memandangnya hanya seperti sampah, bukan seperti manusia. Bermakna kau menganggap ahli keluargaku bukanlah manusia termasuklah juga aku. Dan kau mau berteman denganku karena kau menghargai karena aku jenius bukan karena aku seorang manusia, kan? Itu pertanda kau semakin kehilangan sifat kemanusiaan di dalam dirimu. Jadi, kenapa aku harus bersetuju dengan orang semakin hilang sifat kemanusiaannya untuk menjadi temanku? Jika kau memahami apa yang kukatakan tadi, sila minggir sekarang karena kami mau pulang."
Lin Sumei segera memegang tangan Feng Syaoran lalu menariknya ke hadapan, menuju ke rumah. Tiada seorangpun yang berani menghalangi mereka karena takut dihajar sama Lin Sumei walaupun jumlah mereka lebih ramai.
Feng Syaoran tidak dapat menahannya lagi mula tertawa kecil, membuatkan dirinya menjadi perhatian Ming Dao dan konco-konconya. Bukan hanya dia sahaja, beberapa penduduk desa yang melihatnya juga melepaskan tawa bahkan ada yang tertawa lebih kuat daripada Feng Syaoran.
"Kau! Berani kau tertawakan aku?" Ming Dao bertempik dengan wajah berwarna merah dan nafas tidak teratur menahan marah dan malu. Karena Feng Syaoran dianggap sebagai lemah, dia melampiaskan kekesalannya kepada Feng Syaoran.
Feng Syaoran berhenti dan tersenyum penuh makna ke arah Ming Dao.
"Kalian melucukan." Katanya sengaja memanaskan suasana. Lin Sumei segera mencubit paha Feng Syaoran membuatkannya menjerit.
"Aduh. Gimana ada ketam tersesat di atas darat nih?" Feng Syaoran segera mengusap pahanya yang dicubit oleh Lin Sumei. Mesti akan bengkak nanti.
Ming Dao merasa terhina dengan perkataan Feng Syaoran sebentar tadi, menerkam pantas ke arahnya dengan tangan dikepalkan. Lin Sumei tidak sempat bereaksi apa-apa karena terlalu pantas. Para penduduk desa yang melihatnya juga terkejut melihat gerakan pantas Ming Dao.
Beberapa orang menganggap mustahil Feng Syaoran mampu menghindarinya.
Namun, Feng Syaoran tanpa melihat terus melentur ke belakang dengan tangan kanan menarik Lin Sumei ke belakang sambil meninggalkan kakinya di hadapan. Menghindari serangan Ming Dao.
Bukan sahaja serangannya tidak mengena, Ming Dao yang bergerak pantas itu terus tersandung kakinya oleh kaki Feng Syaoran dan bergulir beberapa meter di atas tanah dan berhenti di atas genang air lumpur.
Semua terjadi sekejap mata.
Semua yang melihat adegan itu terdiam. Baik itu Lin Sumei, para penduduk desa mahupun konco-konco Ming Dao. Ming Dao tidak berkata apa-apa lagi karena wajahnya diselaputi lumpur yang cuba disapu bersih.
"Mei'er, ayo kita pulang."
Lin Sumei tersentak apabila tangannya pula ditarik oleh Feng Syaoran dan hanya diam mengikuti sahaja. Dia ingin berkata sesuatu tapi Feng Syaoran memintas, "Di rumah sahaja."
Lin Sumei tidak jadi berkata apa-apa lagi dan hanya diam mengikuti sahaja Feng Syaoran menarik tangannya.
"Feng Syaoran! Sialan kau ******** sampah! Berani kau membuat aku terhina seperti ini?!" Ming Dao berteriak keras apabila berjaya membersihkan wajahnya dari lumpur.
Ming Dao baru sahaja ingin mengejar Feng Syaoran dan Lin Sumei apabila pundaknya dipegang seseorang.
"Jangan halang aku, sialan!" Ming Dao semakin panas apabila dia dihalang untuk mengejar mereka, menangkis tangan yang memegang pundaknya.
Tetapi, tekanan dari tangan yang memegang pundaknya itu semakin kuat. Ming Dao ingin melengking namun satu suara kedengaran.
"Sialan? Siapa yang sialan? Aku?"
Bulu kuduk Ming Dao segera merindik apabila mendengarnya kata-kata itu, atau lebih tepat lagi suara itu. Amarahnya hilang serta-merta digantikan dengan wajah yang pucat pasi karena ketakutan. Dia amat mengenali pemilik suara itu.
"Dao'er, apa kau sudah lakukan? Apa lupa apa yang ayah katakan? Jangan membuat masalah dengan Keluarga Lin sebelum sampai waktunya atau kau sememangnya tidak mau mendengar apa-apa?" Sambil berkata, pemilik suara itu mengeluarkan aura membunuh cukup membuatkan Ming Dao bergetar hebat.
"Zhong ge, a-aku...cu-ma..." Matanya yang melihat kakaknya itu mulai basah karena takut akan Ming Zhong.
"Diam! Siapa yang membenarkan dirimu berbicara? Kau sungguh memalukan keluarga dengan tingkahmu ini."
__ADS_1
Ming Dao langsung terduduk layu di atas tanah, badannya terasa mati rasa tidak mahu digerakkan. Antara semua orang, yang paling dia takuti selepas ayahnya ialah kakak laki-lakinya sendiri.
Di matanya, jika Ming Dan adalah seorang licik dan kejam, Ming Zhong pula adalah iblis yang bersembunyi di dalam bayangan keluarganya dan bila-bila masa akan keluar mencari mangsa. Ming Zhong adalah tipe orang yang tidak akan ragu menyingkirkan apa yang menghalangi jalannya.
"Sudah. Kita pulang. Dao'er, sebaiknya kau bersiap-siap. Kau akan mendapat hukuman dari ayah sebaik sahaja tiba di rumah nanti." Ming Zhong menjeling tajam Ming Dao yang sudah kehilangan nyalinya itu sebelum melihat ke arah dua orang yang telah menjauh dari mereka.
Matanya lebih terfokus kepada Feng Syaoran, karena dia juga berada di tempat ini dalam beberapa waktu yang lalu. Jadi, dia sempat melihat gerakan pantas Feng Syaoran menghindari serangan Ming Dao sebentar tadi. Jujur dia sememangnya terkejut melihat gerakan yang tidak biasa itu.
'Menghindar sambil menjatuhkan... Gerakan itu adalah gerakan yang paling mudah dan efisien yang belum pernah aku lihat sebelum ini. Dari mana sampah itu mempelajarinya?' Gerakan itu menimbulkan tanda tanya kepada Ming Zhong. Yang lebih menganjalkan hatinya, bagaimana Feng Syaoran sedang tercedera mampu bergerak sebegitu walhal dia juga mengetahui Ming Dao menghajarnya sehingga keretakan tulang ketika mereka menyeretnya ke hutan.
Ming Zhong curiga terhadap perubahan pada diri Feng Syaoran, bukan hanya dari segi kemampuan sahaja tetapi dari segi keperibadiannya juga.
Ming Zhong dapat melihat Feng Syaoran terlihat jauh berbeda berbanding dirinya beberapa hari lalu. Feng Syaoran terlihat lebih tenang dan berani. Matanya dahulu akan melihat Ming Dao dengan ketakutan sekarang hanya terlihat kosong, bahkan terlihat sedikit meninggalkan kesan merendahkan.
Bahkan setelah dia menghindari serangan Ming Dao tadi, Feng Syaoran sempat menoleh ke arahnya dengan melemparkan senyuman yang membuatkan tubuhnya merinding.
'Huh, itu mungkin hanya akting belaka. Tak mungkin Feng Syaoran akan menjadi antara orang-orang yang aku perlu diwaspadai pada turnamen desa tahun ini.' Detik hatinya untuk menenangkan dirinya. Dia merasa tidak mungkin Feng Syaoran yang hanya mencapai Level 1 itu mempunyai kemampuan mengalahkannya ketika turnamen desa tahun ini nanti.
Ming Zhong melotot ke arah orang-orang pula. Penduduk desa yang mengerumuni tempat itu yang segera bertebaran karena tidak mahu ikut terseret termasuklah konco-konco Ming Dao.
Ming Zhong segera berputar menuju ke rumahnya, "Ayo pergi!"
"Ah..." Ming Dao seolah terbangun dari lamunan, segera berdiri dari tanah. Dia merasakan sesuatu yang aneh di antara kakinya sebelum menyadari selangkangnya sudah basah.
Kemudian, dia terdengar bunyi beberapa orang-orang tertawa di sekitarnya karena pipis dalam celana dan merasa amat malu dan marah. Malu karena dipermalukan di khalayak dan marah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dendam dan kebenciannya menjadi semakin dalam. Kepada Feng Syaoran, dia jadikan target.
"Sial..."
*****
Malam itu, Feng Syaoran sedang menulis sesuatu di atas meja belajarnya dengan tekun. Di tangannya, terdapat sehelai kertas seukuran telapak tangan berwarna kuning berbentuk kubus ditulis cermat dengan tulisan aneh membentuk sebuah susunan.
Seperti yang diketahui, Feng Syaoran membuat sebuah kertas jimat umumnya digunakan untuk membuat sihir di dunia kehidupan sebelumnya. Dia menggunakan ilmu penambal ingatan untuk mengingati semula ilmu inkripsi yang dia telah pelajari sebelumnya.
Ilmu inkripsi ini mempunyai banyak bentuk. Antaranya ialah prasasti, simbol, jimat, susunan, lingkaran dan berbagai lagi. Yang paling terkenal di antara mereka adalah jimat di mana sebuah benda biasa menjadi sebuah alat sihir yang hebat setelah diletakkan beberapa tulisan inkripsi padanya.
Inilah penyebab muncul cara lain untuk berkultivasi iaitu menggunakan ilmu inkripsi. Di kehidupan Feng Syaoran sebelumnya, seorang ahli inkripsi sangatlah langka dan amat dihargai oleh semua sekte dan kekaisaran karena kemampuannya. Kekuatan seorang kultivator ahli sihir inkripsi mampu menandingi seorang kultivator beladiri yang berada tiga level lebih tinggi daripada dirinya.
Seorang kultivator mampu melakukan hal di luar nalar seperti menciptakan ruang demensi dan memanipulasi semua elemen dunia hanya menggunakan ilmu inkripsi ini. Bahkan Feng Syaoran dahulu mampu menjadi Kaisar Siluman Agung karena mempelajari ilmu inkripsi ini.
Tetapi, tidak semua kultivator mampu menjadi ahli inkripsi karena ia memerlukan otak yang sangat kuat untuk menahan beban ingatan yang tinggi daripada ilmu inkripsi ini. Individu yang dimaksudkan itu adalah orang tidak mempunyai apapun bakat kultivasi dalam beladiri atau fizikal tetapi dia seorang yang mempunyai kemampuan mental yang sangat tinggi. Bakat seperti itu hanyalah bisa dijumpai dalam ribuan tahun sekali bahkan mungkin di dunia ini.
Dalam artikata lain, ilmu inkripsi hanya boleh digunakan beberapa orang sahaja di dalam dunia ini.
Namun, Feng Syaoran berbeda. Dia jelas tidak mempunyai kemampuan mental ataupun otak yang mengikuti syarat yang diperlukan tetapi secara kebetulan dia mendapatkan ilmu penambal ingatan di mana ilmu itu mampu melatih otaknya menjadi lebih kuat untuk menahan beban ingatan yang tinggi.
Dalam waktu lima dupa, Feng Syaoran menyelesaikan kerjanya setelah membuat 34 kertas jimat. Dia bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke luar jendela.
Dia sempat melihat Lin Sumei fokus berkultivasi di atas batu besar di halaman rumah yang diawasi oleh Lin Lingjia.
Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.
__ADS_1