
Kota Burung Merah, sebuah kota besar yang megah ditambah pula dengan kedudukan strategisnya di tepi laut biru yang indah terlihat makmur dan aman, tetapi segala yang terlihat itu hanyalah pada permukaannya sahaja.
Di dalamnya, perebutan kuasa antara tiga keluarga utama di kota ini semakin memanas, memandangkan mereka sejak lama mempunyai hubungan yang tidak baik. Dengan sedikit provokasi dan tekanan, perang antara tiga keluarga utama ini boleh meletus pada bila-bila masa sahaja.
Di dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan di kediaman yang cukup besar yang berada di tengah Kota Burung Merah, terdapat seorang pria sepuh sedang meneliti beberapa lembar kertas di meja kerjanya yang cukup besar.
Wajahnya cukup serius menggambarkan betapa rumitnya masalah yang sedang dihadapinya.
Sesaat itu, seorang pria muda yang berpakaian seperti pelayan datang memberi hormat, "Patriak, orang yang anda tunggu sudah tiba. Beliau sedang menunggu anda di perkarangan saat ini."
"Oh! Kalau begitu, kamu bawa dia datang kemari." Balas pria sepuh itu.
Si pelayan menjawab, "Baiklah."
Beberapa menit kemudian, si pelayan kembali ke ruangan perpustakaan itu, terlihat di belakangnya sosok pria sepuh dengan baju berwarna abu-abu mengikuti.
Pria sepuh tadi yang sibuk memerhati tumpukan kertas, segera berdiri melihat kedatangan mereka, "Ketua Ning, saya telah menunggu kedatangan anda."
Si pelayan memberi hormat sebelum bergerak pergi, baru saja si pelayan berniat pergi sebelum pria sepuh tadi memanggilnya semula, "Tunggu!"
"Ya, Patriak? Ada apa-apa lagi yang diperlukan?" Si pelayan menoleh.
"Bawakan air Teh Bunga Embun Biru, pastikan kamu bawa serbuk tehnya dan sedikit air panas juga. Ah... jangan lupa bawakan juga beberapa kudapan ringan ya?"
Si pelayan menelan air liurnya, bukan dia tidak mengetahui tentang minuman yang diminta oleh pria sepuh di hadapannya ini.
Teh Bunga Embun Biru ini amat mahal di pasaran bahkan untuk membeli 100 gram sahaja membutuhkan sekeping koin emas, di mana nilainya boleh mencukupi uang sara hidup keluarga kecil selama satu setengah tahun.
Serbuk daun teh ini mempunyai banyak khasiat yang baik untuk tubuh badan dan yang paling ketara sekali adalah peminum akan mendapat efek ketenangan mental hanya dalam beberapa hirup tergantung pada level kultivasi seseorang itu, semakin tinggi level kultivasinya, semakin cepat efek ketenangan mental boleh dirasakan.
Dia pernah mendengar bahwa efek ketenangan mental ini sangat berguna kepada kultivator yang sedang mempelajari suatu buku ilmu, di mana mampu meningkatkan fokus mereka untuk mendalami sesuatu ilmu.
Diminta untuk menyediakan air teh yang sebegitu berharga pada tamu memberikan gambaran kepada si pelayan bahwa tamu ini sangatlah penting bagi pria sepuh dihadapannya ini.
"Baiklah. Akan saya lakukan secepatnya." Terus si pelayan berjalan keluar dari perpustakaan itu melaksanakan tugasnya.
"Patriak Feng tidak perlu begitu. Kedatanganku bukanlah sesuatu yang penting sehingga perlu mengeluarkan harta karun itu." Ketua Ning cukup mengetahui tentang Teh Bunga Embun Biru, cuba menolak dengan baik.
"Hahaha... Ketua Ning. Cukuplah berakting. Kau pikir berapa lama telah kita berteman? Kau tidak akan datang jauh-jauh kemari dari ibukota jika tiada sesuatu yang penting berlaku. Apa salahnya jika aku memberikan sedikit pelayanan. Usahlah berasa sungkan." Patriak Feng tertawa kecil sebelum mempersilahkan tamunya itu duduk di kerusi yang tersedia. Dia berasa tidak enak apabila menunjukkan keakrabannya dengan Ketua Ning dihadapan orang lain, jadi dia menunggu pelayannya pergi.
Ketua Ning ikut tertawa, "Kalau begitu kemahuanmu, aku tidak bisa menolaknya."
"Baiklah, mari kita terus ke intinya. Apa yang kau ingin bicarakan?" Kata Patriak Feng membuatkan tawa Ketua Ning terhenti.
__ADS_1
"Sebelum itu aku mau bertanya, bagaimana keadaan kota ini saat ini?" Pertanyaan Ketua Ning membuatkan Patriak Feng berpikir lama. Sulit baginya mengatakan bahwa tentang situasi yang sedang berlaku saat ini.
"Situasi kali ini cukup rumit, Ketua Ning. Selama lima tahun kau berada di ibukota, banyak perkara telah berlaku di sini, seminggu selepas kau pergi ke ibukota, salah seorang dari keluargaku menemukan tambang baja hitam di Hutan Kabut Ungu."
Tubuh Ketua Ning tiba-tiba menjadi tegak, "Tambang baja hitam?! Berapa lama ia mampu bertahan?"
"Kalau menambangnya secara rutin sebanyak 10 tan sebulan, mungkin mampu bertahan selama dua puluh tahun sehingga tiga puluh tahun." Jawaban Patriak Feng membuatkan Ketua Ning hampir melompat dari tempat duduknya.
"APA?! Kau bercanda?! Keluarga Feng-mu akan menjadi keluarga bangsawan terkuat di Kekaisaran Tang jika kau menguasai tambang baja hitam itu!" Ketua Ning tidak mampu menahan rasa terkejutnya, sebuah mineral yang paling tinggi kualitasnya dalam pembuatan artefak atau penempaan senjata, tambangnya dijumpai berdekatan dengan kota oleh Keluarga Feng, ditambah pula Keluarga Feng ini merupakan spesialisasinya dalam pembuatan artefak dan senjata mempunyai hubungan yang kuat dengan Asosiasi Sinar Mentari telah diketahui secara umum.
Besar kemungkinannya Keluarga Feng akan menjadi yang terkuat di antara keluarga bangsawan di Kekaisaran Tang dengan dukungan Asosiasi Sinar Mentari.
"Itulah yang menjadi masalah sekarang ini, Keluarga Jiang dan Keluarga Huo melakukan aliansi, cuba menekan keluarga kami bersama. Kali ini tidak perlu ditutupi lagi mereka benar-benar sedang mengincar posisi walikota." Nafas berat dilepaskannya.
"Huh? Mereka beraliansi? Tidak mungkin!" Ketua Ning mengerutkan dahinya apabila mendengar berita ini, tidak menduga ketika dia mengetahui Keluarga Jiang dan Keluarga Huo melakukan aliansi bagi menjatuhkan Keluarga Feng dan menguasai Kota Burung Merah.
Setahu dirinya, Keluarga Jiang dan Keluarga Huo sememangnya mempunyai perseteruan yang hebat dengan Keluarga Feng, namun bukan berarti mereka akan saling bekerjasama karena mereka juga mempunyai dendam peribadi di antara mereka.
Tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu, "Sebentar! Mereka tidak akan pernah beraliansi melainkan kedua-duanya berada di situasi yang saling menguntungkan atau..." Pandangan mata Ketua Ning melirik ke arah Patriach Feng Hou.
"Ya, apa yang Ketua Ning pikirkan itu benar." Patriach Feng Hou membenarkan pemikiran Ketua Ning lalu menyambung, "Sekte Pedang Langit mengaku dirinya sebagai penemu pertama tambang baja hitam itu dan ingin merebutnya. Untuk itu, mereka bekerjasama dengan Keluarga Jiang dan Keluarga Huo."
Sekte Pedang Langit merupakan salah satu daripada sepuluh sekte besar aliran putih di Kekaisaran Tang, dan fokus murid-murid di sana adalah mempelajari ilmu pedang. Walaupun terdapat beberapa sekte aliran putih juga menjadikan ilmu pedang sebagai ilmu beladiri dasar mereka, hanya Sekte Pedang Langit merupakan satu-satunya sekte besar dari aliran putih benar-benar mendalami ilmu berpedang di seluruh Kekaisaran Tang.
Alasannya, hutan ini sering ditutupi kabut berwarna ungu yang mempunyai efek halusinasi kepada manusia biasa bahkan juga kepada kultivator, ditambah pula siluman yang tinggal di dalam Hutan Kabut Ungu bukanlah siluman biasa melainkan siluman iblis. Selain daripada jalanan yang telah diperbuat oleh leluhur terdahulu, tiada siapa yang berani menginjakkan kakinya ke dalam hutan lebih jauh lagi.
Namun sekelompok pemburu dari Keluarga Feng pernah menyimpang daripada jalanan sebelum menjumpai tambang baja hitam itu, yang sebenarnya kedudukannya tepat dipertengahan jarak di antara Kota Burung Merah dengan Sekte Pedang Langit.
"Jadi, apa yang ditawarkan Sekte Pedang Langit kepada Keluarga Jiang dan Keluarga Huo?" Tanya Ketua Ning sambil memandang beberapa orang pelayan mendatangi mereka berdua dengan membawa air Teh Bunga Embun Biru dan beberapa kudapan ringan untuk hari petang.
Menurut Patriak Feng, dia telah meminta bantuan Tetua Yang untuk menyelidiki kasus ini, dan mendapati Sekte Pedang Langit menawarkan 40% pendapatan tambang baja hitam kepada Keluarga Jiang dan Keluarga Huo, selain menjanjikan dukungan kepada mereka meraih posisi walikota.
Ketua Ning mengerutkan dahinya, "Apa para petinggi dari Sekte Pedang Langit semuanya orang bodoh? Mereka mendukung dua keluarga untuk memegang jabatan walikota. Mana mungkin dua keluarga memegang posisi walikota pada waktu yang sama. Atau mungkin..."
Patriak Feng menghela nafas berat, "Ketua Ning, apa kau masih tidak menyadarinya lagi? Ringkasnya Sekte Pedang Langit bukan hanya mengincar tambang baja hitam itu sahaja, tidak melainkan seluruh Kota Burung Merah ini. Kudengar juga Tetua Yang memberitahu bahwa kali ini mereka juga mengincar Asosiasi Sinar Mentari juga."
Ketua Ning menghela nafasnya yang panjang, selama dia berada di ibukota, banyak hal yang tidak terduga oleh dirinya melanda kota ini. Ternyata permasalahan ini menjadi jauh lebih rumit dari dugaannya.
Sememangnya dengan kemampuan dan karisma Ketua Ning sebagai ketua sekte sederhana aliran putih tidak diragukan lagi sangatlah hebat, mudah baginya untuk membantu Keluarga Feng jikalau hanya berurusan dengan keluarga sekular seperti Keluarga Jiang dan Keluarga Huo.
Namun berbeda ceritanya apabila dibelakang kedua keluarga itu terdapat Sekte Pedang Langit, kredibilitas sesiapapun pasti akan goyah apabila mereka dihadapkan kekuatan dari sebuah sekte besar kecuali sesama dari sekte besar lainnya.
Sekarang dia mula memahami situasi ini, dari dahulu lagi dia pernah mendengar kabar angin bahwa Sekte Pedang Langit berambisi besar untuk menjadi pemimpin nomor satu di dalam dunia persilatan.
__ADS_1
Di luar dugaannya Sekte Pedang Langit berencana untuk menebar kekuasaannya dengan mengunakan kekayaan Kota Burung Merah dan Asosiasi Sinar Mentari, mungkin karena itu mereka berencana untuk melagakan keluarga bangsawan yang menguasai kota ini dengan dua keluarga sekular lainnya agar kekuatan kota ini secara keseluruhannya melemah.
"Bagaimana dengan respon Asosiasi?"
Patriak Feng mengatakan Asosiasi Sinar Mentari akan selalu bersifat netral jadi kelompok ini tidak akan mencampuri urusan perebutan kuasa ini jika dinilai dari kekuatan tempur mereka yang tidak seberapa di cabang Kota Burung Merah ini, ini akan menjadi kelemahan fatal bagi Keluarga Feng jika mereka disusupi dan dimusnahkan dari dalam.
Ketua Ning mula menyadarinya, "Tunggu, artinya dari awal mulanya lagi kalian telah disusupi oleh orang-orang mereka?" Patriak Feng hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan pernyataan tersebut sehingga merunsingkan kepala Ketua Ning, "Tenang sahaja, masalah itu sudah diatasi."
"Dia pasti cukup handal, mampu menyusup masuk kedalam kediaman raja kota. Mungkin sahaja penyusup itu berada di Tahap Master. Kalau kau sudah bilang sebegini tentu kau sudah menangkapnya bukan? Siapa penyusup itu?"
Patriak Feng menggeleng, "Tidak, Ketua Ning, kau salah paham dua perkara; Pertama, penyusup bukan seorang tapi lebih dari itu. Kedua, kami tidak dapat mengejar mereka apatah lagi menangkap mereka. Para penyusup itu sempat kabur, tepat setelah kami menjumpai bukti penyusupan mereka kabur lewat Hutan Kabut Ungu, belum lagi ilmu meringankan tubuh mereka cukup tinggi sehingga pengawal kota tidak berkesempatan mengejarnya."
Patriak Feng bisa bilang sedemikian bukan hanya karena dirinya sudah menembusi Tahap Kaisar, selain pengalaman dan wawasannya yang cukup tinggi untuk mengetahui bahwa para penyusup ini sememangnya telah dilatih untuk menjadi pengintai.
Patriak Feng menyambung lagi, "Jikalau kau bertanya tentang siapa penyusupnya, itu isteri, selir pertama dan selir kedua putra pertamaku, Feng Wei serta enam orang daripada para pelayan mereka..." Tangannya mula mengurut dahinya yang terlihat urat hijau, "Urgh... anak bodoh itu, dari awal lagi aku sudah memperingatkan perempuan pilihannya itu orang yang tidak boleh dipercayai. Sekarang apa yang sudah terjadi, dia tidak sadar bahwa telah membawa serigala ke dalam kediaman ini."
Patriak Feng sebenarnya berasa malu untuk mengatakan hal ini dihadapan temannya ini, jika bukan karena ini merupakan hal penting sudah didiamkan sahaja tentang hal ini.
Ketua Ning pula dapat melihat situasi yang dihadapi oleh Patriak Feng cukup merepotkan, dia bahkan tidak yakin apa bantuan daripadanya dapat mengubah situasi ini menjadi lebih baik.
"Bagaimana dengan selirnya yang ketiga?" Tanya Ketua Ning kepada Patriak Feng.
"Empat tahun lalu, ketika aku punya pekerjaan di luar kota, perempuan-perempuan tidak berguna itu menghalaunya keluar dari kediaman ini. Jelas karena dia dianggap sebagai penghalang bagi mereka. Wei'er pula tidak membela atau menghalangnya, berdiam diri sahaja tentang hal ini. Ku dengar dia telah kembali ke kampung halamannya." Jawab Patriak Feng
Patriak Feng mula menatap Ketua Ning, seolah-olah mengharapkan bantuan namun belum sempat Ketua Ning mengatakan apa-apa, Patriak Feng bertanya, "Jadi, aku sudah mengatakan situasi yang sedang berlaku di kota ini, bagaimana denganmu? Apa yang terjadi di ibukota sehingga buru-buru kau datang ke mari?"
"Sebentar, beri aku peluang untuk tenang seketika. Berita yang kau berikan sudah cukup berat untuk ditanggung kepalaku." Kata Ketua Ning lalu menyisip air teh Bunga Embun Biru yang masih hangat.
Untuk beberapa detik, kepalanya terasa ringan seolah-olah beban pikirannya menghilang, "Ah, tidak ku sangka air teh ini benar-benar enak ya. Memang layak mendapat gelaran Minuman Ajaib. Hahaha..."
Patriak Feng turut menyisip air teh Bunga Embun Biru itu, tepat pada sisipan kelima pikirannya juga mula menjadi tenang, seolah-olah rasa frustrasi akibat masalah yang dihadapinya menghilang, "Aah... Enaknya."
"Ah, setelah meminum air teh ini, beban pikiranku yang bertambah karena ceritamu tadi telah menghilang. Baiklah, sekarang biar aku beritahu alasan kedatanganku kemari." Kata Ketua Ning jelas menarik perhatian Patriak Feng.
Ketua Ning memandang bayangannya, "Xiao Hu, kau boleh keluar sekarang."
Tepat setelah kata-kata itu, satu sosok manusia keluar dari bayangan Ketua Ning, perlahan-lahan sebelum membentuk sosok anak perempuan berumur lima belas tahun dengan jubah hitam yang lusuh menutupi seluruh anggota tubuhnya.
Patriak Feng mengecilkan matanya, "Bocah? Tunggu! Bukankah tadi itu adalah ilmu ilusi? Anak ini ahli ilusi?" Reaksi Patriak Feng kaget melihat adegan itu mengundang tawa Ketua Ning.
"Hahaha... Patriak Feng, janganlah kau terkejut. Bocah ini merupakan jenius terbaik pada generasinya dari Sungai Giok-ku. Kedatanganku sebenarnya terkait dengan anak ini." Selesai sahaja kalimat ini, wajah Ketua Ning menjadi serius.
Patriak Feng melihat perubahan raut wajah Ketua Ning, mula mendapat firasat buruk mengenai hal ini.
__ADS_1
Halo para pembaca sekalian, maaf yah kalau novelnya kurang bagus, soalnya ini yang pertama kalinya. Teruskanlah membaca novel ini dan jangan lupa vote dan komen yah.