Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 10 - Tolong!!


__ADS_3

Setelah lewat tengah hari, Tari dan Siska pulang ke asrama. Beruntung sosok yang menyeramkan hanya mengintai dan mengikuti, tidak mencelakai untuk saat ini. Tapi, entah untuk nanti.


Hari ini, Tari memutuskan untuk pindahan. Dia akan tidur bersama Siska dan memboyong semua barangnya ke sana. Pikirnya, itu lebih aman dibandingkan dengan tidur sendiri di kamar 201.


Jantung Tari kembali tak beraturan ketika tiba di depan pintu kamar. Dengan gerakan pelan dia membuka pintu tersebut dan langsung disambut dengan suasana sunyi.


Perasaan Tari semakin tidak nyaman, berkali-kali di menengok ke belakang, memastikan bahwa tak ada sesuatu yang mengikuti. Namun, tak sengaja pandangannya tertuju pada dinding kosong di sebelah kiri.


"Kok, masih basah ya?" gumam Tari sambil mengusap tengkuk yang terasa dingin.


"Fokus, fokus! Buruan aja diberesin, setelah itu nggak usah masuk ke sini lagi," sambung Tari dalam hatinya.


Kemudian, dia mulai mengemasi barang-barang. Mulai dari baju, buku, laptop, dan juga peralatan lain yang dia bawa dari rumah. Selama membereskan barang, pintu dibiarkan terbuka begitu saja. Tari terlalu takut untuk menutupnya.


"Udah selesai?" tanya Siska.


"Hah!" Tari melonjak kaget.


Tadi, Siska masuk ke kamarnya sendiri dan barusan tiba-tiba datang tanpa permisi.


"Kamu ngagetin aja. Bilang-bilang dong kalau datang, jantungan aku," gerutu Tari sambil mengelus dada.


"Sorry, nggak sengaja. Aku nggak tahu kalau kamu serius banget," jawab Siska sembari tertawa kecil. Lalu, dia mendekati Tari dan membantunya mengemasi barang.


Tidak sampai setengah jam, Tari dan Siska sudah menyelesaikan pekerjaan. Barang-barang Tari sudah diangkut ke kamar Siska. Meski belum ditata, tapi mereka lega, setidaknya sudah keluar dari kamar menyeramkan itu.


"Kamu istirahat aja, biar aku sendiri yang menata ini. Makasih loh, udah diizinkan tidur di kamar kamu," ucap Tari.

__ADS_1


"Nggak usah bilang makasih, kita ini teman. Aku juga seneng kok kamu pindah ke sini, jadi nggak tidur sendiri." Siska menjawab sambil tersenyum lebar.


Perasaan Tari kembali nyaman. Ketakutan yang tadi sempat dirasa, berangsur-angsur hilang dengan sendirinya. Dengan semangat, Tari menata barang-barangnya dan Siska pun turut membantu.


***


Pukul 09.00 malam, suasana di luar kamar sudah sepi. Hampir tidak ada suara yang terdengar.


Tapi, Tari dan Siska tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Mereka merebahkan tubuh di ranjang dan menutupnya dengan selimut tebal.


Tari dan Siska tidur dalam satu tempat. Demi mengurangi rasa takut, keduanya tidak mematikan lampu. Setelah mengucapkan selamat malam, masing-masing saling memejam.


"Mudah-mudahan besok nggak mengalami hal aneh lagi," batin Tari sebelum tidur.


Namun, harapan Tari tidak menjadi kenyataan. Setelah terlelap selama tiga jam, Tari merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Dalam keadaan yang setengah memejam, Tari berusaha mencari selimutnya, tapi tidak ketemu.


"Aaaahhh!" Tari memekik setelah menyadari keadaan sekitar. Dia tidak berada di kamar Siska, melainkan ada di kamarnya sendiri.


Tari gemetaran, wajahnya pucat seketika. Dia sangat takut saat mendapati kenyataan yang lagi-lagi di luar nalar.


"Nggak mungkin! Ini kenapa bisa begini?" gumam Tari dengan keringat yang mulai bercucuran.


Tak lama kemudian, ponsel Tari menyala. Karena letaknya di samping bantal, maka Tari langsung menatapnya. Tidak ada telepon atau pesan masuk, ponsel itu hanya menunjukkan jam yang tepat tengah malam.


Tari semakin ketakutan, terlebih lagi saat matanya menatap lemari dan meja. Baju, laptop, serta barang-barang lain yang tadi dipindahkan, sekarang sudah ada di sana. Letaknya sama persis seperti tadi siang.


"Hah! Kenapa bisa?" desis Tari. Nafasnya semakin tersengal, seakan-akan ada benda besar yang menghimpit dadanya.

__ADS_1


Tenaga Tari sudah terkuras habis karena ketakutannya, tapi dia tetap berusaha keluar dari kamar itu. Dengan tertatih, akhirnya Tari berhasil menggapai gagang pintu.


Namun, sudah diputar berkali-kali pintu itu tidak terbuka, seolah terkunci dengan sendirinya. Tari semakin panik. Kini, bukan hanya keringat yang membanjiri wajahnya, tapi air mata juga. Tari menangis histeris mendapati hal mencekam yang menjebak dirinya.


"Tolong! Tolong!" teriak Tari. Tapi, hanya keheningan yang menjawab.


"Tolong! Siapa pun tolong aku!" Tari kembali berteriak, bahkan sambil menggedor-gedor pintu dengan kasar. Tapi, hasilnya tetap sama. Tidak ada sahutan dari seorang pun.


Di antara suara tangisnya, Tari mendengar suara tawa yang menyeramkan. Meski samar, tapi sangat menakutkan. Apalagi lampu kamar hidup-mati dengan sendirinya, membuat bayangan lemari dan meja seperti sosok makhluk lain.


"Siapa pun tolong aku," ucap Tari dengan parau.


Perlahan, tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai. Dia tidak bisa lagi berteriak, hanya menangis sambil menyembunyikan kepala di antara dua lutut. Berharap tak melihat apa pun.


Setelah lampu kembali normal, Tari berusaha bangkit. Matanya menatap awas ke sana kemari, sedikit lega karena tidak ada penampakan yang mengerikan. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba memutar gagang pintu.


"Tolong! Siska! Tolong aku Siska!" teriak Tari karena pintu masih tidak bisa dibuka.


Kali ini, bukan kesunyian yang menyahut teriakan Tari. Samar-samar ada suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Tolong saya! Saya ada di sini!" Tari menggedor pintu, berharap orang itu menyadari keberadaannya.


Tapi, tiba-tiba Tari teringat dengan ucapan Siska tadi siang. Yang memberitahukan tentang langkah kaki di tengah malam.


"Tidak, kumohon jangan," ratap Tari dalam hati.


Dia membekap mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan suara apa pun. Kamarnya sudah menakutkan, Tari tak bisa membayangkan andai hantu langkah kaki juga datang ke sana.

__ADS_1


__ADS_2