
"Kalian telah melanggar aturanku dan masuk ke ruangan ini! Kesalahan kalian sangat fatal!"
Suara Pak Hasan kembali memenuhi ruangan.
"Maafkan kami Pak," ucap Tari dan Siska di sela-sela isakan. Suaranya pelan dan tertahan, nyaris tak terdengar.
"Tidak ada maaf untuk kalian!" bentak Pak Hasan.
Dia sangat murka dengan kelancangan Tari dan Siska. Berani-beraninya melanggar aturan dan memasuki area terlarang. Mereka melihat sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang. Karena itulah, amarah Pak Hasan tak bisa dibendung lagi.
Karena Tari dan Siska tak menyahut, Pak Hasan pun turut diam. Tapi, tidak lama. Beberapa detik kemudian, dia kembali bicara sambil membelakangi Tari dan Siska.
"Satu hal yang harus kalian tahu, siapa pun yang masuk ke ruangan ini, maka ... arwahnya akan menjadi anak buah iblis! Dia akan gentayangan dan mengganggu semua penghuni asrama ini!"
Meski suara Pak Hasan pelan, tapi penuh penekanan di setiap kata-katanya. Seolah sengaja menegaskan bahwa ucapannya bukanlah main-main.
Tari dan Siska semakin ketakutan sampai tak berani mengeluarkan suara. Mereka tidak hanya gemetaran, tapi juga pucat pasi, seakan-akan darah di tubuhnya berhenti mengalir.
Di sisi lain, Pak Hasan mengepalkan tangan. Pandangannya kosong dan lurus ke depan. Jika diperhatikan, dia seperti memikirkan sesuatu yang kelam. Namun entah apa itu, hanya dirinya yang tahu.
__ADS_1
Selama ini, Pak Hasan dan istrinya sengaja memanggil para iblis dengan sesajen. Tujuannya agar para iblis datang dan mengganggu semua penghuni asrama, lalu membuat mereka ketakutan. Dengan begitu, tidak ada lagi yang berani tinggal di tempat itu.
Pak Hasan tersenyum senang ketika membayangkan hal tersebut, dan senyumnya semakin mengembang saat membayangkan asrama ditinggalkan semua penghuni. Kemudian kosong dan menjadi tempat yang terbengkalai.
"Sedikit lagi hal itu pasti terjadi. Dan aku ... akan menjadi orang yang paling puas," batin Pak Hasan dengan penuh keyakinan.
Kemudian, dia berbalik dan kembali menatap Tari dan Siska yang masih setia dengan tangisnya.
"Tidak ada gunanya menangis. Lebih baik persiapkan hati dan jiwa kalian. Karena sebentar lagi, kalian akan menjadi anak buah iblis." Pak Hasan tertawa keras, suaranya sampai menusuk telinga.
"Maafkan kami Pak. Tolong jangan lakukan itu, kami ingin bebas," pinta Tari.
"Kami janji tidak akan mengusik Bapak lagi. Kalau perlu, kami akan pindah dari kampus ini. Kami siap melakukannya Pak." Tari mengajukan penawaran, tapi hanya dipandang sinis oleh Pak Hasan.
"Sekali tidak tetap tidak!" bentak Pak Hasan. "Kalian sudah masuk ke sini. Artinya sudah tidak ada pilihan lain, selain menjadi anak buah iblis! Paham!"
"Lebih baik kalian pasrah saja. Karena apa pun yang kalian janjikan, itu tidak akan mengubah keputusan kami. Jangankan hanya pergi jauh tanpa membocorkan rahasia, kalian pergi dengan meninggalkan setumpuk uang pun kami tidak peduli. Karena ... yang kami butuhkan adalah arwah kalian, bukan harta benda apalagi janji yang belum tentu kalian tepati," sahut Bu Rima dengan panjang lebar.
Matanya yang sedikit cekung menyorot tajam, menambah kesan seram di antara kalimat yang mengerikan.
__ADS_1
Tari dan Siska semakin putus asa. Sepertinya, hari ini memang akhir dari segalanya, karena dua manusia jahanam itu tak mau melunak.
Dalam keadaan yang menunduk, Tari dan Siska mendengar langkah berat. Ternyata, Pak Hasan yang mendekat. Tari tak berani melirik apalagi menatap wajah Pak Hasan. Cukup melihat tangan yang membawa golok saja sudah menakutkan.
"Nasib kalian akan sama seperti anak sebelumnya, yang lancang melanggar aturan dan masuk ke sini. Sekarang ... dia sudah menjadi anak buah iblis. Raganya terbaring tak berdaya, sedangkan arwahnya bergentayangan di asrama," kata Pak Hasan.
Meski tak berani berkutik, tapi Tari dan Siska berpikir keras. Mereka tak menyangka jika sebelum ini ada orang lain yang menyelidiki tindakan Pak Hasan.
"Siapa dia? Dan kapan kejadiannya?" batin Siska. Dia terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Jadi, bukan hanya aku dan Siska yang curiga dengannya. Tapi, ada orang lain juga," batin Tari.
Setelah cukup lama berpikir, ingatan Tari kembali pada saat pertama menginjakkan kaki di asrama. Dia disambut hangat oleh Arum. Lalu diantarkan ke kamar 201, kamar yang sangat menyeramkan. Sebuah pertemuan yang terasa nyata, tapi sebenarnya palsu. Karena faktanya, Arum sedang koma.
"Raga terbaring tak berdaya, sedangkan arwah bergentayangan di asrama. Arum, dia sedang koma dan arwahnya ... ada di asrama ini," ucap Tari dalam hatinya.
"Jadi___"
Deg! Deg! Deg!
__ADS_1
Jantung Tari berdetak cepat setelah menyadari kenyataan yang buruk. Arum, dia adalah korban sebelum dirinya dan Siska.