
Hari ini adalah hari Sabtu. Karena kampus libur, Tari dan Siska tidak pusing memikirkan kuliah. Mereka merilekskan pikiran dengan jalan-jalan di halaman asrama. Mereka melakukan itu sampai tengah hari.
"Balik ke kamar yuk, aku ngantuk Sis," ajak Tari sambil menguap.
"Ayo, aku juga mendadak ngantuk nih. Pasti ini gara-gara semalem nggak tidur," jawab Siska.
Mereka pun berjalan menuju kamar. Tidak ada kejadian janggal kali ini. Keduanya malah berpapasan dengan anak-anak lain yang ramah layaknya orang normal.
Ketika tiba di kamar, Tari langsung merebahkan diri di atas ranjang, sedangkan Siska masih duduk di kursi sambil melepas ikat rambut.
"Sis, gimana kalau sekarang kita tidur sampai sore, biar entar malem nggak ngantuk," celetuk Tari.
"Hah? Kenapa mesti gitu?" Siska bertanya sambil melangkah menuju ranjang.
"Aku takut mau tidur, entar kejadian kayak semalam terulang lagi. Hiiii." Tari bergidik ngeri.
"Iya juga sih," sahut Siska setelah berpikir sejenak.
Setelah sepakat tidur sampai sore, Siska naik ke ranjang atas. Sementara Tari tidur di ranjang bawah. Dengan posisi yang sama-sama telentang, keduanya mulai memejam. Tapi, tidak lama kemudian Siska kembali membuka mata. Lalu menengok ke bawah dan menatap Tari.
"Ri belum tidur, kan?" tanya Siska.
Tari yang memang belum terlelap langsung membuka mata dan menyahut panggilan Siska.
"Ada apa?" tanya Tari.
"Gimana kalau entar malem kita keluar?" Siska mengutarakan keinginan yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya.
"Hah? Mau ngapain? Ogah ah, takut aku," jawab Tari sambil menggelengkan kepala.
"Nengok dikit doang, penasaran aku sama langkah kaki itu," ucap Siska dengan suara lirih.
"Nggak mau. Diem di kamar aja serem, apalagi keliaran ke sana-sana. Nyari perkara kamu Sis." Tari tetap menolak.
"Kan penasaran juga Ri. Nggak usah jauh-jauh deh, di depan ini aja," kata Tari sambil menunjuk pintu kamar.
"Jauh deket sama aja, sama-sama serem. Udah ah, aku mau tidur." Tanpa menunggu jawaban Siska, Tari langsung berbalik dan menutup wajahnya dengan selimut.
__ADS_1
Siska tidak mendesak lagi. Tapi, dia berharap semoga nanti Tari tidak menolak ajakannya. Karena Tari tidak berbalik lagi, Siska pun kembali pada posisi semula, telentang sambil memejam.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Sesuai kesepakatan tadi siang, Tari dan Siska tidak tidur sedetik pun. Sejak magrib mereka terus terjaga.
Kini, keduanya sedang duduk bersama di tepi ranjang, mengobrol ringan sambil sesekali menatap layar ponsel, memeriksa waktu yang semakin menuju tengah malam.
"Tari!" panggil Siska di sela-sela obrolan.
"Hmm."
"Ayo habis ini keluar. Aku bener-bener penasaran sama langkah kaki itu," ucap Siska.
Tari berdecak, "Kamu ini ada-ada aja Sis. Cari penyakit itu, nggak mau aku."
"Ayolah, bentar doang. Nanti nggak usah jauh-jauh deh, cukup di dekat tangga itu aja. Mau ya?" Siska terus mendesak.
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Tari menyetujui ajakan Siska.
Tepat pukul 12.00, mereka beranjak dan membuka pintu kamar. Keduanya tidak langsung keluar, melainkan melongok sambil menatap ke kanan dan ke kiri. Tidak ada apa-apa, hanya suasana hening yang menyambut.
Tari mengangguk dan mengikuti langkah Siska. Mereka keluar kamar dengan perlahan. Tepat tiga langkah mereka meninggalkan ambang pintu, hembusan angin dingin mulai menyapu tengkuk. Tapi, rasa penasaran membuat keduanya lebih berani. Tidak ada niat untuk berhenti meski bulu kuduk semakin berdiri.
Tari dan Siska terus berjalan dan kini hampir tiba di ujung tangga. Pada saat itu, mereka mendengar langkah kaki yang kian mendekat.
Tari dan Siska merapat di sudut dinding, lalu mengintip ke arah tangga karena sumber suara berasal dari sana.
Beberapa detik kemudian, mata mereka menangkap sosok pria paruh baya sedang berjalan menaiki tangga. Dia membawa nampan dengan kedua tangannya.
Tari merasa familiar dengan pemandangan itu, karena malam sebelumnya juga melihat hal serupa.
"Itu Pak Hasan, penjaga asrama ini," bisik Siska tepat di telinga Tari.
Tari mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan. Dia terus menilik sosok penjaga asrama. Tari sangat penasaran dengan isi nampan tersebut, tapi sampai memicing pun bentuk benda itu masih tidak jelas.
Semakin lama memandang, bulu kuduk Tari semakin meremang. Pasalnya cahaya di tangga tidak terang, dan hal itu membuat sosok Pak Hasan terlihat seram. Rambutnya yang putih dan sedikit panjang, juga luka yang ada di sekitar mata dan kening. Dalam cahaya yang temaram, dua hal itu menjurus pada sesuatu yang mengerikan menurut Tari.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Pak Hasan tiba di ujung tangga. Tari dan Siska masih mengawasinya. Ternyata, pria itu berjalan menuju depan kamar-kamar yang ada di lantai tiga, termasuk kamar Tari dan Siska.
Ketika berada di depan kamar 201, Pak Hasan menoleh dan berhenti sejenak. Tari merinding dibuatnya, dia semakin yakin jika kamar tersebut berbeda dari kamar lainnya.
"Dia ke mana ya?" gumam Tari ketika melihat Pak Hasan terus berjalan ke depan.
"Ikutin yuk!" ajak Siska.
Namun, belum sempat Tari menanggapi, tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih yang melayang di udara, tak jauh dari tempat mereka. Tari dan Siska saling pandang, lalu saling menggenggam demi meredam rasa takut.
Setelah bayangan itu menghilang, hembusan angin dingin semakin terasa, sampai-sampai Tari dan Siska tak berani berkutik. Mereka gagal mengikuti langkah Pak Hasan.
"Balik ke kamar aja yuk!" ajak Tari setelah cukup lama dicekam rasa takut.
"Ayo," jawab Siska dengan suara yang tertahan.
Tapi, niat mereka kembali gagal karena mendengar suara langkah. Mereka menatap awas, ternyata itu langkah Pak Hasan yang sudah kembali dari ujung lorong.
Tari dan Siska menatapnya tanpa kedip. Perhatian mereka sama, yaitu nampan yang dibawa Pak Hasan. Namun, keduanya masih tak paham isinya apa. Yang terlihat hanya benda-benda hitam dengan bentuk yang tak jelas.
Sesaat kemudian, Pak Hasan menaiki tangga yang menuju lantai empat. Tari dan Siska keheranan. Mereka semakin penasaran dengan tindakan penjaga asrama tersebut. Tapi, untuk saat ini tidak berani mengikuti. Mereka justru berlari menuju kamar setelah Pak Hasan pergi.
"Hah, hah, hah!"
Tari dan Siska terengah-engah. Mereka langsung menyambar botol minuman yang ada di atas meja.
"Deg-degan banget jantungku," ucap Tari setelah meneguk air. Lalu, dia duduk di tas ranjang sambil memegangi dadanya sendiri.
"Aku juga Ri. Lihat nih sampe keringetan," sahut Siska sembari mengusap kening yang penuh keringat.
Setelah merasa tenang, Siska menghampiri Tari dan duduk di sebelahnya.
"Kayaknya, suara langkah kaki itu milik Pak Hasan deh. Tapi, mungkin teman-teman memeriksanya telat, jadi Pak Hasan udah berlalu. Makanya mereka nggak menemukan siapa-siapa," kata Siska. Dia mengutarakan kesimpulan yang sejak tadi mengganjal di pikiran.
"Tebakanku juga gitu. Tapi ... kira-kira dia ngapain ya, tengah malem gini keliaran di asrama sambil bawa nampan?" jawab Tari.
"Itu juga yang bikin aku penasaran."
__ADS_1
"Katamu, banyak teman-teman lain yang hampir tiap malam mendengar langkah itu. Artinya, hampir tiap hari juga dia jalan-jalan kayak tadi? Tujuannya apa ya Sis?"
Tari menatap Siska dengan lekat, berharap temannya itu punya jawaban yang masuk akal. Tapi, harapannya kandas karena Siska hanya mengedikkan bahu.