
Setelah menyadari fakta itu, ketakutan Tari berangsur hilang dan berganti rasa marah. Dia tidak terima Arum dicelakai hingga koma dan arwahnya dibiarkan gentayangan.
Tanpa ragu, Tari mengangkat wajah dan menatap Pak Hasan dengan nanar.
"Jadi Pak Hasan yang membuat teman saya koma!" teriak Tari dengan lantang.
Kali ini dia tak peduli dengan keselamatan, yang terpenting hanya keadilan untuk teman. Sebesar apa pun resikonya, Tari bertekad melawan demi menyelamatkan Arum. Dia tidak akan menyerah selagi nyawa masih ada.
"Oh, jadi anak lancang itu temanmu, ya? Rupanya kamu belajar darinya untuk melawan aturanku," sahut Pak Hasan dengan cepat.
"Tapi, tak apa, malah bagus. Dengan begitu semakin banyak lagi arwah-arwah yang menjadi anak buah iblis. Dan asrama ini akan menjadi tempat yang paling menyeramkan, hingga tak ada orang yang berani datang ke sini," sambung Pak Hasan sebelum Tari membuka suara.
Tari semakin geram, "Kenapa Pak Hasan begitu kejam? Apa salah kami, sehingga Bapak memperlakukan kami seperti ini?"
Suara Tari masih terdengar lantang meski serak dan gemetaran.
Melihat Tari mulai melawan, Siska pun turut mengumpulkan keberanian. Meski belum berani mengeluarkan suara, tapi Siska sudah berani mengangkat wajah. Bersama Tari, dia akan melawan Pak Hasan.
"Aku ingin balas dendam. Kalian memang tidak salah, tapi ... pihak kampus yang melakukan kesalahan fatal. Aku tidak akan membiarkan asrama ini bertahan lama. Dalam waktu dekat, tempat ini harus kosong dan tidak boleh difungsikan lagi," jawab Pak Hasan dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Kenapa Pak Hasan menginginkan hal sekeji itu? Ini adalah lembaga pendidikan, tempat yang sangat berguna untuk banyak orang. Kenapa Bapak malah berniat menghancurkannya?" tanya Tari.
Dia tak habis pikir dengan tindakan Pak Hasan. Bisa-bisanya ingin menutup asrama, sementara ratusan mahasiswa menempa ilmu di kampus itu.
"Diam! Berani sekali mengataiku keji. Kamu masih bau kencur, tidak paham apa pun! Yang kulakukan sekarang, tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka itulah manusia keji yang sebenarnya! Bertopeng seragam dan pendidikan, tapi sebenarnya tidak punya moral, tidak punya hati, tidak manusiawi!" bentak Pak Hasan. Dia berapi-api dalam meluapkan emosi.
"Memangnya apa yang mereka lakukan? Kenapa Pak Hasan semarah ini, sampai-sampai melibatkan kami?" Kali ini, Siska yang bicara.
Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Siska ikut melawan penjaga asrama tersebut. Selain untuk keselamatan diri sendiri, dia juga melakukannya untuk Arum. Dia tak rela Arum dijadikan korban dan menjadi anak buah iblis.
"Kalian ingin tahu? Baiklah, dengarkan baik-baik! Anggap saja ini hadiah sebelum kalian gentayangan," ujar Pak Hasan sambil tersenyum menyeringai.
"Itu tidak boleh terjadi. Aku harus kabur dan pergi jauh dari tempat ini," ucap Tari dalam hatinya.
Hembusan angin dingin tiba-tiba menyergap tengkuk Tari dan Siska. Mereka merinding ketika Pak Hasan menyebut kamar 201, kamar yang paling menyeramkan. Tapi, keduanya berusaha tenang. Mereka tidak akan menunjukkan rasa takutnya kepada Pak Hasan dan Bu Rima.
Kini, Tari dan Siska malah menduga-duga, tentang kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasan di balik seramnya kamar 201. Sebuah alasan yang sepertinya berhubungan dengan anak Pak Hasan.
"Tapi nahas, dia tidak lama kuliah di sini. Karena sistem pembangunan yang kurang memadai, air dari kamar mandi merembas ke dinding kamar. Sementara itu, instalasi listrik tidak diperhatikan dengan baik. Akhirnya ... berakibat fatal. Listrik di kamar 201 konslet dan anakku menjadi korban. Dia meninggal dengan cara yang tragis."
__ADS_1
Tubuh Pak Hasan bergetar hebat ketika menuturkan cerita tersebut. Benci dan sedih bercampur menjadi satu ketika mengingat kejadian silam yang amat kelam. Sebuah kejadian yang selamanya tidak akan pernah dilupakan.
Di hadapannya, Bu Rima mengalihkan pandangan. Dia menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Kehilangan putri satu-satunya adalah luka yang tak ada obatnya. Terlebih lagi saat mengingat keadilan yang hilang entah ke mana.
"Apakah ini alasannya kenapa dinding itu selalu basah dan tampak mengerikan?" batin Tari usai mendengar penjelasan Pak Hasan.
"Anakku adalah korban, tapi pihak kampus tidak bertanggung jawab. Mereka abai dan malah melimpahkan kesalahan pada anakku. Kata mereka, kecelakaan itu terjadi karena anakku yang lalai. Padahal, semua itu tidak akan terjadi andai keamanan asrama diperhatikan. Tapi, mereka mangkir dan tidak mengakui hal itu. Dengan mengandalkan kekuasaan, mereka malah menindas kami. Sementara orang-orang di sekitar, mereka pura-pura buta dan tuli. Meski tahu jelas apa yang menimpa anakku, tapi mereka tak acuh. Tidak ada satu pun yang membantuku mencari keadilan."
Pak Hasan mengepal erat, bahkan ujung kukunya sampai melukai ruas-ruas jari. Tapi, dia tak peduli. Hati dan jiwanya sudah dikuasai amarah saat mengingat kejadian itu. Dia menangis meratapi kepergian anaknya, sementara pihak kampus dan orang sekitar tidak menunjukkan rasa simpati sedikit pun.
"Tidak berhenti di situ saja. Setelah anakku tiada, orang-orang laknat itu malah menyuruh kami menjaga tempat sialan ini, selamanya." Pak Hasan menjeda kalimatnya seraya menarik nafas panjang.
"Aku dan istriku hanya orang lemah, tidak punya harta apalagi kekuasaan. Kami tidak bisa melawan dan harus menerima nasib, mengabdi di tempat ini sampai nanti," sambung Pak Hasan. Dadanya terlihat naik turun karena emosi yang sudah mencapai puncak.
Pak Hasan masih ingat jelas bagaimana terlukanya dia saat itu. Anak tidak mendapat keadilan, sedangkan dia malah diperintah menjaga tempat yang mencelakai anaknya.
Pak Hasan dan Bu Rima memendam kebencian dalam diam. Dendam mereka membara tanpa ada yang menyadari. Semua berjalan normal, seperti sedia kala. Tidak ada yang mengungkit kematian anaknya, juga tidak ada yang peduli dengan luka mereka.
Pak Hasan dan Bu Rima pun bersikap wajar, seolah sudah mengikhlaskan kepergian anaknya. Padahal di balik sikap itu, mereka bersekutu dengan iblis demi membalas dendam. Setiap malam mempersembahkan sesajen sebagai makanan, agar makhluk-makhluk gaib itu betah di sana dan menganggu penghuni asrama.
__ADS_1
"Jika merasa takut dan tidak nyaman, seharusnya kalian pergi dan pindah dari kampus ini. Bukan malah mencampuri urusan kami," kata Bu Rima dengan tatapan sinis. Raut kesedihan yang tadi sempat terlihat, sekarang sudah hilang dan berganti garang.
"Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Kalian sudah datang ke tempat ini, maka jangan harap bisa selamat. Jangan menyalahkan kami atas kejadian ini, kalian sendiri yang bersedia datang dan suka rela menyerahkan nyawa." Pak Hasan mengakhiri ucapannya dengan tawa.