
Langkah kaki Pak Hasan terdengar menggema di rooftop, diikuti langkah kaki berat milik Bu Rima. Keduanya memecah kesunyian di antara remang malam.
Sambil menyeret tubuh Tari, Pak Hasan berjalan cepat menuju ruang persembahan. Sementara Bu Rima, dia sudah lelah dan hanya mengikutinya di belakang.
"Bu buka pintunya!" perintah Pak Hasan sambil menoleh ke belakang.
"Iya Pak." Bu Rima mempercepat langkah dan segera membuka pintu ruangan.
Pak Hasan lekas masuk dan meletakkan tubuh Tari di atas kursi. Lalu mengikatnya dengan tali seperti tadi siang.
"Pak!" panggil Bu Rima.
"Kenapa Bu?"
"Temannya tadi belum kita tangkap, bagaimana kalau dia kabur? Apa sebaiknya ... kita cari dulu?" tanya Bu Rima dengan sedikit waswas. Dia takut Siska berhasil keluar dan melapor ke warga sekitar.
"Nggak usah Bu, nanti saja. Dia nggak mungkin bisa pergi jauh, pasti hanya di sekitar asrama. Lebih baik kita serahkan dulu dia, baru nyari yang satunya," jawab Pak Hasan sambil melirik Tari, yang saat ini sedang terkulai di kursi.
"Baiklah Pak. Aku ngikut saja." Bu Rima mengangguk pelan.
"Ya udah Bu, ayo kita mulai," ajak Pak Hasan.
Dia berjalan ke sudut ruangan dan meletakkan sesajen di sana, lengkap dengan dupa dan juga lampu minyak.
"Bu tutup dulu tirainya," kata Pak Hasan sambil menyalakan lampu minyak.
Bu Rima menurut dan menutup tirai. Lalu menghampiri Pak Hasan dan duduk di sampingnya. Detik berikutnya, Pak Hasan dan Bu Rima memulai ritual. Mereka bersimpuh di dekat sesajen yang sudah ditata rapi. Sebelum membaca mantra, Pak Hasan terlebih dahulu membakar dupa.
Ruang persembahan berubah menyeramkan. Sinar remang-remang dari lampu minyak berpadu dengan wangi khas dupa dan menguar ke seluruh penjuru. Meksi tidak ada penampakan apa pun, tapi orang akan merinding dengan sendirinya.
Ada baiknya Tari pingsan. Karena jika tidak, mungkin dia sudah dicekam rasa takut yang teramat besar. Bahkan, bisa menjadi trauma sepanjang hidupnya.
Beberapa saat setelah Pak Hasan dan Bu Rima mengucap mantra, angin dingin berhembus memasuki ruangan. Api dalam lampu minyak bergerak ke sana kemari, tapi anehnya tidak padam. Bahkan, meski angin berhembus lebih kencang.
Haaaaa!
Haaaaa!
Haaaaaa!
Sosok-sosok menyeramkan mulai menampakkan diri. Melintas ke sana kemari sambil mengendus wangi dupa. Tapi, Pak Hasan dan Bu Rima tidak gentar. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran mahkluk-makhluk itu.
Sosok-sosok seram itu semakin lama semakin jelas. Melayang-layang di langit-langit ruangan sambil tertawa mengikik. Seolah sangat bangga dengan makanan yang dipersembahkan Pak Hasan.
__ADS_1
Pak Hasan dan Bu Rima terus mengucap mantra, hingga sosok-sosok itu mendekat dan mengelilingi sesajen. Masing-masing menghirup aroma kembang dan dupa, lalu tertawa keras setelah merasa puas.
Menit demi menit terus berlalu, Pak Hasan dan Bu Rima masih setia dengan mantra-mantranya. Sampai akhirnya, hembusan angin dingin benar-benar membekukan. Sosok-sosok yang mengelilingi sesajen memudar dan menghilang.
Tak lama setelah itu, sosok hitam dan besar perlahan menampakkan diri. Matanya yang merah menyala menatap ke setiap jengkal ruangan, sedangkan gigi-gigi runcingnya meneteskan liur yang berbau busuk.
Menyadari junjungannya telah datang, Pak Hasan dan Bu Rima tersenyum lebar. Mereka menyudahi mantra-mantranya, lalu menunduk sambil menangkupkan tangan di depan dada, khas budak yang mengatur hormat pada sang panutan.
Karena ritual persembahan makanan sudah selesai dan raja iblis pun sudah tiba, maka Pak Hasan dan Rima mulai menyiapkan ritual persembahan nyawa.
Pak Hasan beranjak sambil membawa beberapa batang dupa, sedangkan Bu Rima menyiapkan sesajen di atas nampan yang khusus.
Pak Hasan ke tempat Tari dan menancapkan dupa-dupa itu di sekelilingnya. Lalu, mengambil kembang setaman yang sudah direndam dalam baskom tembaga.
Dengan mulut yang berkomat-kamit, Pak Hasan mengucurkan air kembang itu ke tubuh Tari. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada sejengkal tubuh pun yang terlewat.
Di belakangnya, Bu Rima sudah membawa sesajen yang telah disiapkan. Sesajen itu diletakkan di atas kursi yang ada di depan Tari.
Melihat sesajen sudah jadi, Pak Hasan menyobek kemeja yang dikenakan Tari. Kemudian meletakkannya di atas sesajen. Itu merupakan syarat utama agar nyawanya selalu berada dalam kekuasaan iblis.
"Ayo Bu!" kata Pak Hasan.
Bu Rima mengangguk dan kemudian ambil posisi, yakni bersimpuh di depan sesajen sambil menangkupkan tangan.
Mantra-mantra aneh kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Sang raja iblis menatap mereka dengan senyum yang menyeringai. Lalu, ia pun berdiri di belakang Tari dengan tangan yang terangkat tegak.
Selain mantra-mantra dari bibir Pak Hasan dan Bu Rima, tidak ada suara lain yang terdengar. Para iblis yang menghuni ruangan hanya menatap dari kejauhan, sedangkan sang raja iblis fokus dengan tugasnya, yaitu mengambil nyawa Tari dan memenjarakan dalam kekuasaannya.
Ritual persembahan nyawa hampir berhasil. Tangan iblis yang semula diangkat tegak, kini berangsur turun dan seolah ingin mendekap tubuh Tari. Ia juga menunduk dan mengarahkan gigi-gigi runcingnya ke ubun-ubun Tari. Dari sanalah, dia akan mengambil nyawa mangsa.
Ketika tangan iblis dengan tubuh Tari hanya berjarak seruas jari, pintu ruangan didobrak dari luar. Rupanya, warga yang datang. Pak Hasan dan Bu Rima tersentak. Mereka tak menyangka warga akan menemukan tempat rahasianya. Karena terlalu fokus dengan ritual, keduanya tidak mendengar derap langkah yang pastinya cukup nyaring.
"Hentikan tindakan laknat kalian!" teriak pria bertubuh gempal yang berjalan paling depan.
Di sisi lain, tubuh raja iblis terpental. Cahaya yang mengelilinginya berangsur padam dan sosoknya menghilang dalam waktu singkat. Ia telah kehilangan kekuatan karena ritual pentingnya dilihat mata manusia yang bukan budaknya.
"Beraninya kalian datang ke sini dan mencampuri urusan kami! Enyah kalian!" geram Pak Hasan sambil beranjak. Dengan cepat dia mengambil golok dan siap menebas tubuh-tubuh warga.
"Tindakanmu sudah termasuk kriminal. Mana mungkin kami diam saja!" sahut si tubuh gempal. "Ayo bapak-bapak, ringkus mereka berdua dan selamatkan gadis itu!"
Bu Rima ketakutan dan berlindung di belakang Pak Hasan. Berharap sang suami bisa mengalahkan para warga meski sedikit mustahil.
"Kecemasanku menjadi kenyataan. Gadis itu melapor pada warga sekitar. Apa yang harus kami lakukan sekarang? Bisakah melawan mereka yang sebanyak ini?" batin Bu Rima.
__ADS_1
"Berhenti!" teriak Pak Hasan sambil mengacungkan goloknya.
Para warga yang sudah naik pitam tidak menghiraukan tindakan tersebut. Mereka mendesak masuk dan siap menangkap Pak Hasan.
"Ahhhh!"
Nahas, salah satu warga terluka ketika Pak Hasan mengayunkan goloknya. Benda tajam itu menggores lengan dan membuatnya berdarah-darah.
"Maju lagi! Dan aku membunuh kalian semua!" ancam Pak Hasan.
"Pak___"
"Cari senjata Bu, cepat!" potong Pak Hasan.
Bu Rima mengangguk dan kemudian mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata. Karena tidak ada benda tajam, maka Bu Rima menginjak kursi yang kakinya hampir patah. Berhasil. Batang kaki kursi yang lengkap dengan paku-paku yang mencuat, kini sudah berada dalam genggamannya.
"Kita lawan bersama-sama Pak," ujar Bu Rima sambil berdiri di samping Pak Hasan. Meski gemetaran, tapi dia berusaha melawan agar nyawanya terselamatkan.
"Kalian jangan banyak tingkah! Turunkan senjata itu atau kami akan beramai-ramai menghajar kalian!" ancam salah satu warga.
Pak Hasan bergidik mendengar ancaman itu. Dikeroyok warga adalah suatu hal yang buruk. Akibatnya bukan hanya terluka parah, tapi juga mati.
Namun, tidak mungkin juga dia menyerah begitu saja. Para warga pasti melaporkannya ke polisi dan dia akan mendekam di penjara. Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
"Kalian akan menghajar dan aku akan membunuh kalian." Pak Hasan menyeringai.
"Kalian tidak akan bisa melawan kami. Lebih baik cepat pergi dan jangan ikut campur urusan ini," imbuh Bu Rima dengan posisi yang siap memukul.
Para warga sempat bingung, golok yang dibawa Pak Hasan, juga paku-paku yang ada di tangan Bu Rima, keduanya sama-sama tajam. Terbukti dari teman mereka yang sudah terluka dan berdarah. Sementara mereka, tidak ada satu pun yang membawa senjata. Maklum, tadi sangat terburu-buru.
Melihat Siska yang hampir pingsan di pintu gerbang, mereka sangat panik. Jadi ketika gadis itu mengadu, mereka langsung masuk ke asrama. Tak ada waktu untuk pulang dan mengambil senjata. Itu sebabnya, mereka semua datang dengan tangan kosong.
"Pergi! Cepat kalian pergi!" teriak Pak Hasan.
Tak lama kemudian, seorang lelaki muda datang dengan langkah cepat. Di tangannya sudah ada dua batang bambu runcing.
"Ambil ini," ucapnya sambil menyerahkan bambu tersebut pada pria bertubuh gempal.
"Terima kasih. Kita bisa melumpuhkan mereka kalau begini," jawab si tubuh gempal.
"Menyerahlah, sebelum kami menghajar kalian! Kami tidak bisa menjamin kalian akan tetap hidup kalau hal itu sampai terjadi!" ancam lelaki muda itu sambil menatap tajam ke arah Pak Hasan. Perawakannya gagah dan sangar, sekali gertak saja nyali lawan akan menciut.
Tak terkecuali Pak Hasan dan Bu Rima, keduanya sangat ketakutan. Kali ini, mereka tidak ada jalan lagi untuk lepas. Meski senjata yang dibawa sekedar bambu, tapi itu sangat membahayakan. Terlebih lagi ada banyak warga yang bersamanya. Pasti bukan hal sulit untuk meringkus dirinya yang hanya berdua.
__ADS_1
"Ayo Bapak-bapak, kita bereskan mereka!" teriak lelaki itu dengan lantang.
"Ayo! Ayo! Ayo!" sahut warga lain dengan antusias.