Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 23 - Pasrah


__ADS_3

Hentak kaki yang terus menjejak lantai terdengar nyaring di antara suasana lengang. Namun, dari sekian banyak manusia yang ada di sana, tak ada satu pun yang peduli.


Entah mereka terlalu lelap atau hatinya yang sudah gelap, sehingga tak bisa membedakan mana sesama manusia dan mana makhluk gaib. Atau mungkin, malah mahkluk-mahkluk itu yang memperdaya. Alam sengaja dikunci agar manusia-manusia yang tidak diganggu tak bisa mendengar apa pun. Entahlah!


Tari tak terlalu memikirkan hal itu. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah kabur dan minta bantuan warga di luar asrama.


"Hah! Hah! Hah!" Nafas Tari semakin tersengal.


Berlari dari rooftop hingga ke lantai tiga bukanlah hal yang mudah. Selain lelah karena ketakutan dan kepanikan, Tari juga lelah karena melawan orang sekuat Pak Hasan.


Tidak hanya sekali dua kali Tari terjatuh dan berduel dengan pria tersebut. Sudah berulang kali dan itu sangat menguras tenaga. Sungguh beruntung, dia masih bisa bertahan sampai sekarang.


"Rencanaku tidak boleh gagal! Aku harus berhasil menangkapnya. Dia hanya anak kemarin sore, mana boleh aku kalah" batin Pak Hasan.


Dia menegaskan pada dirinya sendiri agar tidak gagal kali ini. Lalu Pak Hasan mempercepat langkah karena jaraknya dengan Tari tinggal beberapa jengkal.


Menyadari keadaan yang semakin tersudut, Tari menarik tempat sampah dan menggelindingkannya ke belakang, guna menghalangi langkah Pak Hasan. Lalu, dengan cepat dia menuruni tangga yang menuju lantai dua.


Baru saja Tari lega karena Pak Hasan sedikit tertinggal, tiba-tiba saja kenyataan kembali mengantar pada keadaan yang mencekam. Di bawah sana, Bu Rima sedang berdiri sambil memegangi pembatas tangga. Tatapannya tajam dan membunuh, seolah siap menerkam dirinya.


Tari kaget dan spontan berbalik. Tapi, Pak Hasan sudah menyeringai di ujung tangga. Tari terjebak di antara mereka, tidak bisa naik dan tidak bisa turun. Satu-satunya jalan hanya melawan. Namun, entah akan sanggup atau tidak.


"Sekarang, kamu tidak akan lolos lagi!" geram Pak Hasan sambil berlari menuruni tangga.


Tari pun berlari turun. Pikirnya, lebih mudah menghadapi Bu Rima dibanding Pak Hasan yang sangat kuat.


Akan tetapi, Bu Rima lebih sigap dari yang Tari bayangkan. Ketika Tari mendekat, wanita paruh baya itu langsung menangkap tubuhnya dan mengunci tangannya ke belakang.


"Ahh, lepaskan!" teriak Tari. Dia meronta sambil menendang-nendang. Namun, cengkeraman Bu Rima malah semakin menguat.


"Menyerahlah! Kamu tidak bisa kabur lagi!" bentak Bu Rima.


Tari semakin panik, terlebih lagi saat melihat Pak Hasan sudah berada di dekatnya. Tanpa pikir panjang, Tari mengerahkan tenaganya dan menginjak kaki Bu Rima.

__ADS_1


"Ahhh!" Wanita itu mengaduh dan melepaskan cengkeramannya.


Mendapat kesempatan, Tari langsung lari. Namun, hanya beberapa langkah saja. Belum jauh dia berpindah, kepalanya sudah pening dan pandangannya mengabur. Tari kehilangan tenaga dan ambruk di tempat. Dia tak kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya. Dalam hitungan detik, Tari pun pingsan.


"Akhirnya, kita berhasil melumpuhkannya Bu." Pak Hasan tersenyum lebar, tidak sia-sia dia memukul kepala Tari. Akhirnya gadis itu pingsan dan tidak bertingkah.


"Dia sangat merepotkan. Aku sempat kewalahan tadi," sambung Pak Hasan sambil mengusap keringat di wajahnya.


"Mumpung masih pingsan, cepat kita bawa saja Pak. Mana tahu nanti keburu sadar dan bikin repot lagi," ucap Bu Rima.


"Benar Bu. Ayo cepat kita bawa." Pak Hasan membungkuk dan menarik tubuh Tari yang sudah lemas.


Bu Rima juga bergerak cepat. Dia meraih kaki Tari dan mengangkatnya. Lalu kedua orang itu menggotong tubuh Tari dan membawanya ke rooftop.


Namun, itu juga bukan pekerjaan yang mudah. Mereka kelelahan membawa tubuh Tari menaiki anak tangga. Alhasil, mereka tidak lagi menggotong, melainkan menyeret tubuh tersebut.


"Ayo cepat Bu, waktu kita tidak banyak. Jangan sampai ada yang mengintip tindakan kita kali ini," kata Pak Hasan. Saat itu, dia dan istrinya sudah tiba di lantai lima.


Meski hanya menyeret, tapi Bu Rima merasa lelah. Mungkin karena membawanya ke arah atas, jadi beratnya seperti bertambah.


"Jangan lama-lama! Ingat, kita harus secepatnya tiba di sana."


Mendengar penuturan Pak Hasan, Bu Rima mengakhiri istirahatnya dan kembali membantu sang suami menyeret tubuh Tari.


Karena terlalu fokus dengan Tari, Pak Hasan dan Bu Rima sempat melupakan keberadaan Siska, yang saat ini sedang berjuang sendiri di halaman asrama.


"Tolong! Tolong! Tolong!"


Entah sudah keberapa kalinya Siska berteriak meminta tolong. Tapi, belum ada tanggapan dari warga sekitar. Maklum, jarak gerbang asrama dengan rumah warga memang cukup jauh. Belum lagi pagar tinggi yang mengelilingi bangunan tersebut, pasti meredam suara Siska sehingga tidak terdengar dari luar.


Tak lama kemudian, tubuh Siska merosot dan terjatuh di antara dinginnya paving. Dia menangis sambil menyandarkan tubuhnya di pintu gerbang. S


Saat ini, pikirannya tertuju pada Tari. Dia khawatir temannya tertangkap karena sampai saat ini sosoknya tidak muncul. Sementara dirinya yang diharapkan mencari bantuan, malah lemah tak berdaya.

__ADS_1


"Aku harus menyelamatkan Tari, tapi ... bagaimana caranya?" ratap Siska.


Dengan air mata yang masih bercucuran, dia mendongak dan menatap pintu gerbang yang cukup tinggi.


Jika dalam keadaan normal, mungkin dia bisa memanjat gerbang tersebut. Tapi sekarang, jangankan memanjat gerbang, melangkah di tanah lapang saja dia kesulitan.


"Tolong saya! Tolong! Siapa pun tolong!" Suara Siska serak dan parau, akibat terlalu banyak berteriak. Itu pun masih belum mendapat sahutan dari luar.


"Tolong! Tolong!" teriak Siska lebih keras lagi.


Sesaat setelah berteriak, Siska mendengar suara tawa yang menyeramkan, lebih jelas dan lebih dekat dari sebelumnya. Siska melirik ke sekeliling, tapi tidak melihat sosok apa pun di sekitarnya.


"Apa salahku, kenapa mengalami hal ini? Niatku hanya kuliah dan tidak macam-macam. Kenapa berakhir seperti ini," ratap Siska dalam hatinya.


Kini, Siska menunduk dan berusaha mengabaikan suara itu meski rasanya tepat di dekat telinga. Dia juga abai walaupun hembusan angin menyergap tengkuk dan membuat bulu kuduknya berdiri. Alhasil, setelah beberapa detik, dua hal itu menghilang dengan sendirinya.


Karena suasana sudah normal, Siska kembali berteriak. Dia meminta tolong dan berharap ada salah satu warga yang mendengar.


"Nak!"


Siska tersenyum lebar. Ada suara di belakangnya, dia memanggil lembut sambil memegang bahunya, pastilah orang baik, pikir Siska.


Dengan penuh harap, Siska menoleh dan mengungkap kejadian mengerikan yang dia alami malam ini.


"Bu saya ... aaaaaaa!"


Siska berteriak histeris dan gagal melanjutkan kalimatnya. Sosok yang berdiri di belakangnya bukanlah orang yang datang menolong, melainkan sosok hitam besar pemilik mata merah menyala.


Karena lelah dan tidak bisa lari, Siska hanya meringkuk di balik pintu gerbang. Wajahnya disembunyikan di antara dua lutut, sedangkan kedua tangan menutupi telinga. Siska hanya menangis dalam diam meski genggaman tangan itu berubah menjadi cengkeraman.


Di antara rasa takut yang semakin parah, Siska mendengar suara langkah yang samar. Entah sosok apa lagi yang akan datang kali ini, Siska tak bisa membayangkan. Ketakutan dan kepanikannya sudah melebihi batas.


"Mungkin aku akan berakhir di sini. Aku mati dan arwahku gentayangan seperti Arum," batin Siska. Kali ini, dia benar-benar pasrah.

__ADS_1


__ADS_2