Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 19 - Berusaha Melepaskan Diri


__ADS_3

Tari dan Siska terperangah. Mereka tak menyangka di asrama ada kisah yang sekelam itu. Saking terkejutnya dengan cerita tersebut, Tari dan Siska sampai mengabaikan ucapan-ucapan mengerikan dari Pak Hasan dan Bu Rima.


Namun, di balik rasa kaget itu mereka merasakan amarah yang semakin besar. Tari dan Siska tidak terima jika arwah orang-orang yang tidak bersalah dijadikan korban. Mereka tidak tahu menahu dengan masalah tersebut, sangat tidak adil jika sekarang turut menanggung akibat.


"Tindakan Pak Hasan salah! Kami tidak ikut andil dalam kasus itu, tapi Bapak melampiaskan dendam kepada kami," ucap Tari dengan berani.


"Benar. Balas dendam Pak Hasan tidak pada tempatnya. Sejak tadi Bapak bicara tentang keadilan, tapi sikap Bapak bertentangan dengan hal itu. Bapak melampiaskan dendam pada orang-orang yang tak bersalah, itu tidak benar Pak!" timpal Siska.


"Tidak bersalah katamu?" Pak Hasan menatap Tari dan Siska secara bergantian. "Melanggar aturan dan ikut campur urusan orang, apa itu yang kalian maksud tidak bersalah?" lanjutnya.


"Sikap Bapak mengundang rasa penasaran kami. Bapak keliling asrama tiap malam, membuat kami ketakutan dengan suara langkah Bapak. Di samping itu, iblis-iblis yang Bapak puja juga mengganggu kami. Sekarang, siapa yang lebih bersalah?" jawab Tari.


"Diam, jangan banyak omong! Kalian tidak tahu bagaimana sakitnya kehilangan anak. Jadi, tidak usah sok bijak. Aku muak mendengarnya!" Pak Hasan melotot tajam. Berdebat dengan Tari dan Siska membuatnya semakin murka.


"Sudah Pak, jangan hiraukan omongan mereka. Lebih baik kita pergi saja, sudah terlalu lama kita di sini," ucap Bu Rima.


Pak Hasan tersenyum miring. Lalu membungkuk dan bicara tepat di depan wajah Tari dan Siska.


"Baik-baiklah di sini. Tunggu malam tiba dan semua hantu itu akan mengganggu kalian. Tidak ada yang bisa menolong, kalian akan tetap di sini dan ketakutan sampai pingsan. Setelah itu, kalian akan menjadi anak buah mereka dan gentayangan di asrama."


Usai bicara demikian, Pak Hasan dan Bu Rima sama-sama tertawa. Seakan-akan ketakutan Tari dan Siska adalah lelucon yang nyata.


Kemudian, mereka melangkah menuju pintu dan siap meninggalkan ruangan itu. Tari dan Siska terkejut, lalu keduanya kompak meneriaki Pak Hasan.


"Lepaskan kami Pak! Bapak akan dihukum jika mengurung kami di sini. Ini___"


"Kamu pikir aku bodoh dan membiarkan mereka mengetahui keberadaan kalian?" potong Pak Hasan dengan cepat. Kemudian kembali melanjutkan langkah.


"Pak! Lepaskan kami Pak!"


"Pak jangan pergi! Pak lepaskan kami dulu Pak!"


Tari dan Siska terus berteriak, tapi tak dihiraukan. Pak Hasan dan Bu Rima tetap melangkah pergi.


Ketika tiba di ambang pintu, Pak Hasan berhenti sejenak lalu menoleh menatap Tari dan Siska.


"Berteriaklah sepuas kalian, kalau perlu sampai tenggorokan putus," kata Pak Hasan.


Sesaat kemudian, dia melangkah keluar dan menutup ruangan tersebut. Bu Rima juga turut serta bersamanya.


Kini, tinggal Tari dan Siska yang ada di dalam ruangan. Suasana mendadak mencekam setelah langkah Pak Hasan tak terdengar. Hembusan angin tidak hanya menyergap tengkuk, tapi terlihat nyata di sekitar mereka, menggerakkan tirai dan menerbangkan abu-abu bekas dupa. Entah itu angin sungguhan atau ulah makhluk tak kasatmata, yang jelas Tari dan Siska merinding karenanya.


"Ri aku takut Ri," ucap Siska.

__ADS_1


"Tenang Sis, kita pasti bisa keluar dari sini," jawab Tari.


Sekejap setelah Tari menutup mulut, samar-samar mereka mendengar derap langkah yang semakin lama semakin mendekat.


Tari dan Siska saling pandang, lalu tersenyum lebar. Mereka lega karena ada orang yang datang.


"Tolong! Tolong!"


"Tolong! Kami dikurung di ruangan ini! Tolong kami!"


Tari dan Siska berteriak sekuat tenaga. Tapi, hingga beberapa detik tidak ada sahutan dari luar.


"Tolong! Tolong!" teriak Tari lebih kencang lagi.


Namun, bukannya mendapat sahutan, suara derap langkah malah menghilang.


"Ke mana mereka?" gumam Tari.


"Apa jangan-jangan itu tadi langkah Pak Hasan?" tebak Siska.


"Nggak mungkin. Pak Hasan hanya berdua dengan Bu Rima, sedangkan itu tadi suaranya banyak. Kalaupun ada Pak Hasan, pasti dia datang bersama beberapa orang. Harusnya mereka mendengar suara kita, tapi___"


"Jangan-jangan mereka udah sekongkol?" pungkas Siska dengan cepat.


"Aaahhhh!"


Tari dan Siska berteriak histeris. Mereka sangat kaget karena tiba-tiba pintu terbuka sendiri, sedangkan di luar tidak ada siapa pun.


"Nggak ada siapa-siapa Ri," bisik Siska.


"Mungkin ... aaahhh!" Tari kembali berteriak.


Pintu yang barusan terbuka lebar, sekarang menutup sendiri. Gerakannya sangat cepat, sampai menimbulkan dentuman yang keras. Setelah itu, suasana kembali sunyi. Tidak ada derap langkah maupun hembusan angin.


Di tengah suasana yang mendadak tenang, bulu kuduk Tari dan Siska semakin meremang. Mata mereka menatap jeli ke sana kemari karena rasanya ada yang mengawasi. Tapi, tidak. Hanya perasaan mereka saja.


"Ahh," dengkus Tari. Dia lelah berada di posisi ini. Mengalami hal-hal di luar nalar dan dicekam rasa takut yang dalam.


Kini, Tari memejam sambil menenangkan pikiran. Dia buang jauh segala prasangka yang buruk. Setelah itu, tangannya yang diikat di belakang berusaha mencari ujung tali. Tapi, gagal. Ujung tali berada di bawah leher dan itu tidak terjangkau jari-jarinya.


Karena usahanya tidak berhasil, Tari beralih menatap Siska.


"Sis, kamu bisa menggapai ujung talimu?" tanya Tari.

__ADS_1


"Tidak. Tanganku di belakang, sedangkan ujung talinya di samping," jawab Siska.


"Samping mana?"


"Ini." Siska menjawab sambil menoleh ke kiri, menatap ujung tali yang ada di sekitar pinggang.


Tari tersenyum mendengar hal itu. Dia menemukan sedikit jalan untuk bebas dari sana.


"Kita harus kerja sama melepaskan tali ini Sis," kata Tari dengan semangat yang menggebu.


"Bagaimana caranya? Hanya jari-jariku yang bisa bergerak, itu pun terbatas." Siska kebingungan.


"Kita harus merapat. Nanti, aku yang melepas talimu. Setelah kamu bebas, gantian kamu yang melepas taliku." Tari menerangkan rencana yang sudah tersusun di otaknya.


Siska diam sejenak dan mencerna ucapan Tari.


"Ide bagus," ucapnya beberapa saat kemudian.


Setelah yakin mengerti, Tari dan Siska mulai menjalankan rencana. Namun karena kaki diikat sampai betis, maka mereka tidak bisa bergerak bebas. Hanya mengandalkan ujung jari untuk menghentak lantai, dan itu sangat menguras tenaga.


Namun, mereka tidak menyerah. Dengan usaha keras dan kesabaran ektra, pelan-pelan kursi yang mereka duduki bisa bergeser.


"Kita pasti bisa Sis, sedikit lagi," kata Tari dengan nafas yang terengah-engah.


"Aku akan berusaha lebih keras lagi," sahut Siska.


Walaupun peluh sudah membanjiri wajah, tapi dia tak patah semangat. Apalagi setelah melihat jaraknya dengan Tari semakin berkurang.


Ketika jarak mereka tinggal beberapa jengkal, kursi mendadak berat dan tidak bisa bergeser, seolah kaki-kakinya tertanam di lantai.


Tari dan Siska berusaha lebih keras lagi, tapi tetap tak ada hasil. Malah tenaga mereka yang semakin terkuras.


"Aku nggak kuat lagi Sis," ucap Tari. Dia sudah lemas, kepalanya terkulai begitu saja di sandaran kursi.


"Jangan menyerah Ri, kita pasti bisa. Sedikit lagi, ayo!" Suara Siska tersengal-sengal, dia pun kehabisan tenaga dan rasanya hampir pingsan.


Berbekal tekad yang kuat, Tari dan Siska kembali berusaha.


"Aargghh!" teriak Tari. Dia sudah mengerahkan sisa-sisa tenaga, tapi kursi yang diduduki tetap di tempat.


Hal yang sama juga terjadi pada Siska. Sisa tenaganya benar-benar habis, tapi kursinya tak bergeser sedikit pun.


Sadar akan usaha yang sia-sia, Tari dan Siska memilih diam. Bukan menyerah, melainkan mengumpulkan tenaga untuk usaha selanjutnya. Daripada terus memaksa dan berakhir pingsan.

__ADS_1


Di luar penglihatan mereka, makhluk hitam dan menyeramkan tertawa menyeringai. Ia berdiri di sudut ruangan yang tak jauh dari sesajen. Tatapannya tak lepas dari kaki kursi tempat Tari dan Siska diikat.


__ADS_2