
Beberapa jam telah berlalu, tapi Tari dan Siska belum berhasil melepaskan tali. Berulang kali berusaha hingga habis tenaga, tapi lagi-lagi sia-sia. Mereka mulai paham jika hal tersebut tidak wajar, pasti ada ulah makhluk lain di dalamnya.
Sepanjang hari, Tari dan Siska melewatinya dengan rasa takut. Dan kini ketakutan itu semakin menjadi karena malam telah tiba.
Hembusan angin dingin hampir setiap saat menerpa, membuat tengkuk meremang dengan sendirinya. Suara-suara aneh pun tak hanya terjadi satu kali dua kali, tapi sangat sering. Hal itu berhasil menjerat mereka dalam rasa takut yang sangat besar.
Di dalam ruangan itu, ada penerangan remang dari bulan purnama di luar sana. Sebuah hal yang menambah rasa ngeri bagi Tari dan Siska. Karena dengan penerangan remang, bayang-bayang sesajen terkadang menyerupai sosok yang menyeramkan.
Haaaaaaa!
Lagi-lagi Tari dan Siska dihantui suara aneh. Bahkan, sekarang bersamaan dengan sekelebat bayangan hitam yang melayang di atas sesajen. Meski hanya sepintas dan tidak jelas seperti apa wujudnya, tapi Tari dan Siska sudah hampir pingsan saking takutnya.
Hihihihi!
Kali ini terdengar tawa samar yang seakan-akan mengelilingi ruangan. Tidak terlihat bentuk rupanya, tapi tawa itu mengudara cukup lama.
Dalam suasana yang semakin mencekam, Tari diam dan memejam. Dia berusaha berdamai dengan keadaan. Dia tak ingin terpuruk pada rasa takut, malah sekuat tenaga mencoba menepisnya. Tapi, itu tidak mudah. Suasana di sekitarnya terlalu mengerikan untuk diabaikan.
Beberapa saat kemudian, Tari membayangkan Arum yang sedang koma dan arwahnya gentayangan di asrama. Dari sana, Tari berhasil membangun keberanian dan mendapatkan kembali tekad kuatnya.
"Demi Arum, demi Siska, dan demi diriku sendiri. Aku harus pergi dari tempat ini. Aku tidak boleh kalah dengan iblis-iblis yang dipuja Pak Hasan," batin Tari.
Setelah suara tawa berangsur hilang, Tari mencoba lagi menggeser kursi. Jari kakinya menyentak kuat dan di luar dugaan usahanya berhasil.
Sebelum kursi kembali berat seperti tadi, Tari berusaha sekuat tenaga menuju tempat Siska. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Di sisi lain, Siska pun kembali berjuang. Melihat tekad kuat dalam diri Tari, semangat Siska bangkit kembali. Bahkan dengan itu, Siska juga berhasil membuang sedikit rasa takutnya. Meski hasil usahanya tidak sebesar Tari, tapi perjuangannya cukup membantu.
"Ah, berhasil!" bisik Tari dan Siska ketika sudah merapat. Suara mereka terdengar parau dan nyaris tenggelam di antara nafas yang tersengal.
"Aku akan berbalik, arahkan ujung talimu ke tanganku!" ujar Tari dengan cepat.
"Iya."
Siska mengikuti instruksi Tari. Dia menggeser kursinya dan menghadap ke sisi yang lain. Lalu mengarahkan ujung tali ke tangan Tari, yang saat ini sudah memunggungi.
"Tarik yang bagian kanan." Siska memberi arahan karena yang dapat melihat posisi tangan Tari adalah dirinya.
Dengan cekatan, Tari menarik ujung tali seperti petunjuk Siska.
"Berhasil Ri!" ucap Siska setelah Tari berhasil membuka simpul. Dia tersenyum senang ketika tali yang mengikatnya mulai mengendur.
"Akhirnya, tidak sia-sia usaha kita." Tari menghela nafas lega.
__ADS_1
Tak lama kemudian, tali yang mengikat Siska sudah terlepas sempurna. Gadis itu berdiri dan dengan cepat melepas ikatan di tubuh Tari.
"Ayo cepat lari dari sini!" kata Siska ketika keduanya sudah berhasil bebas.
"Iya." Tari mengangguk dan siap pergi.
Namun, sebelum melangkah dia menatap ke arah sesajen. Untuk pertama kalinya dia berani menatap lama, setelah sebelumnya hanya sekilas karena takut.
"Ayo Ri!"
"Tunggu!" Tari melihat sesuatu yang familiar di antara sesajen. "Itu kayak bajunya Arum," sambungnya.
"Hah?" Siska turut menatap ke tempat sesajen.
"Bentar aku periksa," ucap Tari.
Kemudian, dia mendekati sesajen dan berjongkok di sana. Tari mengambil sehelai baju yang memang benar milik Arum.
"Jangan-jangan ini yang jadi penghubung antara Arum dan iblis-iblis itu, makanya arwahnya bisa gentayangan di sini. Aku akan membawanya," batin Tari sambil menggenggam erat baju tersebut.
"Gimana Ri?" tanya Siska yang saat ini sudah berdiri di belakang Tari.
"Ini memang milik Arum," jawab Tari.
"Kok bisa ada di sini, ya? Apa Pak Hasan yang mengambilnya?"
Siska terkesiap. Sekarang, dia pun sepemikiran dengan Tari.
"Kita harus cepat pergi dan laporin semua ini ke pihak kampus. Pak Hasan udah kelewatan, harus ditindak lanjuti," kata Siska dengan berapi-api.
"Kamu benar Sis." Tari mengangguk. "Ayo!" lanjutnya.
Tari dan Siska pun bersiap pergi dari ruangan itu. Tapi ternyata tidak semudah bayangan. Pintu mendadak terkunci dan tidak bisa dibuka.
"Apa dikunci sama Pak Hasan, tapi tadi siang___"
"Sepertinya ini nggak wajar Sis, sama kayak kursi tadi," potong Tari.
Mendengar jawaban Tari, bulu kuduk Siska langsung berdiri. Rasa takut yang tadi sempat surut, sekarang kembali menjadi.
Siska melangkah mundur dan menjauhi kenop pintu. Dia takut jika nanti ada makhluk menyeramkan muncul di sana.
Benar saja dugaannya. Sedetik setelah Siska mundur, suara tawa kembali menggema, bersamaan dengan sekelebat bayangan hitam yang menembus pintu begitu saja.
__ADS_1
"Aaahhh!" jerit Siska sambil menutup wajah. Dia semakin mundur hingga tubuhnya merapat di dinding.
"Aahh!" teriak Tari.
Dia terpental dan mundur beberapa langkah, karena sosok itu muncul dengan tiba-tiba di hadapannya. Meski hanya melesat dan tidak menyentuh sedikit pun, tapi Tari sangat kaget.
Setelah berhasil menenangkan diri, Tari menatap temannya yang masih syok.
"Siska!" panggil Tari.
"Aku takut Ri," jawab Siska dengan kepala yang terus menunduk.
"Jangan takut, kita hadapi ini bersama-sama. Yakin saja, kita pasti bisa keluar dari sini. Ayo Sis bantu aku membuka pintu!" Tari melirik awas ke sisi kanan dan kiri, memastikan bahwa sekelebat bayangan tadi benar-benar pergi.
"Tidak Ri, aku takut. Di sana ... di sana___"
"Jika takut, maka kita harus pergi. Di luar sana aman Sis, jadi kita jangan membahayakan diri dengan menyerah di tempat ini," pungkas Tari berusaha menenangkan Siska.
Kali ini, yang Tari pikirkan hanyalah keluar dari sana. Dia tidak lagi terbelenggu pada rasa takut. Karena dari pengalamannya tadi, semakin merasa takut maka dirinya semakin lemah.
"Kamu tidak boleh takut Sis, kita pasti bisa. Ingat Arum, kita harus menyelamatkannya." Tari kembali bicara. Kali ini sambil mendekati Siska dan menggenggam tangannya.
Siska menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Setelah berulang kali melakukan itu, perasaannya mulai membaik. Lalu, Siska membayangkan Arum yang saat ini sedang terbaring koma di rumah sakit. Berkat itu, rasa takutnya mengendur dan dia punya keberanian untuk mendekati pintu.
"Bagaimanapun caranya, pintu ini harus dibuka. Kita nggak boleh terus-terusan terkurung di sini," kata Tari.
Tangannya tak berhenti memutar kenop. Dia yakin pintu itu akan terbuka cepat atau lambat. Sama seperti saat dirinya terkurung di kamar 201, pintu yang semula terkunci pada akhirnya terbuka meski membutuhkan waktu lama.
Ceklek!
Keyakinan Tari menjadi kenyataan. Setelah cukup lama berusaha, akhirnya pintu berhasil dibuka.
Tari dan Siska bernafas lega, karena kesempatan bebas sudah terbentang di depan mata.
Selanjutnya, Tari dan Siska melangkah keluar dan bersiap pergi dari ruangan itu. Meski tubuh sangat lelah dan penuh keringat, tapi keduanya tersenyum lebar. Usaha sudah berhasil, mereka selamat dan kemungkinan besar juga bisa menyelamatkan Arum.
Akan tetapi, tanpa mereka sadari saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Saat yang paling tepat bagi para iblis untuk keluar dan menerkam mangsa.
Kala itu, Tari dan Siska baru dua langkah di depan pintu. Dengan terpaksa mereka berhenti karena kakinya tak bisa digerakkan, seolah ada magnet yang menariknya dari bawah.
Tari dan Siska merinding seketika. Perlahan keduanya menunduk dan langsung membelalak. Bahkan di luar kendali, mereka berteriak histeris.
"Aaaaarghhhh!!"
__ADS_1
Di bawah sana, tangan besar, hitam, dan berbulu mencengkeram pergelangan kaki Siska dan Tari. Kuku-kukunya yang panjang dan runcing, siap melukai kulit jika mereka sembarangan bergerak.
Tari dan Siska gemetaran. Peluh bercucuran seiring detak jantung yang berantakan. Mereka tak bisa berkutik karena semakin lama cengkeraman itu semakin menguat. Wajah Tari dan Siska langsung pucat pasi, otak pula mendadak buntu dan tak bisa berpikir jernih.