Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 14 - Rooftop Asrama


__ADS_3

Keesokan harinya, Tari dan Siska kembali tidur seharian. Kebetulan memang hari Minggu, yang mana mereka tidak perlu kuliah. Dan ketika malam tiba, mereka kembali terjaga seperti sebelumnya.


Karena penasaran dengan sikap Pak Hasan yang berkeliaran tengah malam, hari ini Tari dan Siska memutuskan untuk mengikutinya.


"Kali ini kita nggak boleh takut lagi Ri. Misal ada gangguan kayak tadi malam, kita abaikan aja. Kita harus berhasil mengikuti Pak Hasan, biar nggak penasaran mulu," ujar Siska sambil mengenakan jaket. Dia sengaja memakai itu untuk menghalau hawa dingin yang sering berhembus tanpa tahu waktu.


"Iya, kita harus mencari tahu jawabannya. Aku penasaran dengan rahasia di asrama ini. Kenapa kesannya angker banget, dan kenapa juga ada penampakan Arum padahal dia sedang koma." Tari menjawab dengan antusias.


Setelah melihat Pak Hasan semalam, Tari memang dirundung rasa penasaran. Dia bertekad untuk menguak habis rahasia-rahasia yang tersimpan di asramanya. Dia tak ingin terus-terusan diteror tanpa tahu penyebabnya.


"Satu jam lagi," gumam Siska ketika melihat jam di ponselnya, masih menunjukkan angka sebelas.


"Masih ada waktu untuk menyiapkan mental," gurau Tari diiringi tawa renyah. Dia sengaja mencairkan suasana agar tidak tegang.


Satu jam kemudian, Tari dan Siska beranjak dan membuka pintu kamar. Mereka melongok sebentar, lalu melangkah keluar dengan pelan.


"Itu suaranya," bisik Tari.


Dia menarik lengan Siska dan mengajaknya bersembunyi di sudut dinding, di tempatnya kemarin. Saat itu, suara langkah kaki sudah terdengar samar-samar dari bawah sana.


Tanpa menunggu lama, sosok Pak Hasan muncul di tangga. Dia melangkah naik sambil membawa nampan.


Pada saat yang sama, angin dingin yang menusuk tulang mulai berhembus. Tapi, Tari dan Siska tidak gentar. Mereka berusaha menepis rasa takut agar tetap yakin dengan niat awal.


"Dia ke sana lagi," bisik Siska ketika melihat Pak Hasan berjalan di depan kamar-kamar, persis seperti kemarin malam.


"Ayo kita ikuti!" jawab Tari juga dengan bisikan.


Kemudian, Tari dan Siska mengendap-endap mengikuti langkah Pak Hasan. Ternyata pria itu berjalan hingga kamar yang paling ujung.

__ADS_1


Ketika Pak Hasan akan berbalik, Tari dan Siska langsung bersembunyi di balik dinding penyekat. Di sana, mereka menatap heran karena Pak Hasan tidak melakukan apa pun. Hanya berjalan dan kemudian berbalik lagi.


Tari dan Siska kembali mengikuti. Kali ini, Pak Hasan menuju tangga dan naik ke lantai empat. Apa yang dia lakukan sama seperti sebelumnya, yakni berjalan hingga kamar paling ujung dan kemudian berbalik lagi.


"Sebenarnya apa sih yang dia lakukan, kok dari tadi cuma jalan-jalan doang?" gerutu Tari dengan pelan. Dia sedikit kesal karena belum menemukan petunjuk.


"Ikutin aja terus, dia ngelakuin ini nggak mungkin tanpa tujuan," jawab Siska.


Kemudian, mereka kembali mengikuti langkah Pak Hasan. Beruntung, kali ini tidak ada gangguan yang menyeramkan, hanya hawa dingin yang muncul beberapa waktu lalu.


Setelah mengelilingi seluruh lantai di asrama, Pak Hasan berjalan menuju rooftop. Tari dan Siska tetap mengikutinya. Sambil menatap awas, mereka menapaki anak tangga yang hampir tidak terkena cahaya.


Dalam suasana yang gelap, hawa dingin kembali berhembus, disusul suara-suara aneh yang entah dari mana asalnya. Tapi, Tari dan Siska berusaha mengabaikan. Mereka terus berjalan agar tidak kehilangan jejak Pak Hasan.


Penerangan di rooftop berbeda dengan lantai-lantai di bawah. Di sana sangat suram, bahkan di sebagian sudut tampak gelap gulita. Meski menakutkan, tapi keadaan tersebut menguntungkan bagi Tari dan Siska, karena lebih mudah untuk bersembunyi.


"Dia masuk sana," ucap Siska sambil menunjuk Pak Hasan yang sedang masuk ke dalam ruangan.


Tari dan Siska berdiri tepat di depan pintu. Mereka membungkuk dan mencoba mengintip dari lubang kunci. Tapi, hanya kegelapan yang mereka lihat.


Tari dan Siska semakin penasaran, tapi tak berani memutar gagang pintu. Mereka tak mau keberadaannya diketahui Pak Hasan. Akhirnya, Tari memilih pergi dari sana. Dia mengajak Siska kembali ke kamar.


"Kita cari kesempatan untuk kembali ke sini. Aku penasaran ruangan apa itu," bisik Tari setelah menjauh dari pintu.


"Iya. Nanti kita atur waktunya," jawab Siska.


Keduanya terus berjalan di bawah keremangan. Tidak ada lagi perbincangan, masing-masing hanya bergelut dengan pikiran yang menyimpan tanda tanya besar.


Ketika mereka hampir mencapai tangga, Siska tersentak. Dia teringat sesuatu yang sangat penting, yang tadi sempat dilupakan.

__ADS_1


"Ri!" panggil Siska sambil menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Tari menoleh dan melihat raut wajah Siska penuh kekhawatiran.


Siska bergeming. Jangankan untuk bicara, menelan ludah saja ia kesulitan.


"Kenapa Sis? Jangan membuatku takut!" Tari kembali bicara. Kali ini sambil menggoyangkan lengan Siska.


"Aku baru ingat ... rooftop ini adalah larangan. Semua penghuni asrama tidak boleh datang ke sini."


Deg!


Jantung Tari seakan meloncat dari tempatnya.


Belum sempat Tari bicara, hawa dingin kembali berhembus. Lalu, samar-samar terdengar suara tawa yang menyeramkan.


Tari dan Siska saling berpegangan. Mereka melirik ke sana kemari tanpa melangkahkan kaki. Keduanya diliputi rasa takut yang amat besar.


Haaaa!!


Tari dan Siska terperanjat karena suara itu seakan tepat di telinga. Dengan gerak cepat mereka menoleh ke samping, tapi tidak ada apa pun di sana.


Haaaa!!


Spontan Tari dan Siska mendongak, karena suara itu seolah berada di atas kepala. Tapi, lagi-lagi kosong. Tidak terlihat sosok apa pun.


Selanjutnya, suara-suara itu semakin banyak terdengar. Dari samping kanan, kiri, atas, bawah, dan belakang. Seakan-akan mereka dikelilingi makhluk lain dalam jarak yang dekat.


Tari dan Siska gemetaran. Keringat dingin bercucuran dan detak jantung tak beraturan. Kaki pun tiba-tiba lemas, sangat sulit untuk digerakkan.

__ADS_1


Siska panik. Dia menyusun siasat untuk melesat cepat dan menjauhi tempat itu. Sedangkan Tari, dia memejam dan berusaha menenangkan diri.


Beberapa saat kemudian, mereka saling beradu pandang. Lalu mengangguk pelan sebagai isyarat untuk melakukan gerakan.


__ADS_2