Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 27 - Sadar


__ADS_3

Tiga hari kemudian, keajaiban terjadi pada Arum. Gadis itu sadar dan berhasil meninggalkan masa koma. Kini, dia sudah dipindahkan ke ruang inap, bukan lagi IGD seperti kemarin.


Doni duduk di sebelah ranjang Arum. Pandangannya penuh haru menatap wajah sang kekasih yang sudah lama terbaring koma, dan akhirnya hari ini membuka mata.


"Doni," panggil Arum.


"Aku seneng banget akhirnya kamu sadar, Rum. Pas kamu koma kemarin, aku nggak tega banget lihatnya. Andai aja bisa, aku pasti udah gantiin posisi kamu." Doni bicara sambil menggenggam tangan Arum.


"Pola makanku emang nggak teratur Don. Jadi, tipesku kambuh. Cuma ... aku nggak nyangka kalau akan separah ini, sampai koma berhari-hari." Arum tersenyum tipis. Dia gerakkan jemarinya dan mengusap tangan hangat Doni.


"Ini bukan tipes biasa," sahut Doni.


Arum mengernyit, "Apa maksudmu?"


Doni menghela nafas panjang. Meski Arum belum lama sadar, tapi Doni ingin menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Doni juga ingin tahu apa yang dilakukan Arum sebelumnya, apakah sama dengan yang dilakukan Tari atau tidak.


"Kamu ingat Pak Hasan?" tanya Doni.


"Ingat. Dia kan penjaga asrama," jawab Arum.


"Apa aja yang kamu lakukan sebelum sakit? Kamu jadi menyelidiki langkah kaki itu?" tanya Doni.


"Iya. Aku ... ngikutin dia sampai ke rooftop. Di sana ada ruangan dan Pak Hasan masuk ke sana. Pas aku mau ngintip, nggak sengaja daun pintunya kedorong. Jadi, aku ketahuan. Ruangan itu gelap, aku nggak lihat apa-apa selain sesajen yang dibawa Pak Hasan. Pas aku mau kabur, tiba-tiba semuanya gelap," terang Arum sambil mengingat-ingat kejadian menegangkan sebelum jatuh sakit.


"Terus?"


"Antara nyata dan mimpi, aku kayak ngerasa tidur di kamar 201. Aku kayak ngelihat banyak orang, tapi ... aku nggak bisa nyapa mereka. Tubuhku kayak lemes, nggak bisa ngapa-ngapain. Abis itu udah, aku nggak inget apa-apa lagi." Arum menceritakan semua hal yang dia rasakan.


"Arwahmu disesatkan sama iblis. Itu semua karena perbuatan Pak Hasan. Dia bersekutu sama iblis," ucap Doni.


Arum tercengang, "Serius?"


"Iya. Tari dan Siska yang membuktikan semua ini. Mereka mengikuti Pak Hasan ke rooftop dan hampir menjadi korban selanjutnya. Untung, Siska bisa lolos dan minta tolong sama warga. Jadi, mereka selamat dan Pak Hasan juga bisa ditangkap," ungkap Doni.


"Terus keadaan mereka sekarang gimana?" Arum bertanya cepat. Meski dia sendiri masih sakit, tapi sangat mengkhawatirkan keadaan dua temannya.


"Kemarin ... mereka masih pingsan," jawab Doni.


Arum menggigit bibir. Dia sangat sedih dengan kondisi Tari dan Siska.


"Jangan banyak berpikir, mereka pasti sembuh. Kita bantu doa, ya." Doni menatap lekat sambil mengusap-usap pipi Arum yang masih pucat.

__ADS_1


"Siapa yang jaga mereka? Aku pengen ngomong dan tanya langsung gimana keadaannya," kata Arum.


Doni tak segera menjawab, hanya menggenggam tangan Arum lebih erat guna menenangkannya.


Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda, Tari dan Siska sudah terjaga dari pingsannya. Keadaan mereka membaik, tinggal pemulihan saja. Sama seperti Arum, mereka juga pindah kamar. Kini, keduanya dirawat di ruang inap dengan ranjang yang bersebelahan.


Berita itu disambut bahagia oleh kawan-kawannya. Meski mereka hanya berkabar via ponsel, tapi Tari dan Siska sangat senang. Terlebih lagi ketika mendengar keputusan Pak Hamid, yang akan mengosongkan asrama untuk direnovasi ulang.


"Semoga setelah renovasi, nggak ada hal-hal seram lagi ya Ri," kata Siska.


"Iya Sis. Aku juga berharap gitu. Nggak lagi-lagi deh mengalami hal yang kayak kemarin, takut banget aku," jawab Tari dengan senyum yang mengembang.


"Bener Ri. Aku udah ngerasa mati aja. Pas berhenti di gerbang itu, teriak-teriak sampai tenggorokan sakit nggak ada yang dengar. Malah tiba-tiba ada sosok serem yang datang. Udah pasrah aku, nggak kuat kabur." Siska menceritakan pengalaman seramnya.


"Terus, gimana caramu lolos? Para warga itu tahu dari kamu, kan?" tanya Tari.


"Iya. Pas aku nyerah, tiba-tiba ada suara langkah. Awalnya kukira itu hantu, ternyata bapak-bapak sebelah. Aku ngadu banyak ke dia, aku suruh buru-buru masuk buat nyelametin kamu. Aku takut kamu udah ketangkep karena nggak nyusul-nyusul. Abis itu ... aku nggak inget apa-apa, semuanya gelap," terang Siska.


"Iya, aku ketangkep lagi Sis gara-gara Bu Rima. Aslinya aku udah lolos, tapi pas mau turun tangga, aku dicegat sama Bu Rima. Aku udah lelah banget, nggak sanggup lagi menghadapi mereka." Tari mengembuskan nafas panjang. Mengingat kejadian seram itu selalu saja membuatnya bergidik ngeri.


"Syukurlah sekarang kita selamat, mereka juga udah mendapat sanksi." Siska tersenyum.


"Iya. Kalau udah keluar dari sini, aku mau ngucapin banyak-banyak terima kasih sama Doni. Dia berjasa banget sama keselamatan kita," ujar Tari, yang kemudian ditanggapi anggukan oleh Siska.


Dia bercerita tentang keberanian Doni yang katanya datang sambil membawa bambu runcing dan langsung menggertak Pak Hasan. Kebetulan, tempat tinggal Doni memang tidak jauh dari asrama. Jadi, begitu mendengar keramaian di sana, dia bergegas lari dan bergabung dengan para warga.


Sejak hari-hari sebelumnya, dia memang berniat menyelidiki asrama itu karena menurutnya sakit yang diderita Arum tidak wajar. Beberapa hari sebelum sakit, Arum sempat bercerita tentang langkah kaki tengah malam. Arum juga mengatakan jika dia sangat penasaran dan ingin menyelidiki hal itu.


Dari sanalah, Doni mulai curiga. Hanya saja, dia belum sempat menyelidiki. Maklum, dia tidak tinggal di asrama. Jadi sedikit kesulitan melakukan itu.


"Semoga Arum juga cepat sembuh," gumam Tari dengan penuh harap.


Belum sempat Siska menjawab, tiba-tiba ponsel Tari berdering. Dia bergegas melihatnya dan ternyata Arum yang memanggil.


"Arum Sis." Tari menunjukkan layar ponselnya ke arah Siska.


"Angkat aja Ri. Mudah-mudahan kabar baik," jawab Siska.


Sedetik berselang, Tari mengusap tombol hijau. Panggilan pun langsung tersambung.


"Hallo Tante," sapa Tari. Selama ini yang memegang ponsel Arum memang ibunya, jadi Tari langsung menyapa 'tante'.

__ADS_1


"Ini aku Ri, Arum. Aku udah mendingan di sini. Kamu juga baik kan di sana?" jawab Arum dari seberang sana.


Tari terkejut dan langsung berteriak, "Arum! Ini benar kamu?"


Di sebelahnya, Siska juga terkejut. Tak bisa digambarkan lagi betapa bahagia hatinya saat mengetahui Arum sudah siuman.


"Itu beneran Arum? Ri aku ikut ngobrol dong," pinta Siska dan Tari mengiakan permintaan itu.


"Rum, Siska juga mau ngobrol. Ini kami bersebalahan. Gimana kalau kita VC aja?" Binar-binar kebahagian terpancar jelas dari mata Tari. Dia sangat senang kedua temannya terbebas dari masa kritis.


"Boleh, aku juga kangen banget sama dia," jawab Arum.


Tak lama kemudian, Arum mengakhiri sambungan telepon dan memanggil ulang dengan VC.


Setelah VC terhubung, ketiganya menangis bersama-sama. Mereka terharu bisa berbincang kembali dalam keadaan baik, setelah sebelumnya melewati hal-hal menakutkan yang mengancam nyawa.


"Eh, ada Doni juga. Aku mau ngucapin banyak-banyak makasih loh sama dia. Berkat dia, aku bisa diselamatkan tepat waktu," ujar Tari ketika melihat keberadaan Doni.


"Sama-sama Ri. Kita teman dan lagi ... aku juga berjuang nyelamatin dia. Nggak sanggup lihat dia pingsan terus," sahut Doni seraya menunjukkan tangannya yang sedang menggenggam jemari Arum.


"Ciee, makin dekat aja. Buruan halalin Don!" goda Tari.


"Secepatnya Ri, tunggu aja tanggal mainnya," jawab Doni yang langsung membuat Arum tersipu.


"Apaan sih, masih kuliah ya. Nggak boleh halal-halalan." Arum menyela sambil tersenyum malu.


"Oke deh halalnya nanti, tapi lamarannya dalam waktu dekat boleh, kan?" Doni tersenyum ke arah Arum.


"Nggak ada, nanti kalau udah wisuda." Arum berpaling dan menghindari tatapan Tari dan Siska, yang saat ini sedang tertawa.


"Cincinnya udah kubeli loh, permatanya warna biru safir, persis seperti warna kesukaanmu." Doni masih terus menggoda, entah serius atau bercanda.


"Udahan bercandanya Don!" kata Arum sambil mencubit lengan Doni.


"Kalian bikin nganan deh," ujar Tari.


"Iya. Lama-lama nggak baik untuk kaum jomblo," timpal Siska.


"Makanya cari pacar, banyak yang ganteng loh di kampus. Tinggal pilih aja kalian," ledek Doni.


"Mereka bebas milih, tapi yang ganteng juga bebas nolak." Arum turut menyahut.

__ADS_1


"Arum!" teriak Tari dan Siska secara bersamaan.


Sesaat kemudian, mereka berempat tertawa lepas. Seakan-akan tak ada lagi beban yang mengganggu. Dalam balutan rasa lega dan bahagia, mereka terus berbincang. Mulai dari bertukar pengalaman seram, sampai rencana jalan bersama setelah keluar dari rumah sakit.


__ADS_2