Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 9 - Langkah Kaki Tengah Malam


__ADS_3

"Tari! Tari! Kamu kenapa?"


Teriakan dan guncangan keras di lengannya, membuat Tari tersadar dari lamunan. Dia menoleh dan menatap Siska yang sudah berjongkok di depannya.


"Siska," gumam Tari.


"Kamu kenapa?" tanya Siska dengan cemas. Lalu, diambilkannya ponsel Tari yang tergeletak di dekat kaki.


Tari seperti orang linglung. Dia tidak sadar jika tubuhnya merosot dan duduk di dekat anak tangga. Dia juga tidak tahu jika ponselnya sudah terlepas dari genggaman. Dia benar-benar shock dengan informasi barusan.


"Ayo bangun dulu!" ucap Siska sambil membantu Tari berdiri.


Ketika sudah berdiri, Tari menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia lakukan berulang kali agar sesak di dadanya sedikit mengendur.


"Ada apa?" tanya Siska dengan penuh selidik.


"Tadi ... ibunya Arum nelpon aku," ucap Tari. Suaranya masih tertahan di tenggorokan.


"Terus?"


"Tadi ... tadi___"

__ADS_1


"Ayo cari minum di kantin! Kamu tenangkan diri di sana, setelah itu kita bicara pelan-pelan," ajak Siska.


Tari mengangguk dan menyetujui ajakan Siska. Kemudian, mereka berdua berjalan menuju kantin.


Setibanya di sana, Siska langsung memesan minuman, sedangkan Tari hanya menunggu di kursi karena tenaganya belum pulih total.


Setelah Siska datang, Tari meneguk minuman dengan cepat, bahkan segelas penuh hampir tandas ke tenggorokan. Setelah itu, barulah dia bicara.


"Arum koma sejak tiga hari yang lalu," ucap Tari masih dengan suara pelan, tapi sangat jelas di pendengaran Siska. Gadis itu langsung membelalak saking terkejutnya.


"Koma?" Siska mengulangi ucapan Tari dengan terbata. Dia tak menyangka keadaan temannya sangat parah. Setahu dia, saat itu Arum hanya sakit tipes.


Tari mengangguk, "Kata ibunya, Arum pulang sejak minggu lalu. Tapi, kemarin aku benar-benar ketemu dia. Dia menyambutku dan mengantarku sampai ke kamar. Aku nggak salah lihat. Aku berani bersumpah, itu memang Arum."


"Tapi, aku benar-benar ketemu dia Sis. Kami ngobrol banyak. Aku tahu kamu sekamar dengan dia, itu juga dari cerita Arum." Tari masih tetap pada pendapatnya. Dia ingin meyakinkan Siska bahwa penglihatannya tidak keliru.


Siska diam, tak tahu harus menjawab apa. Melihat ekspresi Tari, Siska yakin gadis itu tidak bohong. Tapi, tak mungkin juga membenarkan, karena dia tahu Arum tidak ada di asrama.


"Pertemuanku dengannya, rasanya benar-benar nyata. Tapi jika dia koma, mana mungkin itu nyata. Ahh, lama-lama aku gila memikirkan ini," ujar Tari frustrasi. Dia memegangi kepalanya sambil menggeleng keras.


Siska belum menyahut. Dia biarkan Tari dengan tindakannya sendiri. Pikirnya, mungkin dengan begitu Tari bisa melepaskan sedikit beban.

__ADS_1


Setelah cukup lama saling diam, Siska mengembuskan nafas kasar. Kemudian, mengungkit kembali kejadian kelam ketika Arum masih ada di asrama.


"Sebelum Arum sakit, dia pernah hilang selama sehari semalam," ucap Siska.


"Hilang?" Tari terkejut.


"Iya, dia hilang. Nggak ada yang tahu ke mana perginya. Kami semua berusaha mencari, tapi nggak ketemu. Setelah sehari semalam, barulah dia ditemukan. Dia berada di kamar 201 dan dalam keadaan pingsan. Setelah itu, dia sakit dan dipulangkan, sampai sekarang," terang Siska.


"Kamar 201, kamarku?" tanya Tari. Saat ini, detak jantungnya sudah di luar kendali.


"Iya." Siska mengangguk. "Sebenarnya ... asrama kita itu angker. Hampir semua penghuni kamar pernah mendengarkan langkah kaki di tengah malam. Tapi, pas dilihat nggak ada siapa-siapa," sambungnya.


"Kamu juga pernah?" tanya Tari, dan Siska menanggapinya dengan anggukan.


"Serius?" Bulu kuduk Tari mulai berdiri dengan sendirinya.


"Untuk apa aku bohong?" jawab Siska.


Dalam beberapa detik, Tari dan Siska saling pandang. Keduanya tak bicara dan hanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Sebuah pikiran yang membuat mereka semakin merinding.


Meski suana masih siang dan ramai dengan aktivitas orang, tapi Tari dan Siska merasakan hawa dingin yang menyergap di tengkuk. Walau sudah diusap berkali-kali, tapi rasa itu tetap ada, malah semakin menjadi.

__ADS_1


Akhirnya, Tari dan Siska memutuskan untuk pergi dari sana. Namun di luar pengetahuan mereka, sosok menyeramkan sedang menyeringai di sudut kantin. Tatapannya tak lepas dari Tari dan Siska.


Dalam sekejap, sosok menyeramkan itu berjalan mengambang. Entah apa yang akan dia lakukan, yang jelas saat ini mengikuti langkah Siska dan Tari. Ketika jaraknya semakin dekat, tangannya terulur ke depan dan hampir menyentuh bahu.


__ADS_2