
Pupus
Riuh suara bising kenalpot mulai terdengar ramai di jalanan depan kontrakan tempat tinggal Abil, sebagian perantau yang sudah mulai libur dari bekerja mulai meninggalkan kota untuk pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran idul fitri. Hari ini adalah hari ke dua puluh lima ramadhan, tepatnya lima hari menjelang lebaran tiba.
Hari ini Abil berencana pulang kampung bersama Apri, teman yang tinggal di kamar kontrakan sebelah Abil dan satu kampung denganya. Mereka berencana berangkat selepas isya dengan menggunakan motor masing – masing. Abil libur selama dua minggu ke depan, dan ini adalah libur lebaran pertama Abil di perantauan dan mudik pertama kali juga baginya, jadi Abil sangat antusias dengan hal ini.
Abil sudah mempersiapkan keperluan untuk mudik di minggu – minggu kemarin, mulai dari kesiapan kendaraan dan keperluan pendukung lainya. Setelah tidur sekitar satu jam dari sepulang bekerja tadi siang, Abil dan Afri kemudian berangkat sekitar pukul delapan malam. Perjalanan sejauh kurang lebih empat ratus lima puluh kilometer akan mereka lalui dengan durasi waktu jika lancar sekitar sembilan sampai sebelas jam, atau jika ada kendala macet pastinya memerlukan waktu yang lebih lama.
Lalu lintas terbilang lancar untuk mudik tahun ini, hanya saja karena ini kali pertama Abil menempuh perjalanan yang lumayan jauh dengan Ia mengendarai sendiri kendaraanya, cukup banyak waktu yang mereka gunakan untuk beristirahat, hingga akhirnya sekitar pukul sembilan pagi mereka baru tiba di rumah. Tapi tak apa kata Abil, lagian lebaran juga masih empat hari lagi, buru – buru malah lebih berisiko terhadap keselamatan.
Sesampainya di rumah, Abil di sambut Ibunya yang sedang duduk santai bersama Pak Lek dan Bu Lek di teras depan rumah. Mereka terlihat senang dengan kepulangan Abil yang sudah sekitar delapan bulan tidak bertemu, Ibu juga terlihat sangat bahagia hari ini setelah kepulangan Abil. Abil kemudian masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri dan beristirahat, selain mata yang masih ngantuk, pinggang, kaki dan tangan Abil juga merasa pegal sekali setelah tiga belas jam berkendara.
Hari – hari menjelang lebaran Abil gunakan untuk kembali menikmati suasana di kampungnya, Ia terkadang pergi berkeliling di daerah sekitar tempat tinggalnya sambil ngabuburit menunggu berbuka puasa sambil mencari takjil untuk berbuka nanti. Saat malam, Abil bersama pemuda lain di desanya membuat persiapan untuk acara takbir keliling, dengan harapan agar lebaran tahun ini bisa lebih meriah.
Hingga akhirnya malam lebaranpun tiba, suasana meriah menyelimuti kampung tempat tinggal Abil. Mulai dari takbir keliling yang di adakan, pesta kembang api, oncor dan lampion membuat malam takbir lebaran tahun ini semakin terasa ramai. Saat hari lebaranpun Abil dan teman seusianya yang baru tahun – tahun pertama setelah merantau merasa sangat antusias dengan momen lebaran kali ini.
Hingga pada lebaran hari ke empat setelah silaturahmi dengan keluarga dan kerabat Abil selesai, selepas maghrib Abil pergi dengan motornya menuju rumah Venti. Wanita yang Abil taksir dari masa sekolah SMP dulu, Abil berjanji ke dirinya sendiri jika di masa depan Ia mendapat kesempatan dan memiliki kesiapan yang cukup untuk bisa menyatakan perasaanya langsung ke Ventin, maka Ia akan melakukanya dengan langsung meminta restu dan izin ke orang tua Venti.
Sebelum berangkat tadi, Abil sudah memastikan bahwa Venti sedang berada di rumah dan bisa di temui malam ini. Rumah Venti berada sekitar lima belas menit dari rumah Abil dengan menggunakan sepeda motor dan berada di dekat jalan utama penghubung antar kecamatan. Sesampainya di ruma Venti, Abil kemudian memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Di sambut Venti yang membukakakan pintu dan mempersilahkan Abil untuk duduk di bangku ruang tamu.
Mereka berdua terlihat canggung satu sama lain, selain sudah lama tidak bertemu, mereka juga hanya sesekali berkomunikasi dengan telephone, itu pun menggunakan pesan teks. Sudah sekitar empat tahun semenjak lulus SMP, dan ini kali pertama mereka bertemu secara langsung setelah waktu lama tersebut. Tapi karena hal itu juga suasana pertemuan mereka menjadi sepesial, yang mana mereka dengan pengalamanya masing – masing semakin bertumbuh dan menjadi peribadi yang semakin dewasa.
Mereka membahas tahun – tahun kebelakang sejak masa lulus sekolah hingga rencana hidup kedepanya. Antusiasme diskusi terlihat di antara keduanya, entah itu karena mereka teman lama atau ada perasaan lain yang hadir ketika mereka saling bicara. Hingga tiba – tiba dari balik horden ruang tengah rumah Venti tiba – tiba terbuka dan terlihat sosok tinggi besar menggunakan kaos lengan pendek dan sarung datang menghampiri Abil dan Venti yang sedang duduk.
Sosok tersebut adalah Ayah Venti, sepertinya Ia ingin memastikan tamu yang datang. Dan sembari tersenyum kepada Abil, Ia kemudian duduk di bangku sebelah Venti kemudian memfokuskan tubuh dan pandanganya ke arah Abil sembari berkata,
“Apa kabar Mas?” Tanya Ayah Venti kepada Abil
“Alhamdulillah baik Pak, Bapak Apakabar?” Jawab Abil sembari bertanya kabar Ayah Venti
__ADS_1
“Alhamdulillah baik juga, kamu benar dari kampung sebelah tinggalnya?” Tanya Ayah Venti lagi kepada Abil.
“Benar Pak, di desa sebelah utara SMP Negri tepatnya” Jawab Abil memperjelas tempat tinggalnya
“Ohh di desa ujung desa ini ya, kamu kenal Pak Sita dong?” Tanya Ayah Venti lagi
“Iya Pak betul, Iya kenal Pak. Kebetulan itu Pak Lek saya, ada apa ya Pak?” Tanya Abil heran dengan pertanyaan Ayah Venti
“Oh Pak Lek mu to, Nggapapa Mas nanya saja. Ayahmu berarti Pak Tino ya?” Ayah Venti melanjutkan pertanyaanya
“Iya Pak betul, itu Bapak saya” sahut Abil menjawab pertanyaan Ayah Venti. “Siall, sepertinya Ayah Venti kenal sama Bapakku. Yasudahlah memang itu kenyataanya” kata Abil dalam hati, yang mana dengan kenalnya Ayah Venti dengan Bapak Abil pasti memberikan dampak negative buat Abil, yang mana Bapaknya cukup terkenal di daerahnya tinggal karena merupakan salah satu orang bermasalah.
“Yasudah, sok di lanjutkan ngobrolnya, Bapak tinggal ke dalam dulu ya” Kata Ayah Venti sembari beranjak dari kursi dan kemudian berjalan menuju ke dalam
“Iya Pak, baik” jawab Abil kepada Ayah Venti
Abil dan Venti kemudian melanjutkan obrolan mereka, di ketahui sekarang Venti sedang melanjutkan pendidikan di sekolah keperawatan di daerah Jogja, yang mana Ia berkeinginan bahwa kelak Ia ingin bekerja sambil tetap bisa membantu orang lain di bidang kesehatan. Hingga pada akhirnya Abil memberanikan diri mengutarakan apa yang di rasakanya semenjak masa sekolah dulu hingga sekarang, selain Ia ingin menepati janji ke dirinya sendiri untuk hal ini, Ia juga berharap bisa menjalani hari – hari kedepanya dengan Venti meskipun kondisinya mereka sekarang sedang berbeda kota dalam menuju impian kariernya.
“Ngomong apa Bil, yaudah gih tinggal bicara aja kok” sahut Venti kepada Abil
“Dari dulu aku selalu minder ketika akan mengatakan ini, kondisiku secara materi belum cukup untuk aku bisa memberanikan diri mengatakan ini. Aku rasa aku harus melayakan diri dulu untuk sesuatu yang akan aku lakukan, termasuk kali ini. Ven, aku mau bilang kalau aku sebenarnya suka sama kamu, jika Aku di kasih kesempatan untuk bisa lebih dekat denganmu, semoga di masa depan aku bisa benar- benar membahagiakanmu” Ucap Abil kepada Venti
Ventin menghela nafas pelan dan dalam seraya menundukan kepalanya, Ia sejenak terdiam dengan yang Abil katakan. Bibirnya di tarik kedalam kemudian menatap tajam Abil sambil berkata,
“Bil, sebelumnya aku berterima kasih karena kamu sudah jujur dengan perasaanmu. Tapi maaf, Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sesuai dengan keinginanmu. Jujur sebenarnya sudah lama Aku juga menyimpan rasa kepadamu, suatu waktu Aku pernah berharap Kamu mengatakan hal ini, tapi bukan sekarang melainkan di tahun – tahun yang lalu. Aku juga ragu bahwa apa yang Aku rasakan terhadapmu hanya Aku sendiri yang merasakan tapi tidak denganmu.” Ucap titin menerangkan jawabanya.
Suasana tiba – tiba menjadi canggung, Abil tidak berucapsepatah katapun dengan jawaban Venti. Kemudian Venti melanjutkan bicara,
“Bahkan jujur sebenarnya hingga saat ini Aku masih memiliki rasa itu untukmu, sebelum saat ini Aku tidak tahu sebab Kamu tidak segera mengatakan perasaanmu padaku. Tapi, tapi maaf Bil, saat ini Aku…., Aku..( Bibir Venti berhenti berucap dan tiba – tiba mata Venti berkaca – kaca, sepertinya Akan ada hujan di malam yang bertabur bintang).
__ADS_1
“Aku sudah berkomitmen menjalin hubungan dengan orang lain, jujur hal ini sulit, tapi menjalani sebuah hubungan dengan komitmen juga bukan hal yang mudah, dan kamu terlambat, sangat terlambat.” Ucap Venti melanjutkan bicaranya.
Suasana kembali hening, di tambah lagi Abil yang sebelumnya sangat optimis sekarang menjadi lesu. Ia menyenderkan badanya di sandaran bangku, tanpa melakukan pembenaran dan memaksa apa yang sudah terucap, Abil berusaha menahan rasa kecewanya dengan menghela nafas kemudian tersenyum dengan mata terpejam dan mengarahkan wajahnya ke langit – langit rumah.
“Sebelumnya Aku minta maaf sudah membuatmu pernah menunggu Ven, dan untuk komitmenmu dengan orang lain Aku menghargainya”
Ini pertama kalinya tentang cinta Abil di kecewakan ekspektasinya, imajinasi tentang sebuah perjalanan panjang dengan orang yang Ia harap akan menjadi pendampingnya tiba – tiba pupus begitu saja, bahkan sebelum perjalanan di mulai. Meskipun begitu, Abil yang memiliki pedoman tidak mau memaksakan suatu hal yang di luar kendalinya tidak menunjukan kekecewaanya secara tindakan. Mengenai hasil Ia selalu pasrahkan kepada Tuhan, Ia hanya berusaha melakukan yang menurutnya pantas di lakukan untuk sebuah keinginan atau impian.
“Maaf dengan kedatangaku malah membuatmu hatimu menjadi terganggu, bukankah semua hal sudah di tentukan Tuhan, Aku hanya melakukan apa yang bisa Aku lakukan termasuk hari ini dengan Aku datang kesini dan menyampaikan perasaanku kepadamu, memaksa juga tidak akan membuat sesuatu menjadi lebih baik terlebih untuk urusan hati.” Kata Abil mencoba membuat suasana hati mereka menjadi lebih baik saat diskusi
“Maaf ya Bil, Aku benar – benar minta maaf. Semoga kita masih bisa berteman setelah ini, kamu tidak membenciku kan?” Sahut Venti sambil memastikan bahwa Abil bisa memahami hal ini, Venti berharap tidak kehilangan seorang teman setelah malam ini.
“Iya Ven, tenang aja kita masih berteman kok. Sedikitpun Aku tidak membenci apa yang menjadi nyata untukku, hanya saja setelah Aku tahu kamu bersama orang lain rasanya tidak sopan jika Aku masih berinteraksi untuk hal – hal yang bukan karena keperluan.” Jawab Abil yang sudah merasa sedikit tenang.
“Iya Bil, Aku akan memahami hal itu. Makasih ya Bil pernah memberikan waktu dan perasaanmu untukku, sekali lagi Aku juga minta maaf karena mengecewakanmu.” Ucap Venti dengan nada lirih
“Iya Ven sama – sama, makasih pernah hadir dengan rasa yang sama untuk beberapa waktu. Semoga hubunganmu bisa berjalan baik hingga waktu yang panjang. Oh iya, Aku rasa waktu sudah lumayan larut, baiknya Aku pulang sekarang ya, ngga enak sama orang tuamu juga kalau terlalu larut.” Kata Abil yang juga ingin berpamitan pulang.
“Makasih ya Bil, iya boleh tapi sebentar Aku panggil Ayah sama Ibu dulu ya biar sekalian pamitan sama mereka.” Jawab Venti yang kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah memanggil Ayah dan Ibunya.
Ayah dan Ibu Venti kemudian keluar menghampiri Abil, mereka terlihat tersenyum. Abil kemudian berdiri dan bersalaman sekalian berpamitan dengan mereka untuk pulang karena waktu sudah lumayan larut.
“Sabar ya Mas, mudah – mudahan di masa depan bisa berjodoh dengan orang yang terbaik untukmu. Semuanya kami serahkan ke Venti, kami orang tua hanya bisa mendukung keinginan dan keputusan anak jika itu memang baik dan menjadi pilihanya.” Ucap Ayah Venti kepada Abil
“Iya Pak, makasih ya sudah di izinkan datang kerumah. Aminn, semoga ini menjadi langkah yang baik untuk saya ataupun Venti kedepanya. Saya juga mau pamit pulang Bapak, Ibu, terima kasih untuk suguhanya juga. Assalamualikum. Ven pamit yaa.” Ucap Abil pamit dengan Ayah dan Ibu Venti, juga dengan Venti tentunya.
“Waalaikumsalam. Iya, hati – hati ya pulangnya” Ucap Venti dan keluarganya yang mengantarnya hingga ke teras rumah.
Abilpun kemudian pulang dengan mengendarai motornya, Hatinya menjadi kosong setelah malam ini. Tahun pertama pulang merantau di beberapa hari menjelang lebaran menjadi saksi bahwa Abil mengalami patah hati setelah bertahun – tahun menyimpan rasa, Ia sadar bahwa rasa bukan hanya untuk di simpan tapi juga butuh di ungkapkan, tentu dengan melihat situasai dan kondisi.
__ADS_1
Mengikhlaskan suatu perasaan yang sudah lama bersemayam memang bukan hal yang mudah, tapi hal ini akan menguatkan Abil, menguatkan bahwa semua hal di hidup harus terus di jalani dengan semaksimal mungkin terlepas apakah hal tersebut berhasil sesuai ekspektasi atau tidak. Perasaan Abil yang kuat mengejar memantaskan diri agar menjadi layak jika bersama Venti, tanpa Ia sadari ternyata membuatnya melangkah sejauh ini, berprogress dengan tujuan menjadikan proses yang di lalui menjadi part – part puzzle yang menyatu.
Rencana Tuhan memang penuh kejutan, merencanakan bagi manusia adalah bukti tentang langkah menuju harapan sedangkan keputusan Tuhan adalah jawaban dari yang di rencanakan oleh manusia itu sendiri, terlepas dari kesiapan manusia tersebut menerima apa yang di berikan Tuhan.